Dengan banyak pertanyaan yang memenuhi kepalanya, Sena tetap berusaha
mencaritau rahasia keluarganya. “Sebaiknya, kita tidak membicarakan itu
di sini.”(Kakek Hideki). “Kenapa?”(Sena). Kakek Hideki terdiam sejenak.
“Kalau kau anggap benda itu hanya sebuah hiasan, maka kau salah
besar...”(Kakek Hideki). Sena semakin bertambah bingung. “Sebenarnya apa
yang kakek maksud? Aku sama sekali tidak paham?”(Sena). “Ikutlah
denganku. Akan kubawa kau ke suatu tempat sambil menceritakan
semuanya...”(Kakek Hideki). “Ba...baiklah...”(Sena). “Dan...”(Kakek
Hideki). Kakek Hideki yang sebelumnya berada di hadapan Sena, tiba-tiba
menghilang. Sena terlihat terkejut, begitu juga dengan Reo yang sedang
bersembunyi. “Apa?”(Sena). “Ke mana kakek tadi?”(Reo:Dalam Hati).
Tiba-tiba, Kakek Hideki sudah berada di belakang Reo. “Kalau kau memang
ingin tau...kau juga bisa ikut dengan kami...”(Kakek Hideki). Sena yang
menyadari Kakek Hideki akhirnya juga mengetaui keberadaan Reo.
“Reo...”(Sena). Reo terlihat sangat terkejut. “Sejak kapan...kakek ini
ada di sini...”(Reo:Dalam Hati). Sena pun mendekat ke arah Reo dan Kakek
Hideki. “Bagaimana?”(Kakek Hideki). Reo terlihat terdiam sejenak.
“Baiklah...aku akan ikut...”(Reo).

Di tempat lain,
terlihat Putri Alice dan Naria sedang berjalan-jalan di sebuah jalan
setapak. “Memangnya ke mana kita akan pergi?”(Putri Alice). Naria
terlihat tersenyum senang. “Sebentar lagi kau pasti akan tau,
kok.”(Naria). Putri Alice terlihat penasaran. “Kau ini...”(Putri Alice).
Putri Alice memperhatikan sekelilingnya yang dipenuhi pepohonan besar.
“Kalau diperhatikan...ternyata tempat ini bagus juga ya...rasanya jadi
sangat tenang...”(Putri Alice). “Ya begitulah...aku tadi juga sempat
mendengarnya dari beberapa peserta lain, tapi tidak ku sangka akan
sebagus ini...”(Naria). Putri Alice terlihat bingung. “Mendengar? Jangan
bilang kalau kau belum pernah lewat sini sebelumnya?”(Putri Alice).
Naria mulai terlihat agak panik, namun akhirnya tertawa.
“Hehehehehe...katauan ya...”(Naria). “Lalu, bagaimana kau bisa yakin
kalau mereka itu benar?”(Putri Alice). “Ya...mau bagaimana lagi...habis
akan jadi sangat membosankan kalau hanya diam saja di penginapan,
kan?”(Naria). “Memang benar sih...tapi, kalau mereka hanya menipu
bagaimana?”(Putri Alice). “Tenang saja...”(Naria). “Eh?”(Putri Alice).
“Aku yakin kok...lagipula kau sendiri yang bilang kan, kalau kita harus
bisa percaya pada mereka...”(Naria). Putri Alice sejenak teringat dengan
kejadian waktu di puncak kuil. “Ya...itu benar juga...”(Putri Alice).
Kembali
ke tempat Sena. Sena, Reo, dan Kakek Hideki terlihat sampai di sebuah
tempat. Kakek Hideki terlihat berhenti. “Baiklah...ini
tempatnya...”(Kakek Hideki). Sena, Reo, dan Kakek Hideki berhenti di
depan sebuah kuil yang cukup besar. “Besar sekali...”(Reo). “Kakek,
memang ini tempat apa?”(Sena). Kakek Hideki terlihat memperhatikan ke
dalam kuil itu. “Sebentar lagi kau akan segera tau... ayo
masuk...”(Kakek Hideki). Kakek Hideki terlihat berjalan memasuki kuil
itu bersama Sena dan Reo di belakangnya. “Hei Sena...sedari tadi aku
masih agak bingung...”(Reo). “Bingung kenapa?”(Sena). “Kakek
ini...rasanya aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat...tapi, aku
agak lupa tepatnya...”(Reo). “Kalau soal itu...”(Sena). Kakek Hideki,
Sena, dan Reo terlihat sampai di suatu ruangan gelap yang terasa luas.
“Gelap sekali...apa kita sudah sampai, kek?”(Sena). “Tentu saja.
Sebentar, ya...”(Kakek Hideki). Tiba-tiba, semua obor yang ada di dalam
ruangan itu menyala dan seisi ruangan pun terlihat jelas.
“Wah...ternyata ruangannya luas juga, ya, Reo...”(Sena). Tiba-tiba, Reo
terlihat sangat terkejut seakan tidak bisa berkata-kata. “Kau kenapa,
Reo?”(Sena). “La...lambang itu...”(Reo). Ternyata seluruh dinding
ruangan itu dipenuhi oleh ukiran lambang-lambang misterius.
Tempat-tempat yang mengejutkan. Sebuah misteri baru akan segera terkuak.
Sena juga terlihat memperhatikan lambang-lambang di dinding
ruangan itu. “Lambang itu...bukankah sama dengan yang ada di punggung
kakek?”(Sena). “Benar sekali...”(Kakek Hideki). Reo perlahan mulai
terlihat tenang. “Apa mungkin, kakek ini...”(Reo:Dalam Hati). “Kau tidak
apa-apa, kan?”(Sena). “Ya...aku baik-baik saja.”(Reo). Kakek Hideki
terlihat memperhatikan Reo. “Dari ekspresimu tadi, kelihatannya kau
sangat mengenal lambang-lambang itu.”(Kakek Hideki). “Ya...bisa dibilang
begitu...”(Reo). “Jadi, kau juga mengenal lambang-lambang itu?”(Sena).
“Memang aku tidak pernah mengetauinya secara langsung, tapi di tempatku,
lambang-lambang seperti itu merupakan hal yang hanya boleh diketaui
oleh orang-orang tertentu...dan aku tidak menyangka bisa melihatnya
secara langsung di sini.”(Reo). Perlahan Kakek Hideki mendekat ke salah
satu lambang di dinding. “Coba kau perlihatkan benda itu sekali lagi,
anak muda...”(Kakek Hideki). Sena terlihat agak bingung. “Sena. Kakek
bisa memanggilku Sena.”(Sena). Sena terlihat mengeluarkan pecahan itu,
sedangkan Kakek Hideki terdiam sejenak. “Sena, ya...kalau kau anak
muda?”(Kakek Hideki). “Oh, namaku...Reo...”(Reo). “Reo...ternyata nama
kalian cukup bagus...”(Kakek Hideki). Sena terlihat maju sambil
menyerahkan pecahan itu pada Kakek Hideki. “Oh ya, kami juga belum
mengetaui nama kakek. Nama kakek siapa?”(Sena). Kakek Hideki terlihat
menerima pecahan itu. “Fujiyama Hideki...itu adalah namaku...”(Kakek
Hideki).
Kakek Hideki terlihat memperhatikan pecahan itu.
“Benda ini...adalah benda yang konon bisa membuat keinginanmu menjadi
nyata, dan hal itu sudah dipercayai oleh orang-orang sejak
dahulu...”(Kakek Hideki). “Maksud kakek, semua orang sudah tau soal
benda itu?”(Sena). “Bisa dibilang begitu, namun sebenarnya mereka hanya
tau mitosnya saja, dan tidak ada yang pernah bisa melihat secara
langsung benda ini...”(Kakek Hideki). Sena terlihat semakin penasaran.
“Lalu...bagaimana orang-orang bisa percaya? Bukankah seseorang tidak
akan mudah percaya sesuatu sebelum mengetauinya secara langsung?”(Sena).
Reo terlihat mendekati Sena. “Karena dulu...konon benda itu sudah
menunjukkan kekuatannya berulang kali...walau tidak dalam skala yang
besar...”(Reo). “Kau juga tau tentang benda itu?”(Sena). “Ya, hanya
sedikit. Dulu sekali, orang-orang di dunia ini pernah mengalami masa
sulit yang berkepanjangan, bahkan dunia ini mengalami krisis besar
sampai hampir berada di ambang kehancuran...”(Reo). “Lalu, apa yang
terjadi setelahnya?”(Sena). “Sejak orang itu datang...perlahan-lahan hal
itu mulai teratasi dan akhirnya tercipta kemakmuran sampai
sekarang...dan lambang-lambang itu adalah simbol yang melambangkan sosok
dan keajaiban yang telah dibawa oleh orang itu dan akhirnya dianggap
keramat hingga tak sembarangan orang boleh melihatnya...”(Reo). “Apa
mungkin orang itu juga berasal dari dunia yang sama denganku?”(Sena).
“Tidak ada yang tau pasti...tapi itulah sejarah yang diceritakan oleh
orang-orang tua sejak dulu...”(Reo).
Kakek Hideki terlihat
teringat sesuatu. “Orang itu...adalah orang yang telah menjaga benda
ini secara utuh dan terus-menerus diturunkan pada penerusnya sampai
sekarang...”(Kakek Hideki). Sena tiba-tiba teringat dengan perkataan
Ryuto dulu, bahwa orangtuanya adalah
Hyper yang telah menjaga
pecahan itu. “Tunggu dulu...kalau memang dia yang membawa benda
itu...itu artinya...”(Sena). “Benar sekali...ayah dan ibumu lah penerus
terakhir yang telah menjaga benda itu dengan nyawa mereka...”(Kakek
Hideki). Sena yang mendengarnya sontak terkejut. Sejarah yang membawa
kenangan orangtuanya. Dunia ini menjadi saksi awal perjuangan Sang
Penjaga.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life - This Place and The Guardian"
Posting Komentar