Reo terlihat mulai siuman setelah perjuangan kerasnya untuk diterima
sebagai murid Melven. “...”(Reo). Azrea duduk di samping Reo sambil
menitihkan air mata. “Kakak...”(Azrea). “Azrea...ini di mana?”(Reo).
“Kita di rumah, kak. Kakak tadi pingsan setelah bertarung melawan
Melven.”(Azrea). “Begitu ya...”(Reo). Azrea nampak terdiam, seakan
menahan sesuatu dalam hatinya. “Kakak...aku minta tolong...”(Azrea).
“Ada apa? Tidak biasanya kau berkata begitu.”(Reo). “Tolong...hentikan.
Semua yang kakak lakukan sudah cukup, kakak atau siapapun tidak perlu
melakukannya sampai sejauh ini.”(Azrea). Reo teringat dengan Sena.
“Aku...sebagai saudaranya di dunia ini...mana mungkin bisa membiarkannya
berjuang sendirian. Walaupun sedikit...aku ingin berjuang
bersamanya...demi dunia ini... juga demi nyawa mereka yang telah
diremehkan.”(Reo). “Kakak...”(Azrea:Dalam Hati). Azrea teringat di saat
dulu mereka baru kehilangan kedua orangtua mereka. “Mulai sekarang, aku
akan jadi lebih kuat. Tidak akan kubiarkan ini berlanjut. Aku pasti akan
mengalahkannya.”(Reo). “Tapi...”(Azrea). “Tenang saja Azrea...”(Reo).
Reo terlihat membelai kepala Azrea sambil tersenyum. “Aku pasti akan
selalu melindungimu dan juga dunia ini...karena aku adalah
kakakmu.”(Reo). Azrea terlihat mulai lega. “Iya...”(Azrea). Kembali ke
waktu sekarang, Reo terlihat memperhatikan Azrea yang masih menangis.
“...”’(Reo). Reo membelai kepala Azrea perlahan. “Maafkan kakak...tapi
hanya ini yang bisa kakak lakukan, jadi kakak ingin kau percaya dan
tidak perlu khawatir, karena kakak pasti akan kembali.”(Reo). Azrea
perlahan mulai tenang. “Iya...aku selalu percaya pada kakak...”(Azrea).

Hari
sudah beranjak malam. Di hutan pulau, Sena dan Putri Alice memutuskan
untuk beristirahat. “Sepertinya kita harus bermalam di sini.”(Sena).
Sena mulai membuat api unggun. “Baik...sudah selesai.”(Sena). Sena
mengeluarkan buah-buahan dan ikan hasil buruannya tadi siang. “Ini,
ikannya sudah matang.”(Sena). “Tidak, terima kasih, aku akan makan
buahnya saja.”(Putri Alice). “Kenapa? Kalau hanya buah mana bisa
kenyang? Ingat, kita besok akan berjalan jauh lagi, jadi akan repot
kalau kita kelaparan di tengah perjalanan.”(Sena). “Tidak apa-apa, hanya
saja aku tidak suka makan daging.”(Putri Alice). “Begitu ya...padahal
enak sekali, tapi tidak apa-apa lah.”(Sena). Sena perlahan berdiri.
“Kalau begitu aku akan coba berkeliling, siapa tau ada banyak
buah-buahan di sekitar sini.”(Sena). “Kenapa? Bukannya ini sudah gelap?
Akan susah mencarinya di kegelapan begini.”(Putri Alice). “Tidak
apa-apa, lagipula kau hanya makan buah, kan? Jadi aku rasa buah ini
belum cukup.”(Sena). “Sudah tidak apa-apa, ini saja sudah cukup.”(Putri
Alice). “Sudah tidak perlu malu, daripada nanti kau kelaparan.”(Sena).
Sena terlihat akan beranjak dari tempat itu. “Tu...tunggu du...”(Putri
Alice). Putri Alice yang berusaha berdiri terpeleset dan hampir
terjatuh, tapi Sena berhasil memegangnya. “Kau ini, sudah kubilang tidak
perlu khawatir...”(Sena). Putri Alice melihat langsung ke wajah Sena,
dan wajahnya mulai memerah karena malu. “Ma...maaf, aku tadi
terpeleset.”(Putri Alice). Sena terlihat menghela nafas panjang.
“Haaahhh...iya tidak apa-apa, lain kali hati-hati. Sekarang tunggulah di
sini sebentar, aku akan coba mencari buah-buahan dulu.”(Sena).
“I...iya...’(Putri Alice).
Sena
pun mulai meninggalkan Putri Alice untuk mencari buah-buahan. Putri
Alice masih teringat-ingat dengan yang baru saja terjadi. Putri Alice
terlihat menggeleng-gelengkan kepala. “Tidak, tidak, tidak! Aku tidak
boleh, tidak boleh...”(Putri Alice:Dalam Hati). Setelah cukup lama,
tiba-tiba Sena datang dengan terengah-engah. “Hei, kau kenapa?”(Putri
Alice). Sena terlihat menoleh ke belakang, lalu melihat ke arah depan
sambil menarik tangan Putri Alice. “Ayo pergi dari sini!”(Sena).
“Eh?”(Putri Alice). Sena tiba-tiba berlari sambil menarik tangan Putri
Alice. “Hei! Sebenarnya apa yang terjadi?”(Putri Alice). “Sudah, tidak
ada waktu! Ayo cepat kabur!”(Sena). “Kabur? Kabur dari apa?”(Putri
Alice). Tiba-tiba dari arah belakang terlihat sebuah monster badak besar
yang mengejar mereka. “Apa itu?!”(Putri Alice). “Sekarang kau sudah tau
alasannya, kan?!”(Sena). Sena dan Putri Alice terus berlari menghindari
monster itu. Makhluk demi makhluk aneh terus bermunculan. Hutan
misterius yang penuh kejutan.
Sena dan Putri Alice yang semula dikejar oleh monster badak besar
akhirnya berhasil lolos. Sena dan Putri Alice terlihat terengah-engah.
“Untung saja...”(Sena). “Sebenarnya...apa yang kau lakukan...sampai dia
mengejarmu?”(Putri Alice). Sena perlahan mengeluarkan sebuah bungkusan.
“Itu...mungkin karena aku masuk wilayahnya sembarangan, tapi untunglah
aku dapat banyak buah.”(Sena). “Begitu rupanya...”(Putri Alice). Sena
memberikan bungkusan itu pada Putri Alice. “Ini, makanlah. Aku mau cari
kayu bakar dulu untuk api unggun.”(Sena). “Baiklah...terima
kasih.”(Putri Alice). Sena pun pergi untuk mencari kayu bakar. Hari
sudah gelap. Setelah agak lama, akhirnya Sena kembali dan membuat api
unggun. Sena dan Putri Alice terdiam memandangi api unggun. “Maaf,
mungkin ini sedikit mengganggumu, tapi aku mau tau, orang yang bernama
Lucifer itu seperti apa?”(Sena). Putri Alice memandang Sena sejenak dan
mulai bercerita. “Dia...entah mengapa saat pertama datang, dia sangat
mirip denganmu.”(Putri Alice). “...”(Sena). “Dia...begitu baik, dan
sering membantu pasukan kerajaan. Dia juga pernah menolongku sekali saat
aku dalam bahaya, tapi...entah apa yang merasukinya, dia jadi berubah
seperti sekarang.”(Putri Alice). “Begitu ya...lalu bagaimana reaksi
penduduk saat pertama kali dia datang?”(Sena). “Sebenarnya, sejak dia
pertama kali datang, dia sama sekali tidak pernah keluar ke pemukiman
penduduk. Dia selalu berada di kerajaan dan hanya sesekali keluar, tapi
hanya sekedar menjalankan tugas, setelah itu dia pasti kembali dan tidak
pernah ke mana-mana, jadi para penduduk tidak terlalu mengenal
dia.”(Putri Alice). “Dia pasti tipe orang yang tertutup, ya?”(Sena).
“Tidak juga, dia dikenal ramah dikalangan kerajaan, tapi...”(Putri
Alice).
Angin malam berhembus cukup kencang
dan raut wajah Putri Alice menjadi terlihat murung. “Dia berubah...sejak
kejadian itu...”(Putri Alice). “Kejadian?”(Sena). “Kau pasti tau, jika
pulau ini disebut pulau mitos, kan?”(Putri Alice). “Kalau itu aku tau,
tapi memang mitos seperti apa? Bukankah kau tadi bilang siapa saja yang
masuk tidak akan bisa kembali, iya kan?”(Sena). “Sebenarnya bukan itu.
Kami para anggota kerajaanlah yang tau kebenaran pulau ini, dan kami
hanya menyebarkan kabar burung untuk mencegah orang-orang yang tidak
berkepentingan masuk ke sini.”(Putri Alice). “Lalu, apa sebenarnya mitos
itu? Kenapa kau memberitauku?”(Sena). “Karena kau...pasti akan ikut
turnamen Olympic Union, benarkan?”(Putri Alice). “Itu memang benar, tapi
maksudnya?”(Sena). “Olympic Union adalah turnamen yang dulu di adakan
di pulau ini untuk satu tujuan...”(Putri Alice). “Tujuan...maksudmu
untuk mencari orang terhebat di dunia ini, kan?”(Sena). “Bukan sekedar
itu, tapi ada maksud lain...”(Putri Alice). “Maksud lain?”(Sena).
“Maksud sebenarnya dari turnamen itu adalah...untuk mengambil sedikit
demi sedikit kekuatan mereka yang berpartisipasi di pulau ini.”(Putri
Alice).
Sena yang mendengarnya langsung
tercengang. “Mengambil...kekuatan...?”(Sena). “Benar, tapi tidak
sekaligus semuanya. Bisa dibilang, hanya menimbun kekuatan yang terlepas
di saat mereka bertarung atau melakukan kegiatan apapun dengan kekuatan
mereka.”(Putri Alice). “Tapi, untuk apa?”(Sena). Putri Alice menekuk
kedua lututnya dan mendekapnya erat. “Karena pulau ini punya
legenda...”(Putri Alice). Sena terlihat penasaran. “Di pulau ini, konon
setiap terjadi gerhana matahari...pulau ini akan menghubungkanmu ke
dimensi lain.”(Putri Alice). “Dimensi lain?”(Sena). “Iya...dimensi di
mana menurut legenda, kau akan menemukan sebuah benda istimewa yang para
anggota kerajaan menyebutnya sebagai Pecahan Surga...”(Putri Alice).
Sena langsung terkejut mendengarnya. “Tapi, tidak hanya sekedar gerhana
matahari saja...dikatakan dalam legenda, kau harus mengumpulkan energi
yang sangat besar untuk bisa menghubungkan kedua dimensi.”(Putri Alice).
“Jadi, itu alasannya, kenapa turnamen itu diadakan di sini?”(Sena).
“Iya...dan semua berubah sejak saat itu...”(Putri Alice). “...”(Sena).
Kenyataan dan permulaan dari segalanya baru dimulai. Di dalam hati Sang
Putri yang menangis, tersimpan ketakutan yang luar biasa.
Belum ada tanggapan untuk "Manga Wrong Life Chapter 14 So Close and Since Then..."
Posting Komentar