Kakek Hideki terlihat mengembalikan pecahan itu pada Sena. “Jadi
begitu...orangtuaku selama ini...”(Sena). Reo terlihat memperhatikan
Sena. “Kalau memang benda ini hanya sebuah pecahan, apa itu artinya
masih ada pecahan-pecahan lain di luar sana?”(Reo). “Aku memang tidak
tau bagaimana, tapi orangtua Sena telah menjaga benda itu dengan baik.
Namun, saat aku tau kabar jika mereka mendapat serangan misterius...aku
sama sekali tidak tau keberadaan benda itu...hingga akhirnya bisa
melihatnya kembali sekarang, walau hanya sebuah pecahan.”(Kakek Hideki).
Sena perlahan teringat pada sesuatu. “Serangan mendadak...apa mungkin
mereka...”(Sena:Dalam Hati). Kakek Hideki terdiam sejenak. “Mungkin
saja...demi melindungi benda itu dari tangan-tangan orang yang berniat
buruk, mereka memecah benda itu menjadi beberapa bagian dan
memencarkannya ke seluruh tempat dengan mempertaruhkan nyawa
mereka...”(Kakek Hideki). Sena terlihat sangat terkejut mendengar apa
yang dikatakan Kakek Hideki. “Itu artinya, ayah dan ibu Sena menukarkan
nyawa mereka untuk memecah dan menyebarkan benda itu?”(Reo). “Bisa
dibilang begitu...tapi bagiku, mereka berdua adalah pejuang yang
kuat...karena sampai detik terakhir pun, mereka tetap melakukan apa yang
telah menjadi tugas mereka, dan itu bukanlah hal yang bisa dilakukan
oleh kebanyakan orang di dunia mana pun...”(Kakek Hideki).
Sena
terlihat sangat terpukul. “Sena...”(Reo:Dalam Hati). “Namun,
Sena...”(Kakek Hideki). Sena terlihat berusaha tegar. “Sekarang
...mereka telah mempercayakan semua itu padamu...”(Kakek Hideki).
“Eh?”(Sena). “Apa maksud kakek?”(Reo). “Kembalinya pecahan itu
padamu...telah menunjukkan, bahwa orangtuamu telah mempercayakan benda
itu dan juga semangat mereka padamu, apa pun yang terjadi...”(Kakek
Hideki). Sena terlihat berusaha mengingat kembali orangtuanya.
“Aku...memang tidak terlalu mengenal siapa orangtuaku...”(Sena). Reo dan
Kakek Hideki terlihat memperhatikan Sena yang terlihat mulai kembali
bersemangat. “Namun, semangat mereka berdua...akan ku pastikan semuanya
tidak akan hilang. Aku janji itu...”(Sena). Reo terlihat lega. “Huh, kau
memang tidak pernah berubah...tapi jujur aku suka dengan semangatmu
itu.”(Reo). Kakek Hideki terlihat tertawa mendengar perkataan Sena.
“Kenapa kakek tertawa?”(Sena). “Mungkin kau tidak terlalu paham...tapi
apa yang ku lihat sekarang ini seakan seperti Deja Vu...”(Kakek Hideki).
“Deja Vu?”(Reo).

Kakek Hideki terlihat memegang pundak
Sena. “Kalau memang begitu...aku rasa tidak akan ada masalah...ku rasa
tidak ada yang perlu aku khawatirkan lagi darimu...”(Kakek Hideki).
Sena, Reo, dan Kakek Hideki terlihat kembali ke mulut kuil. “Baiklah,
Sena...akan ku percayakan semuanya padamu.”(Kakek Hideki). “Ya, serahkan
padaku.”(Sena). Kakek Hideki terlihat pergi meninggalkan Sena dan Reo.
“Sena...mungkin aku dulu tidak terlalu mengerti tentang dirimu, tapi aku
sekarang telah menyadarinya...”(Reo). “Hhhmmm...”(Sena). “Bahwa kita
ini sama...”(Reo). Sena yang mendengar perkataan Reo terlihat tersenyum.
“Begitu ya...”(Sena). “Lalu...apa yang akan kau lakukan
sekarang?”(Reo). Sena terlihat berpikir. “Kalau itu...”(Sena). Di tempat
lain, Putri Alice dan Naria terlihat sampai di sebuah tempat. “Nah, ini
dia tempatnya...”(Naria). Putri Alice terlihat sangat terkejut.
“Bukankah tempat ini adalah...”(Putri Alice). Terlihat kelopak-kelopak
bunga berterbangan di sekitar Putri Alice dan Naria. Sebuah benda
berharga yang telah dipercayakan orangtuanya. Semangat yang tak pernah
terputus dari waktu ke waktu.
Putri Alice bersimpuh di atas hamparan bunga seakan tidak percaya
dengan apa yang dilihatnya. Naria yang melihat Putri Alice terlihat
bingung. “Kau tidak apa-apa, kan? Apa kau tidak suka dengan tempat
ini?”(Naria). “Tidak...”(Putri Alice). Tenyata Putri Alice dan Naria
sedang berada di hamparan padang bunga yang sangat luas dan indah. Putri
Alice teringat kembali dengan tempat yang hampir sama saat dulu dia
diajak oleh ayahnya dan perlahan Putri Alice meneteskan air mata. Naria
terlihat panik. “Aduh! Bagaimana ini? Apa kau yakin tidak apa-apa? Kalau
kau merasa tidak senang, sebaiknya kita kembali dan...”(Naria). Putri
Alice terlihat menarik perlahan lengan baju Naria. “Terima
kasih...”(Putri Alice). “Eh?”(Naria). “Ini jauh dari sekedar indah. Aku
benar-benar berterima kasih, karena kau telah mengajakku
kemari...Naria...”(Putri Alice). Naria perlahan mulai tenang, lalu
tersenyum. “Ya...sama-sama...”(Naria). Putri Alice terlihat
memperhatikan hamparan bunga yang sangat luas dan sejenak teringat
dengan perkataan Sena. “Mungkin kau benar...Sena...inilah hal yang telah
ayah dan semuanya percayakan padaku...”(Putri Alice:Dalam Hati). Angin
berhembus perlahan. “Anginnya sejuk, ya?”(Naria). “Ya...kau
benar...”(Putri Alice). Putri Alice terlihat tersenyum.
Di
tempat lain, Sena dan Reo terlihat berjalan di suatu tempat. “Tapi,
benar-benar tidak terduga, ya? Kau bisa berhubungan dengan orang sehebat
kakek itu?”(Reo). “Benarkan? Aku saja, saat pertama kali bertemu
dengannya tidak pernah menyangka kalau dia adalah kakek yang seperti
itu...jujur aku juga sedikit kaget...”(Sena). “Tapi, kalau memang kakek
itu yang telah mengirimmu ke dunia ini, maka bukankah itu artinya kakek
itu juga bisa mengembalikanmu?”(Reo). “Ya, aku juga sempat berpikir
begitu, tapi sekarang ini...masih ada banyak hal yang harus aku lakukan
di dunia ini, karena itu...”(Sena). Sena terlihat berhenti dan menjadi
bersemangat. “Aku pasti akan mengalahkan orang itu dan mengungkap siapa
dia sebenarnya...pasti!”(Sena). Tiba-tiba, terlihat seseorang datang ke
arah Sena dan Reo. “Kelihatannya kau sangat semangat sekali,
ya...”(Unknow). “Kau lagi ternyata...”(Sena). Ternyata orang yang datang
adalah Stevan. “Lama tidak bertemu...Sena...”(Stevan). Reo terlihat
merasakan sesuatu dari Stevan. “Apa kau mengenalnya?”(Reo). “Sebenarnya
dia adalah teman sekamarku saat di kapal, tapi entah kenapa aku tidak
terlalu senang dengannya...”(Sena). “Begitu ya...ternyata kau juga
menyadarinya...”(Reo). “Hei...hei...hei...bukankah itu kejam,
membicarakan seseorang yang jelas-jelas ada di depanmu?”(Stevan). “Apa
maumu? Apa kau masih ingin mempengaruhiku?”(Sena).
Stevan
terlihat tertawa. “Kelihatannya kau sudah semakin pintar, ya,
Sena?”(Stevan). Sena hanya terlihat terdiam. “Tapi, jangan kau kira
bahwa apa yang ku katakan waktu itu adalah main-main. Walau bagaimana
pun, kau tidak akan pernah bisa lolos darinya...”(Stevan). “Apa itu
artinya, kau berada di pihaknya?”(Sena). Stevan terlihat berbalik
membelakangi Sena dan Reo. “Entahlah...siapa yang tau...”(Stevan).
Sambil tersenyum sinis, Stevan terlihat pergi meninggalakan Sena dan
Reo. “Kelihatannya dia cukup berbahaya.”(Reo). “Bagitulah...dia memang
orangnya cukup tertutup, tidak mudah untuk membaca apa yang ada
dipikirannya.”(Sena). Reo terlihat terdiam sejenak. “Lalu, yang dia
maksud tadi apa? Kelihatannya dia menyimpan sebuah rahasia besar?”(Reo).
“Aku juga tidak tau...tapi...”(Sena). Sena terlihat teringat dengan apa
yang dikatakan oleh Stevan dulu. “Apapun itu...salah satu dari kita
pasti akan berhadapan dengannya...”(Sena). Angin yang berhembus menembus
dedaunan. Awal dari babak yang baru akan segera dimulai.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Unbreakable Spirit and Light Breeze"
Posting Komentar