Keesokkan harinya. Sena terlihat baru saja terbangun di pagi
hari di sebuah kamar tidur. Dengan perlahan, Sena berjalan keluar kamar
dan pergi menuju ruang depan. “Selamat pagi. Bagaimana tidurmu?”(Putri
Alice). Terlihat Putri Alice sedang duduk di kursi ruang tamu.
“Ya...setelah perjuangan seperti itu, rasanya enak juga bisa tidur
nyenyak.”(Sena). Putri Alice terlihat tersenyum. “Kau memang selalu
begitu ya...”(Putri Alice). Sena terlihat memperhatikan sekeliling.
“Ngomong-ngomong, Reo dan Naria ke mana?”(Sena). “Reo tadi katanya ingin
jalan-jalan mencari udara segar, kalau Naria, sepertinya sedang ada di
belakang.”(Putri Alice). “Begitu ya...”(Sena). Putri Alice terlihat
menawarkan teh pada Sena. “Ini teh mu, minumlah selagi masih
hangat.”(Putri Alice). “Terima kasih...”(Sena). Sambil minum teh
bersama, Sena terlihat berbincang-bincang dengan Putri Alice. “Tidak
disangka juga ya, ternyata ada penginapan sebagus ini di pulau
ini.”(Sena). “Aku juga baru tau, tapi mungkin ini memang sengaja
dipersiapkan untuk para peserta.”(Putri Alice). “Bisa istirahat di
tempat ini selama seminggu, kelihatannya memang tidak terlalu buruk
juga...”(Sena). “Kau ini, setelah ini kita kan akan menghadapi babak
ketiga. Belum lagi, kita juga belum tau seperti apa peraturannya, jadi
kita belum bisa santai-santai.”(Putri Alice). “Iya aku tau...tapi
istirahat sebentar kan juga perlu...”(Sena).
Putri Alice
terlihat terdiam dan teringat dengan kejadian kemarin. “Ada apa?”(Sena).
“Tidak...tidak ada apa-apa...”(Putri Alice). Sena terlihat
memperhatikan Putri Alice. “Memang kau harus bisa selalu waspada. Belum
lagi, sekarang kau sudah mendapatkan kepercayaan dari rakyatmu, jadi kau
harus bisa bersikap lebih dewasa lagi.”(Sena). “Ya...itu benar. Aku
harus bisa memimpin mereka dan mengembalikan dunia ini seperti
dulu...jadi mulai sekarang aku harus bisa berubah.”(Putri Alice). Sena
yang mendengar perkataan Putri Alice langsung tersenyum. “Selama kau
punya hal itu...aku yakin kau pasti bisa.”(Sena). “Ya...”(Putri Alice).
Sena terlihat berdiri dan hendak beranjak dari penginapan. “Aku ingin
menyusul Reo dulu. Kau tidak apa-apa kan, di sini sendiri?”(Sena).
“Tenang saja, Naria sebentar lagi pasti juga akan datang.”(Putri Alice).
“Kalau begitu, aku pergi dulu.”(Sena). “Ya, hati-hati...”(Putri Alice).
Sena pun berlari keluar dan terlihat mencai Reo. “Pergi ke mana
dia?”(Sena). Sena pun perlahan berjalan menyusuri sebuah jalan setapak
sambil memperhatikan sekelilingnya. “Tempat ini ternyata indah juga,
ya...”(Sena:Dalam Hati). Sena kembali teringat saat dia baru datang di
dunia ini sampai sekarang. “Banyak hal yang terjadi sejak aku datang ke
sini...”(Sena:Dalam Hati). Sena terlihat mengeluarkan benda yang dulu
diberikan oleh Ryuto. “Sampai sekarang...bahkan aku belum bisa
menemukannya...petunjuk itu...”(Sena:Dalam Hati).
Tiba-tiba
terdengar suara yang tidak asing dari arah belakang Sena. “Baguslah
kalau kau hanya sendiri...”(Unknow). Sena pun berbalik. “Siapa
itu?”(Sena). Terlihat seseorang datang menghampiri Sena. “Kau
kan...”(Sena). Dari arah lain, Reo juga melihat Sena dan orang itu dari
kejauhan. “Itu kan Sena? Sedang apa dia?”(Reo:Dalam Hati). Reo mendekat
dengan perlahan-lahan. “Bukankah orang itu...”(Reo:Dalam Hati). Ternyata
orang yang datang mendekati Sena adalah Kakek Hideki. “Tidak ku sangka
kau bisa lolos dari babak itu...selamat ya...anak muda...”(Kakek
Hideki). Sena hanya terdiam dan terlihat memperhatikan Kakek Hideki.
“Apa ada yang salah, anak muda? Kelihatannya kau agak serius?”(Kakek
Hideki). Sena melihat ke arah benda yang di pegangnya. “Melanjutkan apa
yang belum sempat ku tanyakan pada kakek waktu itu...”(Sena). Sena
menunjukkan benda itu pada Kakek Hideki. “Apa kakek tau...tentang benda
ini?”(Sena). Reo yang melihatnya dari kejauhan, terlihat terkejut,
sedangkan Kakek Hideki terlihat menjadi serius. Benda yang ditinggalkan
oleh orang tuanya. Mencari petunjuk demi petunjuk di tempat ini.
Dengan penuh rasa penasaran, Sena terlihat serius bertanya
pada Kakek Hideki. Kakek Hideki perlahan mulai terlihat santai. “Sudah
kuduga kau punya pecahan itu. Ya, memang tidak terlalu aneh juga.”(Kakek
Hideki). “Jadi...itu artinya kakek tau tentang benda ini?”(Sena). Kakek
Hideki terlihat terdiam sejenak. “Kalau begitu, aku ingin menanyakan
satu hal padamu...”(Kakek Hideki). “Bertanya? Bukankah tadi aku yang
bertanya ke kakek?”(Sena). “Apa hubungamu dengan orang yang menjaga
benda itu?”(Kakek Hideki). Sena yang seakan tidak digubris, mulai
terlihat kesal. “Tunggu, tunggu, tunggu! Kan aku yang bertanya? Kenapa
kakek justru balik bertanya padaku?”(Sena). “Sudah, jawab saja.”(Kakek
Hideki). Sena terlihat agak bingung. “Kalau itu...”(Sena). Sena teringat
saat Ryuto berkata kalau benda itu adalah benda peninggalan orangtua
Sena. “Mereka...orangtuaku...”(Sena). Kakek Hideki terlihat tersenyum,
sedangkan Reo yang mendengarnya dari kejauhan terlihat bingung.
“Orangtua...kalau tidak salah waktu itu...”(Reo:Dalam Hati). Reo
teringat saat Sena dulu pernah menceritakan kedatangan Sena ke dunia
ini. “Apa itu artinya...Sena...”(Reo:Dalam Hati).
Kakek
Hideki terlihat mulai menjelaskan sesuatu. “Sebenarnya...aku tidak bisa
bicara banyak hal soal benda itu...”(Kakek Hideki). “Sudah
kuduga...”(Sena:Dalam Hati). “Tapi...karena kau adalah anak dari mereka
berdua...jadi akan ku ceritakan sedikit tentang kedua
orangtuamu...”(Kakek Hideki). “Baiklah...”(Sena). Di penginapan,
terlihat Naria baru saja sampai. “Putri? Sena dan Reo mana?”(Naria).
“Mereka berdua sedang pergi. Baru saja Sena pergi menyusul Reo.”(Putri
Alice). “Begitu ya...padahal aku tadi dapat banyak roti enak...”(Naria).
“Tenang saja, mereka pasti akan segera kembali. Sebaiknya kau taruh
saja di meja.”(Putri Alice). “Ya...memang ada benarnya juga,
sih...”(Naria). Putri Alice terlihat memandang keluar jendela. “Cuacanya
sangat bagus...”(Putri Alice). “Iya...”(Naria). “Bagaimana kalau kita
jalan-jalan? Sekalian mencari mereka?”(Putri Alice). “Boleh juga, aku
tau tempat yang bagus kok.”(Naria). “Baiklah, ayo kita pergi.”(Putri
Alice). “Iya.”(Naria). Kembali ke Sena. Kakek Hideki terlihat mulai
menceritakan semuanya. “Ibumu...sebenarnya berasal dari dunia
ini...mereka berdua tidak sengaja bertemu di dunia ini saat ayahmu dulu
pernah tersesat seperti dirimu yang sekarang...”(Kakek Hideki).

Sena
yang mendengarnya sontak terkejut, begitu pula Reo yang bersembunyi di
kejauhan. “Ibu...berasal dari...dunia ini?”(Sena). “Iya...ayahmu dulu
adalah seorang pengembara. Dia tidak sengaja menemukan jalan menuju ke
dunia ini, namun tersesat. Di dunia ini...ibumulah yang telah merawat
dan selalu bersama ayahmu hingga akhirnya mereka berdua menjadi seorang
Hyper...”(Kakek
Hideki). Sena perlahan teringat dengan Yuki. “Lalu kakak, berarti dia
juga berasal dari sini?”(Sena). “Jika, yang kau maksud Yuki...dia memang
adik dari ibumu. Dulu...ibumu hanya tinggal berdua bersama adiknya yang
masih sangat kecil sejak kepergian kakek dan nenekmu...”(Kakek Hideki).
Reo dari kejauhan terlihat semakin penasaran. “Jadi, itu artinya...ibu
dan bibi Sena...adalah orang dari dunia ini?”(Reo:Dalam Hati). Sena
bingung, seakan tidak percaya. “Tapi...kenapa kakak tidak pernah
menceritakan hal ini padaku? Apa kakak memang menyembunyikannya?”(Sena).
“Tidak.”(Kakek Hideki). “Eh?”(Sena). “Waktu ayahmu mengajak ibu dan
kakakmu pergi ke dunianya, kakakmu masih terlalu kecil untuk
mengingatnya...jadi aku rasa dia memang tidak tau apa-apa.”(Kakek
Hideki). Sena kembali melihat ke arah benda yang digenggamnya. “Kalau
begitu...ini benda apa? Saat seseorang memberikan ini padaku, dia hanya
bilang jika ini adalah serpihan dari benda peninggalan yang dulu pernah
dijaga oleh orangtuaku...”(Sena). Hal yang tidak dia ketaui. Sekarang,
perlahan dia mulai membuka gerbang masa lalu keluarganya.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life - The Clue and First Meet"
Posting Komentar