Beranda · Menu · Menu 1 · Menu 2

Wrong Life - Improve and To Higher Level

Sena dan Reo berhasil menumbangkan monster tersebut dengan kerjasama yang luar biasa. “Hebat...baru kali ini aku melihatnya. Apakah ini kekuatan sebenarnya dari mereka berdua?”(Naria). Putri Alice teringat saat dia dan Sena berlatih di bawah pengawasan Krozen. “Apa?”(Putri Alice). “Seperti yang ku bilang sebelumnya. Kalian beruda akan berlatih sendiri-sendiri untuk mengembangkan bakat kalian masing-masing. Aku hanya akan membantu sedikit, jadi sisanya tergantung pada usaha kalian.”(Krozen). “Tapi, aku sama sekali belum tau banyak hal detail. Bagaimana jika aku nanti menghadapi kesulitan?”(Putri Alice). Sena terlihat tenang dengan penjelasan Krozen.  “Aku mengerti.”(Sena). “Apa kau yakin?”(Putri Alice). “Tenang saja, bukannya tadi dia bilang akan membantu kita? Jadi, setidaknya dia pasti akan memberitau kita, apa yang harus kita lakukan. Selain itu, selama kau punya tekad yang kuat dan percaya pada dirimu, aku percaya tidak akan ada yang sulit.”(Sena). Putri Alice terlihat kagum dengan Sena. “Walaupun aku tadi bilang membantu, tapi aku tidak sepenuhnya bisa mengatasi semua kesulitan yang akan kalian hadapi nantinya. Jadi, seperti yang dikatakan Sena, semuanya akan bergantung pada tekad kalian masing-masing.”(Krozen). Sena terlihat bersemangat. “Baiklah! Kita pasti bisa! Ayo berjuang, Putri!”(Sena). Putri Alice pun tersenyum melihat Sena. “Iya!”(Putri Alice).

Kembali ke sekarang, Naria terlihat berusaha menyadarkan Putri Alice yang sedang melamun dengan menepuk-nepuk kepala Putri Alice. “Hei...halo...apa ada orang di dalam??”(Naria). “Eh, ma...maaf.”(Putri Alice). “Kau ini...kenapa justru melamun begitu?”(Naria). “Tidak...aku hanya teringat sewaktu aku dan Sena akan berlatih dulu. Ternyata dia sekarang jauh lebih kuat, ya...”(Putri Alice). Naria memperhatikan Putri Alice lalu tersenyum. “Jangan-jangan kau...”(Naria). Putri Alice terlihat panik dan langsung menutup mulut Naria. Sena dan Reo terlihat mendekati Putri Alice dan Naria. “Ada apa?”(Sena). “Ti...tidak, tidak ada apa-apa...hehehehehehe”(Putri Alice). “Ngomong-ngomong, apa yang harus kita lakukan dengan benda ini?”(Reo). Reo terlihat menunjukkan sesuatu. “Benda apa itu?”(Naria). “Entahlah? Aku juga baru kali ini melihatnya.”(Putri Alice). “Aku menemukan benda ini saat monster itu lenyap.”(Reo). “Mungkin saja, ini ada hubungannya dengan kartu yang kita bawa.”(Sena). “Itu kelihatannya ada benarnya, tapi aku tadi sudah sempat mencobanya dan sama sekali tidak terjadi apa-apa.”(Reo). “Begitu ya...”(Sena). Naria terlihat memperhatikan benda itu dengan seksama. “Hei, bukannya benda ini mirip dengan benda yang ada di kuil saat kita baru sampai di pulau ini?”(Naria).

Sena, Reo, dan Putri Alice terlihat memperhatikan benda itu juga. “Benar juga.”(Sena). “Kalau tidak salah, benda ini ada di salah satu patung itu, kan?”(Putri Alice). “Patung, ya?”(Reo). “Ada apa?”(Sena). “Aku rasa, aku sempat melihat patung di salah satu sudut labirin.”(Reo). “Benarkah?”(Naria). “Kalau begitu...”(Putri Alice). “Kita harus meletakkan benda ini di patung itu seperti yang ada di patung di kuil.”(Sena). Sena terlihat memperhatikan sekeliling. “Tapi masalahnya, kita tidak tau bagaimana cara untuk kembali ke labirin, jadi bagaimana cara kita menemukan patungnya dan meletakkan benda ini?”(Naria). “Tidak, kita masih bisa kok...”(Sena). “Bagaimana caranya? Kita sampai di sini karena terjatuh, lalu apa yang bisa kita lakukan untuk kembali ke atas? Terbang?”(Naria). “Iya, itulah yang aku pikirkan.”(Sena). Naria terlihat bingung. “Kau serius?”(Naria). “Tentu saja, kita akan terbang menuju tempat itu, benarkan Reo?”(Sena). “Eh?”(Reo). Mencoba mengepakkan sayap. Terbang menuju cahaya di ujung jalan.

Dengan raut wajah bingung. Reo, Putri Alice, dan Naria berusaha mencari tau maksud Sena. “Lalu, bagaimana caranya kita akan terbang? Sayap saja kita tidak punya?”(Naria). Reo terlihat berpikir. “Apa mungkin, kau akan mencoba teknik dasar itu?”(Reo). “Teknik dasar? Jangan-jangan...”(Putri Alice). “Benar sekali. Saat kita mempelajari dasar dari kekuatan kita, bukankah kita juga diajarkan tentang pengendalian elemen?”(Sena). “Pengendalian elemen? Oh, yang itu, ya?”(Naria). “Benar, pada dasarnya kekuatan kita juga memanfaatkan energi alam. Jadi, tergantung pada pengendalian kita saja.”(Sena). “Tapi, untuk bisa memanfaatkannya, dibutuhkan kemampuan yang cukup tinggi, memang seperti menerapkan dasarnya, tapi bukan berarti bisa semudah itu, kan?”(Reo). “Benar juga, tapi sedari dulu aku penasaran tentang satu hal, Sena...”(Putri Alice). Putri Alice terlihat terdiam sejenak. “Bagaimana kau bisa tau dan punya kemampuan sejauh ini? Bukankah kau yang berasal dari dunia lain tidak bisa, bahkan tidak tau soal kekuatan ini?”(Putri Alice). Reo hanya menghela nafas. “Jujur, aku juga ingin tau hal itu?”(Reo).

Sena mulai menceritakan semuanya. “Memang aku berasal dari dunia lain, tapi bukan berarti kami juga tidak tau tentang hal semacam ini...”(Sena). “Jadi maksudmu...”(Naria). “Di duniaku, juga ada banyak orang yang bisa menggunakan kekuatan ini. Karena pada dasarnya kekuatan ini menggunakan unsur di dalam dan di luar tubuh, jadi tidak terlalu dibutuhkan latihan khusus untuk bisa menciptakannya.”(Sena). “Jadi, di duniamu juga ada orang-orang yang bisa menggunakannya?”(Putri Alice). “Begitulah...aku juga sedikit kaget, saat tau bahwa Reo yang berasal dari dunia ini juga bisa menggunakan kekuatan ini.”(Sena). Reo terlihat terlingat saat dia pertama kali bertemu dengan Sena. “Ya, aku hanya berburu sambil berlatih di hutan, dan tanpaku sadari insting dan kekuatanku mulai terbentuk secara alami, jadi aku tidak terlalu menghadapi kesulitan saat mengembangkannya.”(Reo). “Memang ada sedikit perbedaan, tapi secara keseluruhan, sebenarnya penerapan yang duniaku dan dunia ini lakukan itu sama, jadi aku berpikir, bahwa kita mungkin bisa melakukannya.”(Sena). “Begitu ya...”(Putri Alice). “Iya...mungkin bisa berhasil, tapi aku sebenarnya belum sampai tahan setinggi itu.”(Naria).

Reo pun mendekati dan menepuk bahu Naria. “Biar aku dan Sena yang akan mencobanya. Penerapan ini butuh tingkatan yang cukup tinggi, dan di antara kita berempat, hanya aku dan Sena yang mungkin telah sampai di tingkat itu.”(Reo). “Iya...aku juga berpikir begitu...”(Sena). Terlihat Sena dan Reo mulai mempersiapkan diri. “Kita hanya perlu menyesuaikan tekanannya dengan elemen udara di sekitar kita, jadi kita bisa mengendalikan tubuh kita saat terbang.”(Reo). “Ya, aku mengerti.”(Sena). Perlahan, Sena dan Reo mengeluarkan kekuatan mereka. Tekanan yang cukup besar keluar dari Sena dan Reo. “Tekanan ini...”(Naria). “Sama seperti saat mereka menjatuhkan monster tadi...”(Putri Alice). “Stabilkan kekuatan, Sena.”(Reo). “Baik!”(Sena). Perlahan tekanan yang tadi keluar mulai menyusut. Sena dan Reo terlihat berkonsentrasi penuh. Sena teringat saat berlatih dengan Krozen dulu. “Kau memang sudah punya kekuatan yang besar, yang harus kau lakukan sekarang hanya mengendalikan dan mengembangkannya.”(Krozen). Kembali ke waktu sekarang. Terlihat tubuh Sena dan Reo terselimuti aura yang cukup tebal. Putri Alice dan Naria yang melihatnya hanya bisa takjub. “Dengan ini, kita bisa memanfaatkan elemen di sekitar kita...”(Reo). “Baiklah...bagaimana kalau kita berangkat sekarang?”(Sena). Kekuatan yang telah berubah. Dia terus dan terus bersinar demi mencapai mimpinya.

Artikel keren lainnya:

Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life - Improve and To Higher Level"

Posting Komentar