
Sena dan Reo berhasil menumbangkan monster tersebut dengan kerjasama
yang luar biasa. “Hebat...baru kali ini aku melihatnya. Apakah ini
kekuatan sebenarnya dari mereka berdua?”(Naria). Putri Alice teringat
saat dia dan Sena berlatih di bawah pengawasan Krozen. “Apa?”(Putri
Alice). “Seperti yang ku bilang sebelumnya. Kalian beruda akan berlatih
sendiri-sendiri untuk mengembangkan bakat kalian masing-masing. Aku
hanya akan membantu sedikit, jadi sisanya tergantung pada usaha
kalian.”(Krozen). “Tapi, aku sama sekali belum tau banyak hal detail.
Bagaimana jika aku nanti menghadapi kesulitan?”(Putri Alice). Sena
terlihat tenang dengan penjelasan Krozen. “Aku mengerti.”(Sena). “Apa
kau yakin?”(Putri Alice). “Tenang saja, bukannya tadi dia bilang akan
membantu kita? Jadi, setidaknya dia pasti akan memberitau kita, apa yang
harus kita lakukan. Selain itu, selama kau punya tekad yang kuat dan
percaya pada dirimu, aku percaya tidak akan ada yang sulit.”(Sena).
Putri Alice terlihat kagum dengan Sena. “Walaupun aku tadi bilang
membantu, tapi aku tidak sepenuhnya bisa mengatasi semua kesulitan yang
akan kalian hadapi nantinya. Jadi, seperti yang dikatakan Sena, semuanya
akan bergantung pada tekad kalian masing-masing.”(Krozen). Sena
terlihat bersemangat. “Baiklah! Kita pasti bisa! Ayo berjuang,
Putri!”(Sena). Putri Alice pun tersenyum melihat Sena. “Iya!”(Putri
Alice).
Kembali ke sekarang, Naria terlihat berusaha
menyadarkan Putri Alice yang sedang melamun dengan menepuk-nepuk kepala
Putri Alice. “Hei...halo...apa ada orang di dalam??”(Naria). “Eh,
ma...maaf.”(Putri Alice). “Kau ini...kenapa justru melamun
begitu?”(Naria). “Tidak...aku hanya teringat sewaktu aku dan Sena akan
berlatih dulu. Ternyata dia sekarang jauh lebih kuat, ya...”(Putri
Alice). Naria memperhatikan Putri Alice lalu tersenyum. “Jangan-jangan
kau...”(Naria). Putri Alice terlihat panik dan langsung menutup mulut
Naria. Sena dan Reo terlihat mendekati Putri Alice dan Naria. “Ada
apa?”(Sena). “Ti...tidak, tidak ada apa-apa...hehehehehehe”(Putri
Alice). “Ngomong-ngomong, apa yang harus kita lakukan dengan benda
ini?”(Reo). Reo terlihat menunjukkan sesuatu. “Benda apa itu?”(Naria).
“Entahlah? Aku juga baru kali ini melihatnya.”(Putri Alice). “Aku
menemukan benda ini saat monster itu lenyap.”(Reo). “Mungkin saja, ini
ada hubungannya dengan kartu yang kita bawa.”(Sena). “Itu kelihatannya
ada benarnya, tapi aku tadi sudah sempat mencobanya dan sama sekali
tidak terjadi apa-apa.”(Reo). “Begitu ya...”(Sena). Naria terlihat
memperhatikan benda itu dengan seksama. “Hei, bukannya benda ini mirip
dengan benda yang ada di kuil saat kita baru sampai di pulau
ini?”(Naria).
Sena, Reo, dan Putri Alice terlihat
memperhatikan benda itu juga. “Benar juga.”(Sena). “Kalau tidak salah,
benda ini ada di salah satu patung itu, kan?”(Putri Alice). “Patung,
ya?”(Reo). “Ada apa?”(Sena). “Aku rasa, aku sempat melihat patung di
salah satu sudut labirin.”(Reo). “Benarkah?”(Naria). “Kalau
begitu...”(Putri Alice). “Kita harus meletakkan benda ini di patung itu
seperti yang ada di patung di kuil.”(Sena). Sena terlihat memperhatikan
sekeliling. “Tapi masalahnya, kita tidak tau bagaimana cara untuk
kembali ke labirin, jadi bagaimana cara kita menemukan patungnya dan
meletakkan benda ini?”(Naria). “Tidak, kita masih bisa kok...”(Sena).
“Bagaimana caranya? Kita sampai di sini karena terjatuh, lalu apa yang
bisa kita lakukan untuk kembali ke atas? Terbang?”(Naria). “Iya, itulah
yang aku pikirkan.”(Sena). Naria terlihat bingung. “Kau serius?”(Naria).
“Tentu saja, kita akan terbang menuju tempat itu, benarkan Reo?”(Sena).
“Eh?”(Reo). Mencoba mengepakkan sayap. Terbang menuju cahaya di ujung
jalan.
Dengan raut wajah bingung. Reo, Putri Alice, dan Naria berusaha
mencari tau maksud Sena. “Lalu, bagaimana caranya kita akan terbang?
Sayap saja kita tidak punya?”(Naria). Reo terlihat berpikir. “Apa
mungkin, kau akan mencoba teknik dasar itu?”(Reo). “Teknik dasar?
Jangan-jangan...”(Putri Alice). “Benar sekali. Saat kita mempelajari
dasar dari kekuatan kita, bukankah kita juga diajarkan tentang
pengendalian elemen?”(Sena). “Pengendalian elemen? Oh, yang itu,
ya?”(Naria). “Benar, pada dasarnya kekuatan kita juga memanfaatkan
energi alam. Jadi, tergantung pada pengendalian kita saja.”(Sena).
“Tapi, untuk bisa memanfaatkannya, dibutuhkan kemampuan yang cukup
tinggi, memang seperti menerapkan dasarnya, tapi bukan berarti bisa
semudah itu, kan?”(Reo). “Benar juga, tapi sedari dulu aku penasaran
tentang satu hal, Sena...”(Putri Alice). Putri Alice terlihat terdiam
sejenak. “Bagaimana kau bisa tau dan punya kemampuan sejauh ini?
Bukankah kau yang berasal dari dunia lain tidak bisa, bahkan tidak tau
soal kekuatan ini?”(Putri Alice). Reo hanya menghela nafas. “Jujur, aku
juga ingin tau hal itu?”(Reo).
Sena mulai menceritakan
semuanya. “Memang aku berasal dari dunia lain, tapi bukan berarti kami
juga tidak tau tentang hal semacam ini...”(Sena). “Jadi
maksudmu...”(Naria). “Di duniaku, juga ada banyak orang yang bisa
menggunakan kekuatan ini. Karena pada dasarnya kekuatan ini menggunakan
unsur di dalam dan di luar tubuh, jadi tidak terlalu dibutuhkan latihan
khusus untuk bisa menciptakannya.”(Sena). “Jadi, di duniamu juga ada
orang-orang yang bisa menggunakannya?”(Putri Alice). “Begitulah...aku
juga sedikit kaget, saat tau bahwa Reo yang berasal dari dunia ini juga
bisa menggunakan kekuatan ini.”(Sena). Reo terlihat terlingat saat dia
pertama kali bertemu dengan Sena. “Ya, aku hanya berburu sambil berlatih
di hutan, dan tanpaku sadari insting dan kekuatanku mulai terbentuk
secara alami, jadi aku tidak terlalu menghadapi kesulitan saat
mengembangkannya.”(Reo). “Memang ada sedikit perbedaan, tapi secara
keseluruhan, sebenarnya penerapan yang duniaku dan dunia ini lakukan itu
sama, jadi aku berpikir, bahwa kita mungkin bisa melakukannya.”(Sena).
“Begitu ya...”(Putri Alice). “Iya...mungkin bisa berhasil, tapi aku
sebenarnya belum sampai tahan setinggi itu.”(Naria).
Reo
pun mendekati dan menepuk bahu Naria. “Biar aku dan Sena yang akan
mencobanya. Penerapan ini butuh tingkatan yang cukup tinggi, dan di
antara kita berempat, hanya aku dan Sena yang mungkin telah sampai di
tingkat itu.”(Reo). “Iya...aku juga berpikir begitu...”(Sena). Terlihat
Sena dan Reo mulai mempersiapkan diri. “Kita hanya perlu menyesuaikan
tekanannya dengan elemen udara di sekitar kita, jadi kita bisa
mengendalikan tubuh kita saat terbang.”(Reo). “Ya, aku mengerti.”(Sena).
Perlahan, Sena dan Reo mengeluarkan kekuatan mereka. Tekanan yang cukup
besar keluar dari Sena dan Reo. “Tekanan ini...”(Naria). “Sama seperti
saat mereka menjatuhkan monster tadi...”(Putri Alice). “Stabilkan
kekuatan, Sena.”(Reo). “Baik!”(Sena). Perlahan tekanan yang tadi keluar
mulai menyusut. Sena dan Reo terlihat berkonsentrasi penuh. Sena
teringat saat berlatih dengan Krozen dulu. “Kau memang sudah punya
kekuatan yang besar, yang harus kau lakukan sekarang hanya mengendalikan
dan mengembangkannya.”(Krozen). Kembali ke waktu sekarang. Terlihat
tubuh Sena dan Reo terselimuti aura yang cukup tebal. Putri Alice dan
Naria yang melihatnya hanya bisa takjub. “Dengan ini, kita bisa
memanfaatkan elemen di sekitar kita...”(Reo). “Baiklah...bagaimana kalau
kita berangkat sekarang?”(Sena). Kekuatan yang telah berubah. Dia terus
dan terus bersinar demi mencapai mimpinya.
Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life - Improve and To Higher Level"
Posting Komentar