Beranda · Menu · Menu 1 · Menu 2

Wrong Life : From The Light and New Combination


Cahaya yang sangat terang muncul dari arah monster tersebut. Reo, Putri Alice, dan Naria yang berencana akan menyerang monster itu langsung berhenti. “Terang sekali! Apa kau yang melakukannya?”(Naria). “Tidak! Kali ini bukan aku.”(Reo). Saat cahaya tersebut mulai pudar. Terlihat monster itu diam tak bergerak seakan membatu. Tiba-tiba, terdengar suara seseorang yang tidak asing dari arah monster itu. “Kelihatannya aku datang tepat waktu, ya?”(Unknow). Putri Alice dan Naria yang mendengarnya langsung terkejut. “Suara ini...”(Putri Alice). “Bisakah sekali-kali kau tidak membuat masalah? Kau benar-benar membuatku kewalahan, tau.”(Reo). Tak lama berselang, tubuh monster itu langsung terbelah jadi dua dan terlihat Sena berada di belakang monster itu sambil menghunuskan pedangnya. “Iya...aku tau...”(Sena). Sena menyarungkan kembali pedangnya dan perlahan berjalan mendekati Reo dan yang lainnya. Putri Alice yang mengetaui itu Sena langsung berjalan mendekatinya. “Pu...putri...”(Naria). Putri Alice lalu berhenti tepat di depan Sena. “Maaf, aku jadi...”(Sena). Putri Alice langsung memukul kepala Sena. “Addduuhhh!! Kau ini ke...”(Sena). Terlihat Putri Alice meneteskan air mata. “Kau benar-benar bodoh...kau tau...”(Putri Alice). Sena langsung bangkit dan berusaha menenangkan Putri Alice. “Hei, hei, hei...Sudahlah, aku kan baik-baik saja, aku tidak mungkin mati di sini.”(Sena).

Putri Alice perlahan mengusap air matanya. “Bukan itu...”(Putri Alice). “Eh?”(Sena). “Aku hanya takut...jika harus kehilangan lagi orang yang berharga bagiku...hanya itu...”(Putri Alice). Sena yang mendengarnya hanya tersenyum dan mengusap kepala Putri Alice. “Terima kasih, ya...kau sudah mengkhawatirkanku...”(Sena). Putri Alice terkejut dan langsung terlihat malu. “Ada ap...”(Sena). Putri Alice langsung memukul perut Sena sampai tersungkur. “Ap...apa yang kau lakukan! Dasar mesum!”(Putri Alice). Reo dan Naria yang melihatnya hanya bisa tertegun. “Apa mereka berdua selalu begitu?”(Reo). “Entahlah, ini juga pertama kalinya aku melihat mereka seperti ini.”(Naria). “Begitu ya...”(Reo). Sena terlihat duduk bersila sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Haaahhh...aku benar-benar tidak tau masalah perempuan...”(Sena). Reo dan Naria mendekati Sena dan Putri Alice. “Ngomong-ngomong bagaimana caranya kau bisa keluar dari jebakan itu?”(Naria). “Soal itu...”(Sena). Sena melihat ke arah Reo dan teringat jika dia sebelumnya bertemu dengan dirinya yang lain. “Tidak ada kok...aku hanya berusaha sekuatku saja.”(Sena). “Hebat juga kau, ku kira kau tadi tidak akan bisa kembali.”(Naria). “Kau ini...aku kan sudah janji, mana mungkin aku kalah dengan hal seperti ini.”(Sena).

Reo terlihat menyadari sesuatu, namun hanya terdiam sambil melihat Sena. “Oh ya, kenapa kau bisa ada di sini?”(Sena). “Ya...lagi-lagi hanya kebetulan saja...mungkin aku memang tidak bisa jauh dari kalian.”(Reo). “Yang benar...”(Sena). “Ya begitulah...”(Reo). “Mmmmm...ku kira kau kesepian dan berusaha mencari kami.”(Sena). “Hoi!”(Reo). “Ngomong-ngomong, bagaimana cara kita keluar dari sini? Kalau tidak cepat, kita bisa gagal dalam babak ini.”(Putri Alice). “Benar juga, aku sampai lupa.”(Naria). Terlihat Reo mengeluarkan kartunya. “Sepertinya di sini juga tidak ada petunjuk.”(Reo). “Lalu, bagaimana ini?”(Naria). Sena terlihat berpikir. “Kalau aku sih punya ide, tapi aku rasa ini bukan ide yang bagus.”(Sena). “Benarkah? Memang ide seperti apa?”(Putri Alice). “Mmmmm...agak sulit juga sih untuk menjelaskannya...”(Sena). “Kenapa?”(Putri Alice). “Soalnya...”(Sena). Tiba-tiba, monster yang tadi, terlihat bergerak kembali. “Kita masih akan berurusan lagi dengan dia...”(Sena). Putri Alice dan yang lainnya langsung terkejut melihat monster itu. Kembali, namun masih banyak hal yang harus diselesaikan sebelum keluar dari labirin ini.


Monster tersebut terlihat bangkit kembali. “Kenapa bisa begini? Seharusnya dia sudah kalah, kan?”(Naria). Dengan tenang, Sena terlihat memperhatikan monster itu. “Kalian ingat tidak, sewaktu babak penyisihan. Waktu itu kita juga harus berhadapan dengan monster, kan?”(Sena). Putri Alice langsung teringat dengan kejadian saat di babak penyisihan. “Benar juga...”(Putri Alice). “Jadi artinya...petunjuk agar kita bisa keluar dari labirin ini, ada pada monster itu? Sama seperti yang terjadi di babak penyisihan?”(Reo). “Ya...itu masih perkiraan sih, tapi masalah benar tidaknya, kan bisa dipikir belakangan...”(Sena). Sena terlihat kembali menarik pedangnya. “Yang penting sekarang, kalau kita memang ingin selamat, kita harus menghancurkan dia dulu.”(Sena). Reo terlihat tersenyum dan berdiri di samping Sena. “Kalian berdua...”(Putri Alice). “Aku rasa memang ada benarnya juga. Lagipula prioritas kita sekarang adalah menjatuhkan monster itu. Ya, kita lakukan saja.”(Reo). Monster tersebut terlihat marah dan perlahan mulai mengeluarkan aura yang sangat pekat. “Ku rasa cara biasa tidak akan mempan melawannya.”(Sena). “Kalau begitu, kita pancing perhatiannya dan serang dari dua arah berlawanan.”(Reo). Sena terlihat mempelajari monster itu.

“Sebenarnya ada hal yang ingin aku coba, bisakah kau melakukan sesuatu untuk ku?”(Sena). “Memang apa yang ingin kau lakukan? Jangan bilang kau akan mencoba hal yang aneh-aneh?”(Reo). “Mana mungkin aku melakukan hal yang aneh-aneh di saat begini.”(Sena). “Lalu, apa yang ingin kau lakukan?”(Reo). “Kalian berdua, awas!!”(Naria). Tiba-tiba, monster itu sudah ada di hadapan Sena dan Reo dan langsung menyerang, namun Sena dan yang lainnya berhasil menghindar. “Hampir saja...”(Sena). “Gerakannya jadi jauh lebih cepat dari sebelumnya.”(Putri Alice). “Baiklah...”(Sena). Sena langsung dalam posisi siaga dengan kuda-kuda yang berbeda dari sebelumnya. “Apa kau yakin bisa menggunakannya, Sena?”(Putri Alice). “Mau bagaimana lagi? Kita sudah hampir kehabisan cara. Selain itu, monster itu jauh berbeda dari monster-monster yang pernah kita temui selama ini.”(Sena). “Maksudnya?”(Naria). “Monster kali ini...bukanlah tipe monster yang bisa dikalahkan hanya dengan kekuatan biasa...”(Reo). Reo juga terlihat dalam posisi siaga. “Kau perlu kekuatan khusus untuk menjatuhkannya.”(Reo). “Ternyata kau juga sudah menyadarinya, ya?”(Sena). “Aku baru terpikir hal itu saat dia berusaha menyerang kita tadi.”(Reo). “Kalau begitu, kau sudah tau rencananya, kan?”(Sena). “Iya...”(Reo).

Monster tersebut kembali berusaha menyerang. “Hitotsuboshi...”(Sena). Tiba-tiba, muncul cahaya beserta tekanan yang kuat dari Sena yang langsung membuat monster itu mundur. Dengan cepat, Sena melompat tepat di hadapan monster itu. “Kagerou!!”(Sena). Sena langsung menebaskan pedangnya. Tebasan pedang Sena berubah menjadi cahaya yang besar seperti pilar yang langsung mengarah ke monster itu. Tubuh monster tersebut terlihat hampir hancur, tapi masih bisa bergerak. “Dia masih begerak!”(Naria). Sena hanya tersenyum. “Kau sudah tamat, kawan...”(Sena). Terlihat Reo melompat dan telah berada tepat di atas monster itu. “Bakuhatsu...”(Reo). Dalam sekejap, Reo langsung menerjang monster itu. “Raiden No Kiba!!”(Reo). Ledakan yang sangat besar pun menghempaskan semuanya. Saat kabut asap perlahan mulai menghilang, Putri Alice terlihat memperhatikan ke arah di mana monster tersebut tadi berada. “Apa mereka berhasil?”(Putri Alice). “Semoga saja...”(Naria). Saat kabut asap benar-benar menghilang, terlihat Sena dan Reo berdiri melihat ke arah Putri Alice. “Rencana...”(Sena). “Sukses...”(Reo). Dengan kerjasama dan kekuatan yang baru. Perlahan mereka melangkah ke tahap yang lebih tinggi.

Artikel keren lainnya:

Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life : From The Light and New Combination"

Posting Komentar