Sena perlahan mengulurkan tangannya ke Putri Alice. “Ayo, kita pergi sekarang. Kalau tidak cepat, kita akan tertinggal jauh.”(Sena). “Ba...baiklah...”(Putri Alice). Putri Alice memengang erat tangan Sena yang terbalut aura tenang. “Reo, tolong kau bawa Naria, ya.”(Sena). “Iya, aku mengerti.”(Reo). Reo memperhatikan Naria yang masih terdiam karena kagum. “Hei, kau baik-baik saja, kan?”(Reo). “Eh, i...iya...aku baik-baik saja.”(Naria). “Baguslah...”(Reo). Reo juga mengulurkan tangan ke arah Naria. “Kita juga harus pergi sekarang.”(Reo). Naria hanya mengangguk. “Baik, ayo kita terbang!”(Sena). Perlahan Sena mulai melayang di udara bersama Putri Alice. “Waaahhhh...”(Putri Alice). Putri Alice terlihat terkejut saat dirinya melayang di udara. “Tenang saja...”(Sena). Putri Alice memperhatikan Sena. “Kau tidak akan ku lepaskan...aku janji...”(Sena). Putri Alice yang sebelumnya tegang, perlahan mulai tersenyum. “Iya...”(Putri Alice). Putri Alice kembali teringat di saat-saat di mana dia bersama Sena. “Aku memang tidak tau kenapa...”(Putri Alice:Dalam Hati). Genggaman tangan Putri Alice semakin erat. “Tangan ini...entah kenapa...rasanya aku mulai mengerti...”(Putri Alice:Dalam Hati). Terlihat seperti sekilas cahaya memancar dari atas Sena dan yang lainnya. “Aku...sekarang...”(Putri Alice:Dalam Hati).
Tak
lama berselang, Sena dan yang lainnya berhasil sampai kembali ke
labirin. “Yup! Kita sudah sampai.”(Sena). “Tak ku sangka metode tadi
ternyata sangat berguna.”(Naria). “Ya, hanya kebetulan saja aku ingat.
Memang aneh sih, tapi aku ini sebenarnya tidak terlalu bagus dalam hal
seperti tadi.”(Sena). Sena melihat Putri Alice yang terdiam sambil
memengang tangannya. “Hei...kau kenapa?”(Sena). Putri Alice langsung
tersadar dan terkejut. “Ahhh! Ti...tidak, tidak ada
apa-apa...hehehehehe.”(Putri Alice). “Kalau begitu, bisakah
kau...”(Sena). Sena memperlihatkan Putri Alice dan tangannya yang masih
digenggam erat oleh Putri Alice. “Ma...maaf. Aku tadi, agak terbawa
suasana...”(Putri Alice). “Kau yakin baik-baik saja?”(Sena).
“I...itu...”(Putri Alice). Sena terlihat menempelkan tangannya ke dahi
Putri Alice. “Mmmmm...agak panas sih...”(Sena). Putri Alice hanya
terdiam dan terlihat gugup. Naria yang melihatnya langsung mendekati
Sena dan Putri Alice. “Ti...tidak apa-apa...mungkin dia agak kelelahan,
jadi biar aku saja yang akan menemaninya.”(Naria). “Begitu ya...”(Sena).
“Sena, sebaiknya kita pastikan saja tempat patung itu sambil menunggu
kondisi putri membaik. Lagipula, mungkin masih banyak jebakan, jadi kita
juga harus memastikan jalur yang aman.”(Reo). “Aku mengerti.”(Sena).
Sena dan Reo terlihat akan pergi. “Kalau begitu, kalian berdua istirahat
saja dulu. Secepatnya, aku dan Reo pasti akan kembali menjemput
kalian.”(Sena). “Iya.”(Naria).Sena dan Reo pun pergi menyusuri salah satu jalur yang ada. “Mereka itu memang selalu bersemangat, ya.”(Naria). “Na...Naria...”(Putri Alice). “Iya...”(Naria). “Aku tadi...apa aku tadi bertingkah aneh?”(Putri Alice). “Kenapa kau bertanya begitu?”(Naria). Putri Alice terdiam sejenak. “Bagaimana, ya? Hanya rasanya aneh saja...diriku yang sekarang...”(Putri Alice). Naria yang memperhatikan Putri Alice langsung tersenyum. “Begitu ya...”(Naria). “Eh?”(Putri Alice). “Mungkin...kau harus berusaha untuk sedikit lebih jujur lagi...”(Naria). “Jujur?”(Putri Alice). “Mungkin kau belum sepenuhnya menerimanya, tapi aku tau...jauh di dalam dirimu, sesuatu itu pasti ada. Kalau kau memang percaya dengannya, kau hanya perlu menerimanya saja...”(Naria). Putri Alice terdiam sejenak, lalu terlihat tersenyum. “Menerima, ya?”(Putri Alice:Dalam Hati). Perasaan yang jauh dalam dirinya, perlahan muncul dan mulai mengubahnya.
Sena dan Reo terlihat berjalan menyusuri sebuah jalur. “Kau yakin ini jalurnya?”(Sena). “Ya, tidak salah lagi.”(Reo). Sena dan Reo terus berjalan. Sena sejenak terlihat agak murung. Reo yang mengetauinya langsung berusaha menanyai Sena. “Kau kenapa?”(Reo). “Tidak...tidak ada apa-apa kok.”(Sena). “Begitu ya...”(Reo). Sena masih terlihat terdiam. “Kau tidak perlu bohong...”(Reo). “Eh?”(Sena). “Kau masih memikirkannya, kan? Kejadian dulu itu?”(Reo). Sena hanya terdiam. “Bukankah sudah ku bilang, itu bukan lagi urusanku. Aku sudah tidak memikirkannya lagi.”(Reo). Sena tiba-tiba berhenti. “Tidak...bukan itu yang ku maksud.”(Sena). “Apa maksudmu?”(Reo). Sena terdiam sejenak. “Dulu, kau pernah bilang, kan...jika kau bisa merasakan sesuatu dalam diriku yang mungkin sama dengan orang itu?”(Sena). “Iya, tapi bukannya sudah ku bilang, itu sudah tidak ada kaitannya dengan kita sekarang. Kenapa kau masih khawatir seperti itu?”(Reo). Sena teringat saat dia sebelumnya bertemu dengan dirinya yang lain. “Jika, ternyata apa yang kau rasakan itu memang benar terjadi dan mengubah semuanya, apa kau masih bisa menganggap itu bukan apa-apa?”(Sena).
Di sisi lain labirin, terlihat mayat-mayat peserta tersebar di berbagai jalur. Dari kejauhan, terlihat seseorang berjalan menyusuri salah satu jalur itu. “Haaaahhh...benar-benar membosankan...”(Unknow). Orang tersebut terlihat terus berjalan sambil memperhatikan setiap mayat yang ada di sekitarnya. “Mungkin aku harus menemukan mereka. Ya, merekalah yang terbaik...siapa tau saja mereka bisa memberikan pertunjukkan yang bagus...”(Unknow). Orang tersebut terlihat tersenyum dengan keadaan tubuh yang terbalut masih darah segar. Di tempat Putri Alice. Terlihat Putri Alice dan Naria yang masih menunggu Sena dan Reo. “Mereka bedua cukup lama juga, ya?”(Naria). “Mungkin saja jalurnya agak sulit, jadi mereka harus mencari jalur yang tepat.”(Putri Alice). “Haaaahhh...aku benar-benar khawatir, jangan-jangan mereka kena jebakan lain lagi?”(Naria). “Tidak kok...mereka pasti bisa...”(Putri Alice). Tak lama berselang, terlihat Sena dan Reo datang. “Akhirnya kembali juga.”(Naria). “Kami sudah memastikan jalurnya, dan semuanya aman.”(Reo). “Sebaiknya kita harus cepat.”(Sena). “Iya.”(Putri Alice).
Setelah berjalan agak lama. Terlihat Sena dan yang lainnya telah sampai di suatu tempat. “Nah, kita sudah sampai.”(Sena). “Tempat ini...”(Putri Alice). Terlihat Reo menunjuk sesuatu. “Patungnya ada di sebelah sana.”(Reo). Putri Alice dan Naria melihat ke arah yang di tunjukkan Reo. “Benar juga, itu patungnya.”(Naria). “Tapi, bagaimana hasilnya? Apa kau yakin benar-benar berhasil?”(Putri Alice). “Kami memang belum mencobanya, sih.”(Sena). “Lalu, bagaimana kalian bisa yakin kalau ini adalah patung yang dimaksud?”(Putri Alice). “Ya, hanya feeling saja, lagipula jika itu memang patung yang benar, dan kami kembali, maka kalian pasti akan tertinggal di sini, kan?”(Sena). “Benar juga...”(Naria). “Kalau begitu, kenapa tidak kita coba sekarang?”(Reo). “Baiklah. Tolong ya, Reo”(Sena). Reo perlahan meletakkan benda tersebut tepat di dahi patung tersebut, namun tidak terjadi apa-apa. “Kenapa tidak terjadi apa-apa?”(Putri Alice). “Entahlah, tapi aku yakin ini patungnya. Tidak mungkin ada patung lain di labirin ini.”(Reo). Sena terlihat berpikir. “Apa mungkin memang bukan ini caranya?”(Sena). “Lalu, bagaimana? Kita harus menyelidiki ini dari awal lagi, dong?”(Naria). “Ya mungkin...”(Putri Alice). Saat Putri Alice berusaha melangkah mendekati patung tersebut, tiba-tiba Putri Alice seperti menginjak sesuatu hingga hampir terjatuh, namun Sena berhasil memengangnya. “Kau kenapa?”(Sena). Tiba-tiba patung tersebut mengeluarkan cahaya yang sangat terang. Patung misterius dan labirin penuh jebakan. Bersama mereka berusaha berjalan menuju cahaya.
Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life - I Won’t Let You Go and The Statue"
Posting Komentar