Sena dan yang lainnya tersapu pancaran cahaya yang sangat
terang. “Apa mungkin ini jebakan juga?!”(Naria). Cahaya tersebut membuat
Sena dan yang lainnya tidak bisa melihat apapun. “Ini...”(Sena:Dalam
Hati). Setelah cukup lama, Sena terlihat membuka kedua matanya. Terlihat
Reo, Putri Alice, dan Naria masih berada di samping Sena. “Kalian tidak
apa-apa, kan?”(Sena). “Kami baik-baik saja...”(Reo). Putri Alice
terlihat tertegun melihat sekeliling. “Hei...bukannya ini...”(Putri
Alice). Ternyata Sena dan yang lainnya berada di puncak kuil di mana
mereka pertama datang di pulau itu. Sena dan yang lainnya terlihat
terkejut dan bingung. “Kenapa bisa?”(Naria). “Apa mungkin ini
artinya...”(Reo). “Kita berhasil...”(Sena). Tak lama kemudian, terlihat
seseorang menghampiri mereka. “Selamat! Kalian adalah peserta pertama
yang sampai di sini.”(Unknow). Sena dan yang lainnya yang mendengar
suara itu langsung menoleh, dan orang yang datang ternyata adalah Ketua
Panitia. “Ke...Ketua Panitia?”(Sena). “Kalian memang hebat. Tidak ku
sangka kalian yang akan datang terlebih dulu.”(Ketua Panitia).
“Jadi...kami berempat...”(Naria). Ketua Panitia terlihat tersenyum. “Ya,
kalian berhasil lolos ke babak selanjutnya.”(Ketua Panitia). Putri
Alice dan Naria yang mendengarnya terlihat sangat senang, sedangkan Sena
dan Reo terlihat tersenyum lega dengan raut wajah agak kelelahan. Sena
terlihat langsung jatuh terduduk melepas lelah. “Haaaahhhh...syukurlah
kita berhasil...”(Sena).

Reo terlihat mengulurkan
tangannya ke Sena sambil tersenyum. “Kerja bagus...”(Reo). “Iya...kau
juga...”(Sena). “Sepertinya para peserta yang lain juga sudah mulai
datang.”(Ketua Panitia). Terlihat peserta yang tersisa mulai
bermunculan. “Hebat juga mereka. Padahal kita sudah bersusah payah untuk
mengalahkan monster itu dan memecahkan petunjuknya, tapi mereka bisa
sampai di sini dengan selamat, kelihatannya?”(Putri Alice). “Itu semua
memang berkat kalian.”(Ketua Panitia). Sena dan yang lainnya terlihat
bingung. “Apa maksudnya?”(Naria). “Untuk labirin kedua, memang sedikit
berbeda. Intinya siapa pun yang berhasil mengalahkan monster itu dan
menyempurnakan patungnya, maka semua peserta yang tersisa akan langsung
di anggap lolos.”(Ketua Panitia). Naria terlihat terkejut dan tidak
percaya. “Apa? Jadi, semudah itu mereka lolos?”(Naria).
“Begitulah...”(Ketua Panitia). Putri Alice terlihat agak murung.
“Padahal kita sudah berusaha keras...”(Putri Alice). Sena terlihat
menepuk pundak Putri Alice. “Tidak apa-apa, kan? Bukankah ini artinya
kau telah menolong mereka? Kan, kau dulu pernah bilang, kalau kau ingin
jadi putri yang hebat dan menyelamatkan semuanya, jadi apa
salahnya?”(Sena). “Tapi, ini kan sama saja tidak adil bagi
kita.”(Naria). “Adil tidak adil...kita tetap hanya seorang peserta.
Lagipula mereka juga tidak curang, kan?”(Reo). “Itu memang
benar...”(Naria).
Ketua Panitia terlihat mengumpulkan
semua peserta yang tersisa. “Baiklah, aku ucapkan selamat atas
keberhasilan kalian dalam menjalani babak kedua. Dan menurut data,
peserta yang tersisa sekarang berjumlah enam puluh empat orang.”(Ketua
Panitia). Semua peserta yang mendengarnya ada yang terlihat lega dan ada
yang terlihat bingung. “Tapi, bagaimana bisa kami tadi lolos? Padahal
kami tadi tidak merasa melakukan apa pun?”(Peserta 1). “Benar juga,
ya...kami tadi bahkan ada yang hampir terkena jebakan, dan saat itu
tiba-tiba ada cahaya yang terang, lalu kami tiba-tiba saja ada di
sini.”(Peserta 2). Semua peserta semakin terlihat bingung. “Sebenarnya
peraturan di labirin kedua memang sedikit berbeda...”(Ketua Panitia).
Ketua Panitia lalu memanggil Sena dan yang lainnya. “Mereka berempat
inilah...yang sudah membuat kalian semua lolos dari babak ini.”(Ketua
Panitia). Semua peserta yang mengetauinya terlihat tercengang, seakan
tidak percaya. Penyelamatan yang tidak terduga.
Dengan ekspresi yang seakan tidak percaya, para peserta
terlihat mulai melancarkan protes pada Ketua Panitia. “Hoi! Tunggu dulu.
Bagaimana bisa Putri Pembunuh ini yang menyelamatkan kami?”(Peserta 3).
“Itu benar! Apa ini hanya sebuah sandiwara agar kami bisa percaya
padanya?”(Peserta 1). “Aku sama sekali tidak terima dengan keputusan
ini!”(Peserta 2). Di tengah luapan emosi para peserta, perlahan Putri
Alice mulai maju. “Hei, putri...”(Naria). Putri Alice terlihat berdiri
di hadapan para peserta, lalu membungkukkan badannya. “Aku minta
maaf!”(Putri Alice). Semua peserta yang mendengarkan Putri Alice
langsung terdiam. “Mungkin kalian masih belum percaya padaku, tapi aku
akan terus berusaha dan melakukan semua yang kubisa untuk menolong
kalian. Bukan sekedar sebagai sesama peserta, tapi sebagai seorang putri
yang harus melindungi rakyatnya. Karena itu...aku mohon, beri aku
kesempatan sekali lagi. Akan aku buktikan jika aku sama sekali tidak
bersalah atas kejadian itu.”(Putri Alice). Semua peserta hanya bisa
terdiam sambil terlihat masih agak kesal. “Haaaahhhh...mau bagaimana
lagi...”(Sena). “Eh?”(Naria). Sena terlihat maju ke samping Putri Alice
yang masih membungkuk. Sena dengan perlahan memegang kepala Putri Alice.
“Dia ini mungkin masih muda...tapi aku tau perasaannya sebagai seorang
putri...”(Sena).
Sena perlahan teringat kembali dengan
saat-saat dia bersama Putri Alice. “Dia sangat menyayangi keluarga dan
rakyat yang dicintai keluarganya...karena itu, aku sangat
memahaminya...”(Sena). Putri Alice terlihat terkejut dengan perkataan
Sena. “Dia akan melakukan apa pun untuk bisa membahagiakan rakyatnya dan
membanggakan ayahnya...karena itu...”(Sena). Sena langsung ikut
membungkukkan badannya di hadapan para peserta. “Akan ku pastikan dia
tidak bersalah! Kalau kalian semua masih belum bisa mempercayainya atau
diriku, kalian bisa mengambil nyawaku sebagai gantinya kapan
saja!”(Sena). Semua peserta sontak terkejut. Tiba-tiba salah satu
peserta terlihat maju mendekati Sena dan Putri Alice. “Dulu...Raja Eliot
pernah menyelamatkanku dengan mempertaruhkan nyawanya...”(Peserta 5).
Sena pun melihat ke arah orang itu. “Karenanya aku sangat berhutang budi
padanya dan aku sangat paham, seperti apa keluarga Raja Eliot
itu...”(Peserta 5). Orang itu menepuk pundak Putri Alice dan Sena dengan
lembut. “Aku percaya pada kalian berdua. Kalian pasti bisa
mengembalikan semuanya seperti dulu, aku percaya itu...”(Peserta 5).
Putri Alice yang terharu, perlahan meneteskan air mata. Sena yang
melihat Putri Alice hanya bisa tersenyum lega.
Orang itu
terlihat ikut tersenyum. “Berdirilah...dan lihatlah semua orang yang ada
di hadapan kalian...”(Peserta 5). Sena dan Putri Alice perlahan
menegakkan kepala mereka. Putri Alice sangat terkejut melihat sebagian
besar peserta yang sebelumnya membencinya terlihat membungkukkan badan
mereka. “Kami semua minta maaf, jika kami mungkin sudah menuduh
anda.”(Peserta 1). “Kami hanya tidak bisa menerima kematian sahabat
kami, tapi kami juga pernah berulang kali diselamatkan oleh Raja
Eliot...”(Peserta 6). “Jadi...kami juga merasa bahwa kami bisa berada di
sini sekarang, karena kebaikkan beliau, dan juga...”(Peserta 2). “Kami
akan berusaha untuk mengembalikan dunia ini seperti semula...seperti
dulu.”(Peserta 4). “Karenanya kami semua...”(Peserta 1). “Mohon
bimbingannya...Tuan Putri!”(Sebagian Peserta). Putri Alice semakin tidak
kuasa menahan air matanya. “Kau lihat, kan...di dalam hati mereka,
mereka tetaplah rakyat yang percaya pada raja mereka...”(Sena). Sena
menepuk pundak Putri Alice. “Dan kepercayaan mereka akan terus mengalir
padamu...karena aku tau, ayahmu juga percaya padamu...putri...”(Sena).
Mahkota yang selama ini telah melindungi rakyatnya, perlahan telah
diserahkan pada Sang Putri yang pantang menyerah dan percaya pada
rakyatnya.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life - Save Their Life and For All"
Posting Komentar