
Dalam sekejap, sebuah serangan telak hampir mengenai Sena, namun Sena
berhasil menghindarinya. “Ternyata kau memang sulit untuk dijatuhkan,
ya?”(Unknow). “Apa-apaan ini sebenarnya?!”(Sena). “Ada apa? Kenapa kau
tidak cari tau saja sendiri?”(Unknow). Orang tersebut kembali berusaha
menyerang Sena. “Kalau begitu...”(Sena:Dalam Hati). Sena pun bersiap
untuk melancarkan serangan balik. “Terima ini!!”(Unknow). Dengan sekejap
mata, Sena berhasil melempar senjata orang itu dan langsung
mengacungkan pedangnya ke arah leher orang itu. “Si...sial...”(Unknow).
“Jadi...bolehkah aku bertanya beberapa hal padamu?”(Sena). Orang itu
terlihat terdesak. “Apa yang ingin kau tau dariku?”(Unknow). Sena pun
menatap tajam mata orang itu. “Semuannya...semua yang berhubungan dengan
event ini.”(Sena). Sementara itu, di sudut lain labirin, terlihat Putri
Alice sedang berjalan menyusuri jalur-jalur di dalam labirin.
“Bagaimana ini, sama sekali tidak ada petunjuk arah yang jelas.”(Putri
Alice). Putri Alice pun terus berjalan, hingga dia berpapasan dengan
seseorang. “Kau...”(Putri Alice). Ternyata orang tersebut adalah Fiona.
“Oh, Tuan Putri, ya? Kebetulan sekali kita bisa bertemu di
sini.”(Fiona). Putri Alice langsung mengambil posisi siaga.
“Hei...hei...apa sebegitu takutnya anda padaku, Tuan Putri?”(Fiona).
“Aku sudah dengar semua rumor tentangmu. Kau adalah pemburu bayaran yang
punya kemampuan tinggi dan sama sekali tidak kenal belas kasih. Semua
orang kerajaan sudah tau tentangmu.”(Putri Alice).
Fiona
pun melangkah mendekati Putri Alice sambil tersenyum kecil.
“Haaaahhh...padahal itu hanya pekerjaan biasa kok. Lagipula mereka itu
terlalu melebih-lebihkan saja. Aku sama sekali tidak tertarik dengan
bunuh-membunuh atau semacamnya. Aku hanya tertarik dengan pertarungan
dan uangnya saja. Kalau pun aku membunuh, itu karena lawanku memang
terlalu lemah.”(Fiona). “...”(Putri Alice). Putri Alice terlihat serius.
“Kalau kau ingin tau alasan kenapa aku melakukan semua itu, maka
jawabku hanya singkat saja...”(Fiona). Tiba-tiba, terlihat seseorang
berlari dari salah satu persimpangan di sebelah kanan Putri Alice.
Dengan cepat, Fiona langsung menembak orang tersebut, yang ternyata
berusaha ingin menyerang Putri Alice. “!!!”(Putri Alice). “Karena rasa
sakitku ini tidak akan pernah hilang sampai aku bisa membunuh dia.
Itulah alasanku menjadi kuat dan membunuh orang-orang...”(Fiona). Orang
tadi langsung tersungkur tak bernyawa. “Kenapa...kau...”(Putri Alice).
“Apa kau berpikir masih bisa memaafkan orang yang berusaha membunuhmu
tanpa berpikir? Kuberi tau kau satu pengertian jelas di sini...”(Fiona).
Fiona melangkah menuju mayat orang tadi. “Tidak ada yang namanya belas
kasihan dalam dendam. Kalau kau tidak mau merasakan dendam, maka jangan
pernah menyayangi sesuatu.”(Fiona).
Di sudut
lain labirin. Reo terlihat berjalan sambil memikirkan sesuatu. Reo
mengeluarkan sebuah kalung yang di dalamnya terdapat fotonya bersama
ayah, ibu, dan Azrea. Reo teringat kembali dengan Azrea. “Tidak akan
kubiarkan semua itu terulang lagi...”(Reo:Dalam Hati). Reo lalu berhenti
dan menutup kalungnya. “Akan kupastikan semua baik-baik
saja...”(Reo:Dalam Hati). Reo menoleh ke jalur yang ada di sisi kirinya.
“Kakak pasti berhasil...kakak janji.”(Reo:Dalam Hati). Kembali ke
tempat Putri Alice. Putri Alice masih terlihat tegang setelah melihat
apa yang dilakukan oleh Fiona. “Jangan salah sangka. Aku menolongmu
karena kau punya hubungan dengan dia, jadi...”(Fiona). Fiona pun menoleh
ke arah Putri Alice dengan tatapan menakutkan. “Mohon bantuannya...Tuan
Putri...”(Fiona). Fiona pun beranjak meninggalkan Putri Alice yang
masih ketakutan. Di tempat Sena. Sena terlihat terkejut mendengar
jawaban dari orang yang tadi berusaha menyerangnya. “Maksudmu...(Sena).
“Ya, hanya itu yang aku tau. Terlebih lagi dengan apa yang terjadi di
kapal waktu itu, mana mungkin ada peserta yang akan
menolongmu.”(Unknow). “Itu artinya...”(Sena:Dalam Hati). Sena pun
melepas orang itu dan langsung berlari menuju suatu tempat. Semakin
rumit. Setiap petunjuk itu semakin membawanya dalam labirin kebimbangan.
Dengan penuh kebimbangan, Sena terus berlari melewati setiap sudut
labirin. “Jika diingat-ingat lagi...”(Sena:Dalam Hati). Sena teringat
dengan kakek tua yang sudah mengirimnya ke dunia ini. “Dia bilang ini
ada hubungannya dengan ayah dan ibu...”(Sena:Dalam Hati). Dinding
labirin kembali bergerak. “Jika memang target utama event ini adalah
aku...”(Sena:Dalam Hati). Dinding labirin akhirnya telah berhenti. Di
kejauhan Sena melihat beberapa peserta yang lain. “Maka dengan
memenangkan event ini, mungkin saja...”(Sena:Dalam Hati). Tiba-tiba,
seseorang menepuk bahu Sena dari belakang. Sena pun berbalik, dan
ternyata orang itu adalah Naria. “Kau kan...”(Sena). “Jadi kau tidak
bersama putri, ya?”(Naria). “Iya, itu...”(Sena). Tiba-tiba Sena teringat
dengan Putri Alice. “Gawat! Aku lupa jika keadaannya jadi
buruk!”(Sena:Dalam Hati). “Ada apa?”(Naria). “Sebaiknya kita cari dia
dulu. Setelah kejadian di kapal, bukannya tidak mungkin jika banyak
peserta yang dendam dan berusaha untuk membunuhnya.”(Sena). “Ya, tapi
kita kan belum tau posisi dia di mana.”(Naria). Sena terlihat bingung.
“Kalau dibiarkan saja bisa gawat...”(Sena:Dalam Hati). Dari kejauhan,
terlihat seseorang mendekati Sena dan Naria. “Tenang saja...dia tidak
apa-apa kok...”(Unknow).
Sena dan Naria
menoleh ke arah orang itu yang ternyata adalah Fiona. “Siapa
kau?”(Sena). “Jangan-jangan kau...”(Naria). “Aku tadi sempat
berbincang-bincang dengannya. Ya, mungkin aku sedikit keras padanya,
tapi aku hanya ingin dia mengubah sedikit pola pikirnya sebagai seorang
putri...”(Fiona). “Apa maksudmu?”(Sena). “Kalau kau memang ingin menemui
dia, dia ada di ujung jalur belakangku ini. Kalau kalian ke sana
mungkin kalian masih bisa menemukannya.”(Fiona). Sena terlihat merasakan
hawa yang kuat dari Fiona. “Kalau diamati lagi, dia punya hawa tekanan
yang hebat...kelihatannya dia bukan peserta biasa.”(Sena:Dalam Hati).
“Kalau begitu, kita sebaiknya segera ke tempat putri!”(Naria). “Apa kami
bisa percaya dengan kata-katamu?”(Sena). “Aku tidak bilang kalian harus
percaya. Aku hanya mengatakan apa yang memang aku tau. Semuanya
terserah pada kalian.”(Fiona). Naria terlihat memberikan Sena sesuatu.
“Ambil ini. Dengan ini aku bisa berkomunikasi denganmu, jadi kau tunggu
saja di sini dan biar aku yang akan memastikannya.”(Naria). “Apa kau
yakin?”(Sena). “Putri sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri, jadi
akan kulakukan apapun untuk menolongnya.”(Naria). “Baiklah, aku
percayakan dia padamu. Biar aku yang menyelesaikan sisanya.”(Sena).
Naria
pun berlari menuju jalur yang ditunjukkan Fiona tadi. “Dia memang anak
yang baik...”(Fiona). Sena terlihat mendekati Fiona. “Aku tidak tau apa
rencanamu, tapi aku tidak segan-segan melakukan apapun padamu jika kau
berbuat macam-macam.”(Sena) “Hei...tidak sepantasnya laki-laki bersikap
seperti itu terhadap perempuan, kan?”(Fiona). Fiona memperhatikan sorot
mata Sena. “Matamu bagus...kelihatannya kau cukup hebat juga.”(Fiona).
“Kau juga...”(Sena). “Aku tidak tau apa hubunganmu dengan putri, tapi
bagiku dia itu putri yang terlalu lembek.”(Fiona). “Lalu?”(Sena).
“Sebenarnya aku hanya ingin menggunakannya sebagai jembatan agar aku
bisa bertemu langsung dengan orang itu. Kau tau maksudku, kan?”(Fiona).
“Kenapa begitu? Memang apa kaitannya hal itu dengan putri?”(Sena). “Aku
yakin kau sudah mendengar tentang hubungannya dengan orang itu,
jadi...”(Fiona). Sena terlihat memikirkan sesuatu. “Jadi, dia juga tau
tentang hal itu?”(Sena:Dalam Hati). “Orang itu mungkin saja akan segera
keluar saat dia tau bahwa putri masih hidup, jadi akan lebih mudah
bagiku untuk berhadapan dengannya.”(Fiona). “Jadi, kau juga punya dendam
dengan orang itu?”(Sena). “Tidak ada yang tidak dendam padanya. Aku
hanya ingin membuatnya merasakan apa yang aku dan yang lainnya rasakan,
itu saja...”(Fiona). “Orang ini...”(Sena:Dalam Hati). Fiona terlihat
tersenyum. “Sepertinya...aku sudah bicara terlalu banyak padamu, tapi
itu sudah cukup bagiku.”(Fiona). “Apa maksudmu?”(Sena). “Saat aku tau
kau adalah sahabatnya Reo, aku rasa kau itu mungkin orang yang cukup
baik.”(Fiona). “Kau kenal dengan Reo?”(Sena). “Dia itu...jauh lebih
menderita dari pada aku...jadi saat aku tau dia punya sahabat sepertimu,
aku jadi yakin kalau kau bukanlah orang biasa...”(Fiona). Dibalik
dinginnya tubuh yang terbalutkan darah. Hati kecilnya masih menyimpan
memori yang penuh kenangan.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life Chapter 29 Behind Curtain and The Assassin"
Posting Komentar