Naria terlihat berlari menuju ke tempat Putri Alice. “Semoga saja
yang dikatakannya benar...”(Naria:Dalam Hati). Tak lama berselang,
terlihat seseorang dari kejauhan. “Itu...”(Naria). Naria mempercepat
larinya dan akhirnya sampai. “Ternyata kau memang ada di
sini...”(Naria). Ternyata orang yang ditemui Naria memang Putri Alice
yang terlihat sedang duduk termenung. “Hei, kau tidak apa-apa?”(Naria).
Putri Alice hanya terdiam. “Apa dia melakukan sesuatu padamu?”(Naria).
“Naria...apa aku ini terlalu baik?”(Putri Alice). “Apa
maksudmu?”(Naria). Putri Alice terdiam sejenak. “Apa mencoba memaafkan
orang yang berusaha membunuh kita itu salah?”(Putri Alice). Naria
tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Putri Alice. “Itu
semua...tergantung pada kata hatimu...”(Naria). Putri Alice menatap
Naria. “Kalau hatimu memang bisa memaafkannya tanpa penyesalan...maka
menurutku itu tidak salah, karena setiap orang berhak mendapat
kesempatan untuk memperbaiki dirinya.”(Naria). “Begitu ya...”(Putri
Alice). Putri Alice pun meraih tangan Naria dan mulai berdiri. “Mungkin
sebagai seorang putri...aku sudah gagal...”(Putri Alice). “...”(Naria).
“Aku sama sekali tidak bisa memahami rasa sakit dari rakyatku...aku
bertindak seolah-olah akulah yang paling menderita, tapi dibalik itu
semua...itu hanyalah sebuah keegoisan yang justru membuatku tidak bisa
merasakan apa yang orang lain rasakan...”(Putri Alice).
“Putri...”(Naria:Dalam Hati). “Tolong pertemukan aku padanya sekali
lagi. Walau sedikit, aku juga ingin merasakan apa yang kalian semua
rasakan.”(Putri Alice). Naria terlihat lega. “Iya...”(Naria).
Kembali
ke Sena. Fiona mulai menceritakan masa lalunya bersama Reo. “Sejak dari
kecil, aku, Reo, dan juga Azrea selalu bermain bersama. Kami hidup dan
dibesarkan dalam lingkungan yang damai...”(Fiona). Fiona kembali
teringat saat dia masih kecil dulu. Reo dan Azrea terlihat berdiri di
luar rumah Fiona. “Hei, Fiona! Ayo cepat!”(Reo). “Iya sebentar!”(Fiona).
“Haaaahhh...dia itu memang lambat.”(Reo). “Tak apa-apa kan, kak?
Lagipula acaranya juga belum dimulai.”(Azrea). “Iya...tapi kalau tidak
cepat, nanti kita tidak bisa masuk.”(Reo). Tak lama berselang, Azrea
terlihat keluar dari rumahnya. “Maaf kalau kalian menunggu
lama.”(Fiona). “Kau ini...lain kali lebih cepat sedikit. Kalau tidak,
kita pasti tidak akan bisa masuk.”(Reo). “Iya, maaf...”(Fiona).
“Baiklah...ayo kita berangkat sekarang!”(Azrea). “Iya!”(Reo). Kembali ke
Fiona sekarang. Fiona kembali meneruskan ceritanya. “Kami selalu pergi
ke tempat itu untuk melihat pertunjukkan di sana. Karena kami tidak
punya uang untuk membeli tiket masuk, kami selalu pergi lebih awal dari
penonton lain agar bisa masuk secara diam-diam. Kami sangat takjub
dengan penampilan mereka yang sangat hebat.”(Fiona). “Tidak punya
uang?”(Sena). “Iya, kami hanyalah anak dari keluarga miskin yang tinggal
di pinggir kerajaan. Aku hanya hidup berdua dengan kakekku yang
sakit-sakitan, sedangkan kedua orangtuaku pergi untuk berdagang dan
pulang hanya satu hari dalam seminggu...”(Fiona).
Sena
perlahan teringat kembali dengan kedua orang tuanya. “Namun, hidup Reo
jauh lebih menderita dari pada aku...”(Fiona). “Memang...seperti apa
kehidupan Reo?”(Sena). “Ibu Reo bekerja sebagai pelayan di salah satu
bar di daerah kami sedangkan ayahnya hanya seorang pencari kayu yang
suka mabuk-mabukkan. Setiap ayahnya pulang, dia pasti dalam keadaan
mabuk dan memukuli mereka sebagai pelampiasan karena kehidupan
mereka...”(Fiona). Sena terlihat terkejut mendengar cerita Fiona.
“Walaupun seperti itu, Reo tidak pernah sedikit pun lari dari kenyataan
dan selalu berusaha melakukan apapun. Dia selalu bekerja dan bekerja
demi membantu kehidupan keluarganya. Segala macam pekerjaan dia lakukan
demi keluargannya, dengan harapan bahwa suatu hari nanti, dia tidak
perlu lagi merasakan penderitaan ini.”(Fiona). Tak lama berselang,
terlihat Naria dan Putri Alice datang menghampiri Sena dan Fiona,
bersamaan dengan bergeraknya dinding labirin. “Sena! Aku berhasil
membawa putri.”(Naria). “Syukurlah...”(Sena). “Maaf sudah membuatmu
khawatir.”(Putri Alice). Putri Alice melihat ke arah Fiona.
“Kelihatannya kau sudah membaik...Tuan Putri...”(Fiona). Putri Alice
terdiam sejenak. “Ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu...”(Putri
Alice). Masa kecil yang penuh tawa dan tangis. Mereka mencoba melihat ke
dalam hati masing-masing.
Dengan penuh rasa ingin tau, Putri Alice menanyakan sesuatu pada
Fiona. “Apa yang ingin kau ketaui dariku, Tuan Putri?”(Fiona). “Rasa
sakit itu...aku juga ingin memahaminya. Aku memang gagal sebagai seorang
putri, tapi paling tidak aku juga ingin merasakan apa yang kalian semua
rasakan. Aku ingin memutuskan keinginanku karena kalian semua. Aku
ingin menyelamatkan dunia ini!”(Putri Alice). Fiona memalingkan wajahnya
dari Putri Alice. “Rasa sakit kami...tidak akan semudah itu kau bisa
memahaminya, Tuan Putri...”(Fiona). “Kenapa?”(Putri Alice). “Karena
dengan membaginya...itu sama saja kami memperburuk rasa sakit yang kami
miliki, dan membuat kami tidak akan bisa menghapusnya.”(Fiona). Putri
Alice hanya bisa diam mendengar perkataan Fiona. “Hidup itu...memang
tidak mudah...”(Sena). Sena teringat dengan masa lalunya saat dia
kehilangan ayah, ibu, Yuki, dan juga Kira. “Saat kita kehilangan sesuatu
yang sangat berharga, rasa sakit itu pasti ada...dan rasa sakit pasti
membawa luka, aku juga mengalaminya...”(Sena). Putri Alice teringat saat
Sena pernah menceritakan kehidupannya padanya. “Tapi, dengan
memahaminya...setidaknya kau tidak perlu menanggung semua luka itu
sendirian, itulah yang aku rasakan...”(Sena). Fiona teringat dengan apa
yang dikatakan Reo saat di kapal. “Kau tau...mungkin dia jauh lebih kuat
dariku...”(Reo). “Kenapa kau yakin begitu? Kau juga kuat.”(Fiona).
“Karena...dia punya satu hal yang tidak ku miliki, hanya itu...”(Reo).
Fiona
terlihat tersenyum. “Sekarang aku tau...apa yang membuatnya kuat.
Walaupun dia punya sisi gelap dalam dirinya, tapi jauh dari itu, dia
punya kekuatan yang besar...”(Fiona:Dalam Hati). Fiona pun berbalik ke
arah Putri Alice. “Mungkin itu ada benarnya...”(Fiona). “Jadi...”(Putri
Alice). “Walau begitu...aku tetap tidak bisa memaafkan orang itu. Aku
akan tetap menghancurkannya dengan tanganku sendiri.”(Fiona).
“Maaf...tapi dari pada berpikir begitu, sebaiknya kita harus
menyelesaikan babak ini dulu. Kita sudah kehabisan banyak
waktu.”(Naria). “Benar juga...”(Sena). Sena pun mengeluarkan kartunya.
“Tapi, sejauh ini tidak ada kemajuan. Belum ada satu peserta pun yang
berhasil keluar.”(Sena). “Kalau begitu, kita harus pecahkan teka-tekinya
terlebih dahulu.”(Fiona). “Tapi, teka-teki ini juga cukup sulit.”(Putri
Alice). Sena dan yang lainnya terlihat berpikir. “Saat bayangan
bersembunyi...apa maksudnya, ya?”(Naria). “Gerhana matahari...”(Sena).
“Eh?”(Naria). “Maksudmu...”(Putri Alice). “Itu benar. Kalau dipikir
sekali lagi, matahari dan bulan itu seperti dua sisi mata uang yang
berlawanan...”(Fiona). “Dan hanya ada satu momen di mana keduanya muncul
secara bersamaan...”(Sena). “Oh iya, saat gerhana matahari,
kan?”(Naria). “Tapi, bagaimana bisa kalian yakin kalau yang dimaksud
adalah gerhana?”(Putri Alice). “Karena...”(Fiona).
Tiba-tiba
langit mulai menjadi gelap. “Hari ini...adalah hari di mana hal itu
akan terjadi.”(Fiona). Semua peserta lain terlihat menyadari hal itu.
“Saat gerhana...semua jadi gelap, sehingga bayangan tidak mungkin
terlihat, dan cahaya matahari berubah menjadi kelam, seakan bersedih.
Itulah maksud sebenarnya dari teka-teki ini.”(Sena). “Lalu apa yang
harus kita lakukan sekarang?”(Naria). Sena terlihat memperhatikan
kartunya dan teringat sesuatu. “Jangan-jangan...”(Sena:Dalam Hati). Sena
mengangkat kartunya ke arah sinar gerhana. “Ada apa, Sena?”(Putri
Alice). Tak lama berselang, terlihat sebuah simbol muncul di denah
labirin yang ada di kartu Sena. “Ketemu!”(Sena). “Apa yang
ketemu?”(Naria). “Kalian cepat ikut aku!”(Sena). Sena mulai berlari.
“Hei!”(Naria). “Tunggu dulu!”(Putri Alice). “Dia jadi terlihat semangat
sekarang.”(Fiona). Putri Alice, Naria, dan Fiona pun berlari mengikuti
Sena. “Ayolah...”(Sena:Dalam Hati). Dinding labirin kembali bergerak.
“Gawat! Kenapa di saat begini...”(Sena:Dalam Hati). Jalur yang berada di
antara Sena dan Putri Alice mulai tertutup. “Semuanya! Ayo
cepat!”(Sena). Putri Alice, Naria, dan Fiona berlari sekuat tenaga.
“Tidak akan sempat...”(Putri Alice:Dalam Hati). “Tidak ada pilihan
lagi...”(Fiona:Dalam Hati). Fiona tiba-tiba memegang tangan Putri Alice
dan Naria. Fiona langsung melempar Putri Alice dan Naria ke arah Sena.
“Kalian...menangkanlah event ini!”(Fiona). Tersampaikan, semangat itu
telah dia percayakan pada mereka.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life Chapter 30 A Little Memory and Our Pain"
Posting Komentar