Sebuah pulau mulai terlihat dari kejauhan. Terlihat Reo sedang
memandang ke arah pulau itu. “Akhirnya terlihat juga.”(Reo). “Kau
tegang, ya?”(Fiona). “Ya, bisa dibilang begitu...”(Reo). “Aku rasa
ketegangan yang sebenarnya akan dimulai di sini.”(Fiona). “Aku juga
berharap begitu.”(Reo). Di sudut lain, terlihat Sena juga sedang
memperhatikan pulau itu. “Kau sedang apa?”(Naria). “Tidak ada. Aku hanya
ingin melihat pulau tujuan kita.”(Sena). “Pulau itu, ya? Pulau itu
memang sudah jadi seperti arena gladiator sejak tiga tahun yang
lalu.”(Naria). “Gladiator?”(Sena). “Di sana lah tempat event yang
sebenarnya. Karena setiap tahun sistemnya berbeda, maka tidak ada yang
tau apa yang diselenggarakan di sana.”(Naria). “Begitu ya...”(Sena).
“Selain itu, tahun ini terdapat rumor bahwa hadiah utamanya adalah
sebuah benda misterius yang dapat mengabulkan segala hal yang kita
inginkan, jadi tidak heran bahwa peserta tahun ini jauh lebih banyak dan
lebih kuat dari tahun-tahun yang lalu.”(Naria). “Memang benda seperti
itu ada di dunia ini?”(Sena). “Ada...”(Putri Alice). Putri Alice
terlihat mendekati Sena dan Naria. “Benda itu adalah benda yang dulu
pernah aku ceritakan padamu, kau masih ingat?”(Putri Alice). “Dulu...apa
maksudmu saat...”(Sena).
Sena teringat saat
Putri Alice menceritakan masa lalu kerajaan pada Sena dulu. “Benda itu
adalah benda yang diambil oleh orang itu, karenannya benda itu memang
benar adanya.”(Putri Alice). “Kalau itu benar, kenapa dia menjadikan
benda berharga seperti itu sebagai hadiah utama event ini?”(Naria).
“Karena dia mungkin sedang mengincar sesuatu, dan apa pun itu, pasti
bukan sesuatu yang bagus.”(Sena). “Jadi, kita hanya harus memenangkan
event ini dan mengambil benda itu darinya untuk mengembalikan dunia
ini.”(Putri Alice). “Tidak semudah itu juga. Kalau dia memang mengincar
sesuatu, maka kemenangan di event ini mungkin akan jauh lebih sulit
daripada event-event sebelumnya.”(Sena). “Benar juga...jadi apa yang
harus kita lakukan?”(Naria). “Jangan terlalu terfokus pada event ini.
Kita juga harus memperhatikan setiap detail kecil yang terasa
mencurigakan.”(Sena). “Baik!”(Naria). “Aku mengerti.”(Putri Alice).
Kapal pun akhirnya sampai dan mulai menepi. “Baiklah, semua peserta
segera menuju ke area yang telah ditentukan, di sanalah akan dijelaskan
tentang penyelenggaraan babak kedua.”(Ketua Panitia). Seluruh peserta
mulai turun dari kapal dan menuju ke area yang ditentukan. “Setelah
insiden semalam, jumlah peserta sekarang jadi sembilan puluh sembilan
orang. Apa akan diberlakukan peraturan khusus?”(Reo:Dalam Hati).
Setelah
berjalan cukup jauh, seluruh peserta akhirnya sampai di sebuah tempat
mirip pelataran kuil tua. “Kami akan menjelaskan tentang peraturan babak
kedua ini. Jadi, setiap peserta akan berdiri di simbol ini, lalu kami
akan mengirimnya ke arena babak kedua. Di sana peserta hanya perlu
mencari jalan keluar yang berada di tengah arena. Untuk denah arenanya
bisa dilihat dari kartu yang telah kalian pegang masing-masing...”(Ketua
Panitia). Seluruh peserta melihat ke kartu masing-masing. “Di kartu
tersebut terdapat denah dan penunjuk posisi di mana si pemegang kartu
berada. Sistem arena kali ini adalah labirin yang dindingnya akan
bergerak setiap sepuluh menit sekali secara acak. Peraturan bebas dan
enam puluh empat peserta pertama yang berhasil lolos, maka berhak melaju
ke babak selanjutnya.”(Ketua Panitia). Seluruh peserta terlihat serius.
“Untuk mempersingkat waktu, satu per satu peserta bisa berdiri di atas
simbol ini dan babak kedua akan dimulai setelah peserta terakhir sampai
di arena.”(Ketua Panitia). Satu per satu peserta mulai maju dan pergi
menuju arena. “Sampai bertemu di babak berlikutnya, Sena.”(Putri Alice).
“Ya, kau juga.”(Sena). Sena melihat ke arah Reo yang berada agak jauh
darinya. Seluruh peserta akhirnya sampai di arena dan Sena adalah urutan
yang terakhir. Sena teringat dengan perkataan kakek tua yang
mengirimnya ke dunia ini. “Kalau memang benda itu ada kaitannya dengan
ayah dan ibu...”(Sena:Dalam Hati). Sena terlihat menggenggam pecahan
artefak yang diberikan oleh Ryuto dulu. “Maka pasti akan aku
dapatkan!”(Sena:Dalam Hati). Babak Kedua dimulai. Labirin yang penuh
tanda tanya telah ada dihadapannya.
Pembatas yang berada dihadapan Sena mulai terbuka. Sena perlahan
melangkah menyusuri jalur dihadapannya. Sena melihat sekeliling, lalu
melihat ke kartu miliknya. “Jadi, semua peserta dipisah ke setiap sudut
labirin, ya?”(Sena). Saat Sena memperhatikan kartunya dengan teliti, dia
melihat sebuah simbol aneh. “Simbol apa ini?”(Sena). Sena pun menekan
simbol itu, dan tiba-tiba muncul seperti sebuah proyeksi dari kartunya.
Sena mengamati tulisan yang terproyeksi dari kartunya. “Saat bayangan
bersembunyi, cahaya akan membutakan dengan kesedihannya. Apa maksudnya
sebuah teka-teki, ya?”(Sena). Tak lama kemudian, proyeksi itu pun
menghilang. “Mungkin maksudnya seperti yang terjadi di babak pertama.
Setiap peserta harus mencapai tujuan sambil memecahkan teka-teki. Tapi,
untuk kali ini teka-tekinya berupa kalimat, jadi mungkin tidak terlalu
sulit.”(Sena:Dalam Hati). Sena melihat lurus ke jalur di hadapannya.
“Kalau begitu, aku hanya harus menyusuri jalur ini sebelum dindingnya
bergerak sambil memecahkan teka-tekinya, boleh juga.”(Sena). Sena pun
mulai berjalan meyusuri jalurnya. “Ini...”(Sena:Dalam Hati). Saat Sena
berjalan cukup jauh, terdapat sebuah persimpangan di hadapannya. “Ini
dia bagian yang paling menyusahkan...”(Sena). Terlihat seseorang
berjalan dari jalur di sebelah Sena. “Ternyata kau di sini
rupanya...”(Unknow). Sena pun menoleh ke arah orang itu. “Siapa di
situ?”(Sena).
Ternyata orang yang datang
adalah orang yang sekamar dengan Sena sewaktu di kapal. “Kau...”(Sena).
“Lama tidak bertemu, ya?”(Unknow). “Rasanya agak juga aneh bisa bertemu
lagi denganmu di sini...”(Sena). “Tidak juga, karena takdir memang
selalu begitu.”(Unknow). “Maksudmu, ini karena takdir, begitu?”(Sena).
“Singkatnya begitu.”(Unknow). “Ngomong-ngomong, kita sama sekali belum
berkenalan, kan? Bahkan, saat di kapal kau tidak mengenalkan dirimu.
Jadi, siapa namamu?”(Sena). “Benar juga. Namaku adalah Stevan
Rogue...senang bisa berkenalan denganmu, Miyazaki Sena.”(Stevan). “Eh?
Kau sudah mengenalku?”(Sena). “Tentu saja. Semua peserta di sini sudah
mengenalmu, karena...”(Stevan). Dalam sekejap, Stevan sudah ada di
belakang Sena. “Kau adalah incaran utama mereka...Sena...”(Stevan).
“!!!”(Sena). Sena sontak langsung terkejut mendengarnya. “Kenapa bisa
begitu?”(Sena). “Entahlah, tapi tenang saja, aku masih belum terlalu
berminat untuk menyerangmu sekarang...”(Stevan). “Lalu, apa
maksudnya?”(Sena). “Sama seperti yang dikatakan temanmu di kapal
tadi...sampai saatnya tepat, sebaiknya kau jangan terlalu membuat
masalah, itu saja.”(Stevan).
Sena mulai
terlihat tegang. “Kau ini...sebenarnya siapa?”(Sena). “Aku hanyalah
orang yang bergerak dibalik layar, tidak lebih.”(Stevan). Sena hanya
bisa terdiam. “Baiklah kalau kau sudah paham. Aku akan mengambil jalur
yang ini, jadi semoga beruntung, Sena.”(Stevan). Stevan pun pergi
menyusuri salah satu jalur di persimpangan itu. “Apa itu artinya...yang
diinginkan dari event ini...adalah aku?”(Sena:Dalam Hati). Sena pun
menoleh ke arah jalur yang dipilih Stevan tadi. “Kalau
begitu...”(Sena:Dalam Hati). Sena pun melangkah ke jalur yang juga
dipilih oleh Stevan tadi. “Semuanya sudah jelas...dan tinggal satu hal
lagi...”(Sena:Dalam Hati). Sena terus melangkah ke dalam labirin
tersebut. “Lucifer...sebenarnya siapa dia?”(Sena:Dalam Hati). Tak
berselang lama, dinding di sekitar Sena mulai bergerak. “Dindingnya
bergerak.”(Sena). Saat dinding-dinding tersebut berhenti bergerak,
terlihat sebuah jalur di belakang Sena. “Jalurnya jadi
berubah...”(Sena). Sena pun melihat sekeliling. “Akhirnya ketemu
juga...”(Unknow 1). Sena pun menoleh ke arah jalur di belakangnya.
“...”(Sena). Orang yang sebelumnya berada di belakangnya, tiba-tiba
berusaha menyerang Sena. “Rasakan ini!!”(Unknow 1). Serangan mendadak.
Dialah target utama di balik kebrutalan ini.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life Chapter 28 Labyrinth and True Target"
Posting Komentar