Keesokan paginya, Sena terlihat baru saja bangun di kamarnya. “Sudah
pagi ternyata?”(Sena:Dalam Hati). Sena melihat sekitarnya. “Dia sudah
pergi, ya?”(Sena:Dalam Hati). Sena teringat dengan orang yang sekamar
dengannya. “Dia memang terlihat aneh. Bahkan dalam keadaan seperti
semalam, dia sama sekali tidak keluar dari kamar dan tetap tertidur
sampai aku kembali.”(Sena:Dalam Hati). Tak lama berselang, terdengar
suara ketukan dari balik pintu. “Siapa?”(Sena). “Ini aku, Alice.”(Putri
Alice). “Ya, sebentar.”(Sena). Sena pun beranjak dari tempat tidur. “Apa
pun itu, aku tetap merasa bahwa ada yang janggal dalam event ini. Aku
harus menyelidikinya...”(Sena:Dalam Hati). Sena pun keluar dari
kamarnya, dan terlihat Putri Alice serta Naria sudah berdiri di depan
pintu. “Baguslah, kau sudah bangun.”(Putri Alice). “Iya...”(Sena).
“Jadi, kau yang bernama Miyazaki Sena, ya?”(Naria). “Itu benar.”(Sena).
“Senang bertemu denganmu, namaku Naria Chanari.”(Naria). “Dia adalah
teman sekamarku.”(Putri Alice). “Senang bertemu denganmu juga.”(Sena).
“Kalau begitu, sebaiknya kita segera ke dek kapal. Para peserta lainnya
juga sudah berkumpul di sana.”(Putri Alice). “Baiklah.”(Sena). “Tapi,
ngomong-ngomong di mana teman sekamarmu? Kenapa kau keluar
sendirian?”(Naria). “Aku sendiri juga tidak tau, mungkin saja dia sudah
ke dek terlebih dulu.”(Sena).

Tiba-tiba
terdengar suara keributan dari arah dek kapal. “Sepertinya ada yang
ribut?”(Naria). “Kelihatannya begitu.”(Sena). Sena, Putri Alice serta
Naria pun bergegas menuju dek kapal. Sena berusaha bertanya pada salah
satu di sana. “Hei, apa yang terjadi?”(Sena). “Sena...coba lihat
itu...”(Putri Alice). “Ada ap...”(Sena). Saat Sena menoleh, terlihat
jelas mayat salah satu peserta tergantung di salah satu tiang kapal
dengan keadaan yang sangat mengenaskan dan tubuhnya masih mengalirkan
darah. “Apa-apaan ini?”(Sena). “Siapa yang kira-kira
melakukannya?”(Naria). Semua peserta terlihat terkejut melihat
pemandangan mengerikan itu. “Bukankah dia peserta yang curang
kemarin?”(Unknow 1). “Kelihatannya memang dia.”(Unknow 2). “Sebenarnya
apa yang terjadi di sini?”(Unknow 3). Tak lama berselang terlihat Ketua
Panitia dan panitia yang lainnya datang ke kerumunan peserta. “Semuanya
harap tenang! Dan jangan ada yang pergi dari dek kapal!”(Ketua Panitia).
Semua peserta terlihat tegang. “Kami akan memeriksa mayat korban, dan
sampai ada keputusan lebih lanjut, seluruh peserta dilarang meninggalkan
dek kapal.”(Ketua Panitia). Para panitia menurunkan dan membawa mayat
peserta itu ke dalam kabin kapal, sementara seluruh peserta terlihat
kebingungan. “Sepertinya ada peserta yang sengaja melakukannya.”(Unknow
4). “Tapi siapa?”(Unknow 5). “Jangan-jangan setelah ini akan ada korban
lainnya...”(Unknow 6).
Sena
terlihat memperhatikan seluruh peserta. “Ini mulai memburuk, semua
peserta mulai curiga satu sama lain.”(Naria). “Kalau seperti ini terus,
situasinya bisa kacau.”(Putri Alice). Sena terlihat sedang memikirkan
sesuatu. “Kenapa rasanya sangat aneh...ini bukan lagi main-main, pasti
ada maksud dibalik semua ini...”(Sena:Dalam Hati). “Hei, Sena! Kau
dengar tidak?”(Putri Alice). “Eh! Maaf, aku tadi tidak dengar.”(Sena).
“Kau ini...sebenarnya apa yang kau pikirkan?”(Putri Alice). “Tidak
ada...hanya saja aku sedang terpikirkan sesuatu.”(Sena).
“Sesuatu?”(Naria). Tak lama berselang, Ketua Panitia keluar dari kabin
dan menghampiri para peserta. “Kami sudah menyelidikinya, dan kami
menemukan sebuah barang bukti yang ada di mayat korban...”(Ketua
Panitia). Seluruh peserta menjadi semakin tegang. Ketua Panitia
menunjukkan sebuah sobekkan baju yang berada di tangannya. “Siapa pun
yang memakai baju seperti ini, dia lah pelakunya...”(Ketua Panitia).
Sena yang melihat itu langsung terkejut. “Tidak mungkin...kenapa
bisa...”(Sena:Dalam Hati). Sedikit demi sedikit, mereka mulai mengincar
target mereka.
Semua orang terlihat terkejut dengan apa yang ditunjukkan oleh Ketua
Panitia. Putri Alice terlihat gemetar. “Hei...bukankah itu...”(Naria).
Ternyata sobekkan baju itu adalah milik Putri Alice. “Itukan...”(Unknow
1). “Tidak salah lagi...”(Unknow 2). Seluruh peserta langsung memandang
ke arah Putri Alice. “Mustahil...”(Putri Alice). Putri Alice semakin
gemetar hingga jatuh tersipu. Naria menatap Alice yang berada
disampingnya dengan tatapan seolah-olah tidak percaya.
“Alice...”(Naria:Dalam Hati). “Itu tidak benar! Semua itu sama sekali
salah!”(Sena). Sena langsung berdiri di depan Putri Alice. “Hei, bocah!
Sudah jelas-jelas ada buktinya, bagaimana kau masih bisa percaya
dengannya?”(Unknow 3). “Karena aku tau dia itu manusia seperti
apa!”(Sena). Putri Alice yang mendengar Sena, sontak tercengang.
“Hoi...jangan bilang kalian ini bekerjasama untuk melakukannya,
ya?”(Unknow 4). “Itu benar, dalam keadaan kacau seperti semalam, mungkin
saja mereka sudah memanfaatkannya sehingga tidak ada orang yang
curiga.”(Unknow 2). Sena mulai terlihat marah. “Dia ini putri dari
kerajaan yang dulu pernah menaungi kalian semua...bisa-bisanya kalian
berkata begitu padanya!”(Sena). “Lalu, kami harus percaya pada siapa?
Sudah jelas bukti itu ada ditangan Ketua Panitia yang jelas-jelas berada
pada korban, jadi bagaimana mungkin kami bisa percaya pada pembelaan
yang sama sekali tidak ada buktinya?”(Unknow 4). Sena benar-benar tidak
bisa menahan emosinya dan perlahan mulai melangkah.
“Tidak
secepat itu...”(Reo). Tiba-tiba, Reo sudah ada di samping Sena dan
menepuk bahu Sena. “Apa kau juga sama, Reo?”(Sena). “Tidak juga, aku
hanya tidak ingin kau dan Putri Alice dapat masalah yang lebih serius,
jadi biarkan Panitia yang menyelesaikannya.”(Reo). Sena terlihat
menggeritkan giginya sambil menahan emosi. “Sebaiknya tenangkan emosimu.
Saat ini Putri Alice butuh seseorang yang bisa menyemangatinya, jadi
lebih baik kau temani saja dia.”(Reo). Ketua Panitia terlihat mendekati
Sena dan yang lainnya. “Sebaiknya kalian ikut denganku, ada hal yang
ingin kami pastikan dari kalian.”(Ketua Panitia). Naria perlahan menepuk
bahu Putri Alice. “Tenang saja, aku juga percaya denganmu, jadi
sebaiknya kita sekarang menjelaskan apa yang kita ketahui.”(Naria).
Putri Alice perlahan meneteskan air mata dan mulai berdiri. “Tak kan
kubiarkan ini berlanjut. Aku pasti akan membongkar keanehan ini.”(Sena).
Sena, Naria, dan Putri Alice perlahan berjalan mengikuti Ketua Panitia
menuju kabin kapal. Semua peserta terlihat memandang Putri Alice dengan
tatapan penuh curiga. “Sial! Aku pasti akan membongkarnya!
Pasti!”(Sena:Dalam Hati). Setelah memakan waktu yang cukup lama,
terlihat Ketua Panitia serta Sena dan yang lainnya berada di dek kapal
di mana seluruh peserta telah menunggu. “Setelah kami selidiki...tidak
ada keterangan lain jika dia bersalah, jadi kami putuskan dia masih bisa
ikut dalam event ini.”(Ketua Panitia). Semua peserta yang mendengar itu
sontak terkejut dan melayangkan berbagai macam protes. “Apa-apaan
ini?!”(Unknow 1). “Yang benar saja! Kami harus bermain dengan pembunuh
keji seperti dia?!”(Unknow 3). “Keputusan macam apa itu?!”(Unknow 4).
“Semuanya tenang! Ini adalah keputusan panitia, jadi tidak bisa diganggu
gugat!”(Ketua Panitia).
Semua peserta
terlihat kesal. “Cih! Tidak disangka masih ada rasa pilih kasih di
antara peserta.”(Unknow 1). Sena yang mendengarnya terlihat benar-benar
menahan emosinya. “Sekarang semua peserta diharap bersiap, karena kita
sudah dekat dengan tujuan kita!”(Ketua Panitia). Semua peserta terlihat
menjauh. “Kalian juga sebaiknya juga bersiap.”(Ketua Panitia). Sena,
Naria, dan Putri Alice terlihat sedang bersiap-siap. “Kau yakin sudah
baikkan?”(Naria). “Iya, aku sudah tidak apa-apa.”(Putri Alice).
“Impianmu adalah jalan hidupmu, bukan mereka...”(Sena). Putri Alice
terlihat memperhatikan Sena. “Kalau kau jatuh hanya karena hal ini, kau
sama saja menyia-nyiakan satu bulan penuh perjuangan itu dengan air
mata...”(Sena). Naria terlihat tersenyum. “Karena itu jangan pernah
jatuh! Karena kami akan menuntunmu menuju impianmu itu!”(Sena). Putri
Alice teringat dengan perjuangan Sena saat berusaha menembus hutan pulau
dulu, hingga Putri Alice mulai meneteskan air mata. “Terima kasih,
Sena...”(Putri Alice:Dalam Hati). Putri Alice perlahan terlihat mengusap
air matanya yang sekarang berganti dengan wajah semangat. “Iya!”(Putri
Alice). Semangat dibalik hinaan dan cacian telah membuat mahkotanya
semakin bercahaya. Sang Putri akan terus berjalan, tanpa takut terjatuh
lagi.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life Chapter 27 Incident and The Wake Up!"
Posting Komentar