Sena hanya terdiam setelah mengetaui yang Reo rasakan selama ini.
“Tegakkan kepalamu, Sena. Kau tidak perlu merasa bersalah atas apapun,
karena ini adalah kemauanku.”(Reo). “Terima kasih...karena kau sudah
percaya padaku, Reo. Aku sudah lega sekarang.”(Sena). Sena terlihat
menghela nafas dalam-dalam, lalu menatap Reo dengan penuh semangat.
“Sekarang, aku semakin bersemangat untuk menepati janjiku, Reo.”(Sena).
Reo terlihat tersenyum. “Baiklah...kalau kau juga berpikir begitu. Aku
juga tidak akan setengah-setengah kali ini.”(Reo). “Aku terima
itu.”(Sena). Reo terlihat beranjak meninggalkan Sena dan Putri Alice.
“Kalau begitu...sampai bertemu lagi di final...Sena.”(Reo). Putri Alice
terlihat memperhatikan Reo. “Hei, sebenarnya apa yang terjadi di antara
kalian?”(Putri Alice). Sena hanya tersenyum. “Tidak ada...”(Sena). Di
kabin, terlihat Ketua Panitia sedang memperhatikan seluruh peserta dari
sebuah layar monitor. “Di antara semua peserta yang ada, hanya mereka
berdua yang telah menarik perhatianku...”(Ketua Panitia). Terlihat
seseorang mendekati Ketua Panitia. “Ternyata kau punya ketertarikkan
yang sama denganku...”(Unknow). “Ternyata anda sudah datang...”(Ketua
Panitia). Orang yang menghampiri Ketua Panitia ternyata adalah Raja
Lucifer. “Tapi, bukankah masalah terbesar anda ada pada Putri
Alice?”(Ketua Panitia). “Dia memang akan jadi pengganggu jika terus
dibiarkan, tapi prioritas kita tetaplah pada anak itu.”(Lucifer).
“Tenang saja, semuanya pasti berjalan sesuai rencana, kami jamin
itu.”(Ketua Panitia).
Malam pun mulai
menjelang. Seluruh peserta terlihat masih berada di dek kapal. Sena dan
Putri Alice terlihat sedang duduk di salah satu sudut dek. “Mulai
sekarang, kau harus lebih waspada...”(Sena). “Kenapa?”(Putri Alice).
“Identitasmu sabagai seorang Putri sudah terbongkar. Tidak menutup
kemungkinan kalau kau akan menjadi incaran utama para peserta.”(Sena).
“Benar juga...tapi ini jelas-jelas salah orang itu! Kenapa dia berbicara
sekeras itu?”(Putri Alice). “Kau tentu tau kalau aku tidak berasal dari
dunia ini, kan?”(Sena). “Kalau itu aku sudah tau, tapi apa
hubungannya?”(Putri Alice). Sena terdiam sejenak. “Dia adalah orang
pertama yang aku temui di dunia ini.”(Sena). Putri Alice tampak
terkejut. “Maksudmu...”(Putri Alice). “Dia adalah orang yang sudah
menolongku dan menampungku sejak aku tersesat di dunia ini,
tapi...”(Sena). “Tapi kenapa?”(Putri Alice). Sena kembali teringat
dengan cerita Azrea dulu. “Kedua orang tuanya...dulu dibantai tepat di
depan kedua matanya sendiri oleh orang itu ketika dia masih
kecil.”(Sena). Putri Alice terlihat terkejut. “Dia juga merasakan apa
yang kau rasakan dariku waktu itu, dan itulah yang membuat kami sempat
berselisih hingga sekarang...”(Sena). Sena perlahan tersenyum. “Tapi,
melihat ekspresinya tadi, jujur itu sudah membuatku lega...”(Sena).
“Sena...”(Putri Alice:Dalam Hati).
Tiba-tiba,
Ketua Panitia datang menghampiri seluruh peserta. “Berhubung tujuan
masih jauh, semuanya bisa beristirahat di kamar masing-masing sesuai
dengan nomor undian yang akan diambil nanti...”(Ketua Panitia). Terlihat
ada salah satu peserta mengangkat tangannya. “Ada masalah apa?”(Ketua
Panitia). “Soal kartu yang kami dapat ini, sebenarnya apa
fungsinya?”(Unknow 1). “Soal kartu itu, nanti kami akan berikan
kejelasannya begitu kita sampai. Jadi, usahakan kalian menjaga kartu itu
baik-baik.”(Ketua Panitia). Semua peserta terlihat memperhatikan kartu
yang dipegang mereka. “Kalau tidak ada pertanyaan lagi, Seluruh peserta
bisa maju satu per satu untuk mengambil nomor undian
masing-masing.”(Ketua Panitia). Satu per satu peserta terlihat maju
untuk mengambil nomor undian mereka masing-masing. “Ternyata aku dapat
nomor dua puluh empat, kalau kau berapa, Sena?(Putri Alice). “Aku dapat
nomor tiga puluh enam.”(Sena). “Begitu ya...”(Putri Alice). “Baiklah,
sekarang seluruh peserta bisa menempati kamar sesuai dengan nomor undian
masing-masing, dan selamat beristirahat.”(Ketua Panitia). Ketua Panitia
pun pergi, lalu seluruh peserta mulai menuju kamar masing-masing. Putri
Alice terlihat sedang mencari-cari nomor kamarnya. “Yang mana,
ya?”(Putri Alice). Tak lama kemudian Putri Alice berhasil menemukan
kamarnya. “Ini dia...tapi...”(Putri Alice). Terlihat seseorang mendekati
Putri Alice. “Jadi, kau di kamar ini juga, ya?”(Unknow 2). Ternyata
orang tersebut seorang perempuan yang seumuran Putri Alice. Pelayaran
menuju negeri antah berantah. Demi janji itu, mereka akan melakukan
segalanya.

Putri Alice dan perempuan itu pun masuk ke kamar mereka. “Kamarnya
cukup besar juga, ya?”(Unknow). “Benar juga...”(Putri Alice). “Oh ya,
namaku Naria Chanari, salam kenal.”(Naria). “Namaku Alice Charllona,
senang bisa berkenalan denganmu.”(Putri Alice). Naria terlihat mengamati
kamar itu. “Untuk ukuran seorang putri, kau ternyata jauh dari
perkiraanku, ya.”(Naria). “Jadi, kau juga mendengarnya, ya?”(Putri
Alice). “Semua peserta sudah tau kok, tapi bagiku tidak masalah, kan?
Lagipula, kau pasti punya alasan tersendiri sampai-sampai ikut dalam
event ini, benar kan?”(Naria). “Ya, bisa dibilang begitu.”(Putri Alice).
Di tempat lain, Sena terlihat sedang berada di depan kamarnya. “Jadi,
satu kamar untuk dua orang, ya?”(Sena:Dalam Hati). Sena perlahan membuka
pintu kamarnya. “Kau kan...”(Sena). Terlihat orang yang tadi pagi
berpapasan dengan Sena sedang duduk di kursi kamar itu. “Senang bisa
bertemu denganmu lagi...”(Unknow 2). Di kamar lain. Terlihat Reo sedang
bersantai di atas kasurnya. “Aku benar-benar terkejut, saat aku tau
kalau yang jadi teman sekamarku adalah kau.”(Reo). “Lalu kenapa? Kita
kan sudah lama tidak bertemu...”(Unknow 3). Ternyata Reo satu kamar
dengan seorang perempuan yang ternyata teman masa kecilnya, yaitu Fiona
Benevia. “Aku tau...tapi kenapa kau juga ikut dalam event ini?”(Reo).
“Soalnya aku bosan, jadi lebih baik aku ikut saja.”(Fiona). Reo terlihat
memperhatikan Fiona. “Jadi, kau masih melakukan hal itu, ya?”(Reo). “Ya
begitulah...sekali-kali mencari selingan juga tidak ada
buruknya.”(Fiona). “Mmmmm...”(Reo). “Ngomong-ngomong, temanmu tadi
menarik juga, siapa namanya?”(Fiona). “Kau juga tertarik dengannya,
ya?”(Reo). “Mungkin begitu...”(Fiona).
Kembali
ke kamar Putri Alice. Putri Alice terlihat sedang berbincang-bincang
dengan Naria. “Jadi begitu ya...aku tidak pernah tau kalau kerajaan jadi
seperti itu.”(Naria). “Aku minta maaf karena sudah melibatkan kalian
semua dalam masalah ini.”(Putri Alice). “Kau tidak salah kok...lagipula
kita semua kan punya tujuan yang sama.”(Naria). Putri Alice terdiam
sejenak. “Aku sudah bertekad untuk mengembalikan dunia ini seperti yang
seharusnya, karena itu akan kulakukan apa pun untuk mencapainya.”(Putri
Alice). “Kalau begitu, izinkan aku membantumu. Aku juga ingin mengubah
dunia ini menjadi lebih baik.”(Naria). “Kau...”(Putri Alice). Tiba-tiba,
terjadi guncangan keras yang membuat seluruh peserta panik. “Ada apa
ini?”(Putri Alice). “Sepertinya ada yang menyerang kapal.”(Naria). “Ayo
kita lihat!”(Putri Alice). Putri Alice dan Naria pun berlari menuju dek
kapal. “Apa yang terjadi?!”(Putri Alice). Terlihat sebagian besar
peserta sudah berada di dek kapal. “Itu kan...”(Unknow 4). Terlihat
sesosok monster naga raksasa berada di sisi kapal. “Apa ini juga salah
satu ujian?”(Unknow 5). “Entahlah...”(Unknow 6). “Mau ujian atau
bukan...”(Sena). Seluruh peserta terlihat tegang. “Semua peserta diharap
tenang.”(Ketua Panitia). Terlihat Ketua Panitia mendekati kerumunan
peserta. “Soal ini biar kami yang urus...”(Ketua Panitia).
Monster
naga itu tiba-tiba berusaha menyerang kapal lagi. “Tempatmu bukanlah di
sini...”(Ketua Panitia). Saat monster itu hampir menyerang Ketua
Panitia, tiba-tiba monster itu berhenti. Seluruh peserta tampak
terkejut. “Apa yang terjadi?”(Putri Alice). “Kekuatan ini...”(Sena:Dalam
Hati). Ketua Panitia menatap monster itu dengan tatapan tajam. Monster
itu pun mundur dan perlahan pergi meninggalkan kapal. “Baiklah...semua
peserta bisa kembali sekarang.”(Ketua Panitia). Semua peserta hanya bisa
terpaku saat Ketua Panitia melangkah pergi meninggalkan dek kapal.
“Tidak heran, jika dia bisa jadi ketua panitia. Kekuatannya memang
mengerikan.”(Unknow 4). “Baru kali ini aku merasakan kekuatan seperti
itu...”(Unknow 6). “Yang tadi itu kan...”(Reo). “Tidak disangka masih
ada orang seperti dia...”(Fiona). Putri Alice dan Naria terlihat
mendekati Sena. “Sena...”(Putri Alice). “Kelihatannya ada yang aneh
dalam event ini.”(Sena). Sang Pengatur yang sekaligus Eksekutor.
Keanehan-keanehan mulai terasa dibenak mereka.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life Chapter 26 Let’s Sailing and The Executor"
Posting Komentar