Sena tengah bersiap menghadapi sesuatu itu. “Apa itu tadi?”(Putri
Alice). “Aku juga tidak tau, tapi firasatku bilang itu adalah masalah.
Sebaiknya kau juga waspada.”(Sena). “Aku mengerti...”(Putri Alice).
Suasana terlihat tegang. Tiba-tiba suara itu terdengar kembali dan
terasa cukup dekat. “Bersiaplah...”(Sena). “...”(Putri Alice). Tak lama
berselang, ternyata muncul seekor kucing kecil dari balik puing-puing
yang berserakkan. “Ternyata, hanya seekor kucing...”(Sena). Putri Alice
yang melihat kucing itu langsung memeluknya. “Wah! Manis sekali...kau
sendirian, ya?”(Putri Alice). “Hei...hei...kita ke sini bukan untuk
mencari kucing tau. Kita harus segera menemukan cara untuk memecahkan
misteri kartu ini.”(Sena). “Tapi, dia imut sekali...aku sangat suka
dengan hal yang imut-imut...”(Putri Alice). “Kau ini...”(Sena). Sejenak
Sena memperhatikan Putri Alice dan teringat dengan Hana yang juga suka
dengan kucing. “Kalau aku perhatikan, dia memang cukup mirip dengan
Hana...walau sifat tomboy-nya sangat jauh mencolok...”(Sena:Dalam Hati).
Putri Alice terlihat menyadari Sena yang tersenyum ke arahnya.
“Kenapa?”(Putri Alice). “Tidak, aku hanya sempat kepikiran kalau kau itu
mirip dengan orang yang ku kenal.”(Sena). “Benarkah? Apa mungkin dia
orang yang spesial?”(Putri Alice). “Bisa dibilang begitu sih...”(Sena).
“Hhmmm...”(Putri Alice).
Tiba-tiba dari arah
belakang Putri Alice muncul makhluk besar berjubah dengan membawa sabit
besar berusaha menyerang Putri Alice. “Awas!!”(Sena). Dengan cepat,
Putri Alice berhasil menghindar. “A...apa itu?”(Putri Alice). “Ternyata
firasatku memang benar...”(Sena). Makhluk itu kembali berusaha menyerang
Sena dan Putri Alice. “Sial! Dia cepat juga!”(Sena:Dalam Hati). Makhluk
itu terus-menerus menyerang, namun Sena dan Putri Alice berhasil
menghindarinya. “Kita berpencar! Dengan itu akan menyulitkan dia untuk
menyerang kita sekaligus!”(Sena). “Baik!”(Putri Alice). Sena dan Putri
Alice pun berpencar dan bersembunyi di balik puing-puing. “Dengan
begini, setidaknya bisa memberi waktu untuk memikirkan cara
mengalahkannya...”(Sena:Dalam Hati). Makhluk itu terlihat terdiam, namun
tiba-tiba dia mengayunkan sabitnya hingga menciptakan tiupan angin yang
sangat kuat untuk menerbangkan puing-puing yang ada. “Apa-apaan
ini!”(Sena). Saat tiupan angin berhenti, jubah milik makhluk itu pun
terbuka dan ternyata makhluk itu berwujud seperti tengkorak dewa
kematian. “Dewa...kematian?”(Sena:Dalam Hati). Dengan cepat, makhluk itu
langsung menuju ke arah Putri Alice. “Tidak akan...”(Putri Alice). Saat
Putri Alice berusaha akan menghindar, tiba-tiba dia merasa tubuhnya
tidak bisa bergerak. “Ke...kenapa ini...(Putri Alice). “Hei! Jangan
hanya diam! Cepat lari!”(Sena). Makhluk itu pun kembali berusaha menebas
Putri Alice. “Sial!!”(Sena:Dalam Hati).
Dengan
cepat Sena menebas makhluk itu dengan pedangnya. Makhluk itu pun
tersungkur dan Sena langsung mendekati Putri Alice. “Kau
kenapa?!”(Sena). “Tu...tubuhku...tidak bisa...bergerak...”(Putri Alice).
“Apa?”(Sena). Sena pun melihat ke arah kucing yang didekap oleh Putri
Alice. “Jangan-jangan...”(Sena:Dalam Hati). Tiba-tiba makhluk itu
kembali utuh dan bangkit kembali. “Ini buruk...”(Sena:Dalam Hati).
Makhluk itu kembali berusah menyerang Sena dan Putri Alice, namun Sena
berhasil menarik Putri Alice menjauh. “Berikan kucingnya padaku!”(Sena).
“Apa...maksudmu?”(Putri Alice) . “Cepat berikan saja!”(Sena). Sena pun
mengambil kucing itu dari dekapan Putri Alice. “Apa...yang akan...kau
lakukan...”(Putri Alice). Makhluk itu kembali mengejar Sena dan Putri
Alice. “Aku sudah tau trikmu!”(Sena). Sena lalu menusuk kucing itu
dengan pedangnya. “!!!”(Putri Alice). Putri Alice terlihat terkejut.
“Kenapa...kau...”(Putri Alice). Makhluk itu tiba-tiba berhenti dan
meronta-ronta seakan kesakitan. “Sudah kuduga...”(Sena). Tiba-tiba,
tubuh Putri Alice kembali bisa bergerak. “Tubuhku...tapi kenapa
bisa?”(Putri Alice). “Karena kucing yang kau dekap ini adalah jantung
dari makhluk itu.”(Sena). “Jantung?”(Putri Alice). “Benar, itulah
alasannya kenapa kau yang dikejarnya dan kenapa tubuhmu tidak bisa
bergerak.”(Sena). “Begitu ya...”(Putri Alice). “Dan...”(Sena). Sena
kembali menarik pedangnya dan menebas makhluk itu, lalu makhluk itu
berubah menjadi debu. “Dengan ini...kita berhasil...”(Sena). Dewa
kematian telah dijatuhkan. Kemenangan pertama dalam event ini.
Sena berhasil menaklukkan dewa kematian itu. “Tidak disangka kita
akan berhadapan dengan makhluk seperti ini.”(Sena). Secara perlahan,
tubuh kucing sebelumnya mulai bercahaya. “Sena! Kucingnya...”(Putri
Alice). “...”(Sena). Cahaya itu pun semakin terang hingga menyilaukan
Sena dan Putri Alice. Saat Sena dan Putri Alice membuka mata mereka,
mereka sudah berada di depan sebuah gerbang besar. “Apa yang
terjadi?”(Putri Alice). Terlihat seseorang sudah berdiri di depan
gerbang itu yang ternyata adalah Ketua Panitia. “Selamat! Kalian telah
berhasil lolos dari babak eliminasi awal.”(Ketua Panitia). Sena dan
Putri Alice tampak bingung. “Apa?”(Putri Alice). “Jadi, kami
lolos?”(Sena). “Tepat sekali!”(Ketua Panitia). “Tapi, yang tadi
itu...”(Putri Alice). “Ilusi, benarkan?”(Sena). “Kalian bisa
menganggapya begitu, tapi sebenarnya kartu kalianlah yang telah membawa
kalian...”(Ketua Panitia). “Membawa kami?”(Putri Alice). “Benar, kalian
tadi dikirim oleh kartu itu ke dimensi lain yang sudah kami buat
menyerupai aslinya, dan kalian telah lolos dengan mengalahkan monster
itu.”(Ketua Panitia). “Begitu rupanya...”(Putri Alice). Sena terlihat
teringat dengan sesuatu. “Sudah kuduga itu bukan ilusi, tapi tempat tadi
jelas-jelas bukan sekedar tempat biasa...”(Sena:Dalam Hati).
“Ngomong-ngomong, kalian adalah dua orang terakhir yang lolos.”(Ketua
Panitia). “Maksudnya, kami berdua yang lolos paling akhir?”(Putri
Alice). “Sayangnya begitu, tapi untung saja kalian segera menyelesaikan
misi itu, jika tidak kalian pasti sudah keduluan dan gugur.”(Ketua
Panitia). “Lalu, di mana peserta lainnya yang lolos?”(Sena). “Mereka
berada di dalam, sedangkan peserta yang gugur kami kembalikan.”(Ketua
Panitia). Putri Alice terlihat lega. “Hampir saja...untung masih
sempat...”(Putri Alice). “Nah, kalian berdua segeralah bergabung dengan
peserta lainnya...”(Ketua Panitia).
Gerbang
itu pun terbuka. Sena dan Putri Alice pun melangkah masuk.
“Inilah...pelabuhan yang sebenarnya...”(Ketua Panitia). Terlihat sebuah
kapal besar sudah berada di hadapan Sena dan Putri Alice. Sena dan Putri
Alice tampak kagum melihat kapal besar itu. “Besar sekali!’(Putri
Alice). “Jadi...kapal ini...”(Sena). “Benar, kapal inilah yang akan
membawa kalian semua ke tempat selanjutnya.”(Ketua Panitia). Sena
terlihat memperhatikan kapal itu. “Kalau begitu, kalian harus cepat
naik, karena perjalanan akan segera dimulai.”(Ketua Panitia).
“Baiklah...”(Putri Alice). Sena dan Putri Alice perlahan naik ke kapal
itu. “Kira-kira seperti apa ya peserta yang lolos?”(Putri Alice).
“Entahlah, tapi mereka pasti orang-orang yang hebat.”(Sena). Putri Alice
teringat dengan seseorang. “Apa mungkin Si Reo tadi juga lolos
ya?”(Putri Alice). “Dia pasti lolos, aku yakin itu.”(Sena). “Begitu
ya...kau pasti sangat yakin sekali.”(Putri Alice). “Karena aku tau dia
bukan orang yang selemah itu, jadi dia pasti lolos.”(Sena). Sena dan
Putri Alice akhirnya sampai di dek kapal. “Banyak sekali!”(Putri Alice).
Terlihat banyak peserta berkumpul di dek kapal itu. “Jadi, kalian
berdua yang terakhir?”(Unknow 1). “Kelihatannya dua lagi orang lemah
sudah datang.”(Unknow 2). Terlihat seseorang datang menghampiri Sena dan
Putri Alice yang tak lain adalah Reo. “Selamat, karena sudah lolos dari
babak eliminasi, Sena...dan, Putri Alice.”(Reo). Seketika semua peserta
lain terkejut mendengar kata putri tersebut. “Putri?”(Unknow 3). “Yang
benar saja?”(Unknow 4).
Putri
Alice terlihat tegang. “Kenapa kau bicara sekeras itu?”(Putri Alice).
“Tapi, anda memang benar seorang putri, kan? Jadi apa salahnya? Toh,
cepat atau lambat mereka juga akan tau.”(Reo). Putri Alice mulai
terlihat kesal dengan sikap Reo. “Kau...”(Putri Alice). Sena pun menepuk
pundak Putri Alice. “Reo, ada hal yang ingin aku tanyakan
padamu.”(Sena). “Apa itu?”(Reo). “Apa kau masih memikirkan kejadian
itu?”(Sena). Reo hanya tersenyum. “Tidak juga, aku tau kau sudah
mendengar semuanya dari Azrea, jadi tidak ada alasan bagiku untuk
mempermasalahkan hal itu.”(Reo). “Jadi begitu...”(Sena). Reo terlihat
menatap langit di atasnya. “Memang sangat menyebalkan rasanya, tapi aku
sudah tau ini akan terjadi...”(Reo). “Reo...”(Sena:Dalam Hati). Sena
teringat dengan cerita Azrea dulu. “Aku tau kau memikirkan hal yang
sama, tapi jangan salah sangka. Ini adalah kompetisi, jadi walaupun kita
punya tujuan yang sama, tapi kita tetap bermain dengan cara
masing-masing, jadi jangan buat hal itu sebagai alasan untuk mengalah
dariku, Sena.”(Reo). “Ya...aku tau itu...”(Sena). Tujuan yang sama
dengan jalan yang berbeda. Perlahan berlayar menuju ambisi
masing-masing.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life Chapter 25 Death Angel and Same Will"
Posting Komentar