Di sudut lain, terlihat Reo sedang berlari di jalur yang agak sepi.
“Meski terlihat sepi, tapi aku harus berhati-hati...”(Reo:Dalam Hati).
Reo memperhatikan sekeliling dan terlihat para peserta lain sedang
bertarung satu sama lain. “Semua peserta di sini bukan petarung
biasa...ditambah dengan peraturan bebas tadi, mereka akan semakin liar
dan pasti akan melakukan apa saja untuk menghentikan peserta
lain.”(Reo:Dalam Hati). Tiba-tiba terlihat seseorang sedang berdiri di
tengah jalur Reo. “Cih! Ternyata aku sudah ketauan.”(Reo:Dalam Hati).
Reo terus berlari menuju orang itu. “Padahal sebisa mungkin aku tidak
mau membuat masalah di sini, tapi apa boleh buat...”(Reo:Dalam Hati).
Reo pun tepat berada di hadapan orang itu yang masih terdiam. “Akan
kuhadapi saja.”(Reo:Dalam Hati). Bentrokan pun terjadi antara Reo dengan
orang itu. Reo pun berhenti, dan terlihat goresan kecil di lengan
kanannya. “Begitu rupanya, ternyata kau hebat juga.”(Reo). Orang itu pun
berbalik ke arah Reo. “Dilihat dari apa yang terjadi
barusan...”(Reo:Dalam Hati). Reo terlihat memperhatikan orang itu. “Dia
tipe orang yang punya kecepatan tinggi...”(Reo:Dalam Hati). Reo teringat
dengan kejadian tadi, di mana orang itu berhasil menyerang Reo dengan
senjatanya. “Kalau begitu...hanya ada satu hal yang bisa dilakukan
sekarang...”(Reo:Dalam Hati). Reo terlihat akan melakukan sesuatu.
Di
tempat lain, Sena dan Putri Alice terlihat berlari di atas atap
bangunan. “Masih berapa jauh lagi?”(Sena). “Kurasa tinggal sedikit
lagi.”(Putri Alice). Sena dan Putri Alice terus berlari. “Tapi jika
dipikirkan lagi...”(Sena:Dalam Hati). Sena teringat dengan pengumuman
ketua panitia tadi. “Kalau pun aturannya bebas...”(Sena:Dalam Hati).
“Hei, Sena!”(Putri Alice). “Ada apa?”(Sena). “Sebenarnya kau ini sedang
memikirkan apa?”(Putri Alice). “Tidak ada, aku hanya kepikiran dengan
aturan babak ini...kalau aturannya saja bebas, bukannya itu juga bisa
melibatkan para penduduk biasa.”(Sena). “Memang benar sih...tapi apa
yang aneh soal itu?”(Putri Alice). “Coba kau pikir kembali...kenapa kita
harus mendaftarkan diri sementara kita tidak diberi tanda bukti peserta
dan malah langsung bermain dalam babak yang aturannya bebas begini,
bukannya itu aneh?”(Sena). “Kelihatannya kau ada benarnya.”(Putri
Alice). “Itu artinya hanya ada satu kemungkinan...”(Sena). Di tempat
lain, terlihat ketua panitia sedang memperhatikan para peserta dari
kejauhan. “Secara tidak langsung, ini adalah babak eliminasi,
bukan?”(Unknow). Terlihat seseorang mendekati ketua panitia. “Kau memang
jenius seperti dulu, tapi tidak kusangka aku bisa bertemu lagi
denganmu...”(Ketua Panitia). Ternyata orang yang datang adalah Melven.
“Panglima Melven Grewach.”(Ketua Panitia). “Aku justru yang tidak
menyangka jika kau yang jadi ketua panitianya...Hanzel Clief.”(Melven).
Kembali
ke Sena. Sena dan Putri Alice terlihat sedang mencari sesuatu. “Kau
yakin jika ini benar?”(Putri Alice). “Tidak salah lagi...”(Sena). Sena
dan
Putri Alice terus berlari
mencari sesuatu. “Meskipun kita bisa mencapai pelabuhan, bukan berarti
kita bisa masuk ke babak yang sebenarnya, karena ini adalah babak
eliminasi untuk para pendaftar yang pada akhirnya akan melanjutkan ke
babak yang sebenarnya.”(Sena). “Jadi kita harus menemukannya?”(Putri
Alice). “Sudah jelas, di antara sekian banyak penduduk, pasti ada yang
memegang itu. Entah itu tanda peserta atau apapun, yang jelas tanpa itu
kita tidak akan bisa melanjutkan event ini dan aku yakin sebagian
peserta juga sudah tau hal ini dan mulai mencari, dari pada harus
bertarung satu sama lain untuk mencapai pelabuhan.”(Sena). “Jadi karena
itu, tidak terjadi kekacauan besar meskipun peraturannya bebas?”(Putri
Alice). “Itu salah satu faktor yang aku perhitungkan dari tadi, dan
secara tidak langsung ini menujukkan satu hal...”(Sena). “Satu
hal?”(Putri Alice). “Benar, yaitu...semua peserta di sini adalah
orang-orang yang punya strategi tinggi dan kita tidak boleh meremehkan
mereka.”(Sena). Sena pun berhenti. “Aku benar, kan...”(Sena). Terlihat
seseorang berdiri di hadapan Sena. “Benar sekali, anak muda...kau juga
sudah menyadarinya, ya?”(Unknow). “Kalau begitu, bisa kami ambil benda
itu?”(Sena). “Kalian harus melakukan satu hal terlebih dulu...”(Unknow).
Petunjuk untuk menuju gerbang selanjutnya. Event semakin memanas.
Orang tersebut mengajukan persyaratan pada Sena dan Putri Alice.
“Satu hal?”(Putri Alice). “Sudah kuduga ini tidak akan mudah.”(Sena).
“Kalau kalian bisa membukanya, kalian akan tau apa yang harus kalian
lakukan.”(Unknow). “Jadi, kami harus bisa menguak apa yang ada di dalam
kartu ini?”(Putri Alice). “Benar sekali.”(Unknow). “Begitu ya...”(Putri
Alice). “Lalu, apa ada petunjuk lain?”(Sena). “Hanya kartu itulah
petunjuk kalian. Jadi, semoga kalian beruntung...”(Unknow). “Baiklah,
terima kasih atas petunjuknya. Kami akan pergi sekarang.”(Sena). “Semoga
berhasil.”(Unknow). Sena dan Putri Alice pun pergi meninggalkan orang
itu. “Hei, kau tidak penasaran dengan kartu ini?”(Putri Alice). “Tentu
saja, karena itu kita harus bisa menguak rahasia kartu ini.”(Sena).
Setelah beberapa saat, Sena pun berhenti. “Ada apa?”(Putri Alice). Sena
terlihat memperhatikan sekitar. “Apa kau tidak merasa ada yang
aneh?”(Sena). “Aneh? Memang apa yang aneh?”(Putri Alice). “Coba kau
perhatikan sekeliling.”(Sena). Putri Alice pun memperhatikan sekeliling
dengan teliti. “Tidak ada apa-apa.”(Putri Alice). “Justru itulah yang
membuatku bingung. Ke mana perginya semua peserta dan kerumunan
tadi?”(Sena). “Benar juga, rasanya sangat aneh.”(Putri Alice). Sena
terlihat memikirkan sesuatu. “Apa ini juga ilusi? Tapi rasanya aneh. Aku
sama sekali tidak merasakan apa pun sebelumnya. Apa
mungkin...”(Sena:Dalam Hati). “Sebenarnya apa yang terjadi?”(Putri
Alice).
Di tempat lain, terlihat seseorang
berdiri di atap sebuah bangunan tua. “Suasananya berubah. Apa yang
terjadi?”(Unknow 1). Sedangkan di tempat yang berbeda, terlihat Reo
memegang kartu yang sama dengan Sena dan Putri Alice. “Satu-satunya
petunjuk hanya kartu ini...”(Reo:Dalam Hati). Reo pun juga memperhatikan
ke setiap sudut. “Kalau begini, hanya ada satu kemungkinan...”(Reo).
Kembali ke Sena dan Putri Alice. “Kita harus memecahkan misteri kartu
ini, apa pun yang terjadi.”(Sena). “Tapi, memangnya apa yang akan
terjadi?”(Putri Alice). “Aku punya firasat...ini akan jadi semakin
buruk.”(Sena). “Lalu, mau kita apakan kartu ini?”(Putri Alice). Sena
memperhatikan kartu tersebut, lalu mengarahkannya ke arah sinar
matahari. “Bagaimana?”(Putri Alice). “Kalihatannya tidak bisa dengan
cara ini...”(Sena). “Ternyata petunjuknya memang sulit. Padahal kita
baru saja mulai...”(Putri Alice). “Jangan bilang kau mau menyerah di
sini?”(Sena). “Tentu saja tidak! Tapi aku hanya bingung harus melakukan
apa?”(Putri Alice). Sena terlihat memperhatikan Putri Alice. “Yang
terpenting itu bukanlah apa yang harus kau lakukan, tapi seberapa besar
usahamu untuk menciptakan sesuatu yang berguna.”(Sena). “Iya...aku juga
tau itu...”(Putri Alice). “Kita pasti bisa kok, yang penting jangan
menyerah dulu, karena selama masih ada jalan, maka tujuan pun tidak akan
mungkin lenyap.”(Sena). Tiba-tiba Putri Alice melihat sesuatu di
kejauhan. “Sena! Coba kau lihat itu!”(Putri Alice). “Apa yang kau
lihat?”(Sena).
Terlihat sebuah pancaran
cahaya dari sebuah bangunan yang agak jauh. “Jangan-jangan di
sana...”(Sena). “Mungkin di sana awal petunjuk kita, Sena!”(Putri
Alice). “Kalau begitu, kita segera ke sana!”(Sena). “Baik!”(Putri
Alice). Sena dan Putri Alice pun pergi menuju bangunan itu. “Semoga saja
di sana kita bisa menemukan sesuatu.”(Putri Alice). Setelah cukup lama,
Sena dan Putri Alice akhirnya sampai di bangunan itu yang ternyata
sebuah bangunan yang sudah tua dan hampir rusak. Putri Alice terlihat
ingat dengan sesuatu. “Tempat ini...”(Putri Alice). “Kau tau tempat
ini?”(Sena). “Kelihatannya aku seperti pernah ke sini sebelumnya, tapi
aku tidak ingat.”(Putri Alice). “Kalau begitu, mungkin di dalam sana kau
akan mengingat sesuatu.”(Sena). “Mungkin saja...”(Putri Alice). Sena
dan Putri Alice pun masuk ke dalam bangunan itu. “Tempat ini, sepertinya
sudah sangat lama tidak ditinggali.”(Sena). Putri Alice terlihat
terdiam. “Hei, kau kenapa?”(Sena). Tiba-tiba terdengar suara dari salah
satu sudut ruangan itu. “Sepertinya kita dalam masalah serius
sekarang...”(Sena). Sena terlihat mulai bersiaga. Selembar kartu menjadi
petunjuk mereka. Hanya ada mereka berdua dan sesuatu itu.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life Chapter 24 One Thing and A Card"
Posting Komentar