Beranda · Menu · Menu 1 · Menu 2

Wrong Life Chapter 23 Competition and First Round


Satu bulan telah berlalu. Terlihat di kerajaan pusat sedang diadakan acara yang sangat meriah. “Kelihatannya ramai juga.”(Sena). “Tentu saja, ini adalah acara yang selalu mendapat perhatian besar setiap tahunnya, dan juga di sini, kita akan bertemu langsung dengannya.”(Putri Alice). Di tengah keramaian, terlihat Sena, Putri Alice, dan Krozen dengan penampilan yang sudah jauh berubah. “Aku dengar kabar, tahun ini akan diberlakukan peraturan khusus yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, jadi untuk tahun ini mungkin akan menarik lebih banyak pendatang baru selain kalian berdua.”(Krozen). Sena terlihat senang. “Kelihatannya menarik. Aku jadi penasaran, mereka itu orang-orang seperti apa.”(Sena). “Kau ini...kau selalu bemulut besar di awal, padahal kau yang menyerah paling awal di hampir semua ujian.”(Putri Alice). “Enak saja! Aku hanya istirahat sejenak tau, lagi pula kau juga manja! Kau pasti mengeluh sebelum melewati ujian.”(Sena). Sena dan Putri Alice terlihat bertengkar. Krozen pun memegang kepala Sena dan Putri Alice. “Jangan seperti anak kecil. Kalian ini akan berhadapan dengan orang-orang yang mungkin jauh lebih kuat dari ku, jadi jangan lengah dan jangan tunjukkan kelemahan kalian.”(Krozen). Sena dan Putri Alice langsung tertunduk. “Baiklah...”(Sena dan Putri Alice).

Sena, Putri Alice, serta Krozen terus berjalan di tengah kerumunan. Saat sedang berjalan, tiba-tiba Sena menabrak seseorang yang sedang memakan roti. “...”(Sena). Dengan sigap, Sena berhasil menangkap roti itu sebelum jatuh ke tanah. “Maaf, aku tadi tidak melihat...”(Sena). “Tidak apa-apa, justru aku lah yang harus minta maaf.”(Unknow). Sena pun memberikan roti milik orang itu. “Ini roti milikmu.”(Sena). “Terima kasih...ngomong-ngomong refleksmu bagus juga.”(Unknow). “Tidak juga kok...”(Sena). Orang itu terlihat terdiam. “Baiklah, aku pergi dulu.”(Sena). Saat Sena baru saja mau beranjak pergi, orang itu mengatakan sesuatu. “Akan ku tunggu...sampai saatnya...”(Unknow). Sena yang mendengar itu kembali berbalik, namun orang itu sudah menghilang di tengah keramaian. “Apa maksudnya?”(Sena:Dalam Hati). Terdengar Putri Alice memanggil Sena dari kejauhan. “Hei, Sena! Ayo cepat!”(Putri Alice). “Iya, aku datang!”(Sena). Sena pun berlari menuju ke arah Krozen dan Putri Alice. “Kau ini sedang apa, sih?”(Putri Alice). “Itu, tadi aku bertemu seseorang.”(Sena). “Seseorang?”(Krozen). “Benar, tapi aku juga tidak terlalu kenal sih.”(Sena). “Kau ini...selalu saja membuat masalah.”(Putri Alice). “Kita harus segera ke tempat pendaftaran, atau kalian tidak bisa berpartisipasi dalam acara ini.”(Krozen).

Krozen pun mengajak Sena dan Putri Alice menuju tempat pendaftaran. “I...ini...”(Sena). Sena tampak terkejut. “Banyak sekali pesertanya!”(Sena). Di tempat pendaftaran ternyata sudah penuh dengan para calon peserta. “Jadi, kita akan berhadapan dengan mereka semua?”(Sena). “Kenapa? Kau takut, ya?”(Putri Alice). “Siapa yang takut? Aku justru senang bisa berkompetisi dengan mereka semua.”(Sena). “Begitu ya...”(Putri Alice). Krozen terlihat mengamati para calon peserta. “Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang terkenal yang sudah pernah menjuarai event ini dan para peserta yang lainnya juga punya aura yang kuat.”(Krozen). Sena terlihat memikirkan sesuatu. “Sudahlah...kalau kau takut, ya katakan saja.”(Putri Alice). “Bukan itu! Hanya saja, ada satu orang yang ingin aku temui dalam acara ini.”(Sena). “Benarkah? Lalu siapa dia?”(Putri Alice). Tiba-tiba ada seseorang yang berhenti tepat di depan Sena. “Apa kau mencariku, Sena?”(Unknow). “!!!”(Sena). Sena pun melihat ke arah orang itu, yang ternyata adalah Reo. “Lama tidak bertemu...kelihatannya kau jadi tambah kuat.”(Reo). Sena terlihat tersenyum. “Sudah kuduga kau pasti juga akan ikut, Reo.”(Sena). “Sena, dia ini siapa?”(Putri Alice). “Namaku Reo Larchcriel...kalian berdua pasti Putri Alice dan juga...Panglima Krozen dari kerajaan pusat ini, benarkan?”(Reo). “Iya, itu benar.”(Krozen). “Kebetulan sekali, karena ada seseorang yang akan bertemu dengan kalian.”(Reo). “Apa maksudmu?”(Putri Alice). Reo terlihat tersenyum ke arah Sena. “Asal kau tau saja, Sena...aku lah orang yang akan mengalahkanmu dan juga orang itu, jadi aku harap, kau tidak mengecewakanku, Sena.”(Reo). “Tenang saja, aku juga tidak akan mengalah darimu, Reo.”(Sena). “Baguslah, kalau begitu aku akan menunggumu di event nanti...”(Reo). “Ya...aku juga...”(Sena). Reo pun pergi meninggalkan Sena, Putri Alice, serta Krozen. Event besar telah dimulai. Kawan dan lawan berbaur jadi satu.

 Satu per satu calon peserta telah mendaftarkan diri. Sena dan Putri Alice sedang menunggu di sudut tempat pendaftaran. “Kita sekarang tinggal menunggu pengumuman selanjutnya.”(Krozen). Sena terlihat sangat bersemangat. “Rasanya jadi tidak sabar menunggu eventnya! Aku harap eventnya segera dimulai!”(Sena). Putri Alice terlihat diam sambil menggenggam sesuatu. “Ternyata malah kau sendiri yang grogi.”(Sena). “Enak saja! Siapa yang grogi?”(Putri Alice). “Yang benar?”(Sena). “Benar!”(Putri Alice). “Mmmmm...lalu apa yang kau genggam itu?”(Sena). Putri Alice menunjukkan barang yang digenggamnya. “Ini adalah kalung peninggalan orangtuaku...aku sudah berjanji akan mengembalikan dunia ini seperti semula...karena itu aku tidak akan kalah, walau itu darimu, Sena.”(Putri Alice). Sena sejenak teringat dengan cerita Putri Alice dulu. “Baiklah, kelihatannya akan jadi semakin menarik.”(Sena). Tak lama berselang, terlihat seseorang muncul dari panggung utama kerajaan. “Selamat datang! Para peserta semua! Aku di sini selaku ketua panitia akan memberikan aturan untuk tantangan pertama...”(Ketua Panitia). “Tantangan pertama?”(Putri Alice). “Akhirnya dimulai juga.”(Sena). Seluruh peserta memperhatikan ketua panitia. “Tantangan pertama adalah seratus peserta pertama yang sampai di pelabuhan, akan lolos ke babak selanjutnya. Peraturan bebas, masing-masing peserta boleh menggunakan cara apa saja untuk sampai ke pelabuhan, dengan batas waktu sampai matahari tepat di atas kepala...”(Ketua Panitia). Semua peserta terlihat serius. “Baiklah...babak pertama...dimulai!”(Ketua Panitia).

Dengan satu aba-aba, seluruh peserta langsung berlari menuju ke arah pelabuhan. Sena berlari dengan Putri Alice melalui kerumunan orang. “Di sini terlalu sesak. Sebaiknya kita lewat atas.”(Sena). “Ide bagus!”(Putri Alice). Sena dan Putri Alice terlihat melompat ke atap bangunan di dekat mereka dan berlari dari atap satu ke atap lainnya. “Hei, di mana jalur tercepat menuju pelabuhan?”(Sena). “Seingatku, kita tinggal lurus saja.”(Putri Alice). “Begitu ya...”(Sena). Dari kejauhan terlihat ada sebuah ledakan. “Itu...”(Putri Alice). “Kelihatannya ada yang memulai trik mereka, sebaiknya kita juga harus berhati-hati.”(Sena). Saat Sena dan Putri Alice tengah berlari, terlihat sebuah benda meluncur dari kejauhan. “Awas!”(Sena). Spontan Sena dan Putri Alice berhenti. “Benda apa ini?”(Putri Alice). Sena terlihat memperhatikan benda aneh tadi. “Gawat! Menjauh!”(Sena). Sena langsung menarik Putri Alice lalu benda aneh tersebut meledak dengan ledakan yang cukup besar. “Hei! Kalau seperti ini, penduduk biasa juga akan terkena, kan?”(Sena). Tiba-tiba terdengar suara seseorang. “Siapa peduli...”(Unknow). Benda aneh tersebut kembali menuju ke arah Sena dan Putri Alice yang langsung bersembunyi. “Lagi-lagi...”(Sena:Dalam Hati). “Biar aku yang menghentikannya...”(Putri Alice). “Kau yakin?”(Sena). “Tenang saja, kau kan juga tau aku berlatih seperti apa, jadi kau tidak perlu cemas.”(Putri Alice). “Dasar...tapi ingat, sebisa mungkin jangan buat kekacauan.”(Sena). “Tenang saja...”(Putri Alice).

Putri Alice langsung keluar dari persembunyiannya. “Yang benar saja...kau pikir perempuan sepertimu bisa apa?”(Unknow). “Jangan pernah...”(Putri Alice). Benda tersebut kembali mengarah ke Putri Alice, namun kali ini Putri Alice memegangnya. “Meremehkanku!!”(Putri Alice). Putri Alice dengan cepat melemparkan benda aneh itu ke arah si penyerang. “A...apa-apaan ini...”(Unknow). Benda aneh itu pun meledak. “Ayo, Sena! Kita juga harus cepat!”(Putri Alice). “Iya, aku tau...”(Sena). Sena pun keluar dari persembunyiannya dan kembali berlari menuju pelabuhan bersama Putri Alice. “Untuk ukuran dirimu...ternyata latihanmu tidak sia-sia ya?”(Sena). Putri Alice terlihat tersinggung. “Apa? Kau mengejekku?”(Putri Alice). Sena langsung panik. “Ti...tidak kok...”(Sena). “Baguslah...”(Putri Alice). “Seorang putri itu memang menyeramkan, ya? Aku jadi ingat sewaktu dia menghajarku habis-habisan saat latihan...”(Sena:Dalam Hati). “Ayo kita maju!”(Putri Alice). Dengan kekuatan dan harapan baru. Perjalanan untuk menepati janji itu telah dimulai.

Artikel keren lainnya:

Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life Chapter 23 Competition and First Round"

Posting Komentar