
Satu bulan telah berlalu. Terlihat di kerajaan pusat sedang diadakan
acara yang sangat meriah. “Kelihatannya ramai juga.”(Sena). “Tentu saja,
ini adalah acara yang selalu mendapat perhatian besar setiap tahunnya,
dan juga di sini, kita akan bertemu langsung dengannya.”(Putri Alice).
Di tengah keramaian, terlihat Sena, Putri Alice, dan Krozen dengan
penampilan yang sudah jauh berubah. “Aku dengar kabar, tahun ini akan
diberlakukan peraturan khusus yang berbeda dengan tahun-tahun
sebelumnya, jadi untuk tahun ini mungkin akan menarik lebih banyak
pendatang baru selain kalian berdua.”(Krozen). Sena terlihat senang.
“Kelihatannya menarik. Aku jadi penasaran, mereka itu orang-orang
seperti apa.”(Sena). “Kau ini...kau selalu bemulut besar di awal,
padahal kau yang menyerah paling awal di hampir semua ujian.”(Putri
Alice). “Enak saja! Aku hanya istirahat sejenak tau, lagi pula kau juga
manja! Kau pasti mengeluh sebelum melewati ujian.”(Sena). Sena dan Putri
Alice terlihat bertengkar. Krozen pun memegang kepala Sena dan Putri
Alice. “Jangan seperti anak kecil. Kalian ini akan berhadapan dengan
orang-orang yang mungkin jauh lebih kuat dari ku, jadi jangan lengah dan
jangan tunjukkan kelemahan kalian.”(Krozen). Sena dan Putri Alice
langsung tertunduk. “Baiklah...”(Sena dan Putri Alice).
Sena,
Putri Alice, serta Krozen terus berjalan di tengah kerumunan. Saat
sedang berjalan, tiba-tiba Sena menabrak seseorang yang sedang memakan
roti. “...”(Sena). Dengan sigap, Sena berhasil menangkap roti itu
sebelum jatuh ke tanah. “Maaf, aku tadi tidak melihat...”(Sena). “Tidak
apa-apa, justru aku lah yang harus minta maaf.”(Unknow). Sena pun
memberikan roti milik orang itu. “Ini roti milikmu.”(Sena). “Terima
kasih...ngomong-ngomong refleksmu bagus juga.”(Unknow). “Tidak juga
kok...”(Sena). Orang itu terlihat terdiam. “Baiklah, aku pergi
dulu.”(Sena). Saat Sena baru saja mau beranjak pergi, orang itu
mengatakan sesuatu. “Akan ku tunggu...sampai saatnya...”(Unknow). Sena
yang mendengar itu kembali berbalik, namun orang itu sudah menghilang di
tengah keramaian. “Apa maksudnya?”(Sena:Dalam Hati). Terdengar Putri
Alice memanggil Sena dari kejauhan. “Hei, Sena! Ayo cepat!”(Putri
Alice). “Iya, aku datang!”(Sena). Sena pun berlari menuju ke arah Krozen
dan Putri Alice. “Kau ini sedang apa, sih?”(Putri Alice). “Itu, tadi
aku bertemu seseorang.”(Sena). “Seseorang?”(Krozen). “Benar, tapi aku
juga tidak terlalu kenal sih.”(Sena). “Kau ini...selalu saja membuat
masalah.”(Putri Alice). “Kita harus segera ke tempat pendaftaran, atau
kalian tidak bisa berpartisipasi dalam acara ini.”(Krozen).
Krozen
pun mengajak Sena dan Putri Alice menuju tempat pendaftaran.
“I...ini...”(Sena). Sena tampak terkejut. “Banyak sekali
pesertanya!”(Sena). Di tempat pendaftaran ternyata sudah penuh dengan
para calon peserta. “Jadi, kita akan berhadapan dengan mereka
semua?”(Sena). “Kenapa? Kau takut, ya?”(Putri Alice). “Siapa yang takut?
Aku justru senang bisa berkompetisi dengan mereka semua.”(Sena).
“Begitu ya...”(Putri Alice). Krozen terlihat mengamati para calon
peserta. “Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang terkenal yang sudah
pernah menjuarai event ini dan para peserta yang lainnya juga punya aura
yang kuat.”(Krozen). Sena terlihat memikirkan sesuatu.
“Sudahlah...kalau kau takut, ya katakan saja.”(Putri Alice). “Bukan itu!
Hanya saja, ada satu orang yang ingin aku temui dalam acara
ini.”(Sena). “Benarkah? Lalu siapa dia?”(Putri Alice). Tiba-tiba ada
seseorang yang berhenti tepat di depan Sena. “Apa kau mencariku,
Sena?”(Unknow). “!!!”(Sena). Sena pun melihat ke arah orang itu, yang
ternyata adalah Reo. “Lama tidak bertemu...kelihatannya kau jadi tambah
kuat.”(Reo). Sena terlihat tersenyum. “Sudah kuduga kau pasti juga akan
ikut, Reo.”(Sena). “Sena, dia ini siapa?”(Putri Alice). “Namaku Reo
Larchcriel...kalian berdua pasti Putri Alice dan juga...Panglima Krozen
dari kerajaan pusat ini, benarkan?”(Reo). “Iya, itu benar.”(Krozen).
“Kebetulan sekali, karena ada seseorang yang akan bertemu dengan
kalian.”(Reo). “Apa maksudmu?”(Putri Alice). Reo terlihat tersenyum ke
arah Sena. “Asal kau tau saja, Sena...aku lah orang yang akan
mengalahkanmu dan juga orang itu, jadi aku harap, kau tidak
mengecewakanku, Sena.”(Reo). “Tenang saja, aku juga tidak akan mengalah
darimu, Reo.”(Sena). “Baguslah, kalau begitu aku akan menunggumu di
event nanti...”(Reo). “Ya...aku juga...”(Sena). Reo pun pergi
meninggalkan Sena, Putri Alice, serta Krozen. Event besar telah dimulai.
Kawan dan lawan berbaur jadi satu.
Satu per satu calon peserta telah mendaftarkan diri. Sena dan Putri
Alice sedang menunggu di sudut tempat pendaftaran. “Kita sekarang
tinggal menunggu pengumuman selanjutnya.”(Krozen). Sena terlihat sangat
bersemangat. “Rasanya jadi tidak sabar menunggu eventnya! Aku harap
eventnya segera dimulai!”(Sena). Putri Alice terlihat diam sambil
menggenggam sesuatu. “Ternyata malah kau sendiri yang grogi.”(Sena).
“Enak saja! Siapa yang grogi?”(Putri Alice). “Yang benar?”(Sena).
“Benar!”(Putri Alice). “Mmmmm...lalu apa yang kau genggam itu?”(Sena).
Putri Alice menunjukkan barang yang digenggamnya. “Ini adalah kalung
peninggalan orangtuaku...aku sudah berjanji akan mengembalikan dunia ini
seperti semula...karena itu aku tidak akan kalah, walau itu darimu,
Sena.”(Putri Alice). Sena sejenak teringat dengan cerita Putri Alice
dulu. “Baiklah, kelihatannya akan jadi semakin menarik.”(Sena). Tak lama
berselang, terlihat seseorang muncul dari panggung utama kerajaan.
“Selamat datang! Para peserta semua! Aku di sini selaku ketua panitia
akan memberikan aturan untuk tantangan pertama...”(Ketua Panitia).
“Tantangan pertama?”(Putri Alice). “Akhirnya dimulai juga.”(Sena).
Seluruh peserta memperhatikan ketua panitia. “Tantangan pertama adalah
seratus peserta pertama yang sampai di pelabuhan, akan lolos ke babak
selanjutnya. Peraturan bebas, masing-masing peserta boleh menggunakan
cara apa saja untuk sampai ke pelabuhan, dengan batas waktu sampai
matahari tepat di atas kepala...”(Ketua Panitia). Semua peserta terlihat
serius. “Baiklah...babak pertama...dimulai!”(Ketua Panitia).
Dengan
satu aba-aba, seluruh peserta langsung berlari menuju ke arah
pelabuhan. Sena berlari dengan Putri Alice melalui kerumunan orang. “Di
sini terlalu sesak. Sebaiknya kita lewat atas.”(Sena). “Ide
bagus!”(Putri Alice). Sena dan Putri Alice terlihat melompat ke atap
bangunan di dekat mereka dan berlari dari atap satu ke atap lainnya.
“Hei, di mana jalur tercepat menuju pelabuhan?”(Sena). “Seingatku, kita
tinggal lurus saja.”(Putri Alice). “Begitu ya...”(Sena). Dari kejauhan
terlihat ada sebuah ledakan. “Itu...”(Putri Alice). “Kelihatannya ada
yang memulai trik mereka, sebaiknya kita juga harus
berhati-hati.”(Sena). Saat Sena dan Putri Alice tengah berlari, terlihat
sebuah benda meluncur dari kejauhan. “Awas!”(Sena). Spontan Sena dan
Putri Alice berhenti. “Benda apa ini?”(Putri Alice). Sena terlihat
memperhatikan benda aneh tadi. “Gawat! Menjauh!”(Sena). Sena langsung
menarik Putri Alice lalu benda aneh tersebut meledak dengan ledakan yang
cukup besar. “Hei! Kalau seperti ini, penduduk biasa juga akan terkena,
kan?”(Sena). Tiba-tiba terdengar suara seseorang. “Siapa
peduli...”(Unknow). Benda aneh tersebut kembali menuju ke arah Sena dan
Putri Alice yang langsung bersembunyi. “Lagi-lagi...”(Sena:Dalam Hati).
“Biar aku yang menghentikannya...”(Putri Alice). “Kau yakin?”(Sena).
“Tenang saja, kau kan juga tau aku berlatih seperti apa, jadi kau tidak
perlu cemas.”(Putri Alice). “Dasar...tapi ingat, sebisa mungkin jangan
buat kekacauan.”(Sena). “Tenang saja...”(Putri Alice).
Putri
Alice langsung keluar dari persembunyiannya. “Yang benar saja...kau
pikir perempuan sepertimu bisa apa?”(Unknow). “Jangan pernah...”(Putri
Alice). Benda tersebut kembali mengarah ke Putri Alice, namun kali ini
Putri Alice memegangnya. “Meremehkanku!!”(Putri Alice). Putri Alice
dengan cepat melemparkan benda aneh itu ke arah si penyerang.
“A...apa-apaan ini...”(Unknow). Benda aneh itu pun meledak. “Ayo, Sena!
Kita juga harus cepat!”(Putri Alice). “Iya, aku tau...”(Sena). Sena pun
keluar dari persembunyiannya dan kembali berlari menuju pelabuhan
bersama Putri Alice. “Untuk ukuran dirimu...ternyata latihanmu tidak
sia-sia ya?”(Sena). Putri Alice terlihat tersinggung. “Apa? Kau
mengejekku?”(Putri Alice). Sena langsung panik. “Ti...tidak
kok...”(Sena). “Baguslah...”(Putri Alice). “Seorang putri itu memang
menyeramkan, ya? Aku jadi ingat sewaktu dia menghajarku habis-habisan
saat latihan...”(Sena:Dalam Hati). “Ayo kita maju!”(Putri Alice). Dengan
kekuatan dan harapan baru. Perjalanan untuk menepati janji itu telah
dimulai.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life Chapter 23 Competition and First Round"
Posting Komentar