Beranda · Menu · Menu 1 · Menu 2

Wrong Life Chapter 22 I Know and Path To Change

Sena perlahan terbangun, namun dia kembali ke alam bawah sadarnya. “Kau lagi rupanya...aku sampai bosan untuk menyapamu terus.”(Sena 2). Terlihat Sena yang lain sedang berdiri di hadapan Sena. “Apa kau ingin mengambil tubuhku sekarang?”(Sena). “Tidak, aku belum tertarik sekarang. Lagipula aku juga berhak memiliki tubuh ini, jadi ini juga tubuhku.”(Sena 2). “Lalu?”(Sena). Sena yang lain terdiam sejenak. “Tidak ada hubungannya denganmu.”(Sena 2). Sena memperhatikan dengan seksama dirinya yang lain. “Sebenarnya kenapa kau ingin mengambil tubuh ini?”(Sena). “Karena, kau terlalu lemah.”(Sena 2). Sena sempat terkejut. “Lemah katamu?”(Sena). “Iya, ada masalah?”(Sena 2). “Coba jelaskan, kalau memang apa yang kau katakan benar, dari mana kau tau besarnya kekuatanku?”(Sena). “Pertama, faktanya aku sudah tinggal di sini bahkan sejak kau terlahir, dan yang kedua, akulah yang menyelamatkanmu di saat kau dalam bahaya, jadi aku jauh lebih kuat darimu.”(Sena 2). “Benarkah?”(Sena). Sena yang lain terlihat agak tersinggung. “Tapi, jangan salah paham mengartikan itu...”(Sena 2). Sena yang lain tiba-tiba sudah ada di belakang Sena dan menghunuskan sebuah pedang ke leher Sena. “Aku menyelamatkanmu, karena jika kau mati di dunia nyata, maka aku juga akan terkena dampaknya, camkan itu.”(Sena 2). Sena hanya terdiam dan teringat dengan kata-kata Kira. “Yang terpenting bukan seberapa kuat kau bisa mengalahkan seseorang, tapi seberapa kuat kau bisa mengalahkan dirimu sendiri.”(Kira). Kembali ke waktu sekarang, Sena terlihat tersenyum. “Kalau begitu, aku hanya cukup menjadi lebih kuat untuk mengalahkanmu.”(Sena). “Apa itu sebuah tantangan?”(Sena 2). “Mungkin saja...”(Sena).

Sena yang lain terlihat tersenyum lalu melepaskan Sena. “Kedengarannya menarik, kalau begitu aku akan menunggu saat itu.”(Sena 2). “Terserah kau saja...tapi tubuh ini akan tetap jadi milikku.”(Sena). “Jangan terlalu besar kepala, ini baru pembukaan saja.”(Sena 2). “Baiklah, siapapun yang menang, dialah yang berhak mengambil tubuh ini.”(Sena). “Oke, aku terima itu.”(Sena 2). Sena dan dirinya yang lain berjabat tangan, lalu Sena perlahan terbangun di dunia nyata. “Kepalaku...”(Sena). Terlihat Krozen sedang duduk di samping Sena. “Kelihatannya tidak terlalu buruk, tapi kau tetap harus istirahat.”(Krozen). “Apa yang terjadi denganku?”(Sena). “Kau menggunakan kekuatanmu yang belum sempurna secara berlebihan, jadi tubuhmu mengalami penurunan tekanan yang cukup besar.”(Krozen). “Lalu, bagaimana dengan putri?”(Sena). “Dia sedang tertidur di pojok sana. Kelihatannya dia juga kelelahan.”(Krozen). Sena terlihat lega. “Syukurlah...”(Sena). Krozen memperhatikan Sena. “Jadi, kau sudah bertemu dengannya?”(Krozen). Sena terlihat bingung. “Siapa maksudmu?”(Sena). “Dia...yang jauh di sana.”(Krozen). Sena terlihat mengerti maksud Krozen. “Dari mana kau tau?”(Sena). “Asal tebak saja.”(Krozen). “...”(Sena). Sena terdiam sejenak. “Jadi, bagaimana?”(Krozen). “Ya, awalnya aku juga kaget saat bertemu dengannya, tapi sekarang aku sudah tidak takut lagi.”(Sena). “Begitu rupanya...”(Krozen). “Aku sudah bertekad untuk mengalahkannya, karena itu aku akan jadi lebih kuat lagi.”(Sena). “Kelihatannya kau percaya sekali...”(Krozen).



Krozen tiba-tiba mengacungkan pedangnya ke arah Sena. “Apa maksudnya ini?”(Sena). “Apa kau yakin bisa mengalahkan sisi gelapmu itu seorang diri?”(Krozen). “Tentu saja aku yakin!”(Sena). Krozen menatap mata Sena yang penuh dengan keyakinan. “Kelihatannya kau bisa dipercaya...”(Krozen). Krozen pun menutup kembali pedangnya. “Selama kau punya tekad itu, aku percaya kau tidak akan terpengaruh olehnya, tapi ini tinggal masalah waktu...”(Krozen). “Aku tau itu, dan karena itu tidak akan kubiarkan dia mengambil tubuh ini seenaknya.”(Sena). Krozen perlahan tersenyum. “Sepertinya aku salah menilaimu, ternyata kau jauh lebih nekad dari yang ku duga.”(Krozen). “Tentu saja...”(Sena). Semangat dalam menghadapi tantangan. Pertarungan sebenarnya baru dimulai.

 Keesokan paginya, Sena terlihat masih tertidur pulas. Putri Alice sedari tadi memperhatikan Sena. “Dia benar-benar pulas...”(Putri Alice:Dalam Hati). Putri Alice teringat kembali dengan perjuangannya bersama Sena untuk mencapai menara pulau. “Apa pun yang terjadi, aku akan tetap percaya padamu...Sena...”(Putri Alice:Dalam Hati). Putri Alice perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Sena, seakan berusaha untuk mencium Sena. Tiba-tiba Sena perlahan mulai terbangun. “Mmmmm...”(Sena). Putri Alice yang menyadari itu langsung terkejut dan melompat mundur. “A...akhirnya...kau bangun juga, Sena?”(Putri Alice). “Sudah pagi, ya?”(Sena). Sesaat kemudian, Krozen terlihat mendekati Sena dan Putri Alice. “Kalian sudah bangun rupanya.”(Krozen). “Panglima...”(Putri Alice). Krozen melihat Sena yang masih setengah bangun. “Cepat cuci wajahmu, kita akan segera memulai latihannya.”(Krozen). “Baiklah...”(Sena). Sena pun pergi menuju sungai terdekat. “Putri, sebaiknya anda beristirahat saja. Kondisi anda kelihatannya belum pulih sepenuhnya.”(Krozen). “Tidak! Aku juga akan ikut berlatih! Aku tidak ingin hanya diam saja di sini sementara orang-orang sudah berusaha keras untuk mengembalikan dunia ini!”(Putri Alice). “Baiklah...tapi jika anda nanti mengalami kesulitan, tolong jangan memaksakan diri dan segeralah istirahat.”(Krozen). “Aku mengerti.”(Putri Alice).

Di sungai, Sena terlihat sedang membasuh wajahnya. “Haahhh...airnya segar sekali!”(Sena). Sena mengamati pepohonan di sekelilingnya. “Tempat ini...benar-benar mengingatkanku saat aku berlatih bersama Kira dulu...”(Sena:Dalam Hati). Sena sejenak teringat dengan Kira. Sena lalu melihat ke arah langit dan membayangkan sesuatu. “Apa yang mereka lakukan sekarang, ya? Sudah lama sekali sejak aku datang ke dunia ini...”(Sena). Sena teringat dengan Hana, Tora, dan yang lainnya yang ada di dunia seberang. “Tapi...”(Sena). Sena melihat bayangannya di permukaan air sungai. “Masih banyak hal yang harus aku lakukan di sini...terutama dia...”(Sena). Sena mengingat kembali kejadian saat kakek tua di dunia seberang mengirimnya ke dunia sekarang ini, dan semua kejadian yang telah dia alami serta ketaui. Sena pun berdiri. “Apa pun itu...pasti aku akan mencari tau tentang hal itu...”(Sena:Dalam Hati). Sena akhirnya pergi dan kembali ke tempat Krozen. Terlihat Krozen sudah menunggu Sena. “Kau sudah siap?”(Krozen). “Tentu saja, aku lebih dari siap!”(Sena). Tak lama berselang, terlihat Putri Alice datang dengan pakaian yang lebih simple dan terlihat tomboy. “Aku juga akan ikut!”(Putri Alice). Sena pun terkejut saat melihat penampilan Putri Alice. “Hei...apa maksudnya ini? Kenapa kau berpakaian begini?”(Sena). “Kan tadi aku sudah bilang, aku juga akan ikut!”(Putri Alice). Sena pun melihat ke arah Krozen. “Kau yakin dia akan baik-baik saja?”(Sena). “Mau bagaimana lagi, dia yang ingin ikut. Aku juga tidak bisa mencegahnya.”(Krozen). “Tapi jika sesuatu ter...”(Sena).

Dengan sigap, Putri Alice langsung mengunci leher Sena dengan ekspresi agak kesal. “Jika sesuatu apa?”(Putri Alice). Sena terlihat tidak bisa berkutik. “Ba...baiklah...aku...percaya...aku percaya...”(Sena). Krozen pun mulai menjelaskan latihan yang akan dia berikan pada Sena serta Putri Alice. “Baiklah, latihannya akan kita mulai. Pertama, kalian akan melewati setiap tantangan yang sudah aku siapkan di setiap lantai menara ini, lalu kalian akan kulatih sesuai dengan kemampuan kalian. Ingat! Selama satu bulan ini, aku akan melatih kalian berdua dengan keras, jadi kalian harus benar-benar mempersiapkan fisik, mental, dan fokus kalian, paham?”(Krozen). “Paham!”(Sena dan Putri Alice). Sena dan Putri Alice terlihat bersemangat. “Baiklah kalau begitu, latihan ini...kita mulai!”(Krozen). Dengan penuh percaya diri, Sena dan Putri Alice mulai melangkahkan kaki mereka masuk ke dalam menara itu. “Dari sinilah...aku akan menjadi lebih kuat...tidak peduli apa yang akan terjadi...inilah jalan yang sudah kupilih...dan aku tidak akan menyerah...”(Sena:Dalam Hati). “Ayah...ibu...aku pasti akan mengembalikan kerajaan kita lagi...aku pasti bisa...tak akan kubiarkan semua orang menderita lebih dari ini...aku janji...”(Putri Alice:Dalam Hati). Sena dan Putri Alice akhirnya menapakkan kaki di dalam menara. Satu bulan penuh tantangan, demi satu tujuan. Langkah kaki mereka mulai terukir di sini.

Artikel keren lainnya:

Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life Chapter 22 I Know and Path To Change"

Posting Komentar