Beranda · Menu · Menu 1 · Menu 2

Wrong Life Chapter 24 One Thing and A Card

Di sudut lain, terlihat Reo sedang berlari di jalur yang agak sepi. “Meski terlihat sepi, tapi aku harus berhati-hati...”(Reo:Dalam Hati). Reo memperhatikan sekeliling dan terlihat para peserta lain sedang bertarung satu sama lain. “Semua peserta di sini bukan petarung biasa...ditambah dengan peraturan bebas tadi, mereka akan semakin liar dan pasti akan melakukan apa saja untuk menghentikan peserta lain.”(Reo:Dalam Hati). Tiba-tiba terlihat seseorang sedang berdiri di tengah jalur Reo. “Cih! Ternyata aku sudah ketauan.”(Reo:Dalam Hati). Reo terus berlari menuju orang itu. “Padahal sebisa mungkin aku tidak mau membuat masalah di sini, tapi apa boleh buat...”(Reo:Dalam Hati). Reo pun tepat berada di hadapan orang itu yang masih terdiam. “Akan kuhadapi saja.”(Reo:Dalam Hati). Bentrokan pun terjadi antara Reo dengan orang itu. Reo pun berhenti, dan terlihat goresan kecil di lengan kanannya. “Begitu rupanya, ternyata kau hebat juga.”(Reo). Orang itu pun berbalik ke arah Reo. “Dilihat dari apa yang terjadi barusan...”(Reo:Dalam Hati). Reo terlihat memperhatikan orang itu. “Dia tipe orang yang punya kecepatan tinggi...”(Reo:Dalam Hati). Reo teringat dengan kejadian tadi, di mana orang itu berhasil menyerang Reo dengan senjatanya. “Kalau begitu...hanya ada satu hal yang bisa dilakukan sekarang...”(Reo:Dalam Hati). Reo terlihat akan melakukan sesuatu.



Di tempat lain, Sena dan Putri Alice terlihat berlari di atas atap bangunan. “Masih berapa jauh lagi?”(Sena). “Kurasa tinggal sedikit lagi.”(Putri Alice). Sena dan Putri Alice terus berlari. “Tapi jika dipikirkan lagi...”(Sena:Dalam Hati). Sena teringat dengan pengumuman ketua panitia tadi. “Kalau pun aturannya bebas...”(Sena:Dalam Hati). “Hei, Sena!”(Putri Alice). “Ada apa?”(Sena). “Sebenarnya kau ini sedang memikirkan apa?”(Putri Alice). “Tidak ada, aku hanya kepikiran dengan aturan babak ini...kalau aturannya saja bebas, bukannya itu juga bisa melibatkan para penduduk biasa.”(Sena). “Memang benar sih...tapi apa yang aneh soal itu?”(Putri Alice). “Coba kau pikir kembali...kenapa kita harus mendaftarkan diri sementara kita tidak diberi tanda bukti peserta dan malah langsung bermain dalam babak yang aturannya bebas begini, bukannya itu aneh?”(Sena). “Kelihatannya kau ada benarnya.”(Putri Alice). “Itu artinya hanya ada satu kemungkinan...”(Sena). Di tempat lain, terlihat ketua panitia sedang memperhatikan para peserta dari kejauhan. “Secara tidak langsung, ini adalah babak eliminasi, bukan?”(Unknow). Terlihat seseorang mendekati ketua panitia. “Kau memang jenius seperti dulu, tapi tidak kusangka aku bisa bertemu lagi denganmu...”(Ketua Panitia). Ternyata orang yang datang adalah Melven. “Panglima Melven Grewach.”(Ketua Panitia). “Aku justru yang tidak menyangka jika kau yang jadi ketua panitianya...Hanzel Clief.”(Melven).
Kembali ke Sena. Sena dan Putri Alice terlihat sedang mencari sesuatu. “Kau yakin jika ini benar?”(Putri Alice). “Tidak salah lagi...”(Sena). Sena dan

  Putri Alice terus berlari mencari sesuatu. “Meskipun kita bisa mencapai pelabuhan, bukan berarti kita bisa masuk ke babak yang sebenarnya, karena ini adalah babak eliminasi untuk para pendaftar yang pada akhirnya akan melanjutkan ke babak yang sebenarnya.”(Sena). “Jadi kita harus menemukannya?”(Putri Alice). “Sudah jelas, di antara sekian banyak penduduk, pasti ada yang memegang itu. Entah itu tanda peserta atau apapun, yang jelas tanpa itu kita tidak akan bisa melanjutkan event ini dan aku yakin sebagian peserta juga sudah tau hal ini dan mulai mencari, dari pada harus bertarung satu sama lain untuk mencapai pelabuhan.”(Sena). “Jadi karena itu, tidak terjadi kekacauan besar meskipun peraturannya bebas?”(Putri Alice). “Itu salah satu faktor yang aku perhitungkan dari tadi, dan secara tidak langsung ini menujukkan satu hal...”(Sena). “Satu hal?”(Putri Alice). “Benar, yaitu...semua peserta di sini adalah orang-orang yang punya strategi tinggi dan kita tidak boleh meremehkan mereka.”(Sena). Sena pun berhenti. “Aku benar, kan...”(Sena). Terlihat seseorang berdiri di hadapan Sena. “Benar sekali, anak muda...kau juga sudah menyadarinya, ya?”(Unknow). “Kalau begitu, bisa kami ambil benda itu?”(Sena). “Kalian harus melakukan satu hal terlebih dulu...”(Unknow). Petunjuk untuk menuju gerbang selanjutnya. Event semakin memanas.

 Orang tersebut mengajukan persyaratan pada Sena dan Putri Alice. “Satu hal?”(Putri Alice). “Sudah kuduga ini tidak akan mudah.”(Sena). “Kalau kalian bisa membukanya, kalian akan tau apa yang harus kalian lakukan.”(Unknow). “Jadi, kami harus bisa menguak apa yang ada di dalam kartu ini?”(Putri Alice). “Benar sekali.”(Unknow). “Begitu ya...”(Putri Alice). “Lalu, apa ada petunjuk lain?”(Sena). “Hanya kartu itulah petunjuk kalian. Jadi, semoga kalian beruntung...”(Unknow). “Baiklah, terima kasih atas petunjuknya. Kami akan pergi sekarang.”(Sena). “Semoga berhasil.”(Unknow). Sena dan Putri Alice pun pergi meninggalkan orang itu. “Hei, kau tidak penasaran dengan kartu ini?”(Putri Alice). “Tentu saja, karena itu kita harus bisa menguak rahasia kartu ini.”(Sena). Setelah beberapa saat, Sena pun berhenti. “Ada apa?”(Putri Alice). Sena terlihat memperhatikan sekitar. “Apa kau tidak merasa ada yang aneh?”(Sena). “Aneh? Memang apa yang aneh?”(Putri Alice). “Coba kau perhatikan sekeliling.”(Sena). Putri Alice pun memperhatikan sekeliling dengan teliti. “Tidak ada apa-apa.”(Putri Alice). “Justru itulah yang membuatku bingung. Ke mana perginya semua peserta dan kerumunan tadi?”(Sena). “Benar juga, rasanya sangat aneh.”(Putri Alice). Sena terlihat memikirkan sesuatu. “Apa ini juga ilusi? Tapi rasanya aneh. Aku sama sekali tidak merasakan apa pun sebelumnya. Apa mungkin...”(Sena:Dalam Hati). “Sebenarnya apa yang terjadi?”(Putri Alice).

Di tempat lain, terlihat seseorang berdiri di atap sebuah bangunan tua. “Suasananya berubah. Apa yang terjadi?”(Unknow 1). Sedangkan di tempat yang berbeda, terlihat Reo memegang kartu yang sama dengan Sena dan Putri Alice. “Satu-satunya petunjuk hanya kartu ini...”(Reo:Dalam Hati). Reo pun juga memperhatikan ke setiap sudut. “Kalau begini, hanya ada satu kemungkinan...”(Reo). Kembali ke Sena dan Putri Alice. “Kita harus memecahkan misteri kartu ini, apa pun yang terjadi.”(Sena). “Tapi, memangnya apa yang akan terjadi?”(Putri Alice). “Aku punya firasat...ini akan jadi semakin buruk.”(Sena). “Lalu, mau kita apakan kartu ini?”(Putri Alice). Sena memperhatikan kartu tersebut, lalu mengarahkannya ke arah sinar matahari. “Bagaimana?”(Putri Alice). “Kalihatannya tidak bisa dengan cara ini...”(Sena). “Ternyata petunjuknya memang sulit. Padahal kita baru saja mulai...”(Putri Alice). “Jangan bilang kau mau menyerah di sini?”(Sena). “Tentu saja tidak! Tapi aku hanya bingung harus melakukan apa?”(Putri Alice). Sena terlihat memperhatikan Putri Alice. “Yang terpenting itu bukanlah apa yang harus kau lakukan, tapi seberapa besar usahamu untuk menciptakan sesuatu yang berguna.”(Sena). “Iya...aku juga tau itu...”(Putri Alice). “Kita pasti bisa kok, yang penting jangan menyerah dulu, karena selama masih ada jalan, maka tujuan pun tidak akan mungkin lenyap.”(Sena). Tiba-tiba Putri Alice melihat sesuatu di kejauhan. “Sena! Coba kau lihat itu!”(Putri Alice). “Apa yang kau lihat?”(Sena).

Terlihat sebuah pancaran cahaya dari sebuah bangunan yang agak jauh. “Jangan-jangan di sana...”(Sena). “Mungkin di sana awal petunjuk kita, Sena!”(Putri Alice). “Kalau begitu, kita segera ke sana!”(Sena). “Baik!”(Putri Alice). Sena dan Putri Alice pun pergi menuju bangunan itu. “Semoga saja di sana kita bisa menemukan sesuatu.”(Putri Alice). Setelah cukup lama, Sena dan Putri Alice akhirnya sampai di bangunan itu yang ternyata sebuah bangunan yang sudah tua dan hampir rusak. Putri Alice terlihat ingat dengan sesuatu. “Tempat ini...”(Putri Alice). “Kau tau tempat ini?”(Sena). “Kelihatannya aku seperti pernah ke sini sebelumnya, tapi aku tidak ingat.”(Putri Alice). “Kalau begitu, mungkin di dalam sana kau akan mengingat sesuatu.”(Sena). “Mungkin saja...”(Putri Alice). Sena dan Putri Alice pun masuk ke dalam bangunan itu. “Tempat ini, sepertinya sudah sangat lama tidak ditinggali.”(Sena). Putri Alice terlihat terdiam. “Hei, kau kenapa?”(Sena). Tiba-tiba terdengar suara dari salah satu sudut ruangan itu. “Sepertinya kita dalam masalah serius sekarang...”(Sena). Sena terlihat mulai bersiaga. Selembar kartu menjadi petunjuk mereka. Hanya ada mereka berdua dan sesuatu itu.

Artikel keren lainnya:

Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life Chapter 24 One Thing and A Card"

Posting Komentar