Sena perlahan terbangun, namun dia kembali ke alam bawah sadarnya.
“Kau lagi rupanya...aku sampai bosan untuk menyapamu terus.”(Sena 2).
Terlihat Sena yang lain sedang berdiri di hadapan Sena. “Apa kau ingin
mengambil tubuhku sekarang?”(Sena). “Tidak, aku belum tertarik sekarang.
Lagipula aku juga berhak memiliki tubuh ini, jadi ini juga
tubuhku.”(Sena 2). “Lalu?”(Sena). Sena yang lain terdiam sejenak. “Tidak
ada hubungannya denganmu.”(Sena 2). Sena memperhatikan dengan seksama
dirinya yang lain. “Sebenarnya kenapa kau ingin mengambil tubuh
ini?”(Sena). “Karena, kau terlalu lemah.”(Sena 2). Sena sempat terkejut.
“Lemah katamu?”(Sena). “Iya, ada masalah?”(Sena 2). “Coba jelaskan,
kalau memang apa yang kau katakan benar, dari mana kau tau besarnya
kekuatanku?”(Sena). “Pertama, faktanya aku sudah tinggal di sini bahkan
sejak kau terlahir, dan yang kedua, akulah yang menyelamatkanmu di saat
kau dalam bahaya, jadi aku jauh lebih kuat darimu.”(Sena 2).
“Benarkah?”(Sena). Sena yang lain terlihat agak tersinggung. “Tapi,
jangan salah paham mengartikan itu...”(Sena 2). Sena yang lain tiba-tiba
sudah ada di belakang Sena dan menghunuskan sebuah pedang ke leher
Sena. “Aku menyelamatkanmu, karena jika kau mati di dunia nyata, maka
aku juga akan terkena dampaknya, camkan itu.”(Sena 2). Sena hanya
terdiam dan teringat dengan kata-kata Kira. “Yang terpenting bukan
seberapa kuat kau bisa mengalahkan seseorang, tapi seberapa kuat kau
bisa mengalahkan dirimu sendiri.”(Kira). Kembali ke waktu sekarang, Sena
terlihat tersenyum. “Kalau begitu, aku hanya cukup menjadi lebih kuat
untuk mengalahkanmu.”(Sena). “Apa itu sebuah tantangan?”(Sena 2).
“Mungkin saja...”(Sena).
Sena yang lain
terlihat tersenyum lalu melepaskan Sena. “Kedengarannya menarik, kalau
begitu aku akan menunggu saat itu.”(Sena 2). “Terserah kau saja...tapi
tubuh ini akan tetap jadi milikku.”(Sena). “Jangan terlalu besar kepala,
ini baru pembukaan saja.”(Sena 2). “Baiklah, siapapun yang menang,
dialah yang berhak mengambil tubuh ini.”(Sena). “Oke, aku terima
itu.”(Sena 2). Sena dan dirinya yang lain berjabat tangan, lalu Sena
perlahan terbangun di dunia nyata. “Kepalaku...”(Sena). Terlihat Krozen
sedang duduk di samping Sena. “Kelihatannya tidak terlalu buruk, tapi
kau tetap harus istirahat.”(Krozen). “Apa yang terjadi denganku?”(Sena).
“Kau menggunakan kekuatanmu yang belum sempurna secara berlebihan, jadi
tubuhmu mengalami penurunan tekanan yang cukup besar.”(Krozen). “Lalu,
bagaimana dengan putri?”(Sena). “Dia sedang tertidur di pojok sana.
Kelihatannya dia juga kelelahan.”(Krozen). Sena terlihat lega.
“Syukurlah...”(Sena). Krozen memperhatikan Sena. “Jadi, kau sudah
bertemu dengannya?”(Krozen). Sena terlihat bingung. “Siapa
maksudmu?”(Sena). “Dia...yang jauh di sana.”(Krozen). Sena terlihat
mengerti maksud Krozen. “Dari mana kau tau?”(Sena). “Asal tebak
saja.”(Krozen). “...”(Sena). Sena terdiam sejenak. “Jadi,
bagaimana?”(Krozen). “Ya, awalnya aku juga kaget saat bertemu dengannya,
tapi sekarang aku sudah tidak takut lagi.”(Sena). “Begitu
rupanya...”(Krozen). “Aku sudah bertekad untuk mengalahkannya, karena
itu aku akan jadi lebih kuat lagi.”(Sena). “Kelihatannya kau percaya
sekali...”(Krozen).
Krozen tiba-tiba
mengacungkan pedangnya ke arah Sena. “Apa maksudnya ini?”(Sena). “Apa
kau yakin bisa mengalahkan sisi gelapmu itu seorang diri?”(Krozen).
“Tentu saja aku yakin!”(Sena). Krozen menatap mata Sena yang penuh
dengan keyakinan. “Kelihatannya kau bisa dipercaya...”(Krozen). Krozen
pun menutup kembali pedangnya. “Selama kau punya tekad itu, aku percaya
kau tidak akan terpengaruh olehnya, tapi ini tinggal masalah
waktu...”(Krozen). “Aku tau itu, dan karena itu tidak akan kubiarkan dia
mengambil tubuh ini seenaknya.”(Sena). Krozen perlahan tersenyum.
“Sepertinya aku salah menilaimu, ternyata kau jauh lebih nekad dari yang
ku duga.”(Krozen). “Tentu saja...”(Sena). Semangat dalam menghadapi
tantangan. Pertarungan sebenarnya baru dimulai.
Keesokan paginya, Sena terlihat masih tertidur pulas. Putri Alice
sedari tadi memperhatikan Sena. “Dia benar-benar pulas...”(Putri
Alice:Dalam Hati). Putri Alice teringat kembali dengan perjuangannya
bersama Sena untuk mencapai menara pulau. “Apa pun yang terjadi, aku
akan tetap percaya padamu...Sena...”(Putri Alice:Dalam Hati). Putri
Alice perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Sena, seakan berusaha untuk
mencium Sena. Tiba-tiba Sena perlahan mulai terbangun.
“Mmmmm...”(Sena). Putri Alice yang menyadari itu langsung terkejut dan
melompat mundur. “A...akhirnya...kau bangun juga, Sena?”(Putri Alice).
“Sudah pagi, ya?”(Sena). Sesaat kemudian, Krozen terlihat mendekati Sena
dan Putri Alice. “Kalian sudah bangun rupanya.”(Krozen).
“Panglima...”(Putri Alice). Krozen melihat Sena yang masih setengah
bangun. “Cepat cuci wajahmu, kita akan segera memulai
latihannya.”(Krozen). “Baiklah...”(Sena). Sena pun pergi menuju sungai
terdekat. “Putri, sebaiknya anda beristirahat saja. Kondisi anda
kelihatannya belum pulih sepenuhnya.”(Krozen). “Tidak! Aku juga akan
ikut berlatih! Aku tidak ingin hanya diam saja di sini sementara
orang-orang sudah berusaha keras untuk mengembalikan dunia ini!”(Putri
Alice). “Baiklah...tapi jika anda nanti mengalami kesulitan, tolong
jangan memaksakan diri dan segeralah istirahat.”(Krozen). “Aku
mengerti.”(Putri Alice).
Di sungai, Sena
terlihat sedang membasuh wajahnya. “Haahhh...airnya segar
sekali!”(Sena). Sena mengamati pepohonan di sekelilingnya. “Tempat
ini...benar-benar mengingatkanku saat aku berlatih bersama Kira
dulu...”(Sena:Dalam Hati). Sena sejenak teringat dengan Kira. Sena lalu
melihat ke arah langit dan membayangkan sesuatu. “Apa yang mereka
lakukan sekarang, ya? Sudah lama sekali sejak aku datang ke dunia
ini...”(Sena). Sena teringat dengan Hana, Tora, dan yang lainnya yang
ada di dunia seberang. “Tapi...”(Sena). Sena melihat bayangannya di
permukaan air sungai. “Masih banyak hal yang harus aku lakukan di
sini...terutama dia...”(Sena). Sena mengingat kembali kejadian saat
kakek tua di dunia seberang mengirimnya ke dunia sekarang ini, dan semua
kejadian yang telah dia alami serta ketaui. Sena pun berdiri. “Apa pun
itu...pasti aku akan mencari tau tentang hal itu...”(Sena:Dalam Hati).
Sena akhirnya pergi dan kembali ke tempat Krozen. Terlihat Krozen sudah
menunggu Sena. “Kau sudah siap?”(Krozen). “Tentu saja, aku lebih dari
siap!”(Sena). Tak lama berselang, terlihat Putri Alice datang dengan
pakaian yang lebih simple dan terlihat tomboy. “Aku juga akan
ikut!”(Putri Alice). Sena pun terkejut saat melihat penampilan Putri
Alice. “Hei...apa maksudnya ini? Kenapa kau berpakaian begini?”(Sena).
“Kan tadi aku sudah bilang, aku juga akan ikut!”(Putri Alice). Sena pun
melihat ke arah Krozen. “Kau yakin dia akan baik-baik saja?”(Sena). “Mau
bagaimana lagi, dia yang ingin ikut. Aku juga tidak bisa
mencegahnya.”(Krozen). “Tapi jika sesuatu ter...”(Sena).
Dengan
sigap, Putri Alice langsung mengunci leher Sena dengan ekspresi agak
kesal. “Jika sesuatu apa?”(Putri Alice). Sena terlihat tidak bisa
berkutik. “Ba...baiklah...aku...percaya...aku percaya...”(Sena). Krozen
pun mulai menjelaskan latihan yang akan dia berikan pada Sena serta
Putri Alice. “Baiklah, latihannya akan kita mulai. Pertama, kalian akan
melewati setiap tantangan yang sudah aku siapkan di setiap lantai menara
ini, lalu kalian akan kulatih sesuai dengan kemampuan kalian. Ingat!
Selama satu bulan ini, aku akan melatih kalian berdua dengan keras, jadi
kalian harus benar-benar mempersiapkan fisik, mental, dan fokus kalian,
paham?”(Krozen). “Paham!”(Sena dan Putri Alice). Sena dan Putri Alice
terlihat bersemangat. “Baiklah kalau begitu, latihan ini...kita
mulai!”(Krozen). Dengan penuh percaya diri, Sena dan Putri Alice mulai
melangkahkan kaki mereka masuk ke dalam menara itu. “Dari sinilah...aku
akan menjadi lebih kuat...tidak peduli apa yang akan terjadi...inilah
jalan yang sudah kupilih...dan aku tidak akan menyerah...”(Sena:Dalam
Hati). “Ayah...ibu...aku pasti akan mengembalikan kerajaan kita
lagi...aku pasti bisa...tak akan kubiarkan semua orang menderita lebih
dari ini...aku janji...”(Putri Alice:Dalam Hati). Sena dan Putri Alice
akhirnya menapakkan kaki di dalam menara. Satu bulan penuh tantangan,
demi satu tujuan. Langkah kaki mereka mulai terukir di sini.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life Chapter 22 I Know and Path To Change"
Posting Komentar