Beranda · Menu · Menu 1 · Menu 2

Wrong Life Chapter 21 Abyss, Cave and Meet Again

Putri Alice terlihat duduk di sebelah Sena yang baru saja tersadar. “Syukurlah, Sena...”(Putri Alice). Putri Alice terlihat tersenyum lega dengan air mata yang masih mengalir. “Putri...”(Sena). Sena pun berusaha bangun. “Kau tidak apa-apa?”(Putri Alice). “Tidak apa-apa...aku baik-baik saja.”(Sena). “Begitu ya...”(Putri Alice). “Kau sendiri bagaimana?”(Sena). “Aku tidak apa-apa, ini semua juga berkatmu. Kalau kau tidak melindungiku tadi, mungkin aku sudah mati.”(Putri Alice). Sena terlihat lega. “Syukurlah...”(Sena). “Tapi, rasanya seperti keajaiban, bisa selamat setelah jatuh dari ketinggian seperti itu.”(Putri Alice). Sena terlihat terdiam memikirkan apa yang baru saja dialaminya. “Hei, Sena? Kau benar tidak apa-apa?”(Putri Alice). “Eh, tidak kok...aku benar tidak apa-apa.”(Sena). “Apa ada sesuatu yang terjadi?”(Putri Alice). “Itu...”(Sena). Sena sejenak teringat dengan cerita Putri Alice sebelumnya. “Tidak ada...”(Sena). Putri Alice terlihat memperhatikan Sena. Sena perlahan mulai berdiri. “Sebaiknya kita harus melanjutkan perjalanan.”(Sena). “Tapi, ke mana lagi kita harus pergi?”(Putri Alice). Sena perlahan memperhatikan sekeliling. “Sepertinya kita harus menuju ke sini seberang, mungkin di sana kita akan menemukan petunjuk.”(Sena). “Baiklah.”(Putri Alice). Sena dan Putri Alice mulai berjalan menuju sisi jurang seberang. Sena terlihat masih memikirkan kejadian saat dia berada di alam bawah sadarnya tadi. “Tidak boleh...untuk sementara, biar aku cari tau kepastiannya dulu...”(Sena:Dalam Hati).

Setelah berjalan cukup lama, Sena dan Putri Alice pun sampai di sisi lain jurang. “Nah, kita sekarang sudah sampai, lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?”(Putri Alice). Sena terlihat meraba dinding jurang. “Kelihatannya harus dicoba...”(Sena). “Apa yang kau lakukan?”(Putri Alice). “Aku akan cari tau, mungkin saja ada jalur tersembunyi.”(Sena). Sena memejamkan matanya dan mulai berkonsentrasi. Setelah cukup lama, Sena pun perlahan membuka matanya. “Bagaimana?”(Putri Alice). “Tolong mundur sebentar...”(Sena). “Kenapa?”(Putri Alice). Sena pun menarik pedangnya. “Akan kubuka jalurnya...”(Sena). Sena dengan cepat menancapkan pedangnya ke dinding jurang. Dengan penuh konsentrasi, sebuah gelombang keluar dari Sena seperti sebelumnya. Putri Alice yang merasakannya pun terkejut. “Kekuatan ini...”(Putri Alice:Dalam Hati). Tiba-tiba dinding jurang yang telah ditancapi pedang oleh Sena, perlahan membentuk seperti sebuah mulut gua. Putri Alice terlihat bingung dengan apa yang terjadi. “Bagaimana bisa kau...”(Putri Alice). “Aku hanya membuka jalur tersembunyi ini dengan kekuatanku, itu saja.”(Sena). Putri Alice seperti teringat dengan sesuatu. “Kau kenapa?”(Sena). “Ti...tidak ada apa-apa...”(Putri Alice). “Kalau begitu, kita harus melewati gua ini. Mungkin saja gua ini akan menuntun kita ke menara pulau.”(Sena). “Iya, semoga saja...”(Putri Alice).

Sena dan Putri Alice mulai melangkah memasuki gua. “Gua ini ternyata besar juga.”(Putri Alice). “Jangan lengah. Mungkin gua ini memiliki jebakan, seperti di tempat-tempat sebelumnya.”(Sena). “Aku mengerti.”(Putri Alice). Sena dan Putri Alice terus berjalan menyusuri gua. “Hei...”(Putri Alice). “Ada apa?”(Sena). “Aku kan sudah menceritakan kehidupanku padamu, jadi kalau kau tidak keberatan, maukah kau menceritakan sedikit tentang kehidupanmu?”(Putri Alice). Dengan terus berjalan, Sena mulai bercerita. “Aku hanya orang biasa...tidak lebih...”(Sena). “Begitu ya...tapi kekuatanmu tadi...mengingatkanku pada seseorang...”(Putri Alice). “Benarkah? Siapa?”(Sena). “Entahlah, aku juga tidak terlalu ingat. Tapi, kekuatanmu membuatku merasa aman...itu saja.”(Putri Alice). “...”(Sena). Sena hanya terdiam. Setelah berjalan cukup lama, Sena seperti melihat setitik cahaya dari ujung gua. “Lihat, sepertinya tinggal sedikit lagi.”(Sena). Putri Alice juga melihat cahaya itu. “Kau benar! Kita harus cepat ke sana!”(Putri Alice). Sena dan Putri Alice mulai mempercepat langkah mereka. “Apa ini?!”(Sena). Tiba-tiba pandangan Sena dan Putri Alice seolah-olah bergoyang tidak beraturan, hingga mereka terjatuh karena kehilangan keseimbangan. “Apa yang terjadi?”(Putri Alice). “Lagi-lagi ilusi...”(Sena:Dalam Hati). Putri Alice terlihat mual-mual karena pengaruh pandangannya. Setitik cahaya, namun langkah mereka kembali terhenti karena gua ini berusaha menahan mereka.

 Sena dan Putri Alice semakin kehilangan kesadaran. “Ilusi ini...jauh lebih kuat dari sebelumnya...”(Sena:Dalam Hati). Sena memperhatikan Putri Alice yang semakin melemah. “Aku harus bisa menghentikan ilusi ini...tapi dari mana ilusi ini berasal?”(Sena:Dalam Hati). Saat Sena sedang berpikir, Putri Alice perlahan mulai bangkit. “Aku...tidak mau...terus-menerus bergantung...pada orang lain...”(Putri Alice). Putri Alice berusaha melangkahkan kakinya sekali lagi. “Ayah telah mengajarkanku...untuk selalu menjaga semua orang yang kau sayangi...”(Putri Alice). Sena terlihat kagum melihat Putri Alice yang mengingatkannya pada Yuki. “Karena itu...aku juga tidak akan menyerah di sini!!”(Putri Alice). Sena juga perlahan mulai bangkit. “Ayo! Kita masih punya banyak hal yang harus kita selesaikan setelah ini! Kita tidak boleh menyerah di sini!”(Sena). Dengan tertatih-tatih, Sena dan Putri Alice terus berusaha menyusuri gua itu. Saat Sena meraih dinding gua untuk tumpuan, dia merasakan adanya sebuah gelombang. “Ini...”(Sena:Dalam Hati). Sena mulai mengamati gua itu. “Begitu rupanya. Sekarang aku tau...”(Sena). Sena menyobek pakaiannnya. “Dengan ini mungkin bisa sedikit mengurangi efeknya...”(Sena). Sena menyumbatkan sobekkan pakaiannya tadi di kedua telinganya. “Sepertinya bekerja...”(Sena). Sena lalu mendekati Putri Alice dan memberikan sisa sobekkan pakaiannya tadi pada Putri Alice. “Ini! Tutuplah kedua telingamu dengan ini!”(Sena). Putri Alice pun juga menyumbatkan sobekkan itu pada kedua telingannya. “Kalau begitu...”(Sena:Dalam Hati).

Sena kembali menarik pedangnya dan mulai berkonsentrasi. Sena sejenak teringat dengan kata-kata Kira saat mereka berlatih dulu. “Kau memang sudah bisa menggunakan kekuatan itu, namun itu masih terbatas.”(Kira). “Terbatas?”(Sena). “Benar, kau masih harus mengembangkan kekuatan itu, hingga akhirnya kau bisa menguasainya dengan penuh.”(Kira). “Seperti itu ya...ternyata latihan ini memang sangat panjang.”(Sena). “Iya...bisa dibilang begitu...dan selama aku masih bisa, aku pasti akan mengajarkanmu semua yang ku bisa...”(Kira). “Benarkah?”(Sena). “Tentu saja...”(Kira). Kembali ke keadaan sekarang. Sena terlihat mulai meneteskan air mata. “Aku pasti akan jadi lebih kuat! Aku tidak akan membiarkan siapa pun terbunuh lagi!”(Sena:Dalam Hati). Dengan kuat, Sena menancapkan pedangnya ke tanah, dan seluruh gua mulai bergetar. Setelah cukup lama, getaran itu pun akhirnya berhenti. “Pandanganku...mulai normal lagi.”(Putri Alice). Putri Alice pun melepas sumbat di kedua teligannya. “Kau berhasil lagi, Sena!”(Putri Alice). Sena juga melepas sumbat di kedua telinganya dan terlihat kelelahan. “Syukurlah...”(Sena). “Kau baik-baik saja?”(Putri Alice). “Tidak apa-apa. Ayo, kita lanjutkan perjalanannya! Tinggal sedikit lagi!”(Sena). “Baik!”(Putri Alice). Sena dan Putri Alice kembali melanjutkan perjalanan mereka. Cahaya di depan Sena dan Putri Alice semakin terang dan jelas.

Setelah menempuh perjalanannya yang melelahkan, Sena dan Putri Alice akhirnya sampai di ujung gua. “Jadi ini...”(Sena). “Besar sekali...”(Putri Alice). Sena dan Putri Alice terlihat kagum dengan besarnya menara pulau yang tepat berada di hadapan mereka. “Akhirnya kalian sampai juga...”(Krozen). Krozen terlihat berjalan menuju ke arah Sena dan Putri Alice. “Tentu saja.”(Sena). “Panglima Krozen...”(Putri Alice). “Kau luar biasa, Sena...dan Putri juga, senang bisa bertemu dengan anda lagi.”(Krozen). Putri Alice mulai terharu karena bisa bertemu dengan Krozen. “Syukurlah, ternyata anda masih hidup putri.”(Krozen). “Iya...panglima...aku sangat senang karena ternyata bukan hanya aku satu-satunya anggota kerajaan yang selamat.”(Putri Alice). “Bagaimana denganmu, Sena?”(Krozen). “Ya...walau pun cukup berat, tapi banyak hal yang aku pelajari di sana. Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa tau apa yang terjadi pada kami?”(Sena). “Mudah saja, semua di pulau ini, secara tidak langsung telah diatur di menara ini, jadi aku tau apa yang terjadi pada kalian.”(Krozen). “Jadi begitu...”(Sena). Sena tiba-tiba tersungkur, lalu seluruh tubuhnya menggigil. Krozen dan Putri Alice pun terkejut dan panik. Tujuan pertama mereka telah tercapai, namun dia tak bisa merasakan apa-apa.

Artikel keren lainnya:

Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life Chapter 21 Abyss, Cave and Meet Again"

Posting Komentar