Putri Alice terlihat duduk di sebelah Sena yang baru saja tersadar.
“Syukurlah, Sena...”(Putri Alice). Putri Alice terlihat tersenyum lega
dengan air mata yang masih mengalir. “Putri...”(Sena). Sena pun berusaha
bangun. “Kau tidak apa-apa?”(Putri Alice). “Tidak apa-apa...aku
baik-baik saja.”(Sena). “Begitu ya...”(Putri Alice). “Kau sendiri
bagaimana?”(Sena). “Aku tidak apa-apa, ini semua juga berkatmu. Kalau
kau tidak melindungiku tadi, mungkin aku sudah mati.”(Putri Alice). Sena
terlihat lega. “Syukurlah...”(Sena). “Tapi, rasanya seperti keajaiban,
bisa selamat setelah jatuh dari ketinggian seperti itu.”(Putri Alice).
Sena terlihat terdiam memikirkan apa yang baru saja dialaminya. “Hei,
Sena? Kau benar tidak apa-apa?”(Putri Alice). “Eh, tidak kok...aku benar
tidak apa-apa.”(Sena). “Apa ada sesuatu yang terjadi?”(Putri Alice).
“Itu...”(Sena). Sena sejenak teringat dengan cerita Putri Alice
sebelumnya. “Tidak ada...”(Sena). Putri Alice terlihat memperhatikan
Sena. Sena perlahan mulai berdiri. “Sebaiknya kita harus melanjutkan
perjalanan.”(Sena). “Tapi, ke mana lagi kita harus pergi?”(Putri Alice).
Sena perlahan memperhatikan sekeliling. “Sepertinya kita harus menuju
ke sini seberang, mungkin di sana kita akan menemukan petunjuk.”(Sena).
“Baiklah.”(Putri Alice). Sena dan Putri Alice mulai berjalan menuju sisi
jurang seberang. Sena terlihat masih memikirkan kejadian saat dia
berada di alam bawah sadarnya tadi. “Tidak boleh...untuk sementara, biar
aku cari tau kepastiannya dulu...”(Sena:Dalam Hati).

Setelah
berjalan cukup lama, Sena dan Putri Alice pun sampai di sisi lain
jurang. “Nah, kita sekarang sudah sampai, lalu apa yang akan kita
lakukan sekarang?”(Putri Alice). Sena terlihat meraba dinding jurang.
“Kelihatannya harus dicoba...”(Sena). “Apa yang kau lakukan?”(Putri
Alice). “Aku akan cari tau, mungkin saja ada jalur tersembunyi.”(Sena).
Sena memejamkan matanya dan mulai berkonsentrasi. Setelah cukup lama,
Sena pun perlahan membuka matanya. “Bagaimana?”(Putri Alice). “Tolong
mundur sebentar...”(Sena). “Kenapa?”(Putri Alice). Sena pun menarik
pedangnya. “Akan kubuka jalurnya...”(Sena). Sena dengan cepat
menancapkan pedangnya ke dinding jurang. Dengan penuh konsentrasi,
sebuah gelombang keluar dari Sena seperti sebelumnya. Putri Alice yang
merasakannya pun terkejut. “Kekuatan ini...”(Putri Alice:Dalam Hati).
Tiba-tiba dinding jurang yang telah ditancapi pedang oleh Sena, perlahan
membentuk seperti sebuah mulut gua. Putri Alice terlihat bingung dengan
apa yang terjadi. “Bagaimana bisa kau...”(Putri Alice). “Aku hanya
membuka jalur tersembunyi ini dengan kekuatanku, itu saja.”(Sena). Putri
Alice seperti teringat dengan sesuatu. “Kau kenapa?”(Sena). “Ti...tidak
ada apa-apa...”(Putri Alice). “Kalau begitu, kita harus melewati gua
ini. Mungkin saja gua ini akan menuntun kita ke menara pulau.”(Sena).
“Iya, semoga saja...”(Putri Alice).
Sena dan
Putri Alice mulai melangkah memasuki gua. “Gua ini ternyata besar
juga.”(Putri Alice). “Jangan lengah. Mungkin gua ini memiliki jebakan,
seperti di tempat-tempat sebelumnya.”(Sena). “Aku mengerti.”(Putri
Alice). Sena dan Putri Alice terus berjalan menyusuri gua.
“Hei...”(Putri Alice). “Ada apa?”(Sena). “Aku kan sudah menceritakan
kehidupanku padamu, jadi kalau kau tidak keberatan, maukah kau
menceritakan sedikit tentang kehidupanmu?”(Putri Alice). Dengan terus
berjalan, Sena mulai bercerita. “Aku hanya orang biasa...tidak
lebih...”(Sena). “Begitu ya...tapi kekuatanmu tadi...mengingatkanku pada
seseorang...”(Putri Alice). “Benarkah? Siapa?”(Sena). “Entahlah, aku
juga tidak terlalu ingat. Tapi, kekuatanmu membuatku merasa aman...itu
saja.”(Putri Alice). “...”(Sena). Sena hanya terdiam. Setelah berjalan
cukup lama, Sena seperti melihat setitik cahaya dari ujung gua. “Lihat,
sepertinya tinggal sedikit lagi.”(Sena). Putri Alice juga melihat cahaya
itu. “Kau benar! Kita harus cepat ke sana!”(Putri Alice). Sena dan
Putri Alice mulai mempercepat langkah mereka. “Apa ini?!”(Sena).
Tiba-tiba pandangan Sena dan Putri Alice seolah-olah bergoyang tidak
beraturan, hingga mereka terjatuh karena kehilangan keseimbangan. “Apa
yang terjadi?”(Putri Alice). “Lagi-lagi ilusi...”(Sena:Dalam Hati).
Putri Alice terlihat mual-mual karena pengaruh pandangannya. Setitik
cahaya, namun langkah mereka kembali terhenti karena gua ini berusaha
menahan mereka.
Sena dan Putri Alice semakin kehilangan kesadaran. “Ilusi ini...jauh
lebih kuat dari sebelumnya...”(Sena:Dalam Hati). Sena memperhatikan
Putri Alice yang semakin melemah. “Aku harus bisa menghentikan ilusi
ini...tapi dari mana ilusi ini berasal?”(Sena:Dalam Hati). Saat Sena
sedang berpikir, Putri Alice perlahan mulai bangkit. “Aku...tidak
mau...terus-menerus bergantung...pada orang lain...”(Putri Alice). Putri
Alice berusaha melangkahkan kakinya sekali lagi. “Ayah telah
mengajarkanku...untuk selalu menjaga semua orang yang kau
sayangi...”(Putri Alice). Sena terlihat kagum melihat Putri Alice yang
mengingatkannya pada Yuki. “Karena itu...aku juga tidak akan menyerah di
sini!!”(Putri Alice). Sena juga perlahan mulai bangkit. “Ayo! Kita
masih punya banyak hal yang harus kita selesaikan setelah ini! Kita
tidak boleh menyerah di sini!”(Sena). Dengan tertatih-tatih, Sena dan
Putri Alice terus berusaha menyusuri gua itu. Saat Sena meraih dinding
gua untuk tumpuan, dia merasakan adanya sebuah gelombang.
“Ini...”(Sena:Dalam Hati). Sena mulai mengamati gua itu. “Begitu
rupanya. Sekarang aku tau...”(Sena). Sena menyobek pakaiannnya. “Dengan
ini mungkin bisa sedikit mengurangi efeknya...”(Sena). Sena menyumbatkan
sobekkan pakaiannya tadi di kedua telinganya. “Sepertinya
bekerja...”(Sena). Sena lalu mendekati Putri Alice dan memberikan sisa
sobekkan pakaiannya tadi pada Putri Alice. “Ini! Tutuplah kedua
telingamu dengan ini!”(Sena). Putri Alice pun juga menyumbatkan sobekkan
itu pada kedua telingannya. “Kalau begitu...”(Sena:Dalam Hati).
Sena
kembali menarik pedangnya dan mulai berkonsentrasi. Sena sejenak
teringat dengan kata-kata Kira saat mereka berlatih dulu. “Kau memang
sudah bisa menggunakan kekuatan itu, namun itu masih terbatas.”(Kira).
“Terbatas?”(Sena). “Benar, kau masih harus mengembangkan kekuatan itu,
hingga akhirnya kau bisa menguasainya dengan penuh.”(Kira). “Seperti itu
ya...ternyata latihan ini memang sangat panjang.”(Sena). “Iya...bisa
dibilang begitu...dan selama aku masih bisa, aku pasti akan
mengajarkanmu semua yang ku bisa...”(Kira). “Benarkah?”(Sena). “Tentu
saja...”(Kira). Kembali ke keadaan sekarang. Sena terlihat mulai
meneteskan air mata. “Aku pasti akan jadi lebih kuat! Aku tidak akan
membiarkan siapa pun terbunuh lagi!”(Sena:Dalam Hati). Dengan kuat, Sena
menancapkan pedangnya ke tanah, dan seluruh gua mulai bergetar. Setelah
cukup lama, getaran itu pun akhirnya berhenti. “Pandanganku...mulai
normal lagi.”(Putri Alice). Putri Alice pun melepas sumbat di kedua
teligannya. “Kau berhasil lagi, Sena!”(Putri Alice). Sena juga melepas
sumbat di kedua telinganya dan terlihat kelelahan. “Syukurlah...”(Sena).
“Kau baik-baik saja?”(Putri Alice). “Tidak apa-apa. Ayo, kita lanjutkan
perjalanannya! Tinggal sedikit lagi!”(Sena). “Baik!”(Putri Alice). Sena
dan Putri Alice kembali melanjutkan perjalanan mereka. Cahaya di depan
Sena dan Putri Alice semakin terang dan jelas.
Setelah
menempuh perjalanannya yang melelahkan, Sena dan Putri Alice akhirnya
sampai di ujung gua. “Jadi ini...”(Sena). “Besar sekali...”(Putri
Alice). Sena dan Putri Alice terlihat kagum dengan besarnya menara pulau
yang tepat berada di hadapan mereka. “Akhirnya kalian sampai
juga...”(Krozen). Krozen terlihat berjalan menuju ke arah Sena dan Putri
Alice. “Tentu saja.”(Sena). “Panglima Krozen...”(Putri Alice). “Kau
luar biasa, Sena...dan Putri juga, senang bisa bertemu dengan anda
lagi.”(Krozen). Putri Alice mulai terharu karena bisa bertemu dengan
Krozen. “Syukurlah, ternyata anda masih hidup putri.”(Krozen).
“Iya...panglima...aku sangat senang karena ternyata bukan hanya aku
satu-satunya anggota kerajaan yang selamat.”(Putri Alice). “Bagaimana
denganmu, Sena?”(Krozen). “Ya...walau pun cukup berat, tapi banyak hal
yang aku pelajari di sana. Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa tau apa
yang terjadi pada kami?”(Sena). “Mudah saja, semua di pulau ini, secara
tidak langsung telah diatur di menara ini, jadi aku tau apa yang terjadi
pada kalian.”(Krozen). “Jadi begitu...”(Sena). Sena tiba-tiba
tersungkur, lalu seluruh tubuhnya menggigil. Krozen dan Putri Alice pun
terkejut dan panik. Tujuan pertama mereka telah tercapai, namun dia tak
bisa merasakan apa-apa.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life Chapter 21 Abyss, Cave and Meet Again"
Posting Komentar