Ketua Panitia terlihat datang mendekati para peserta.
“Baiklah, semuanya sudah berkumpul...”(Ketua Panitia). Semua peserta
terlihat memperhatikan Ketua Panitia. “Kita akan segera memulai babak
selanjutnya, jadi semuanya tolong dengarkan baik-baik...”(Ketua
Panitia). Ketua Panitia terlihat mengangkat tangan kanannya dan menunjuk
ke langit. “Setiap peserta akan dibagi menjadi empat kelompok dengan
sistem pengundian. Karena jumlah peserta saat ini ada enam puluh empat
orang, maka dalam satu kelompok akan terdiri dari enam belas
orang...”(Ketua Panitia). Sena terlihat mencoba menebak aturan babak
berikutnya. “Kelihatannya ini akan jadi babak
Tag-Team.”(Sena).
“Aku rasa tidak...”(Reo). “Eh? Kenapa?”(Sena). Ketua Panitia kembali
melanjutkan pengumumannya. “Babak kali ini adalah
Rumble Hunter,
yaitu setiap peserta akan bersaing dengan peserta lainnya dalam satu
kelompok untuk melakukan event perburuan...”(Ketua Panitia). Semua
peserta terlihat bingung. “Perburuan? Memang kali ini babak macam apa
yang akan diselenggarakan?”(Peserta 1). “Singkatnya, seluruh peserta
dalam satu tim akan melakukan perburuan dan akan mendapatkan poin setiap
kali berhasil mendapat buruan, dan nantinya akan dihitung jumlah
poinnya dan bagi para peserta yang mendapat poin tertinggi di
masing-masing kelompok, maka merekalah yang akan melanjutkan ke babak
berikutnya.”(Ketua Panitia).

Semua peserta justru semakin
bingung. “Tunggu dulu, lalu kami harus memburu apa?”(Peserta 2). Ketua
Panitia terlihat menjentikkan jarinya, dan tiba-tiba sebuah hologram
cukup besar muncul di atasnya. Semua peserta yang melihatnya terlihat
sangat terkejut. “Hei...ini bercanda, kan?”(Peserta 3). “Apa-apaan
ini?”(Peserta 1). “Mana mungkin kita bisa menang...”(Peserta 4).
Terlihat Sena dan yang lainnya sangat terkejut hingga tidak bisa
berkata-kata. Ternyata gambar yang muncul di hologram itu adalah kawanan
para monster raksasa yang terlihat lebih kuat dari monster-monster
sebelumnya. “Semua peserta akan berlomba untuk bisa memburu monster itu
sebanyak mungkin, dan setiap jenis monster punya poinnya masing-masing,
jadi kami sarankan untuk memburu monster yang kuat, karena semakin kuat
monsternya, maka poinnya juga akan semakin besar, tapi kami tidak akan
menjamin apapun jika sesuatu terjadi pada para peserta.”(Ketua Panitia).
Semua peserta terlihat protes. “Apa maksudnya ini? Apa kau ingin
membunuh kami?”(Peserta 1). “Ini sama sekali tidak masuk akal! Mana
mungkin kami bisa menang melawan monster-monster itu?!”(Peserta 3).
“Kalau ada yang ingin mundur, silahkan. Tapi, ini adalah event untuk
mencari siapa yang terkuat di dunia ini, jadi hanya mereka yang punya
keberanian dan tekad besarlah yang bisa terus melaju ke babak
selanjutnya.”(Ketua Panitia).
Sebagian besar peserta ada
yang terlihat tegang dan ketakutan. Tiba-tiba, Putri Alice terlihat maju
dan mendekat ke Ketua Panitia. “Aku akan tetap ikut...”(Putri Alice).
Semua peserta terlihat memperhatikan Putri Alice dan berusaha
menghentikan Putri Alice. “Jangan putri!”(Peserta 5). “Anda bisa
terbunuh jika tetap ikut.”(Peserta 3). “Berhenti saja putri.”(Peserta
6). Putri Alice terlihat menatap Ketua Panitia dengan serius. “Aku akan
tetap melakukannya! Sebagai seorang putri, akan ku pastikan untuk
mendapatkan kekuasaan ku kembali dan mengembalikan dunia ini seperti
dulu. Jadi, aku tidak akan berhenti di sini!”(Putri Alice).
“Kelihatannya menarik...”(Ketua Panitia). Babak yang penuh resiko. Sang
Putri dan para monster telah berdiri di depan gerbangnya masing-masing.
Seminggu telah berlalu. Terlihat Sena, Reo, Putri Alice dan Naria
berada di depan penginapan mereka. “Akhirnya dimulai juga...”(Sena).
“Padahal, aku sudah sangat betah di sini...benar, kan?”(Naria). “Ya,
begitulah...tapi kita tetap tidak bisa berlama-lama di sini.”(Putri
Alice). “Tujuan kita di sini bukanlah untuk berlibur. Kita ke sini untuk
mengikuti event.”(Reo). Naria terlihat agak kecewa. “Iya...aku
tau...”(Naria). Putri Alice tersenyum melihat ekspresi Naria. “Lalu,
sekarang kita ke mana?”(Sena). “Kalau tidak salah, Ketua Panitia
menyuruh semua peserta untuk berkumpul di kuil yang waktu itu.”(Putri
Alice). “Begitu ya...”(Sena). Sena terlihat sangat bersemangat.
“Baiklah...ayo kita berangkat!”(Sena). Sena dan yang lainnya terlihat
pergi menuju kuil yang dimaksud. Setelah berjalan cukup jauh, Sena dan
yang lainnya sampai di tempat tujuan. “Wah...kelihatannya kita
terlambat, ya?”(Reo). Terlihat semua peserta sudah berkumpul. “Tenang
saja, kalian belum terlambat kok...”(Unknow). Terlihat salah satu
peserta mendekati Sena dan yang lainnya. “Kau kan orang yang...”(Sena).
Ternyata orang yang datang adalah peserta yang seminggu lalu telah
membuat sebagian peserta kembali mempercayai Putri Alice. “Ternyata
kalian masih ingat, ya?”(Unknow). “Tentu saja kami ingat, kau kan orang
yang sudah menolong kami...”(Naria).
Putri Alice terlihat
membungkuk di hadapan orang itu. “Terima kasih banyak...karena anda
sudah meyakinkan orang-orang...saya benar-benar tidak tau bagaimana cara
membalas kebaikan anda...”(Putri Alice). “Tidak masalah...lagipula ini
juga sebagai bentuk balas budi karena ayah anda telah menolong kami
semua...beliau memang orang yang baik, karena itu kami percaya jika anda
pasti tidak akan melakukan hal seperti itu.”(Unknow). Orang tersebut
terlihat mengulurkan tangan ke Putri Alice. “Nama saya Redolf Weger,
senang bisa berkenalan dengan anda.”(Redolf). Putri Alice terlihat
menegakkan kepala dan menjabat tangan Redolf. “Nama saya Putri
Alice...sekali lagi terima kasih atas pertolongannya...Tuan
Redolf...”(Putri Alice). Terlihat para peserta lain yang menyadari
kehadiran Putri Alice langsung mendekat dan berkerumun mengelilingi
Putri Alice. Sena, Naria, dan Reo yang melihatnya terlihat tersenyum.
“Dia memang putri yang kuat, ya?”(Naria). “Kekuasaan itu seperti
air...semakin dalam airnya, maka akan semakin tenang air itu, sama
seperti ikatan yang telah dibangun ayahnya terhadap rakyatnya sejak
dulu...ikatan itu tidak akan ternah terputus dan justru akan menyambung
ke ikatan yang baru yang dimiliki Putri Alice sekarang...”(Reo).
“Ya...itu memang benar...”(Sena).
Terlihat para peserta
menawarkan diri untuk membantu Putri Alice. “Biar saya yang akan
melindungi putri.”(Peserta 1). “Pertahanan saya lebih kuat,
putri.”(Peserta 2). “Saya siap membantu anda kapan saja, putri.”(Peserta
3). Putri Alice terlihat malu-malu. “Terima kasih banyak, kalian semua
ingin membantuku, tapi aku ingin belajar semuanya dari awal...”(Putri
Alice). Para peserta terlihat terdiam. “Kenapa putri?”(Peserta 1). “Iya,
ada apa?”(Peserta 3). “Aku...ingin berjuang dan menjadi seorang
pemimpin yang bisa melindungi rakyatnya...kalian semua sudah bagaikan
keluarga bagiku, karena itu, aku juga tidak ingin hanya berdiam diri dan
terus bergantung pada semuanya. Aku juga ingin bisa melindungi
keluargaku sebagaimana seorang pemimpin. Karena itu...mohon
bantuannya...”(Putri Alice). Para peserta terlihat memahami maksud dari
Putri Alice. “Kami mengerti putri. Tapi, jika terjadi sesuatu, kami siap
menolong putri kapan saja.”(Peserta 4). “Ya, kami pasti akan berusaha
semaksimal kami.”(Peserta 5). Putri Alice terlihat sangat senang.
“Semuanya...aku benar-benar sangat berterima kasih...”(Putri Alice). Di
sisi lain kuil, terlihat seorang peserta yang sedang memperhatikan Putri
Alice. “Ini akan jadi lebih menarik...”(Unknow). Jalan baru telah
terbuka. Kepercayaan telah menjadi kekuatan besar baginya.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Rumble Hunter The Leader and People"
Posting Komentar