Sambil tersenyum kecil, Ketua Panitia terlihat memperhatikan para
peserta. “Baiklah, siapa saja yang ingin melanjutkan ke babak ini bisa
maju dan ikut mendekat bersama putri...”(Ketua Panitia). Sena terlihat
menggaruk-garuk kepalanya. “Haaahhh...dia itu memang tidak bisa diam,
ya?”(Sena). “Bukannya kau sama saja?”(Naria). “Hoi!”(Sena). “Ya...mau
bagaimana lagi, lagipula aku masih ingin bertarung...”(Reo). Reo
terlihat akan maju. “Tidak biasanya kau yang mulai duluan...”(Sena).
“Lalu kenapa? Mau ikut?”(Reo). Sena terlihat tersenyum. “Itu sih sudah
jelas...”(Sena). Terlihat Sena, Reo, dan Naria ikut maju dan mendekati
Putri Alice. Semua peserta yang melihat terlihat kagum. “Mereka
kan...”(Peserta 1). “Memang mereka yang telah membuat kita semua lolos
dari babak sebelumnya, tapi...”(Peserta 2). Terlihat sebagian peserta
mulai ikut maju. “Aku akan ikut maju!”(Peserta 4). “Aku juga! Aku tidak
ingin kalah dari anak-anak itu!”(Peserta 3). Perlahan, semua peserta
menjadi berubah pikiran dan ikut maju bersama Sena dan yang lainnya.
Putri Alice yang melihatnya terlihat agak bingung. “Kalian...bukannya
ini bisa membahayakan kalian semua?”(Putri Alice).Sena terlihat menepuk
bahu Putri Alice. “Memangnya kau pikir hanya kau saja yang ingin
berjuang? Mereka semua juga ingin berjuang tau...”(Sena). “Mereka punya
harapan mereka masing-masing...karena itu, mereka semua tidak mungkin
mundur.”(Reo). “Ayo, kita berjuang bersama lagi!”(Naria).
Putri
Alice terlihat menjadi bersemangat. Ketua Panitia yang melihat para
peserta yang berubah pikiran akhirnya melanjutkan pengumumannya.
“Baiklah...kalau memang semuanya sudah siap, maka kita akan segera
memulai babak ketiga. Para peserta bisa melihat nomor urutannya pada
kartu dan bisa maju dalam satu kelompok sesuai undian.”(Ketua Panitia).
Terlihat para peserta memperhatikan kartunya masing-masing. “Jadi, aku
ada di kelompok tiga, ya?”(Sena). “Kalau aku dapat kelompok
dua.”(Naria). “Aku dikelompok satu.”(Reo). “Kalau kau kelompok
berapa?”(Sena). “Aku dapat kelompok empat.”(Putri Alice). “Begitu
ya...”(Sena). “Jadi, ini artinya, mulai dari sini kita akan kembali
berjuang sendiri-sendiri...”(Reo). “Kedengarannya boleh
juga.”(Sena).Putri Alice terlihat terdiam sejenak. “Kalau begitu, kita
hanya harus menang dari babak ini dan maju ke babak selanjutnya,
kan?”(Sena). “Apa kalian tidak apa-apa dengan ini?”(Reo). “Kalau aku
memang tidak terlalu berharap bisa menang, ditambah dengan kemampuanku
yang masing belum sempurna, kelihatannya aku akan butuh usaha
ekstra.”(Naria). “Tenang saja, kami pasti bisa...walau terlihat
mustahil, tapi kami tidak ingin selalu bergantung pada kalian. Kalian
juga punya tujuan kalian sendiri, kan? Karenanya, cepat atau lambat kita
pasti akan tetap terpisah juga.”(Putri Alice).

Sena
terlihat memikirkan sesuatu. “Baiklah, kita bertemu lagi di babak
selanjutnya, entah akan jadi kawan atau lawan, kita tetaplah sama,
jadi...”(Sena). Sena terlihat mengulurkan tangan. “Ayo, kita berusaha
sekuat tenaga...”(Sena). Reo terlihat tersenyum. “Kau itu memang polos,
Sena.”(Reo). Putri Alice dan Naria yang mendengarnya langsung tertawa.
“Hoi, aku kan hanya ingin menyemangati kalian...”(Sena).Reo terlihat
juga mengulurkan tangannya. “Iya, aku tau...”(Reo). Putri Alice dan
Naria juga mengulurkan tangan mereka. Sejenak, Sena teringat dengan
Tora, Hana, dan yang lainnya. “Seandainya kalian juga ke
sini...”(Sena:Dalam Hati). Sena perlahan tersenyum. “Kalian pasti juga
akan menyukainya...dunia ini...”(Sena:Dalam Hati). “Baiklah...”(Naria).
Sena dan yang lainnya mengangkat tangan bersama. “Ayo, bertemu di babak
selanjutnya!”(Sena dan yang lainnya). Para sahabat yang dia temui. Dalam
perjuangan, mereka akan tetap bersama dalam ikatan yang mereka bentuk.
Ketua Panitia terlihat memberikan arahan selanjutnya.
“Baiklah, untuk yang pertama, yaitu kelompok satu, semuanya bisa maju ke
lambang seperti babak sebelumnya.”(Ketua Panitia). Terlihat Reo akan
berangkat. “Baiklah, aku duluan...”(Reo). “Ya...”(Putri Alice).
“Pastikan kau menghajar semua monster itu, ya!”(Sena). Reo terlihat
tersenyum. “Tentu saja...itu sudah jadi kebiasaanku...”(Reo). Reo
terlihat pergi menuju ke lambang itu bersama para peserta kelompok satu.
“Medan, cuaca, dan tipe monster di setiap kelompok akan
berbeda-beda...jadi sebisa mungkin semua peserta di semua kelompok
benar-benar mempersiapkan diri. Ini akan jadi ujian untuk menentukan
kemampuan bertahan hidup kalian selama satu minggu ke depan...jadi
selamat berjuang...”(Ketua Panitia). Semua peserta terlihat serius.
“Satu minggu...kelihatannya waktunya cukup panjang untuk beradaptasi dan
mengatur strategi berburu yang jitu...ini akan jadi kesempatan yang
bagus bagi para peserta yang memang punya keahlian bertahan hidup yang
tinggi...”(Reo:Dalam Hati). Reo terlihat memperhatikan para peserta yang
satu kelompok dengannya. “Dari ekpresi mereka...kelihatannya mereka
sudah tau maksud dan cara untuk lolos dari babak ini...sebaiknya aku
juga tidak boleh lengah...”(Reo:Dalam Hati).
Para peserta
kelompok satu terlihat sudah berangkat. “Kelihatannya setelah ini
kelompokku...”(Naria). “Apa pun yang terjadi, kau harus tetap hidup,
Naria...”(Putri Alice). “Umm! Aku pasti akan kembali lebih dulu dan
menunggu kalian.”(Naria). “Kau memang percaya diri, ya...”(Sena). Naria
dan kelompok dua pun juga telah berangkat. Sena terlihat bersemangat.
“Oke! Selanjutnya aku yang akan maju!”(Sena). Putri Alice terlihat
serius. “Sena...ada yang ingin aku katakan padamu...”(Putri Alice). “Ada
apa?”(Sena). Putri Alice terdiam sejenak. “Kalau aku
gagal...berjanjilah kau akan tetap memenangkan event ini.”(Putri Alice).
Sena terlihat agak bingung, lalu memegang kepala Putri Alice. “Kau itu
kuat...kau pasti tidak akan kalah...”(Sena). Putri Alice terlihat
terkejut serta agak malu. “Tapi, kalau kau memang gagal nantinya, akan
kupastikan tanganku ini bisa memukul wajah orang itu hingga terpental
jauh.”(Sena). Putri Alice terlihat lega. “Kalau begitu...aku
pergi...”(Sena). Sena dan kelompok tiga akhirnya berangkat. “Aku memang
lemah...dan hanya bisa sesumbar saja...”(Putri Alice:Dalam Hati). Putri
Alice terlihat melangkah ke lambang bersama peserta di kelompok empat.
“Tapi kali ini...aku tidak ingin menangis lagi! Aku pasti akan
meneruskan apa yang ayah percayakan padaku!”(Putri Alice).
Putri
Alice pun berangkat bersama peserta lainnya di kelompok empat. Putri
Alice perlahan membuka matanya. Putri Alice terlihat terkejut dengan
yang dilihatnya. “Ini kan...”(Putri Alice). Ternyata Putri Alice berada
di padang savana yang luas. “Padangnya luas sekali...”(Putri Alice).
Putri Alice terlihat memperhatikan sekelilingnya. “Dan lagi...peserta
yang lain juga tidak ada...atau jangan-jangan...”(Putri Alice:Dalam
Hati). Di kelompok tiga. “Setiap peserta ditaruh di sisi yang berbeda,
sama seperti di babak kedua?”(Sena:Dalam Hati). Terlihat Sena berada di
daerah pantai. “Tapi, kalau diperhatikan lagi...”(Sena:Dalam Hati). Di
kelompok dua. “Tempat ini seperti yang ada di babak
pertama.”(Naria:Dalam Hati). Naria memperhatikan sekitarnya yang
merupakan bebatuan terjal di daerah pegunungan. “Meski
begitu...”(Naria:Dalam Hati). Naria terlihat akan mengeluarkan sesuatu.
Di kelompok satu. Reo terlihat bersiaga. “Aku tidak boleh lengah dan
harus tetap fokus dengan apapun di sekitarku...”(Reo:Dalam Hati). Babak
ketiga dimulai. Waspada dan bertahan hidup adalah kunci untuk lolos dari
babak ini.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "See You Again and Separated"
Posting Komentar