Di kelompok tiga, Sena terlihat sedang berjalan sambil mengamati
sekitarnya. “Sepertinya ini akan cukup sulit, mengingat daerah ini
sangat luas dan agak tertutup.”(Sena:Dalam Hati). Saat sedang mengamati
dengan seksama, tiba-tiba Sena mendengar suara dari arah belakangnya.
Sena yang menyadarinya langsung berhenti dan terlihat bersiaga.
“Kelihatannya sudah langsung dimulai, ya...”(Sena:Dalam Hati). Suara
tersebut makin jelas terdengar. Sena terlihat tenang, dan dalam sekejap
mata, Sena sudah ada di tempat di mana sumber suara itu berasal.
“Hah?”(Sena). Sena sama sekali tidak menemukan apapun di tempat itu.
Sena terlihat agak kesal. “Ayolah...jangan bilang kalau ilusi juga
dipakai dalam babak ini?”(Sena). Sena lalu menarik nafas dalam-dalam dan
perlahan mulai tenang kembali. “Tidak, aku tetap tidak boleh lengah.
Kalau memang ilusi juga berlaku, maka itu artinya tantangan kali ini
akan lebih dari sulit...aku harus tenang dan fokus...”(Sena:Dalam Hati).
Sena terlihat menatap ke arah hutan di depannya. “Mungkin kalau masuk
lebih dalam bisa bertemu dengan monster-monster itu, ya...semoga
saja...”(Sena). Sena terlihat melanjutkan perjalanannya.
Di
kelompok satu, terlihat Reo sedang berkonsentrasi. “Mungkin dengan
insting yang telah kulatih, aku bisa mengetaui posisi
mereka...”(Reo:Dalam Hati). Reo terdiam dengan penuh konsentrasi, lalu
tiba-tiba Reo terlihat merasakan sesuatu. “Ini...”(Reo:Dalam Hati). Reo
terlihat membuka matanya. “Sebaiknya akan aku periksa lebih
jelas.”(Reo:Dalam Hati). Reo terlihat berada di daerah seperti pedesaan
sederhana yang tidak berpenghuni. “Di daerah seperti ini, setidaknya
kemungkinan monster-monster itu bersembunyi sangatlah
kecil...tapi...”(Reo:Dalam Hati). Reo terlihat naik ke atas salah satu
bangunan. “Tempat ini memang hampir mirip dengan yang ada di babak
pertama, walau tidak secara keseluruhan.”(Reo). Di kelompok dua,
terlihat Naria sedang melakukan sesuatu. “Baik, semuanya sudah
beres...”(Naria). Ternyata Naria sedang memasang perangkap. “Dengan ini,
walau mungkin tidak bisa menangkap monster-monster itu secara langsung,
tapi paling tidak ini sudah cukup untuk menahan pergerakan mereka untuk
sementara, jadi aku bisa dengan mudah memburu mereka dengan
hati-hati...”(Naria:Dalam Hati). Naria terlihat memperhatikan
sekelilingnya. “Seingatku, sudah ada sekitar dua puluh jebakan yang
kusebar, selanjutnya hanya tinggal mengawasi dari sudut yang
tepat...”(Naria:Dalam Hati).
Di kelompok empat, Putri
Alice terlihat mengendap-endap dibalik lebatnya ilalang savana.
“Sebaiknya aku juga harus mengatur strategi...kalau hanya mengandalkan
kekuatan saja sepertinya tidak akan cukup...”(Putri Alice:Dalam Hati).
Putri Alice terlihat mendongak dan memperhatikan kondisi di sekitarnya.
“Sepertinya belum ada tanda-tanda yang jelas...tapi untuk
jaga-jaga...”(Putri Alice:Dalam Hati). Putri Alice terlihat mengeluarkan
sesuatu. “Dengan ini, semoga saja aku berhasil...(Putri Alice). Kembali
ke kelompok tiga. Sena terlihat bersandar di sebuah pohon.
“Haaaahhh...sudah hampir seharian aku berkeliling, tapi sama sekali
tidak ada buruan...apa mungkin monster-monster itu sedang tidur?”(Sena).
Sena mengangkat kepalanya dan melihat ke langit. “Cuacanya cukup
cerah...dan sangat tenang...”(Sena:Dalam Hati). Tiba-tiba terdengar
teriakan yang sangat keras dari kejauhan. Sena yang menyadarinya
langsung bangkit. Ternyata, Reo, Putri Alice, dan Naria yang berada di
kelompok yang berbeda juga menemui hal yang sama dengan Sena. “Suara
itu...”(Naria:Dalam Hati). “Tidak salah lagi...”(Putri Alice:Dalam
Hati). “Perburuan di babak ini...”(Reo:Dalam Hati). Terlihat Ketua
Panitia sedang berada di suatu tempat. “Sudah dimulai...”(Ketua
Panitia). Jeritan yang menggema menembus ruang ini. Saatnya bagi para
pemburu untuk bergerak.

Sena dengan cepat berusaha menuju ke arah asal jeritan itu.
“Selagi belum lama, itu artinya monster itu pasti juga belum
jauh...”(Sena:Dalam Hati). Sena terus berlari melewati pepohonan. “Ini
dia...”(Sena). Sena melompat dan akhirnya sampai di tempat asal jeritan
itu. Sena terlihat terkejut melihat tempat itu. “Hei...apa memang ini
hanya sebuah permainan...”(Sena). Terlihat ceceran darah segar bersama
beberapa potongan tubuh tersebar di tempat itu. Sena terlihat agak
kesal. “Sial! Ternyata aku kalah cepat dari monster itu!”(Sena:Dalam
Hati). Tiba-tiba, terdengar suara gemerisik dedaunan dari arah
cabang-cabang pohon di atas Sena. “Tidak...mungkin aku masih
sempat...”(Sena:Dalam Hati). Sena terlihat memegang pedangnya. Dengan
penuh waspada, Sena terlihat mengamati sekelilingnya. Dengan cepat,
sesuatu terlihat meluncur ke arah Sena dari arah atas. “Jangan
harap!”(Sena). Sena terlihat berhasil menahannya. “Heh?”(Sena). Ternyata
yang meluncur ke arah Sena adalah salah satu peserta yang satu kelompok
dengannya. Orang itu langsung mundur. “Ternyata manusia, ya?”(Unknow).
“Hoi, seharusnya aku yang bilang begitu!”(Sena). Orang itu terlihat
memperhatikan sekeliling. “Sepertinya monster itu belum
jauh...”(Unknow). Sena terlihat jengkel karena diacuhkan.
“Hei...dengarkan aku, kenapa?!”(Sena).
Orang itu terlihat
memperhatikan sesuatu. “Kelihatannya kau cukup kuat. Boleh aku minta
tolong sesuatu?”(Unknow). Mendengar hal itu membuat Sena semakin kesal.
“Hah?! Sudah cuek, sekarang malah menyuruh orang seenaknya. Memangnya
kau ini siapa? Raja?”(Sena). “Kan tadi aku bilang minta tolong? Kalau
tidak mau ya sudah.”(Unknow). “Dia ini kenapa sih? Sikapnya sangat
dingin sekali...”(Sena:Dalam Hati). Orang itu terlihat mengeluarkan
sesuatu. “Kalau kau pikir aku ini orang yang dingin, ya mungkin ada
benarnya...”(Unknow). Sena terlihat kaget mengetaui orang itu bisa
mengetaui apa yang ada dipikirannya. “Dia...apa mungkin dia membaca
pikiranku?”(Sena:Dalam Hati). “Alasannya mudah saja...”(Unknow). Orang
itu terlihat melompat sangat tinggi, lalu melemparkan sesuatu ke arah
pepohonan. Tiba-tiba terlihat sesosok makhluk jatuh. “Eh?”(Sena). Sena
terlihat mendekati makhluk itu yang ternyata adalah salah satu monster,
namun tidak terlalu besar. Orang itu juga terlihat mendekati monster
itu. “Ternyata monster kecil, ya?”(Unknow). Sena yang mengetauinya
terlihat tercengang. “Dia ternyata hebat juga...padahal tadi aku tidak
terlalu merasakan hawa keberadaan monster ini...tapi...”(Sena:Dalam
Hati).
Sena terlihat memperhatikan orang itu. “Orang
ini...kelihatannya kemampuannya tidak main-main...”(Sena:Dalam Hati).
Orang itu terlihat mengambil pisau yang dia lemparkan ke tubuh monster
itu. “Sebaiknya kau berhati-hati dengan perkataanmu...”(Unknow). Sena
terlihat bingung. “Mungkin mulutmu bisa mengucapkan apa yang memang
harus kau katakan...”(Unknow). Orang itu menunjuk ke arah Sena. “Tapi,
sejauh apa pun perkataan itu...kau tidak akan pernah bisa mengubah apa
yang kau ucapkan dalam hatimu...”(Unknow). Sena yang mendengarnya
langsung terdiam dan seakan tidak bisa berkata apa-apa. Orang itu lalu
mengulurkan tangan ke arah Sena sambil tersenyum. “Jangan tegang
begitu...namaku Alex Waish...kau pasti Miyazaki Sena, kan?”(Alex). Sena
perlahan mulai tenang dan menjabat tangan Alex. “Ummm...ngomong-ngomong
dari mana kau tau namaku?”(Sena). “Dari mana? Kau ini bagaimana...kau
ini sudah dikenal oleh seluruh peserta...jadi mana mungkin aku tidak tau
dirimu.”(Alex). “Begitu, ya...”(Sena). Sementara itu di kelompok empat,
terlihat Putri Alice tengah babak belur penuh luka. “Kelihatannya kau
tidak sekuat yang kau ucapkan...Putri...”(Unknow 2). Membaca hati yang
terdalam. Serangan demi serangan terus berdatangan.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Tactics and Heart Language"
Posting Komentar