Beranda · Menu · Menu 1 · Menu 2

Manga Wrong Life Chapter 18 Still Believe and Death Or Life

Sena terlihat kesal. “Aku memang bukan dirimu...tapi aku tau seperti apa rasanya kehilangan orang yang kau sayangi seperti itu...”(Sena). Sena teringat kembali dengan kematian Yuki dan Kira. “Namun, setidaknya harapan mereka tidak akan pernah mati. Tidak akan, selama kita masih hidup...”(Sena). Putri Alice terlihat menatap wajah Sena. “Jadi...tegakkan kepalamu dan bangkitlah! Biarkan dia tau bahwa harapan itu tidak akan pernah mati!”(Sena). Putri Alice terlihat tercengang mendengar ucapan Sena. “Kalau kau jatuh, bangkitlah! Dan percayalah bahwa apa yang kau lakukan tidak pernah sia-sia...”(Sena). Putri Alice perlahan meneteskan air mata. “Dengan begitu, kau tidak perlu lagi menyesali apa yang telah menimpamu, karena mulai sekarang...kau akan disibukkan dengan semangat untuk mewujudkan harapan itu!”(Sena). Putri Alice semakin tidak dapat membendung air matanya, karena Sena mengingatkannya pada Raja Eliot, ayahnya. Sena memperhatikan Putri Alice. “Tidak apa-apa kalau kau ingin menangis sekarang...karena yang kita butuhkan adalah tawa kebahagiaan saat kita berhasil mengembalikan semuanya...aku janji!”(Sena). Putri Alice perlahan mengusap air matanya dan mulai tersenyum. “Kau memang aneh, ya...”(Putri Alice). “...”(Sena). “Tapi karena itu...aku percaya padamu...”(Putri Alice). Sena pun ikut tersenyum.
Malam pun berlalu. Terlihat matahari pagi sudah memancarkan sinarnya. Putri Alice perlahan terbangun dari mimpinya. “...”(Putri Alice). Tak berselang lama, Sena datang dengan membawa makanan. “Kau sudah bangun...”(Sena). “Sudah pagi ya?”(Putri Alice). Sena terlihat memberikan sebungkus air. “Ini. Cuci mukamu dulu.”(Sena). Putri Alice mencuci mukanya. “Tidak ku sangka kau akan bangun sepagi ini?”(Putri Alice). “Iya, kita kan harus menyiapkan bekal tambahan buat perjalanan nanti. Hitung-hitung olahraga sambil mengamati sekeliling.”(Sena). “Begitu ya...”(Putri Alice). Sena memberikan buah-buahan pada Putri Alice. “Ini makanlah. Kau harus makan, perjalanan kita kan masih panjang.”(Sena). “Terima kasih...”(Sena). Di tempat lain, terlihat Reo sedang berlari sambil membawa tas cukup besar. “ Apa aku terlambat?”(Reo). Terlihat Melven tengah menunggu Reo. “Tidak, kau datang tepat waktu.”(Melven). “Syukurlah...”(Reo). “Kalau begitu...kita berangkat sekarang.”(Melven). “Baik!”(Reo). Melven pun pergi mengajak Reo ke suatu tempat. Di kerajaan, terlihat sedang diadakan pertemuan. “Bagaimana persiapannya?”(Raja). “Tinggal sedikit lagi, Tuan. Mungkin ditargetkan akan selesai tepat waktu.”(Unknow 1). “Baguslah, berarti tidak ada masalah.”(Raja). “Tapi Tuan, kelihatannya untuk tahun ini akan dipenuhi dengan banyak kejutan yang tidak terduga.”(Unknow 2). Raja tersebut terlihat tersenyum. “Tidak masalah, semakin banyak kejutan, semakin menarik.”(Raja). “Lalu bagaimana dengan anak itu?”(Unknow 3). “Tentu saja...dia adalah bintang utama dalam acara ini...”(Raja). Semua terlihat hening. “Hanya dia tujuanku...tidak ada yang lain...”(Raja).



Kembali ke hutan pulau. Sena dan Putri Alice telah sampai di pinggir sebuah sungai. “Kelihatannya kita harus menyeberanginya.”(Putri Alice). Saat Putri Alice akan melangkah mendekati sungai, tiba-tiba Sena menariknya. “Tunggu dulu!”(Sena). “Ada apa?”(Putri Alice). “Tutup mulutmu!”(Sena). “Apa?!”(Putri Alice). Tiba-tiba ada sesuatu yang keluar dari dalam sungai, seperti tentacle-tentacle transparan yang langsung menyerang mereka hingga terpisah cukup jauh. “Apa ini?!”(Putri Alice). Dengan cepat, salah satu tentacle menyambar mulut Putri Alice. “Putri!”(Sena). Tentacle demi tentacle terus bermunculan dan berusaha menyerang Sena. “Jangan harap!”(Sena:Dalam Hati). Sena dengan sigap menebas satu per satu tentacle, namun Putri Alice terlihat memburuk. “Sial! Bertahanlah, putri!”(Sena:Dalam Hati). Tentacle tersebut berhasil menarik sesuatu dari mulut Putri Alice, dan Putri Alice pun langsung jatuh tersungkur. “Gawat!”(Sena:Dalam Hati). Tiba-tiba pedang Sena bercahaya, dan dengan satu tebasan, seluruh tentacle yang menyerang langsung lenyap. “Putri!”(Sena). Sena berlari mendekati Putri Alice yang terkapar dan berusaha membangunkannya. “Hei! Bangunlah! Ayo bangun!”(Sena). Putri Alice sama sekali tidak merespon. Serangan mendadak. Hutan itu telah merenggutnya dan segala-galanya.

 Sena terlihat panik. “Sial! Apa jangan-jangan tadi...”(Sena). Sena teringat dengan salah satu tentacle yang sebelumnya menyerang Putri Alice. “Apa yang harus aku lakukan?”(Sena:Dalam Hati). Tiba-tiba terdengar suara seseorang. “Dia belum mati...”(Unknow). Sena pun menoleh ke arah asal suara, dan terlihat seorang kakek tua sedang berjalan ke arahnya. “Apa maksudnya?”(Sena). “Dia masih bisa selamat.”(Kakek Tua). Sena terlihat menatap kakek tua serius. “Bagaimana cara menyelamatkannya?”(Sena). “Sederhana, tapi tidak semudah itu juga...”(Kakek Tua). “Aku tidak peduli! Tolong beritau caranya!”(Sena). “Kau cukup bersemangat juga anak muda...”(Kakek Tua). Kakek tua itu terdiam sejenak. “Kau hanya perlu menyelam dan menemukan monster yang memiliki tentacle-tentacle itu.”(Kakek Tua). Sena terlihat bingung. “Menyelam? Tapi bukankah sungai ini dangkal?”(Sena). “Jangan melihatnya dengan matamu...kau harus merasakannya...”(Kakek Tua). “Apa?”(Sena).

Di tempat lain, terlihat Reo dan Melven sedang berjalan menuju suatu tempat. Reo terlihat berusaha memulai pembicaraan. “Kalau aku tidak salah dengar, kau dulu seorang panglima, kan? Kenapa kau sekarang jadi seorang berandalan?”(Reo). Melven hanya terdiam. Reo mulai merasa tidak enak dengan Melven. “Maaf...mungkin kata-kataku kurang berkenan, ya?”(Reo). “Tidak juga...aku hanya berusaha mengingatnya kembali.”(Melven). “Mengingat?”(Reo). Melven terdiam sejenak. “Sudah sangat lama sekali...sampai-sampai aku sudah menganggapnya sebuah mimpi.”(Melven). Reo terlihat memperhatikan Melven. “Ceritanya sangat panjang, aku tidak tau harus mulai dari mana.”(Melven). “Begitu ya...”(Reo). Mereka terus berjalan. “Ngomong-ngomong, ke mana tujuan kita nantinya?”(Reo). “Ke tempat yang sama sekali tidak asing. Kau pasti juga sudah mengetaui tempat itu.”(Melven). “Hhhmmm...aku jadi penasaran...”(Reo).

Kembali ke hutan pulau. Terlihat Sena sedang berdiri di tepi sungai, sedangkan Putri Alice sedang bersandar di bawah sebuah pohon bersama kakek tua tadi. Sena terlihat memejamkan matanya dengan penuh konsentrasi dan perlahan terjun ke dalam sungai. Kakek tua tadi terus memperhatikan Sena. Sena yang telah masuk ke dalam air perlahan membuka matanya. “!!!”(Sena). Sena tampak terkejut, saat dia tau bahwa sungai kecil dan dangkal sebelumnya, berubah menjadi danau yang sangat luas. “Tenang...aku harus menemukan makhluk itu dulu...”(Sena:Dalam Hati). Sena menyelam dan berusaha mencari monster yang telah diberitaukan kakek tua tadi. Sena teringat saat kakek tua memberitaunya tadi. “Sebenarnya monster itu ada di sisi lain sungai ini.”(Kakek Tua). “Sisi lain? Maksudmu ada tempat rahasia di sungai ini?”(Sena). “Bisa dibilang begitu...tapi kau hanya bisa mencapainya dengan meditasi.”(Kakek Tua). “Meditasi?”(Sena). “Saat meditasi, kau harus berkonsentrasi sehingga kau bisa menemukan jalan menuju ke sisi itu.”(Kakek Tua). “Begitu ya...”(Sena). “Dan satu hal lagi, meski kau sudah bisa masuk, bukan berarti kau bisa menemukan monsternya. Kau harus berkonsentrai lebih keras lagi untuk bisa melihat monster itu.”(Kakek Tua). “Kelihatannya cukup sulit.”(Sena). “Dan jika kau berhasil menemukannya, kau jangan membunuhnya. Karena jika kau membunuhnya, roh anak ini tidak akan bisa kembali.”(Kakek Tua). “!!!”(Sena).

Kembali ke waktu sekarang, Sena terlihat sudah menemukan monster yang dimaksud. “Ketemu kau...”(Sena:Dalam Hati). Terlihat di depan Sena seperti monster gurita raksasa yang transparan. “Aku tidak boleh membuang-buang waktu...”(Sena:Dalam Hati). Sena dengan cepat menarik pedangnya dan langsung berusaha menyerang monster itu. “Kena kau!”(Sena:Dalam Hati). Namun serangan Sena hanya menembus monster itu seperti hologram. “Apa?!”(Sena:Dalam Hati). Dengan cepat, salah satu tentacle monster itu melilit kaki Sena. “Sial! Bagaimana bisa?!”(Sena:Dalam Hati). Sena berusaha memutuskan tentacle itu dengan pedangnya, namun tentacle-tentacle lain ikut membelit seluruh tubuhnya. Sena nampak kehabisan nafas. “Ini gawat!”(Sena:Dalam Hati). Sena terus ditarik, dan di hadapan Sena sudah terlihat mulut monster itu beserta taring-taringnya. Hidup dan mati. Ujian yang penuh tantangan memaksanya untuk bertahan hidup.


Artikel keren lainnya:

Belum ada tanggapan untuk "Manga Wrong Life Chapter 18 Still Believe and Death Or Life"

Posting Komentar