Sena terlihat kesal. “Aku memang bukan dirimu...tapi aku tau seperti
apa rasanya kehilangan orang yang kau sayangi seperti itu...”(Sena).
Sena teringat kembali dengan kematian Yuki dan Kira. “Namun, setidaknya
harapan mereka tidak akan pernah mati. Tidak akan, selama kita masih
hidup...”(Sena). Putri Alice terlihat menatap wajah Sena.
“Jadi...tegakkan kepalamu dan bangkitlah! Biarkan dia tau bahwa harapan
itu tidak akan pernah mati!”(Sena). Putri Alice terlihat tercengang
mendengar ucapan Sena. “Kalau kau jatuh, bangkitlah! Dan percayalah
bahwa apa yang kau lakukan tidak pernah sia-sia...”(Sena). Putri Alice
perlahan meneteskan air mata. “Dengan begitu, kau tidak perlu lagi
menyesali apa yang telah menimpamu, karena mulai sekarang...kau akan
disibukkan dengan semangat untuk mewujudkan harapan itu!”(Sena). Putri
Alice semakin tidak dapat membendung air matanya, karena Sena
mengingatkannya pada Raja Eliot, ayahnya. Sena memperhatikan Putri
Alice. “Tidak apa-apa kalau kau ingin menangis sekarang...karena yang
kita butuhkan adalah tawa kebahagiaan saat kita berhasil mengembalikan
semuanya...aku janji!”(Sena). Putri Alice perlahan mengusap air matanya
dan mulai tersenyum. “Kau memang aneh, ya...”(Putri Alice). “...”(Sena).
“Tapi karena itu...aku percaya padamu...”(Putri Alice). Sena pun ikut
tersenyum.
Malam pun berlalu. Terlihat
matahari pagi sudah memancarkan sinarnya. Putri Alice perlahan terbangun
dari mimpinya. “...”(Putri Alice). Tak berselang lama, Sena datang
dengan membawa makanan. “Kau sudah bangun...”(Sena). “Sudah pagi
ya?”(Putri Alice). Sena terlihat memberikan sebungkus air. “Ini. Cuci
mukamu dulu.”(Sena). Putri Alice mencuci mukanya. “Tidak ku sangka kau
akan bangun sepagi ini?”(Putri Alice). “Iya, kita kan harus menyiapkan
bekal tambahan buat perjalanan nanti. Hitung-hitung olahraga sambil
mengamati sekeliling.”(Sena). “Begitu ya...”(Putri Alice). Sena
memberikan buah-buahan pada Putri Alice. “Ini makanlah. Kau harus makan,
perjalanan kita kan masih panjang.”(Sena). “Terima kasih...”(Sena). Di
tempat lain, terlihat Reo sedang berlari sambil membawa tas cukup besar.
“ Apa aku terlambat?”(Reo). Terlihat Melven tengah menunggu Reo.
“Tidak, kau datang tepat waktu.”(Melven). “Syukurlah...”(Reo). “Kalau
begitu...kita berangkat sekarang.”(Melven). “Baik!”(Reo). Melven pun
pergi mengajak Reo ke suatu tempat. Di kerajaan, terlihat sedang
diadakan pertemuan. “Bagaimana persiapannya?”(Raja). “Tinggal sedikit
lagi, Tuan. Mungkin ditargetkan akan selesai tepat waktu.”(Unknow 1).
“Baguslah, berarti tidak ada masalah.”(Raja). “Tapi Tuan, kelihatannya
untuk tahun ini akan dipenuhi dengan banyak kejutan yang tidak
terduga.”(Unknow 2). Raja tersebut terlihat tersenyum. “Tidak masalah,
semakin banyak kejutan, semakin menarik.”(Raja). “Lalu bagaimana dengan
anak itu?”(Unknow 3). “Tentu saja...dia adalah bintang utama dalam acara
ini...”(Raja). Semua terlihat hening. “Hanya dia tujuanku...tidak ada
yang lain...”(Raja).

Kembali ke hutan pulau.
Sena dan Putri Alice telah sampai di pinggir sebuah sungai.
“Kelihatannya kita harus menyeberanginya.”(Putri Alice). Saat Putri
Alice akan melangkah mendekati sungai, tiba-tiba Sena menariknya.
“Tunggu dulu!”(Sena). “Ada apa?”(Putri Alice). “Tutup mulutmu!”(Sena).
“Apa?!”(Putri Alice). Tiba-tiba ada sesuatu yang keluar dari dalam
sungai, seperti tentacle-tentacle transparan yang langsung menyerang
mereka hingga terpisah cukup jauh. “Apa ini?!”(Putri Alice). Dengan
cepat, salah satu tentacle menyambar mulut Putri Alice. “Putri!”(Sena).
Tentacle demi tentacle terus bermunculan dan berusaha menyerang Sena.
“Jangan harap!”(Sena:Dalam Hati). Sena dengan sigap menebas satu per
satu tentacle, namun Putri Alice terlihat memburuk. “Sial! Bertahanlah,
putri!”(Sena:Dalam Hati). Tentacle tersebut berhasil menarik sesuatu
dari mulut Putri Alice, dan Putri Alice pun langsung jatuh tersungkur.
“Gawat!”(Sena:Dalam Hati). Tiba-tiba pedang Sena bercahaya, dan dengan
satu tebasan, seluruh tentacle yang menyerang langsung lenyap.
“Putri!”(Sena). Sena berlari mendekati Putri Alice yang terkapar dan
berusaha membangunkannya. “Hei! Bangunlah! Ayo bangun!”(Sena). Putri
Alice sama sekali tidak merespon. Serangan mendadak. Hutan itu telah
merenggutnya dan segala-galanya.
Sena terlihat panik. “Sial! Apa jangan-jangan tadi...”(Sena). Sena
teringat dengan salah satu tentacle yang sebelumnya menyerang Putri
Alice. “Apa yang harus aku lakukan?”(Sena:Dalam Hati). Tiba-tiba
terdengar suara seseorang. “Dia belum mati...”(Unknow). Sena pun menoleh
ke arah asal suara, dan terlihat seorang kakek tua sedang berjalan ke
arahnya. “Apa maksudnya?”(Sena). “Dia masih bisa selamat.”(Kakek Tua).
Sena terlihat menatap kakek tua serius. “Bagaimana cara
menyelamatkannya?”(Sena). “Sederhana, tapi tidak semudah itu
juga...”(Kakek Tua). “Aku tidak peduli! Tolong beritau caranya!”(Sena).
“Kau cukup bersemangat juga anak muda...”(Kakek Tua). Kakek tua itu
terdiam sejenak. “Kau hanya perlu menyelam dan menemukan monster yang
memiliki tentacle-tentacle itu.”(Kakek Tua). Sena terlihat bingung.
“Menyelam? Tapi bukankah sungai ini dangkal?”(Sena). “Jangan melihatnya
dengan matamu...kau harus merasakannya...”(Kakek Tua). “Apa?”(Sena).
Di
tempat lain, terlihat Reo dan Melven sedang berjalan menuju suatu
tempat. Reo terlihat berusaha memulai pembicaraan. “Kalau aku tidak
salah dengar, kau dulu seorang panglima, kan? Kenapa kau sekarang jadi
seorang berandalan?”(Reo). Melven hanya terdiam. Reo mulai merasa tidak
enak dengan Melven. “Maaf...mungkin kata-kataku kurang berkenan,
ya?”(Reo). “Tidak juga...aku hanya berusaha mengingatnya
kembali.”(Melven). “Mengingat?”(Reo). Melven terdiam sejenak. “Sudah
sangat lama sekali...sampai-sampai aku sudah menganggapnya sebuah
mimpi.”(Melven). Reo terlihat memperhatikan Melven. “Ceritanya sangat
panjang, aku tidak tau harus mulai dari mana.”(Melven). “Begitu
ya...”(Reo). Mereka terus berjalan. “Ngomong-ngomong, ke mana tujuan
kita nantinya?”(Reo). “Ke tempat yang sama sekali tidak asing. Kau pasti
juga sudah mengetaui tempat itu.”(Melven). “Hhhmmm...aku jadi
penasaran...”(Reo).
Kembali ke hutan pulau.
Terlihat Sena sedang berdiri di tepi sungai, sedangkan Putri Alice
sedang bersandar di bawah sebuah pohon bersama kakek tua tadi. Sena
terlihat memejamkan matanya dengan penuh konsentrasi dan perlahan terjun
ke dalam sungai. Kakek tua tadi terus memperhatikan Sena. Sena yang
telah masuk ke dalam air perlahan membuka matanya. “!!!”(Sena). Sena
tampak terkejut, saat dia tau bahwa sungai kecil dan dangkal sebelumnya,
berubah menjadi danau yang sangat luas. “Tenang...aku harus menemukan
makhluk itu dulu...”(Sena:Dalam Hati). Sena menyelam dan berusaha
mencari monster yang telah diberitaukan kakek tua tadi. Sena teringat
saat kakek tua memberitaunya tadi. “Sebenarnya monster itu ada di sisi
lain sungai ini.”(Kakek Tua). “Sisi lain? Maksudmu ada tempat rahasia di
sungai ini?”(Sena). “Bisa dibilang begitu...tapi kau hanya bisa
mencapainya dengan meditasi.”(Kakek Tua). “Meditasi?”(Sena). “Saat
meditasi, kau harus berkonsentrasi sehingga kau bisa menemukan jalan
menuju ke sisi itu.”(Kakek Tua). “Begitu ya...”(Sena). “Dan satu hal
lagi, meski kau sudah bisa masuk, bukan berarti kau bisa menemukan
monsternya. Kau harus berkonsentrai lebih keras lagi untuk bisa melihat
monster itu.”(Kakek Tua). “Kelihatannya cukup sulit.”(Sena). “Dan jika
kau berhasil menemukannya, kau jangan membunuhnya. Karena jika kau
membunuhnya, roh anak ini tidak akan bisa kembali.”(Kakek Tua).
“!!!”(Sena).
Kembali ke waktu sekarang, Sena
terlihat sudah menemukan monster yang dimaksud. “Ketemu
kau...”(Sena:Dalam Hati). Terlihat di depan Sena seperti monster gurita
raksasa yang transparan. “Aku tidak boleh membuang-buang
waktu...”(Sena:Dalam Hati). Sena dengan cepat menarik pedangnya dan
langsung berusaha menyerang monster itu. “Kena kau!”(Sena:Dalam Hati).
Namun serangan Sena hanya menembus monster itu seperti hologram.
“Apa?!”(Sena:Dalam Hati). Dengan cepat, salah satu tentacle monster itu
melilit kaki Sena. “Sial! Bagaimana bisa?!”(Sena:Dalam Hati). Sena
berusaha memutuskan tentacle itu dengan pedangnya, namun
tentacle-tentacle lain ikut membelit seluruh tubuhnya. Sena nampak
kehabisan nafas. “Ini gawat!”(Sena:Dalam Hati). Sena terus ditarik, dan
di hadapan Sena sudah terlihat mulut monster itu beserta
taring-taringnya. Hidup dan mati. Ujian yang penuh tantangan memaksanya
untuk bertahan hidup.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Manga Wrong Life Chapter 18 Still Believe and Death Or Life"
Posting Komentar