Hujan
mulai turun, Raja Eliot dan Krozen terlihat sedang memacu kudanya di
hutan pulau. “Di mana tepatnya mereka berada, panglima?”(Raja Eliot).
“Menurut pesan, seharusnya mereka...”(Krozen). Tiba-tiba mereka melihat
salah seorang prajurit yang sedang terkapar. “Itu dia!”(Krozen). Mereka
pun berhenti dan menolong prajurit itu. “Ya...Yang
Mu...lia...”(Prajurit). “Jangan banyak bicara dulu. Panglima, tolong
segera carikan daun-daunan obat di sekitar sini.”(Raja Eliot). “Baik,
Yang Mulia!”(Krozen). Krozen pun pergi untuk mencari daun-daunan obat.
“Di mana yang lainnya?”(Raja Eliot). “Me...mereka..ada...di...sebelah
sana...Yang Mulia. Mereka...sudah...tewas...”(Prajurit). “!!!”(Raja
Eliot). Raja Eliot terlihat terkejut mendengarnya. Krozen pun kembali
dengan membawa banyak daun obat. “Ini, Yang Mulia.”(Krozen). “Terima
kasih.”(Raja Eliot). Raja Eliot dan Krozen merawat prajurit itu.
“Lukanya benar-benar parah...”(Krozen). Dengan menahan sakit, Si
Prajurit berusaha mengatakan sesuatu. “Yang Mulia...sebaiknya...anda
segera menyusul...Panglima Melven di gua sebelah barat. Dia
sekarang...mungkin sedang...berhadapan dengan Si Penyusup...”(Prajurit).
Raja Eliot terlihat berdiri. “Panglima, tolong segera bawa dia kembali
ke kerajaan.”(Raja Eliot). “Tapi...Yang Mulia...”(Krozen). “Entah
mengapa, aku punya firasat buruk. Jadi aku mohon kembalilah duluan, aku
pasti akan kembali bersama Panglima Melven.”(Raja Eliot). Raja Eliot
kembali menunggangi kudanya, dan pergi menuju gua.Di gua, terlihat Lucifer sedang berhadapan dengan Ratu Stella. “Apa maksudmu?”(Melven). “Dia telah terpengaruh oleh aura yang kuat. Dia tidak akan mungkin kembali.”(Lucifer). “Tapi, bagaimana bisa? Ratu, bukankah anda sudah...”(Melven). “Kau tau apa yang kudapat setelah melakukan hal itu?”(Ratu Stella). Melven terlihat bingung. “Yang kudapat adalah kekosongan. Tidak ada yang namanya kekuatan. Semua hanya kosong! Tapi...”(Ratu Stella). Ratu Stella menunjuk ke arah Lucifer. “Kau...kaulah, kunci itu...kaulah jawabannya...”(Ratu Stella). “Apa maksudmu?”(Lucifer). Tiba-tiba Lucifer merasakan sesuatu dalam dirinya. Lucifer pun menjatuhkan pedangnya dan terjatuh sambil terengah-engah. Melven berusaha memanggil Lucifer. “Hei! Apa yang terjadi?”(Melven). Ratu Stella pun tersenyum. “Ingatlah, siapa dirimu...apa tujuanmu...dan apa yang kau inginkan?”(Ratu Stella). Wajah Lucifer semakin pucat. “Ingatlah...ingatlah...”(Ratu Stella). “Hei!”(Melven). Tiba-tiba Lucifer menusuk jantung Ratu Stella dengan pedangnya. “!!!”(Krozen). Krozen benar-benar terkejut. “Ka...kau...”(Ratu Stella). Dengan tatapan itu, dia mengubah segalanya. Kegelapan yang sebenarnya telah bangkit.
Ratu Stella terlihat tidak berkutik. Melven berusaha bangkit untuk mendekati Lucifer. “Apa yang kau lakukan?!”(Melven). Perlahan, Lucifer tersenyum. “Yang aku lakukan? Tidak ada...”(Lucifer). Ratu Stella terus mengalirkan darah segar dari mulut dan lukanya. “Jadi...inikah...kau yang sebenarnya?”(Ratu Stella). Dari arah luar, terlihat Raja Eliot telah sampai dan langsung berlari ke dalam gua. “Pasti di sini...”(Raja Eliot). Saat Raja Eliot masuk semakin dalam, dia melihat pemandangan yang sama dengan yang dilihat oleh Melven sebelumnya, yaitu mayat para penjaga serta bangkai monster-monster yang menghuni hutan pulau. “Apa-apaan ini?”(Raja Eliot). Saat Raja Eliot tengah memperhatikan mayat-mayat itu, tiba-tiba terdengar suara yang keras dari dalam gua. “Jangan bilang...”(Raja Eliot:Dalam Hati). Raja Eliot yang penasaran kembali berlari menuju bagian yang lebih dalam di gua itu. “Ku mohon...bertahanlah, Panglima Melven!”(Raja Eliot:Dalam Hati). Setelah cukup lama berlari, Raja Eliot telah sampai, namun dia disambut dengan pemandangan yang lebih menyeramkan dari apa yang tadi dilihatnya. Lucifer terlihat memegang kepala Ratu Stella yang telah dia penggal, sedangkan tubuh Ratu Stella terlihat telah berubah seperti tubuh monster, namun telah terpotong-potong dan tersebar hampir di semua tempat.
Lucifer dengan wajah datar menoleh ke arah Raja Eliot yang tidak bergerak karena sangat terkejut. “Kau sudah datang rupanya...”(Lucifer). Dengan gemetar, Raja Eliot mulai bertanya. “Apa...apa yang kau...lakukan?”(Raja Eliot). Lucifer membuang kepala Ratu Stella lalu menunjuk ke arah kanan Raja Eliot. “Tanyakan padanya. Itu pun kalau kau ingin tau.”(Lucifer). Raja Eliot menoleh ke arah di mana Lucifer menunjuk, dan di sana terlihat Melven yang seperti orang ketakutan dengan air mata yang mengalir, sedangkan pandangannya terlihat kosong. “Panglima!”(Raja Eliot). Melven sama sekali tidak merespon. “Dia tidak mati kok...mungkin dia hanya belum kuat untuk melihat apa yang baru saja dilihatnya.”(Lucifer). “Sebenarnya apa maumu? Bukankah orang itu...”(Raja Eliot). Raja Eliot melihat ke arah tubuh Ratu Stella yang sudah tidak berbentuk lagi. “Dia...kalau tidak salah, orang-orang memanggilnya ratu. Apa mungkin dia istrimu?”(Lucifer). Raja Eliot seakan tidak percaya dengan yang dikatakan Lucifer. “Bagaimana mungkin...Stella...”(Raja Eliot). “Dia itu monster...tapi aku cukup beruntung, karena berkat dia aku jadi tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan apa yang kucari.”(Lucifer). Raja Eliot terlihat sudah tidak tahan dengan apa yang dia lihat. “Kau...”(Raja Eliot). “...”(Lucifer). Raja Eliot mengeluarkan pedangnya dan berusaha menyerang Lucifer. “Tidak akan ku maafkan kau!!”(Raja Eliot).
Saat pedang Raja Eliot hampir mencapai Lucifer, tiba-tiba Lucifer sudah ada di belakangnya dengan memegang pedang milik Raja Eliot. “Jujur...aku berterima kasih karena kau sudah menampungku selama ini...tapi aku paling tidak suka disambut dengan cara seperti ini, jadi...”(Lucifer). Suara tebasan pedang menggema di seluruh penjuru gua. Dengan pedang yang berlumuran darah, Lucifer meninggalkan tubuh Raja Eliot yang terkapar bersimbah darah. “Beristirahatlah bersama istrimu tercinta...”(Lucifer). Perlahan Lucifer mendekati Melven yang masih terdiam seakan mematung. Lucifer terlihat membisikkan sesuatu. “Aku harus pergi. Masih ada kerajaan yang harus aku perintah saat ini...”(Lucifer). Dengan senyum di wajahnya, Lucifer pergi dan menghilang tanpa jejak. Kembali ke waktu sekarang, di mana Putri Alice sedang bercerita pada Sena. “Dan begitulah. Esoknya, para prajurit di bawah komando Panglima Krozen menemukan mayat ayah dan ibu di gua itu, sedangkan Panglima Melven tidak diketaui keberadaannya. Lalu setahun setelah kejadian itu, Lucifer pun kembali dan akhirnya menguasai kerajaan hingga sekarang.”(Putri Alice). Sena terlihat terpukul mendengar cerita Putri Alice. Kesedihan dan air matanya sudah menghilang, namun luka itu akan selalu membekas dalam hatinya.
Belum ada tanggapan untuk "Manga Wrong Life Chapter 17 Death Queen and And Now..."
Posting Komentar