Beranda · Menu · Menu 1 · Menu 2

Manga Wrong Life Chapter 19 Someone In There and Illusion

Sena sedang terjebak dalam situasi yang gawat. Taring-taring dari monster itu berusaha untuk melahapnya. “Bagaimana ini? Aku sudah tidak kuat lagi...”(Sena:Dalam Hati). Di saat dalam keadaan yang sangat kritis, tiba-tiba Sena mendengar ada seseorang yang berbicara pelan padanya. “Dasar lemah...”(Unknow). Sena yang terkejut membuka matanya. “Di mana ini? Apa aku sudah mati?”(Sena). Sena tiba-tiba berada di sebuah tempat yang terlihat seperti padang rumput yang sangat luas. “Tentu saja kau belum mati...bodoh...”(Unknow). Sena pun menoleh ke arah asal suara itu. “Siapa itu?”(Sena). Saat Sena baru saja akan menoleh, tiba-tiba seseorang telah menepuk bahu kanannya sambil berjalan melewatinya. “Biar aku saja...yang menanganinya...”(Unknow). Tiba-tiba muncul cahaya terang, dan Sena membuka kembali matanya perlahan. Tatapan mata Sena berubah, seakan bukan dirinya lagi. Sena kembali ke keadaan di mana dia akan di makan oleh monster tadi, namun tiba-tiba dia tersenyum. “Payah...”(Sena:Dalam Hati). Dalam sekejap, Sena menghilang tanpa jejak. Suasana jadi hening. Setelah beberapa saat, tiba-tiba bagian atas kepala monster itu sudah terbelah, dan Sena keluar dari sana dengan membawa sesuatu. Monster itu terlihat tidak berdaya, sedangkan Sena terus berenang ke permukaan.



Di tempat lain, kakek tua sedang menunggu di tepi sungai dengan Putri Alice yang masih tak sadarkan diri. Tiba-tiba kakek tua itu merasakan sesuatu. “Hebat juga...”(Kakek Tua:Dalam Hati). Sena pun akhirnya muncul dari dalam sungai. “Apa kau mendapatkannya?”(Kakek Tua). Dengan terengah-engah Sena mulai berdiri. “Tentu saja...”(Sena). Sena menatap kakek tua itu, tatapan Sena telah kembali seperti biasa. Sena perlahan mendekat ke arah Putri Alice yang masih tak sadarkan diri. “Kalau begitu, kau harus segera mengembalikannya.”(Kakek Tua). Kakek tua itu terlihat memberikan sebuah kertas pada Sena. “Tempelkan itu dadanya, lalu dekatkan benda itu pada kertas yang kau tempelkan.”(Kakek Tua). Sena terlihat terkejut. “Apa? Tapi kan...”(Sena). “Tidak masalah, dia kan tidak sadar...lagipula hanya ini cara satu-satunya untuk menyelamatkannya.”(Kakek Tua). “Ba...baiklah...”(Sena). Dengan berdebar-debar, Sena berusaha menempelkan kertas itu di dada Putri Alice. “Tenang...tenang...ini juga demi menyelamatkannya...”(Sena:Dalam Hati). Sena pun berhasil menempelkan kertas itu, namun Sena seperti melihat sebuah kilasan tentang sebuah kejadian. “Apa itu tadi?”(Sena:Dalam Hati). “Sekarang dekatkan benda itu, pada kertasnya.”(Kakek Tua). “Baiklah.”(Sena). Sena perlahan mendekatkan benda itu pada kertas yang sudah ditempelnya tadi. Benda itu bersinar, lalu menyusut hingga akhirnya menghilang. “Bendanya...menghilang?”(Sena). “Tentu saja, karena itu adalah rohnya.”(Kakek Tua).

Putri Alice perlahan mulai sadar. “Aku...”(Putri Alice). “Putri! Syukurlah kau bisa selamat.”(Sena). “Sena...”(Putri Alice). Sena terlihat sangat senang. “Apa yang terjadi?”(Putri Alice). “Ceritanya panjang, tapi pertama-tama...”(Sena). Saat Sena menoleh ke arah kakek tua itu, ternyata kakek tua itu sudah menghilang. “Eh?”(Sena). “Ada apa, Sena?”(Putri Alice). “Tidak, tadi itu ada seorang kakek tua yang membantuku untuk menolongmu, tapi dia sudah tidak ada.”(Sena). “Begitu ya...”(Putri Alice). “Padahal aku belum sempat berterima kasih...”(Sena). Putri Alice terlihat senang. “Terima kasih, Sena. Kau sudah menolongku.”(Putri Alice). “Iya sama-sama...”(Sena). Saat Putri Alice berusaha untuk berdiri. “Kau sudah tidak apa-apa?”(Sena). “Tidak apa-apa, aku hanya...”(Putri Alice). Putri Alice melihat kertas yang sebelumnya ditempelkan oleh Sena. “Apa ini?”(Putri Alice). Sena mulai terlihat panik. “I..itu...kertas yang kugunakan untuk menolongmu...”(Sena). “Oh begitu...tapi, kenapa bisa ada di...”(Putri Alice). Wajah Putri Alice terlihat memerah. “Jangan bilang kau...”(Putri Alice). Sena benar-benar menjadi tegang. “Tu...tu...tunggu dulu. Hanya cara ini yang bisa kulakukan untuk menolongmu. Aku tidak bermaksud untuk...”(Sena). “Dasar genit!!”(Putri Alice). Dengan satu pukulan, Sena terpental sampai ke sungai. Di padang rumput di mana Sena tadi sempat ada di sana, terlihat seseorang tengah duduk sambil tersenyum dengan angin berhembus perlahan. “Kurasa...hanya tinggal sedikit lagi...”(Unknow). Perjuangan yang berat, tapi perlahan dia mulai menyadari suatu hal itu.

 Di suatu tempat, terlihat Melven dan Reo sedang berjalan dari kejauhan. “Berapa lama lagi kita akan sampai?”(Reo). “Sebentar lagi.”(Melven). Mereka terus berjalan. Saat Reo memperhatikan keadaan sekeliling, tiba-tiba Reo teringat dengan sesuatu. “Kalau tidak salah, tempat ini...”(Reo). Reo terus memperhatikan dengan seksama setiap sudut pemandangan itu. Setelah berjalan cukup lama, Melven pun berhenti. “Kita sudah sampai.”(Melven). Reo terlihat sangat terkejut. “Tempat ini...”(Reo). Sementara itu, di hutan pulau, Sena dan Putri Alice terus melanjutkan perjalanan menuju menara pulau. Sena terlihat masih merasa sakit akibat pukulan Putri Alice sebelumnya. “Kau ini, tidak kusangka pukulanmu keras juga...”(Sena). Putri Alice masih terlihat kesal. “Siapa suruh kau genit?!”(Putri Alice). “Kan aku sudah bilang, aku melakukan itu untuk menolongmu!”(Sena). “Iya...iya...”(Putri Alice). Sena berbisik perlahan. “Hmmm...dasar perempuan galak...”(Sena). “Kau bilang apa?!”(Putri Alice). Sena terlihat panik. “Tidak, tidak ada apa-apa...”(Sena). Sena dan Putri Alice terus berjalan. Sena terus teringat dengan orang asing yang sebelumnya dia temui di padang rumput misterius. “Sebenarnya orang itu siapa ya? Dari suaranya, seperti tidak asing, dan bagaimana bisa aku ada di tempat itu?”(Sena:Dalam Hati). Putri Alice yang memperhatikan Sena, mulai memanggilnya. “Hei, Sena! Sena!”(Putri Alice). Sena yang sebelumnya melamun menjadi kaget. “I..iya.”(Sena). “Kau ini...apa sejauh itu kau masih memikirkan masalah tadi?”(Putri Alice). “Itu...”(Sena). “Kalau begitu aku minta maaf...aku sebenarnya tidak bermaksud begitu...”(Putri Alice). “Tidak, bukan itu...”(Sena). “Lalu?”(Putri Alice).

Sena mulai menceritakan apa yang dia alami sebelumnya. “Orang misterius?”(Putri Alice). Putri Alice terlihat bingung. “Iya, bukan hanya itu. Saat aku hampir mati saat berusaha melawan monster itu, tiba-tiba aku seperti berada di sebuah padang rumput yang sangat luas, tapi aku tidak tau tempat itu dan tidak tau kenapa aku bisa ada di sana.”(Sena). “Aneh sekali...”(Putri Alice). “Aku juga berpikir begitu, dan saat orang itu menepuk bahu kanan ku, tiba-tiba pandanganku dipenuhi oleh cahaya terang hingga aku tidak bisa melihat apa-apa, dan saat aku mulai bisa melihat, aku sudah berdiri di tengah sungai.”(Sena). Putri Alice teringat dengan kejadian saat Sena juga menyelamatkannya dari tiga monster pemburu di tengah hutan. “Apa mungkin, dia sudah mulai bergerak?”(Putri Alice). “Dia? Siapa maksudmu?”(Sena). Putri Alice berhenti sejenak, dan melihat ke depan. “Kenapa bisa?”(Putri Alice). “Ada apa?”(Sena). Sena juga melihat ke depan, dan juga ikut terkejut saat mereka menyadari bahwa mereka kembali ke tempat di mana mereka bertemu pertama kali. “Bukankah ini tempat kita bertemu pertama kali?”(Putri Alice). “Kenapa kita bisa kembali?”(Sena). “Jangan-jangan kita sudah salah jalur dan tersesat?”(Putri Alice). Sena dengan sigap memperhatikan sekeliling dengan penuh konsentrasi. “Sama sekali tidak ada tanda-tanda ilusi...tapi bagaimana bisa?”(Sena:Dalam Hati). Sena terlihat bingung. “Bagaimana kalau kita coba jalur lain?”(Sena). “Baiklah.”(Putri Alice).

Sena dan Putri Alice berjalan dengan menempuh jalur lain. “Di bagian sini ternyata pepohonannya cukup banyak.”(Putri Alice). Setelah berjalan cukup lama, Sena dan Putri Alice ternyata kembali ke tempat semula. Putri Alice kembali terkejut. “Apa?!”(Putri Alice). “Lagi-lagi...”(Sena:Dalam Hati). Putri Alice perlahan menjadi panik. “Bagaimana ini?”(Putri Alice). Sena terlihat kebingungan. “Apa mungkin ilusi? Tapi dari mana?”(Sena:Dalam Hati). Saat Sena tengah berpikir, Sena merasakan angin yang sangat tipis. “Angin?”(Sena). “Ada apa, Sena?”(Putri Alice). Sena menatap Putri Alice dengan seksama. Putri Alice terlihat bingung. “Ke...kenapa kau melihatku seperti itu?”(Putri Alice). Sena lalu memperhatikan sekelilingnya. “Begitu ya...”(Sena). Sena perlahan tersenyum. “Eh?”(Putri Alice). Sena dengan spontan memegang tangan Putri Alice. “Hei! Kau ini apa-apaan?!”(Putri Alice). “Tahan nafasmu...”(Sena). “Apa?”(Putri Alice). Dengan cepat Sena menarik nafas dalam-dalam dan memejamkan kedua matanya. Tiba-tiba sebuah gelombang tidak terlihat keluar dari Sena. Sena perlahan membuka kedua matanya. “Hampir saja...”(Sena). Tiba-tiba, Sena dan Putri Alice sudah berdiri tepat di bibir jurang yang sangat dalam. Semakin dekat. Selangkah lagi untuk mengetaui kebenaran.

Artikel keren lainnya:

Belum ada tanggapan untuk "Manga Wrong Life Chapter 19 Someone In There and Illusion"

Posting Komentar