Dengan menunggangi kudanya, Raja Eliot dan Krozen bergegas pergi
menuju hutan pulau di mana Melven sedang berjuang seorang diri. Krozen
mulai terlihat cemas. “Tidak perlu khawatir, mereka itu pasukan yang
kuat. Mereka pasti bisa bertahan, percayalah.”(Raja Eliot). “Yang
Mulia...”(Krozen:Dalam Hati). Perlahan awan gelap mulai membumbung di
langit malam. “Ini gawat! Kalau tidak cepat, maka kita akan semakin
sulit ke sana.”(Raja Eliot). Raja Eliot dan Krozen mulai mempercepat
laju kuda mereka. Sementara itu di hutan pulau, Melven terlihat sedang
berhadapan dengan seseorang. “Sudah ku duga ini akan
terjadi...”(Melven). Ternyata Melven sedang berhadapan dengan orang
misterius yang dicarinya selama ini. “Padahal aku berpikir untuk
menyergapmu setelah bantuan datang, ternyata kau lebih sigap dari
dugaanku.”(Melven). “Tidak juga, aku bisa menemukanmu karena aku memang
tau...”(Unknow). Orang misterius itu perlahan membuka jubahnya.
“!!!”(Melven). Melven terkejut saat mengetaui bahwa orang itu adalah
Ratu Stella yang selama ini dianggap telah tewas. “Ra...ratu?
Kenapa?”(Melven). Perlahan, Ratu Stella mendekati Melven yang masih
tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dengan cepat, Ratu Stella
berusaha menyerang Melven dengan kukunya yang tajam. Tiba-tiba ada
seseorang yang menghalangi serangan Ratu Stella, yaitu Lucifer. “Dia
bukanlah orang yang kau kenal lagi.”(Lucifer). “Kau...”(Melven).

Hujan
mulai turun, Raja Eliot dan Krozen terlihat sedang memacu kudanya di
hutan pulau. “Di mana tepatnya mereka berada, panglima?”(Raja Eliot).
“Menurut pesan, seharusnya mereka...”(Krozen). Tiba-tiba mereka melihat
salah seorang prajurit yang sedang terkapar. “Itu dia!”(Krozen). Mereka
pun berhenti dan menolong prajurit itu. “Ya...Yang
Mu...lia...”(Prajurit). “Jangan banyak bicara dulu. Panglima, tolong
segera carikan daun-daunan obat di sekitar sini.”(Raja Eliot). “Baik,
Yang Mulia!”(Krozen). Krozen pun pergi untuk mencari daun-daunan obat.
“Di mana yang lainnya?”(Raja Eliot). “Me...mereka..ada...di...sebelah
sana...Yang Mulia. Mereka...sudah...tewas...”(Prajurit). “!!!”(Raja
Eliot). Raja Eliot terlihat terkejut mendengarnya. Krozen pun kembali
dengan membawa banyak daun obat. “Ini, Yang Mulia.”(Krozen). “Terima
kasih.”(Raja Eliot). Raja Eliot dan Krozen merawat prajurit itu.
“Lukanya benar-benar parah...”(Krozen). Dengan menahan sakit, Si
Prajurit berusaha mengatakan sesuatu. “Yang Mulia...sebaiknya...anda
segera menyusul...Panglima Melven di gua sebelah barat. Dia
sekarang...mungkin sedang...berhadapan dengan Si Penyusup...”(Prajurit).
Raja Eliot terlihat berdiri. “Panglima, tolong segera bawa dia kembali
ke kerajaan.”(Raja Eliot). “Tapi...Yang Mulia...”(Krozen). “Entah
mengapa, aku punya firasat buruk. Jadi aku mohon kembalilah duluan, aku
pasti akan kembali bersama Panglima Melven.”(Raja Eliot). Raja Eliot
kembali menunggangi kudanya, dan pergi menuju gua.
Di
gua, terlihat Lucifer sedang berhadapan dengan Ratu Stella. “Apa
maksudmu?”(Melven). “Dia telah terpengaruh oleh aura yang kuat. Dia
tidak akan mungkin kembali.”(Lucifer). “Tapi, bagaimana bisa? Ratu,
bukankah anda sudah...”(Melven). “Kau tau apa yang kudapat setelah
melakukan hal itu?”(Ratu Stella). Melven terlihat bingung. “Yang kudapat
adalah kekosongan. Tidak ada yang namanya kekuatan. Semua hanya kosong!
Tapi...”(Ratu Stella). Ratu Stella menunjuk ke arah Lucifer.
“Kau...kaulah, kunci itu...kaulah jawabannya...”(Ratu Stella). “Apa
maksudmu?”(Lucifer). Tiba-tiba Lucifer merasakan sesuatu dalam dirinya.
Lucifer pun menjatuhkan pedangnya dan terjatuh sambil terengah-engah.
Melven berusaha memanggil Lucifer. “Hei! Apa yang terjadi?”(Melven).
Ratu Stella pun tersenyum. “Ingatlah, siapa dirimu...apa tujuanmu...dan
apa yang kau inginkan?”(Ratu Stella). Wajah Lucifer semakin pucat.
“Ingatlah...ingatlah...”(Ratu Stella). “Hei!”(Melven). Tiba-tiba Lucifer
menusuk jantung Ratu Stella dengan pedangnya. “!!!”(Krozen). Krozen
benar-benar terkejut. “Ka...kau...”(Ratu Stella). Dengan tatapan itu,
dia mengubah segalanya. Kegelapan yang sebenarnya telah bangkit.
Ratu Stella terlihat tidak berkutik. Melven berusaha bangkit untuk
mendekati Lucifer. “Apa yang kau lakukan?!”(Melven). Perlahan, Lucifer
tersenyum. “Yang aku lakukan? Tidak ada...”(Lucifer). Ratu Stella terus
mengalirkan darah segar dari mulut dan lukanya. “Jadi...inikah...kau
yang sebenarnya?”(Ratu Stella). Dari arah luar, terlihat Raja Eliot
telah sampai dan langsung berlari ke dalam gua. “Pasti di sini...”(Raja
Eliot). Saat Raja Eliot masuk semakin dalam, dia melihat pemandangan
yang sama dengan yang dilihat oleh Melven sebelumnya, yaitu mayat para
penjaga serta bangkai monster-monster yang menghuni hutan pulau.
“Apa-apaan ini?”(Raja Eliot). Saat Raja Eliot tengah memperhatikan
mayat-mayat itu, tiba-tiba terdengar suara yang keras dari dalam gua.
“Jangan bilang...”(Raja Eliot:Dalam Hati). Raja Eliot yang penasaran
kembali berlari menuju bagian yang lebih dalam di gua itu. “Ku
mohon...bertahanlah, Panglima Melven!”(Raja Eliot:Dalam Hati). Setelah
cukup lama berlari, Raja Eliot telah sampai, namun dia disambut dengan
pemandangan yang lebih menyeramkan dari apa yang tadi dilihatnya.
Lucifer terlihat memegang kepala Ratu Stella yang telah dia penggal,
sedangkan tubuh Ratu Stella terlihat telah berubah seperti tubuh
monster, namun telah terpotong-potong dan tersebar hampir di semua
tempat.
Lucifer dengan wajah datar menoleh
ke arah Raja Eliot yang tidak bergerak karena sangat terkejut. “Kau
sudah datang rupanya...”(Lucifer). Dengan gemetar, Raja Eliot mulai
bertanya. “Apa...apa yang kau...lakukan?”(Raja Eliot). Lucifer membuang
kepala Ratu Stella lalu menunjuk ke arah kanan Raja Eliot. “Tanyakan
padanya. Itu pun kalau kau ingin tau.”(Lucifer). Raja Eliot menoleh ke
arah di mana Lucifer menunjuk, dan di sana terlihat Melven yang seperti
orang ketakutan dengan air mata yang mengalir, sedangkan pandangannya
terlihat kosong. “Panglima!”(Raja Eliot). Melven sama sekali tidak
merespon. “Dia tidak mati kok...mungkin dia hanya belum kuat untuk
melihat apa yang baru saja dilihatnya.”(Lucifer). “Sebenarnya apa maumu?
Bukankah orang itu...”(Raja Eliot). Raja Eliot melihat ke arah tubuh
Ratu Stella yang sudah tidak berbentuk lagi. “Dia...kalau tidak salah,
orang-orang memanggilnya ratu. Apa mungkin dia istrimu?”(Lucifer). Raja
Eliot seakan tidak percaya dengan yang dikatakan Lucifer. “Bagaimana
mungkin...Stella...”(Raja Eliot). “Dia itu monster...tapi aku cukup
beruntung, karena berkat dia aku jadi tidak perlu bersusah payah untuk
mendapatkan apa yang kucari.”(Lucifer). Raja Eliot terlihat sudah tidak
tahan dengan apa yang dia lihat. “Kau...”(Raja Eliot). “...”(Lucifer).
Raja Eliot mengeluarkan pedangnya dan berusaha menyerang Lucifer. “Tidak
akan ku maafkan kau!!”(Raja Eliot).
Saat
pedang Raja Eliot hampir mencapai Lucifer, tiba-tiba Lucifer sudah ada
di belakangnya dengan memegang pedang milik Raja Eliot. “Jujur...aku
berterima kasih karena kau sudah menampungku selama ini...tapi aku
paling tidak suka disambut dengan cara seperti ini, jadi...”(Lucifer).
Suara tebasan pedang menggema di seluruh penjuru gua. Dengan pedang yang
berlumuran darah, Lucifer meninggalkan tubuh Raja Eliot yang terkapar
bersimbah darah. “Beristirahatlah bersama istrimu tercinta...”(Lucifer).
Perlahan Lucifer mendekati Melven yang masih terdiam seakan mematung.
Lucifer terlihat membisikkan sesuatu. “Aku harus pergi. Masih ada
kerajaan yang harus aku perintah saat ini...”(Lucifer). Dengan senyum di
wajahnya, Lucifer pergi dan menghilang tanpa jejak. Kembali ke waktu
sekarang, di mana Putri Alice sedang bercerita pada Sena. “Dan
begitulah. Esoknya, para prajurit di bawah komando Panglima Krozen
menemukan mayat ayah dan ibu di gua itu, sedangkan Panglima Melven tidak
diketaui keberadaannya. Lalu setahun setelah kejadian itu, Lucifer pun
kembali dan akhirnya menguasai kerajaan hingga sekarang.”(Putri Alice).
Sena terlihat terpukul mendengar cerita Putri Alice. Kesedihan dan air
matanya sudah menghilang, namun luka itu akan selalu membekas dalam
hatinya.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Manga Wrong Life Chapter 17 Death Queen and And Now..."
Posting Komentar