Sore pun menjelang. Raja Eliot dan Putri Alice akhirnya kembali ke kerajaan. Saat mereka sedang berjalan di lorong, telihat Melven berlari menghampiri keduanya. “Yang Mulia!”(Melven). “Ada apa, panglima?”(Raja Eliot). “Ini gawat! Sepertinya ada seseorang yang berhasil masuk ke wilayah terlarang pulau tanpa izin!”(Melven). Raja Eliot yang mendengarnya mulai terlihat panik. “Lalu, para penjaga pulau?”(Raja Eliot). “Mereka mengalami serangan yang cukup parah, Yang Mulia. Sepertinya si penyusup adalah seorang yang sangat tangguh.”(Melven). Raja Melven terlihat semakin cemas, sedangkan Putri Alice nampak kebingungan. “Ada apa, ayah?”(Putri Alice). Melihat Putri Alice, Raja Eliot pun berusaha untuk menenangkan Putri Alice. “Tidak ada apa-apa, sayang. Hanya masalah biasa saja.”(Raja Eliot). Putri Alice mulai terlihat tenang. “Kalau begitu, aku serahkan padamu untuk membentuk tim dan segera memastikan kondisi di sana. Aku harap si penyusup tidak melakukan sesuatu yang berdampak besar.”(Raja Eliot). “Baik, Yang Mulia. Dan satu lagi Yang Mulia, kelihatannya kabar dari kerajaan utara sudah sampai, dan malam ini semua perwakilan setuju untuk melaksanakan pertemuan.”(Melven). “Ya, akan ku urus masalah itu. Terima kasih atas informasinya, panglima. Aku mengandalkanmu.”(Raja Eliot). “Sama-sama, Yang Mulia. Secepatnya kami akan mengirimkan perkembangan kabar dari sana.”(Melven). Melven pun pergi meninggalkan Raja Eliot dn Putri Alice. “Kenapa bisa? Siapa yang kira-kira bisa menembus penjagaan pulau? Atau mungkin...”(Raja Eliot:Dalam Hati).
Di hutan pulau, terlihat orang berjubah cokelat sebelumnya sedang berjalan menyusuri jalan setapak. Setelah cukup lama berjalan, orang itu berhenti dan terlihat mengeluarkan sesuatu seperti bungkusan kain. Diperhatikannya bungkusan itu, lalu dia menatap ke arah matahari tenggelam. Malam harinya, di kerajaan. Terlihat sedang diadakan pertemuan antara semua perwakilan kerajaan setiap wilayah. “Penyusup?”(Wakil Barat). “Bagaimana dia bisa menembus penjagaan itu?”(Wakil Selatan). “Aku juga belum tau penyebab serta motifnya, tapi aku yakin ini akan membawa pengaruh pada kita semua cepat atau lambat.”(Raja Eliot). Perwakilan kerajaan utara terlihat seakan tidak peduli. “Huh, inilah sebabnya aku tidak suka berhubungan dalam urusan ini.”(Wakil Utara). “Tapi, apa anda tau siapa yang kemungkinan besar melakukan ini semua?”(Wakil Timur). “Aku belum tau pasti, karenanya aku sudah mempercayakan panglimaku beserta timnya untuk melihat keadaan di sana.”(Raja Eliot). “Semoga saja tidak ada masalah dalam hal ini.”(Wakil Selatan). “Aku juga berharap begitu.”(Raja Eliot). Saat mereka sedang serius mendiskusikan masalah tersebut, tiba-tiba Krozen datang dengan terengah-engah. “Ada apa ini?”(Wakil Barat). “Apa kau tidak tau kami sedang mengadakan pertemuan?!”(Wakil Utara). “Apa yang terjadi, Panglima?”(Raja Eliot). “Ada...ada kabar mendadak dari tim di pulau, Yang Mulia!”(Krozen). Semua orang terlihat terkejut. Dia yang tertutup bayang-bayang akhirnya mulai bergerak.
Di hutan pulau, terlihat Melven yang sedang bersembunyi dan seperti sedang mengawasi sesuatu. “Tidak ku sangka...situasinya jauh lebih mengerikan dari yang ku duga.”(Melven:Dalam Hati). Dari kejauhan, terlihat seperti cahaya dari dalam sebuah gua yang sedari tadi diperhatikan oleh Melven. Melven yang nampak terengah-engah terlihat memegang lengan kirinya dengan ekspresi seperti sedang menahan sakit. “Semoga saja kerajaan segera mengirim bantuan. Bagaimana pun juga, ini sudah tidak bisa dibiarkan.”(Melven:Dalam Hati). Melven dengan perlahan mulai mendekati gua itu. Dengan sangat berhati-hati, Melven terus melanjutkan pengintaiannya. “Ke mana perginya dia?”(Melven:Dalam Hati). Saat Melven melangkah semakin jauh ke dalam gua, dia tiba-tiba terlihat sangat terkejut saat mendapati sesuatu di dalam gua itu. “Apa-apaan ini!!”(Melven:Dalam Hati). Di kerajaan, terlihat mulai terjadi kekacauan. Para perwakilan yang sedang mengadakan pertemuan terlihat panik dengan pesan dari Krozen. “Bagaimana kondisi di sana?”(Raja Eliot). “Para penjaga sama sekali tidak ditemukan, dan saat tim mencoba mencari tau, hampir semua anggota tim penyelidik terluka parah akibat serangan yang tidak dikenal. Sekarang ini, Panglima Melven sedang meneruskan pengintaian terhadap si penyusup dalam keadaan terluka.”(Krozen). “Sepertinya ini akan jadi masalah besar.”(Wakil Utara). “Mungkin saja ini semua ulah si penyusup.”(Wakil Barat).
Raja Eliot terlihat bingung. “Bagaimana kalau pasukan dari semua wilayah kerajaan membentuk tim juga dan membantu menangkap si penyusup?”(Wakil Timur). “Percuma...ini hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga.”(Wakil Utara). “Tapi, jika hanya mengandalkan tim dari kerajaan pusat, masalah ini tidak akan selesai.”(Wakil Timur). “Terserah kalian, tapi aku tidak akan menyia-nyiakan nyawa pasukanku demi hal yang tidak jelas seperti ini.”(Wakil Utara). “Tidak jelas? Ini sudah jelas-jelas akan mempengaruhi kestabilan dunia ini yang secara langsung akan menghancurkan semua kerajaan!”(Wakil Timur). “Tenanglah! Kita pikirkan sama-sama masalah ini sebagai kesatuan.”(Wakil Selatan). “Aku setuju, kalau ini dibiarkan, mungkin akan semakin bertambah buruk.”(Wakil Barat). Raja Eliot tiba-tiba menundukkan kepala. “Ini semua adalah tanggung jawabku! Aku tidak ingin melibatkan pasukan wilayah lain, tapi bukan maksudku menolak gagasan anda sekalian, namun benar yang dikatakan wakil utara, dari pada mengorbankan lebih banyak orang, biar aku sendiri yang akan turun tangan dalam hal ini!”(Raja Eliot). Krozen yang melihat Raja Eliot telihat terkejut. “ Yang Mulia...”(Krozen:Dalam Hati).
Raja Eliot bangkit dan mendekati Krozen. “Panglima, tolong antar aku ke sana. Biar aku sendiri yang melakukannya.”(Raja Eliot). “Tapi Yang Mulia, di sana terlalu berbahaya. Biar saya dan pasukan kerajaan yang ke sana, jadi saya mohon perintah dari Yang Mulia.”(Krozen). “Bukankah aku tadi aku sudah bilang, aku tidak mau mengorbankan lebih banyak nyawa. Jadi aku yang akan turun sendiri.”(Raja Eliot). “Tapi...”(Krozen). “Ini perintah!”(Raja Eliot). “Aku setuju dengan panglima anda, jika sesuatu terjadi pada anda, kerajaan akan jadi kacau balau. Apa anda yakin untuk melakukannya?”(Wakil Selatan). Raja Eliot terdiam sejenak. “Aku memang sudah menjadi raja selama puluhan tahun, jadi aku tau seperti apa para pasukanku...”(Raja Eliot). Semua orang tiba-tiba menjadi hening. “Mereka adalah keluargaku, dan sebagai kepala keluarga, aku tidak mungkin bisa melihat pasukanku kehilangan nyawanya, semetara aku hanya berdiam diri di tempat ini.”(Raja Eliot). Krozen teringat di saat dia pernah diselamatkan oleh Raja Eliot sewaktu muda. “Kehilangan orang-orang yang kita sayangi memang menyakitkan, tapi aku yakin mereka tidak ingin kau jadi lemah karena kepergian mereka. Mereka ingin kau menjadi lebih kuat dalam menjalani hidup ini, demi dirimu, dan demi impian yang mereka percayakan padamu. Karena itu, izinkan aku membantumu untuk mewujudkan impian itu.”(Raja Eliot). Krozen yang mengingat itu perlahan meneteskan air mata. Raja Eliot memegang pundak Krozen. “Ayo, Panglima Melven dan yang lainnya sedang membutuhkan kita sekarang.”(Raja Eliot). Sambil mengusap air matanya, Krozen mulai bangkit. “Baik, Yang Mulia!”(Krozen). Dia bukanlah raja, tapi dia adalah seorang ayah yang berusaha melindungi semua orang yang telah dia anggap sebagai keluarganya.

Belum ada tanggapan untuk "Manga Wrong Life Chapter 16 The Infiltrator and My Family"
Posting Komentar