Raja Eliot mulai teringat kembali dengan kenangan akan istrinya
tercinta. “Ibumu...dia adalah orang yang sangat kuat.”(Raja Eliot).
“Sekuat apa, ayah?”(Putri Alice). “Dia...adalah orang yang
berjasa...yang telah rela mengorbankan nyawanya demi kita semua,
sayang.”(Raja Eliot). “Mengorbankan...nyawa?”(Putri Alice). “Iya,
sayang...dia...dia...”(Raja Eliot). Perlahan air mata Raja Eliot
mengalir yang menandakan rasa kehilangan yang tak bisa terlupakan. Putri
Alice yang melihat ayahnya menangis mulai terlihat cemas.
“Ayah...”(Putri Alice). Raja Eliot yang mengetaui Putri Alice khawatir,
perlahan mulai mengusap air matanya dan memeluk Putri Alice. “Maafkan
ayah, sayang. Ayah memang tidak pantas menjadi ayahmu. Ayah sudah
membuatmu menderita. Ayah memang tidak berguna...”(Raja Eliot). Putri
Alice mulai menagis di dekapan Raja Eliot. “Ayah tau kau terluka,
sayang. Tidak apa-apa jika kau ingin menangis. Mulai sekarang, ayah
berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu, ayah janji sayang...”(Raja
Eliot). Tangisan Putri Alice kian tak terbendung setelah sekian lama
menahan luka kesendirian sejak kematian Sang Ratu yang tak lain ibu
kandungnya. “Maafkan aku, Stella...aku telah menelantarkan putri kita
yang seharusnya aku jaga...maafkan aku...”(Raja Eliot:Dalam Hati).

Sore
pun menjelang. Raja Eliot dan Putri Alice akhirnya kembali ke kerajaan.
Saat mereka sedang berjalan di lorong, telihat Melven berlari
menghampiri keduanya. “Yang Mulia!”(Melven). “Ada apa, panglima?”(Raja
Eliot). “Ini gawat! Sepertinya ada seseorang yang berhasil masuk ke
wilayah terlarang pulau tanpa izin!”(Melven). Raja Eliot yang
mendengarnya mulai terlihat panik. “Lalu, para penjaga pulau?”(Raja
Eliot). “Mereka mengalami serangan yang cukup parah, Yang Mulia.
Sepertinya si penyusup adalah seorang yang sangat tangguh.”(Melven).
Raja Melven terlihat semakin cemas, sedangkan Putri Alice nampak
kebingungan. “Ada apa, ayah?”(Putri Alice). Melihat Putri Alice, Raja
Eliot pun berusaha untuk menenangkan Putri Alice. “Tidak ada apa-apa,
sayang. Hanya masalah biasa saja.”(Raja Eliot). Putri Alice mulai
terlihat tenang. “Kalau begitu, aku serahkan padamu untuk membentuk tim
dan segera memastikan kondisi di sana. Aku harap si penyusup tidak
melakukan sesuatu yang berdampak besar.”(Raja Eliot). “Baik, Yang Mulia.
Dan satu lagi Yang Mulia, kelihatannya kabar dari kerajaan utara sudah
sampai, dan malam ini semua perwakilan setuju untuk melaksanakan
pertemuan.”(Melven). “Ya, akan ku urus masalah itu. Terima kasih atas
informasinya, panglima. Aku mengandalkanmu.”(Raja Eliot). “Sama-sama,
Yang Mulia. Secepatnya kami akan mengirimkan perkembangan kabar dari
sana.”(Melven). Melven pun pergi meninggalkan Raja Eliot dn Putri Alice.
“Kenapa bisa? Siapa yang kira-kira bisa menembus penjagaan pulau? Atau
mungkin...”(Raja Eliot:Dalam Hati).
Di hutan
pulau, terlihat orang berjubah cokelat sebelumnya sedang berjalan
menyusuri jalan setapak. Setelah cukup lama berjalan, orang itu berhenti
dan terlihat mengeluarkan sesuatu seperti bungkusan kain.
Diperhatikannya bungkusan itu, lalu dia menatap ke arah matahari
tenggelam. Malam harinya, di kerajaan. Terlihat sedang diadakan
pertemuan antara semua perwakilan kerajaan setiap wilayah.
“Penyusup?”(Wakil Barat). “Bagaimana dia bisa menembus penjagaan
itu?”(Wakil Selatan). “Aku juga belum tau penyebab serta motifnya, tapi
aku yakin ini akan membawa pengaruh pada kita semua cepat atau
lambat.”(Raja Eliot). Perwakilan kerajaan utara terlihat seakan tidak
peduli. “Huh, inilah sebabnya aku tidak suka berhubungan dalam urusan
ini.”(Wakil Utara). “Tapi, apa anda tau siapa yang kemungkinan besar
melakukan ini semua?”(Wakil Timur). “Aku belum tau pasti, karenanya aku
sudah mempercayakan panglimaku beserta timnya untuk melihat keadaan di
sana.”(Raja Eliot). “Semoga saja tidak ada masalah dalam hal ini.”(Wakil
Selatan). “Aku juga berharap begitu.”(Raja Eliot). Saat mereka sedang
serius mendiskusikan masalah tersebut, tiba-tiba Krozen datang dengan
terengah-engah. “Ada apa ini?”(Wakil Barat). “Apa kau tidak tau kami
sedang mengadakan pertemuan?!”(Wakil Utara). “Apa yang terjadi,
Panglima?”(Raja Eliot). “Ada...ada kabar mendadak dari tim di pulau,
Yang Mulia!”(Krozen). Semua orang terlihat terkejut. Dia yang tertutup
bayang-bayang akhirnya mulai bergerak.
Di hutan pulau, terlihat Melven yang sedang bersembunyi dan seperti
sedang mengawasi sesuatu. “Tidak ku sangka...situasinya jauh lebih
mengerikan dari yang ku duga.”(Melven:Dalam Hati). Dari kejauhan,
terlihat seperti cahaya dari dalam sebuah gua yang sedari tadi
diperhatikan oleh Melven. Melven yang nampak terengah-engah terlihat
memegang lengan kirinya dengan ekspresi seperti sedang menahan sakit.
“Semoga saja kerajaan segera mengirim bantuan. Bagaimana pun juga, ini
sudah tidak bisa dibiarkan.”(Melven:Dalam Hati). Melven dengan perlahan
mulai mendekati gua itu. Dengan sangat berhati-hati, Melven terus
melanjutkan pengintaiannya. “Ke mana perginya dia?”(Melven:Dalam Hati).
Saat Melven melangkah semakin jauh ke dalam gua, dia tiba-tiba terlihat
sangat terkejut saat mendapati sesuatu di dalam gua itu. “Apa-apaan
ini!!”(Melven:Dalam Hati). Di kerajaan, terlihat mulai terjadi
kekacauan. Para perwakilan yang sedang mengadakan pertemuan terlihat
panik dengan pesan dari Krozen. “Bagaimana kondisi di sana?”(Raja
Eliot). “Para penjaga sama sekali tidak ditemukan, dan saat tim mencoba
mencari tau, hampir semua anggota tim penyelidik terluka parah akibat
serangan yang tidak dikenal. Sekarang ini, Panglima Melven sedang
meneruskan pengintaian terhadap si penyusup dalam keadaan
terluka.”(Krozen). “Sepertinya ini akan jadi masalah besar.”(Wakil
Utara). “Mungkin saja ini semua ulah si penyusup.”(Wakil Barat).
Raja
Eliot terlihat bingung. “Bagaimana kalau pasukan dari semua wilayah
kerajaan membentuk tim juga dan membantu menangkap si penyusup?”(Wakil
Timur). “Percuma...ini hanya akan membuang-buang waktu dan
tenaga.”(Wakil Utara). “Tapi, jika hanya mengandalkan tim dari kerajaan
pusat, masalah ini tidak akan selesai.”(Wakil Timur). “Terserah kalian,
tapi aku tidak akan menyia-nyiakan nyawa pasukanku demi hal yang tidak
jelas seperti ini.”(Wakil Utara). “Tidak jelas? Ini sudah jelas-jelas
akan mempengaruhi kestabilan dunia ini yang secara langsung akan
menghancurkan semua kerajaan!”(Wakil Timur). “Tenanglah! Kita pikirkan
sama-sama masalah ini sebagai kesatuan.”(Wakil Selatan). “Aku setuju,
kalau ini dibiarkan, mungkin akan semakin bertambah buruk.”(Wakil
Barat). Raja Eliot tiba-tiba menundukkan kepala. “Ini semua adalah
tanggung jawabku! Aku tidak ingin melibatkan pasukan wilayah lain, tapi
bukan maksudku menolak gagasan anda sekalian, namun benar yang dikatakan
wakil utara, dari pada mengorbankan lebih banyak orang, biar aku
sendiri yang akan turun tangan dalam hal ini!”(Raja Eliot). Krozen yang
melihat Raja Eliot telihat terkejut. “ Yang Mulia...”(Krozen:Dalam
Hati).
Raja Eliot bangkit dan mendekati
Krozen. “Panglima, tolong antar aku ke sana. Biar aku sendiri yang
melakukannya.”(Raja Eliot). “Tapi Yang Mulia, di sana terlalu berbahaya.
Biar saya dan pasukan kerajaan yang ke sana, jadi saya mohon perintah
dari Yang Mulia.”(Krozen). “Bukankah aku tadi aku sudah bilang, aku
tidak mau mengorbankan lebih banyak nyawa. Jadi aku yang akan turun
sendiri.”(Raja Eliot). “Tapi...”(Krozen). “Ini perintah!”(Raja Eliot).
“Aku setuju dengan panglima anda, jika sesuatu terjadi pada anda,
kerajaan akan jadi kacau balau. Apa anda yakin untuk
melakukannya?”(Wakil Selatan). Raja Eliot terdiam sejenak. “Aku memang
sudah menjadi raja selama puluhan tahun, jadi aku tau seperti apa para
pasukanku...”(Raja Eliot). Semua orang tiba-tiba menjadi hening. “Mereka
adalah keluargaku, dan sebagai kepala keluarga, aku tidak mungkin bisa
melihat pasukanku kehilangan nyawanya, semetara aku hanya berdiam diri
di tempat ini.”(Raja Eliot). Krozen teringat di saat dia pernah
diselamatkan oleh Raja Eliot sewaktu muda. “Kehilangan orang-orang yang
kita sayangi memang menyakitkan, tapi aku yakin mereka tidak ingin kau
jadi lemah karena kepergian mereka. Mereka ingin kau menjadi lebih kuat
dalam menjalani hidup ini, demi dirimu, dan demi impian yang mereka
percayakan padamu. Karena itu, izinkan aku membantumu untuk mewujudkan
impian itu.”(Raja Eliot). Krozen yang mengingat itu perlahan meneteskan
air mata. Raja Eliot memegang pundak Krozen. “Ayo, Panglima Melven dan
yang lainnya sedang membutuhkan kita sekarang.”(Raja Eliot). Sambil
mengusap air matanya, Krozen mulai bangkit. “Baik, Yang Mulia!”(Krozen).
Dia bukanlah raja, tapi dia adalah seorang ayah yang berusaha
melindungi semua orang yang telah dia anggap sebagai keluarganya.
Belum ada tanggapan untuk "Manga Wrong Life Chapter 16 The Infiltrator and My Family"
Posting Komentar