Beranda · Menu · Menu 1 · Menu 2

Manga Wrong Life Chapter 15 Before Everything and The Flower

Putri Alice kembali melanjutkan ceritanya. Kembali ke kejadian enam tahun lalu di kerajaan. Terlihat Lucifer sedang menghadap Raja Eliot. “Yang mulia...saya minta izin anda untuk mengikuti turnamen itu.”(Lucifer). Raja Eliot terdiam dan memperhatikan Lucifer. “Mmmmm...maaf, tapi aku tidak bisa mengizinkanmu. Kau tau peraturannya, kan? Anggota kerajaan tidak boleh mengikuti turnamen itu, lagipula kau aku tugaskan sebagai pengawal Alice, jadi dengan berat hati aku melarangmu.”(Raja Eliot). Lucifer terdiam untuk sejenak. “Baiklah Yang Mulia...dan saya minta maaf karena lancang berkata seperti ini dan telah mengganggu waktu  anda.”(Lucifer). “Tidak apa-apa...apa masih ada yang ingin kau tanyakan lagi?”(Raja Eliot). “Tidak ada Yang Mulia...kalau begitu, saya permisi dulu.”(Lucifer). “Iya silakan.”(Raja Eliot). Di atap menara kerajaan, terlihat Lucifer sedang termenung melihat pemandangan di depannya. Tak berselang lama, terdengar suara dari pintu di belakangnya. Lucifer pun berbalik. “Ini sudah malam putri...sebaiknya anda lekas tidur.”(Lucifer). Ternyata orang yang datang adalah Putri Alice yang waktu itu masih berumur sembilan tahun. “Tapi...aku ingin kau membacakan dongeng untukku...”(Putri Alice). Lucifer hanya tersenyum dan menghampiri Putri Alice. “Baiklah...tapi anda harus janji, setelah ini anda harus lekas tidur.”(Lucifer). “Umm...”(Putri Alice).



Di dalam kamarnya, Putri Alice terlihat serius mendengarkan cerita dari Lucifer. “Baiklah...ceritanya sudah dulu, ya? Besok kan anda harus bangun pagi.”(Lucifer). Putri Alice terlihat agak kecewa. “Tapi...”(Putri Alice). “Saya harus segera pergi putri.”(Lucifer). “Boleh aku tanya sesuatu?”(Putri Alice). “Apa yang ingin anda tanyakan, putri?”(Lucifer). “Apa di hutan pulau, ada keajaiban seperti dalam cerita?”(Putri Alice). “Mmmmm...mungkin saja.”(Lucifer). Putri Alice terlihat memikirkan sesuatu. “Aku mau pergi ke sana.”(Putri Alice). Lucifer yang mendengar itu hanya bisa tersenyum dan membelai kepala Putri Alice. “Maaf putri...anda tidak diperbolehkan ke sana.”(Lucifer). “Haaahhh...”(Putri Alice). Di tempat lain dalam kerajaan, terlihat Melven yang tengah berjaga bersama seorang pengawal kerajaan. “Malam ini kelihatannya sedikit berbeda.”(Pengawal). “Aku rasa karena ini hampir mendekati waktunya.”(Melven). “Mungkin kau benar.”(Pengawal). Mereka terlihat diam sejenak lalu angin mulai berhembus perlahan. “Kira-kira kali ini bagaimana ya? Aku harap juga berjalan lancar seperti yang sebelum-sebelumnya.”(Pengawal). “Kenapa? Tidak biasanya kau bicara begini. Apa kau gugup?”(Melven). “Aku tidak gugup, kau tau kan, aku sudah sejak tiga tahun lalu melakukannya, jadi aku tidak mungkin gugup.”(Pengawal). “Lantas apa yang mengganggumu?”(Melven). Pengawal itu terdiam sejenak. “Aku hanya merasa, tahun ini akan ada hal buruk yang akan terjadi.”(Pengawal). “Ah, itu hanya firasatmu saja.”(Melven).

Dari arah luar, terlihat seseorang menghampiri Melven dan Si Pengawal. “Apa yang terjadi?”(Melven). Ternyata orang yang datang adalah Krozen. “Kalian berdua dipanggil untuk pertemuan membahas acaranya.”(Krozen). “Begitu ya.”(Melven). “Lalu kau sendiri?”(Pengawal). “Aku harus pergi untuk mengirimkan laporannya ke kerajaan barat. Kalian cepatlah ke ruang pertemuan, semua sudah menunggu di sana.”(Krozen). “Baiklah, ayo kita segera ke sana.”(Pengawal). “Iya.”(Melven). Di luar kerajaan, terlihat Krozen sedang menuntun kudanya dan nampaknya akan segera pergi. Di saat tengah bersiap berangkat, Krozen melihat seseorang yang mengenakan jubah cokelat yang kelihatannya baru saja keluar dari kerajaan. Krozen memperhatikan gelagat orang itu dan berusaha memanggilnya. “Hei, kau! Berhenti!”(Krozen). Orang tersebut sama sekali tidak bergeming dan terus berjalan. “Hei!”(Krozen). Karena penasaran, Krozen berniat untuk menghampirinya. “Hei! Tung...”(Krozen). Tiba-tiba angin berhembus kencang. Krozen sejenak menutup matanya dan saat dia kembali melihat ke arah orang tadi, orang itu sudah menghilang. Krozen tampak kebingungan. “Apa tadi itu hanya imajinasiku saja?”(Krozen). Kerajaan yang damai perlahan merencanakan sesuatu.

Di dalam ruang pertemuan, terlihat banyak anggota kerajaan tengah berkumpul, termasuk Melven. “Tahun ini adalah waktunya. Kita harus menyelesaikannya sesegera mungkin.”(Panglima 1). “Lalu, bagaimana dengan kondisinya sekarang?”(Raja Eliot). “Untuk kondisi sendiri, kami rasa semua sudah siap. Tinggal persiapan terakhir saja sampai semua berjalan sesuai rencana.”(Panglima 2). “Baguslah kalau begitu. Melven, Aku harap kau bisa menjalankan tugasmu sesuai rencana.”(Raja Eliot). “Baik Yang Mulia, saya pasti akan melakukan yang terbaik.”(Melven). “Dan satu hal lagi Yang Mulia, kerajaan dari wilayah timur dan selatan sudah menyetujuinya, kita hanya tinggal menunggu keputusan dari kerajaan barat saja.”(Panglima 1). “Bagaimana dari kerajaan utara?”(Raja Eliot). “Kelihatannya, kita belum bisa melakukannya Yang Mulia. Secepatnya, kami akan mengirim pasukan ke kerajaan utara.”(Panglima 1). “Baiklah, aku serahkan hal itu padamu. Jika semua kerajaan sudah siap, secepatnya akan kita lakukan pertemuan untuk merencakan prosesnya.”(Raja Eliot). “Baik! Yang Mulia.”(Semua panglima). “Waktunya sudah semakin dekat. Hanya tinggal menunggu saja.”(Raja Eliot). Di tepi danau, terlihat orang berjubah cokelat sebelumnya sedang memandang ke arah pulau. Orang itu terus berjalan dan akhirnya menemukan sebuah perahu. Dia menaiki perahu itu dan mulai mengarungi danau menuju pulau.

Pagi pun menjelang. Di kerajaan, terlihat Putri Alice sedang berlari. Raja Eliot yang kebetulan lewat, menghentikan laju Putri Alice. “Ayah...!”(Putri Alice). “Ada apa, sayang? Apa yang terjadi? Katakan pada ayah.”(Raja Eliot). Dengan terengah-engah, Putri Alice berusaha menjawab. “Luci...Tuan Luci tidak ada...”(Putri Alice). “Benarkah?”(Raja Eliot). “Ummm...aku ingin bermain dengannya...”(Putri Alice). Raja Eliot yang mengetaui itu mulai terlihat bingung. “Baiklah, kau tenang saja ya, sayang. Ayah akan coba mencarinya. Bagaimana kalau kau ikut ayah sebentar?”(Raja Eliot). Putri Alice telihat mulai tenang. “Baik ayah...”(Putri Alice). Di pintu masuk, terlihat Raja Eliot sedang mengajak Putri Alice. “Yang Mulia.”(Penjaga). “Aku mau pergi sebentar dengan putri ku, tolong jika ada orang yang mencariku, bilang saja aku sedang ada urusan penting dan tidak bisa diganggu.”(Raja Eliot). “Tapi Yang Mulia, bukankah sebaiknya anda didampingi?”(Penjaga). “Tidak apa-apa, aku hanya ingin mengajak putri ku jalan-jalan sebentar. Aku pasti akan kembali secepatnya.”(Raja Eliot). “Baiklah Yang Mulia, silakan lewat.”(Pengawal). “Terima kasih, ya.””(Raja Eliot). Dengan menaiki kuda, Raja Eliot dan Putri Alice terlihat sedang menuju suatu tempat. “Ayah, kita akan pergi ke mana?”(Putri Alice). “Ke tempat yang indah, sayang. Kau pasti akan senang.”(Raja Eliot). Mereka terlihat melintasi hutan. Putri Alice terlihat takjub dengan pemandangan hutan itu. “Wah, hutannya besar!”(Putri Alice). Raja Eliot tersenyum melihat Putri Alice. “Ini belum seberapa, sebentar lagi kita akan sampai.”(Raja Eliot). Putri Alice menatap Raja Eliot dengan penuh rasa penarasan.

Mereka berdua akhirnya sampai di sebuah ladang bunga yang sangat luas. “Nah, kita sudah sampai.”(Raja Eliot). Mereka pun turun dari kuda. “Indah sekali, ayah!”(Putri Alice). “Ayo, kita lihat lebih dekat.”(Raja Eliot). “Ya!”(Putri Alice). Dengan penuh semangat, Putri Alice berlari-lari di tengah hamparan bunga-bunga yang indah. “Ayah! Ayo sini!”(Putri Alice). Raja Eliot tertawa melihat Putri Alice yang penuh semangat. “Iya...iya, ayah datang.”(Raja Eliot). Mereka terlihat bermain dengan riang. Setelah cukup lama bermain, mereka terlihat sedang duduk di bawah sebuah pohon sambil memandang hamparan bunga untuk beristirahat. “Kau tau...dulu, ayah sering mengajak ibu ke sini. Dia sangat senang sekali bermain-main dengan bunga-bunga itu, sama sepertimu.”(Raja Eliot). “Benarkah, ayah?”(Putri Alice). “Tentu saja.”(Raja Eliot). Putri Alice terdiam sejenak. “Ayah, ibu itu...dia seperti apa?”(Putri Alice). Angin yang berhembus membawa kenangan akan orang yang tersayang.

Artikel keren lainnya:

Belum ada tanggapan untuk "Manga Wrong Life Chapter 15 Before Everything and The Flower"

Posting Komentar