Sena dan Putri Alice terjebak dalam kabut tebal aneh. “Kalau menutup
mata, bagaimana bisa aku menemukanmu?”(Putri Alice). “Aku yang akan
mencarimu, jadi sebisa mungkin jangan buka matamu dan jangan
bergerak!”(Sena). “Memangnya apa yang terjadi jika aku tidak
melakukannya?”(Putri Alice). Tiba-tiba terdengar suara lengkingan yang
memekakkan telinga. “Suara apa itu?”(Putri Alice). “Itulah
alasannya.”(Sena). Putri Alice langsung tegang. Sena yang menyadari
situasi yang mulai memburuk, akhirnya bersiap untuk menarik pedangnya.
“Jika keadaannya begini...”(Sena:Dalam Hati). Sena perlahan mengingat
apa yang dulu pernah diajarkan Kira sewaktu mereka berlatih bersama
dulu. “Apapun situasinya, kau harus berpikir tenang. Cobalah untuk
menyatu dengan kondisi di sekitarmu.”(Kira). Sena yang teringat dengan
kata-kata Kira mulai terdiam dengan fokus penuh. “Hei! Sena!”(Putri
Alice). Putri Alice mulai panik karena tidak merasakan respon dari Sena.
“Hei! Jawab aku! Kau masih di sana, kan?”(Putri Alice). Sena yang
terfokus tiba-tiba merasakan sesuatu. “Ketemu!”(Sena:Dalam Hati). Dengan
cepat, Sena menarik pedangnya dan menebaskannya memutari tubuhnya.
Kabut tebal tersebut dalam sekejap langsung menghilang dan semua kembali
terlihat jelas. “Tenang saja, aku masih di sini.”(Sena). “Eh?”(Putri
Alice). “Kau sudah bisa membuka matamu sekarang.”(Sena). Putri Alice pun
perlahan membuka matanya. “Apa yang terjadi?”(Putri Alice). “Tenang
saja, tadi itu hanya ilusi alam. Aku sudah menetralkannya kok.”(Sena).
“Begitu ya...”(Putri Alice).

Tiba-tiba suara
lengkingan keras kembali terdengar. “Suara itu lagi.”(Putri Alice).
“Aku rasa, semakin kita masuk ke dalam hutan, semakin banyak monster
berbahaya yang mungkin akan kita temui.”(Sena). “Aku rasa juga
begitu.”(Putri Alice). “Sebaiknya kita jalan lagi. Tidak bagus kalau
kita berhenti terlalu lama.”(Sena). Sena dan Putri Alice pun melanjutkan
perjalanan. Sementara di tempat lain, Reo terlihat mendatangi sebuah
bar. Dengan raut wajah datar, Reo terlihat mencari seseorang. “Aku
mencari Melver Grewach.”(Reo). Semua orang yang berada dalam bar
langsung hening. “...”(Reo). Setelah cukup lama, terlihat ada seseorang
yang mendekati Reo dari belakang. “Apa urusanmu denganku?”(Melver). Reo
berbalik dan diam tak mengucap sepatah kata pun. “Jangan pernah
memanggilku jika tidak ada urusan apa-apa. Aku paling benci dengan orang
yang suka mencari orang lain karena hal yang sama sekali tidak penting,
hanya buang-buang waktu.”(Melven). Melven perlahan berjalan melewati
Reo yang sama sekali tidak bergeming. Melven berjalan menuju bartender
dan duduk di salah satu kursi. Tak beberapa lama, si bartender langsung
memberikan minuman yang biasa dipesan oleh Melven. “Mau sampai kapan kau
berdiri di situ?”(Melven). Reo masih diam tak bergeming, sedangkan para
pengunjung bar yang lain mulai memperhatikan Reo. “Kau benar-benar
menggangguku, bocah.”(Melven). “Aku...”(Reo). “Kalau kau memang tak ada
urusan di sini, sebaiknya cepat pulang.”(Melven).
Melven
mulai meminum minumannya hingga habis. Melven terlihat diam sejenak,
lalu tiba-tiba dia langsung memukul Reo dengan telak di bagian perut.
Para pengunjung bar yang lain, hanya bisa tertegun melihatnya. “Kau
benar-benar membuatku muak, bocah!”(Melven). Reo tetap diam tak
bergeming dengan darah yang mulai mengalir dari mulutnya. “Akan ku kirim
kau ke rumahmu!”(Melven). Reo akhirnya memengang tangan Melven yang
berusaha akan membantingnya. “Aku memang pengganggu...”(Reo). Dengan
tatapan tajam, Reo menatap dalam mata Melven. Melven langsung terkejut
dengan apa yang dilakukan Reo lalu melemparnya. “Apa mau mu?”(Melven).
Reo yang terluka berusaha bangkit dan tiba-tiba dia bersujud di hadapan
Melven. “Tolong, angkat aku jadi muridmu!”(Reo). Melven yang mendengar
itu terlihat menghela nafas panjang. “Sudah ku duga. Ternyata firasat
burukku semalam adalah kau, bocah.”(Melven). Reo mulai mengambil
langkah. Detik demi detik semakin mendekati waktu pertunjukkan.
Di hutan pulau, Sena dan Putri Alice terus melanjutkan perjalanan
menuju menara pulau di mana Krozen sudah menunggu. “Oh ya, kau kan
putri, setidaknya kau pasti tau tentang pulau ini, kan?”(Sena).
“Itu...aku sebenarnya hanya diberitau informasinya oleh para pengawal
kerajaan dulu. Menurut kabar, hutan pulau ini memang misterius. Karena
itu, saat kau masuk jauh ke dalamnya, kau tidak akan bisa
kembali.”(Putri Alice). “Begitu ya...”(Sena). “Tapi, itu hanya mitos
zaman dulu, jadi aku juga sudah tidak terlalu memikirkannya.”(Putri
Alice). Sena terlihat memikirkan sesuatu. “Sebenarnya sih, sejak aku
sampai di sini, aku selalu merasakan ada yang aneh.”(Sena).
“Maksudmu?”(Putri Alice). “Coba kau pikir, Krozen menyuruhku untuk
menuju ke menara pulau, tapi saat aku berusaha mencari dan menentukan
posisi menara itu dari atas pohon tinggi, aku sama sekali tidak melihat
apa-apa selain hamparan pohon yang sama, bukankah itu aneh? Selain itu,
rawa-rawa ini pohonnya berbeda dan cenderung lebih kecil dari
pohon-pohon yang ada di bagian luar pulau, tapi aku sama sekali tidak
melihat tempat ini dari atas pohon yang ku bicarakan tadi.”(Sena). Putri
Alice juga terlihat memikirkan hal itu. “Memang aneh juga...mungkin hal
itu lah yang membuat hutan pulau ini di jauhi orang-orang.”(Putri
Alice). “Aku rasa, kita akan mengahadapi banyak hal yang lebih menarik
jika kita masuk semakin dalam ke hutan ini.”(Sena).
Di
tempat lain, Reo terlihat terengah-engah. “Hanya segitu kemampuanmu?
Aku bahkan tidak yakin kau mampu menghadapi tantanganku.”(Melven). “Aku
masih bisa! Tolong jangan berhenti!”(Reo). “Baiklah kalau kau
memaksa...”(Melven). Melven dengan secepat kilat memukul kepala Reo
dengan keras hingga Reo terhempas cukup jauh. “Kalau kau memang ingin
mati, aku tidak bisa menolaknya.”(Melven). Reo yang semula tergeletak
kembali bangkit. “Sudah kubilang...aku tidak akan mati dengan hal macam
ini.”(Reo). Melven terlihat memperhatikan Reo. “Bocah ini ternyata punya
tekad yang kuat juga rupanya.”(Melven:Dalam Hati). Melven terlihat
mengencangkan sarung tangannya. “Kuberi kau satu kesempatan, kalau kau
bisa menghentikan pukulanku kali ini, aku akan bersedia melatihmu, tapi
jika kau gagal, kau pasti sudah tau akibatnya...jadi aku akan
bersungguh-sungguh kali ini.”(Melven). “Baiklah...akan aku terima itu
dengan senang hati...”(Reo). Melven memperhatikan Reo dan mulai
mengambil ancang-ancang. “Ucapkan selamat jalan pada
adikmu...bocah...”(Melven). Reo yang mendengar kata-kata lirih itu
langsung tercengang dan seketika Melven menghilang. “!!!”(Reo). Ternyata
Melven sudah berada di belakang Reo dan bersiap meluncurkan sebuah
pukulan penghabisan. Dalam sekejap, terjadi ledakan keras dari tempat
itu dan asap menutupi semuanya. Orang-orang yang mendengar itu langsung
berlari mendekat untuk melihat. “Apa yang terjadi?”(Azrea). Azrea yang
menyadari ledakan itu berlari menuju kerumunan. “Tidak...tidak mungkin
itu...”(Azrea:Dalam Hati). Azrea merangsak menuju depan kerumunan.
Terlihat, asap mulai menghilang. “Hei, kira-kira siapa itu?(Orang 1).
“Entahlah, tapi aku dengar tadi ada keributan dari dalam bar. Jadi
mungkin itu si berandal Melven.”(Orang 2).
Orang-orang
termasuk Azrea memperhatikan dengan seksama, dan saat asap benar-benar
telah menghilang, terlihat hal yang mengejutkan. Reo dengan tegak
menggenggam tangan Melven. Semua orang terlihat sangat terkejut, tak
terkecuali Azrea. “Ka...kakak...”(Azrea). Melven terlihat tersenyum.
“Tak kusangka, tekadmu ternyata jauh lebih besar daripada tubuhmu,
bocah.”(Melven). “Aku sudah berjanji pada Azrea...aku pasti akan
pulang...jadi tak akan kubiarkan diriku mati di sini sekarang.”(Reo).
“Begitu ya...”(Melven). Azrea mulai meneteskan air mata dan memanggil
Reo. “Kakak!”(Azrea). Reo dan Melven yang mendengar suara Azrea,
langsung menoleh. “Azrea...”(Reo). “Jadi, dia adikmu?”(Melven). Reo yang
melihat Azrea langsung tersenyum. “Aku pulang...Azrea...”(Reo).
Seketika, Reo jatuh tersungkur tak sadarkan diri. “!!!”(Azrea).
Perjuangan Sang Kakak dalam menjaga harga dirinya dan adiknya telah
tergambar jelas di mata semua orang.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Manga Wrong Life Chapter 13 Make A Move and I’m Home"
Posting Komentar