Putri Alice kembali melanjutkan ceritanya. Kembali ke kejadian enam
tahun lalu di kerajaan. Terlihat Lucifer sedang menghadap Raja Eliot.
“Yang mulia...saya minta izin anda untuk mengikuti turnamen
itu.”(Lucifer). Raja Eliot terdiam dan memperhatikan Lucifer.
“Mmmmm...maaf, tapi aku tidak bisa mengizinkanmu. Kau tau peraturannya,
kan? Anggota kerajaan tidak boleh mengikuti turnamen itu, lagipula kau
aku tugaskan sebagai pengawal Alice, jadi dengan berat hati aku
melarangmu.”(Raja Eliot). Lucifer terdiam untuk sejenak. “Baiklah Yang
Mulia...dan saya minta maaf karena lancang berkata seperti ini dan telah
mengganggu waktu anda.”(Lucifer). “Tidak apa-apa...apa masih ada yang
ingin kau tanyakan lagi?”(Raja Eliot). “Tidak ada Yang Mulia...kalau
begitu, saya permisi dulu.”(Lucifer). “Iya silakan.”(Raja Eliot). Di
atap menara kerajaan, terlihat Lucifer sedang termenung melihat
pemandangan di depannya. Tak berselang lama, terdengar suara dari pintu
di belakangnya. Lucifer pun berbalik. “Ini sudah malam putri...sebaiknya
anda lekas tidur.”(Lucifer). Ternyata orang yang datang adalah Putri
Alice yang waktu itu masih berumur sembilan tahun. “Tapi...aku ingin kau
membacakan dongeng untukku...”(Putri Alice). Lucifer hanya tersenyum
dan menghampiri Putri Alice. “Baiklah...tapi anda harus janji, setelah
ini anda harus lekas tidur.”(Lucifer). “Umm...”(Putri Alice).

Di
dalam kamarnya, Putri Alice terlihat serius mendengarkan cerita dari
Lucifer. “Baiklah...ceritanya sudah dulu, ya? Besok kan anda harus
bangun pagi.”(Lucifer). Putri Alice terlihat agak kecewa.
“Tapi...”(Putri Alice). “Saya harus segera pergi putri.”(Lucifer).
“Boleh aku tanya sesuatu?”(Putri Alice). “Apa yang ingin anda tanyakan,
putri?”(Lucifer). “Apa di hutan pulau, ada keajaiban seperti dalam
cerita?”(Putri Alice). “Mmmmm...mungkin saja.”(Lucifer). Putri Alice
terlihat memikirkan sesuatu. “Aku mau pergi ke sana.”(Putri Alice).
Lucifer yang mendengar itu hanya bisa tersenyum dan membelai kepala
Putri Alice. “Maaf putri...anda tidak diperbolehkan ke sana.”(Lucifer).
“Haaahhh...”(Putri Alice). Di tempat lain dalam kerajaan, terlihat
Melven yang tengah berjaga bersama seorang pengawal kerajaan. “Malam ini
kelihatannya sedikit berbeda.”(Pengawal). “Aku rasa karena ini hampir
mendekati waktunya.”(Melven). “Mungkin kau benar.”(Pengawal). Mereka
terlihat diam sejenak lalu angin mulai berhembus perlahan. “Kira-kira
kali ini bagaimana ya? Aku harap juga berjalan lancar seperti yang
sebelum-sebelumnya.”(Pengawal). “Kenapa? Tidak biasanya kau bicara
begini. Apa kau gugup?”(Melven). “Aku tidak gugup, kau tau kan, aku
sudah sejak tiga tahun lalu melakukannya, jadi aku tidak mungkin
gugup.”(Pengawal). “Lantas apa yang mengganggumu?”(Melven). Pengawal itu
terdiam sejenak. “Aku hanya merasa, tahun ini akan ada hal buruk yang
akan terjadi.”(Pengawal). “Ah, itu hanya firasatmu saja.”(Melven).
Dari
arah luar, terlihat seseorang menghampiri Melven dan Si Pengawal. “Apa
yang terjadi?”(Melven). Ternyata orang yang datang adalah Krozen.
“Kalian berdua dipanggil untuk pertemuan membahas acaranya.”(Krozen).
“Begitu ya.”(Melven). “Lalu kau sendiri?”(Pengawal). “Aku harus pergi
untuk mengirimkan laporannya ke kerajaan barat. Kalian cepatlah ke ruang
pertemuan, semua sudah menunggu di sana.”(Krozen). “Baiklah, ayo kita
segera ke sana.”(Pengawal). “Iya.”(Melven). Di luar kerajaan, terlihat
Krozen sedang menuntun kudanya dan nampaknya akan segera pergi. Di saat
tengah bersiap berangkat, Krozen melihat seseorang yang mengenakan jubah
cokelat yang kelihatannya baru saja keluar dari kerajaan. Krozen
memperhatikan gelagat orang itu dan berusaha memanggilnya. “Hei, kau!
Berhenti!”(Krozen). Orang tersebut sama sekali tidak bergeming dan terus
berjalan. “Hei!”(Krozen). Karena penasaran, Krozen berniat untuk
menghampirinya. “Hei! Tung...”(Krozen). Tiba-tiba angin berhembus
kencang. Krozen sejenak menutup matanya dan saat dia kembali melihat ke
arah orang tadi, orang itu sudah menghilang. Krozen tampak kebingungan.
“Apa tadi itu hanya imajinasiku saja?”(Krozen). Kerajaan yang damai
perlahan merencanakan sesuatu.
Di dalam ruang pertemuan, terlihat banyak anggota kerajaan tengah
berkumpul, termasuk Melven. “Tahun ini adalah waktunya. Kita harus
menyelesaikannya sesegera mungkin.”(Panglima 1). “Lalu, bagaimana dengan
kondisinya sekarang?”(Raja Eliot). “Untuk kondisi sendiri, kami rasa
semua sudah siap. Tinggal persiapan terakhir saja sampai semua berjalan
sesuai rencana.”(Panglima 2). “Baguslah kalau begitu. Melven, Aku harap
kau bisa menjalankan tugasmu sesuai rencana.”(Raja Eliot). “Baik Yang
Mulia, saya pasti akan melakukan yang terbaik.”(Melven). “Dan satu hal
lagi Yang Mulia, kerajaan dari wilayah timur dan selatan sudah
menyetujuinya, kita hanya tinggal menunggu keputusan dari kerajaan barat
saja.”(Panglima 1). “Bagaimana dari kerajaan utara?”(Raja Eliot).
“Kelihatannya, kita belum bisa melakukannya Yang Mulia. Secepatnya, kami
akan mengirim pasukan ke kerajaan utara.”(Panglima 1). “Baiklah, aku
serahkan hal itu padamu. Jika semua kerajaan sudah siap, secepatnya akan
kita lakukan pertemuan untuk merencakan prosesnya.”(Raja Eliot). “Baik!
Yang Mulia.”(Semua panglima). “Waktunya sudah semakin dekat. Hanya
tinggal menunggu saja.”(Raja Eliot). Di tepi danau, terlihat orang
berjubah cokelat sebelumnya sedang memandang ke arah pulau. Orang itu
terus berjalan dan akhirnya menemukan sebuah perahu. Dia menaiki perahu
itu dan mulai mengarungi danau menuju pulau.
Pagi
pun menjelang. Di kerajaan, terlihat Putri Alice sedang berlari. Raja
Eliot yang kebetulan lewat, menghentikan laju Putri Alice.
“Ayah...!”(Putri Alice). “Ada apa, sayang? Apa yang terjadi? Katakan
pada ayah.”(Raja Eliot). Dengan terengah-engah, Putri Alice berusaha
menjawab. “Luci...Tuan Luci tidak ada...”(Putri Alice). “Benarkah?”(Raja
Eliot). “Ummm...aku ingin bermain dengannya...”(Putri Alice). Raja
Eliot yang mengetaui itu mulai terlihat bingung. “Baiklah, kau tenang
saja ya, sayang. Ayah akan coba mencarinya. Bagaimana kalau kau ikut
ayah sebentar?”(Raja Eliot). Putri Alice telihat mulai tenang. “Baik
ayah...”(Putri Alice). Di pintu masuk, terlihat Raja Eliot sedang
mengajak Putri Alice. “Yang Mulia.”(Penjaga). “Aku mau pergi sebentar
dengan putri ku, tolong jika ada orang yang mencariku, bilang saja aku
sedang ada urusan penting dan tidak bisa diganggu.”(Raja Eliot). “Tapi
Yang Mulia, bukankah sebaiknya anda didampingi?”(Penjaga). “Tidak
apa-apa, aku hanya ingin mengajak putri ku jalan-jalan sebentar. Aku
pasti akan kembali secepatnya.”(Raja Eliot). “Baiklah Yang Mulia,
silakan lewat.”(Pengawal). “Terima kasih, ya.””(Raja Eliot). Dengan
menaiki kuda, Raja Eliot dan Putri Alice terlihat sedang menuju suatu
tempat. “Ayah, kita akan pergi ke mana?”(Putri Alice). “Ke tempat yang
indah, sayang. Kau pasti akan senang.”(Raja Eliot). Mereka terlihat
melintasi hutan. Putri Alice terlihat takjub dengan pemandangan hutan
itu. “Wah, hutannya besar!”(Putri Alice). Raja Eliot tersenyum melihat
Putri Alice. “Ini belum seberapa, sebentar lagi kita akan sampai.”(Raja
Eliot). Putri Alice menatap Raja Eliot dengan penuh rasa penarasan.
Mereka
berdua akhirnya sampai di sebuah ladang bunga yang sangat luas. “Nah,
kita sudah sampai.”(Raja Eliot). Mereka pun turun dari kuda. “Indah
sekali, ayah!”(Putri Alice). “Ayo, kita lihat lebih dekat.”(Raja Eliot).
“Ya!”(Putri Alice). Dengan penuh semangat, Putri Alice berlari-lari di
tengah hamparan bunga-bunga yang indah. “Ayah! Ayo sini!”(Putri Alice).
Raja Eliot tertawa melihat Putri Alice yang penuh semangat. “Iya...iya,
ayah datang.”(Raja Eliot). Mereka terlihat bermain dengan riang. Setelah
cukup lama bermain, mereka terlihat sedang duduk di bawah sebuah pohon
sambil memandang hamparan bunga untuk beristirahat. “Kau tau...dulu,
ayah sering mengajak ibu ke sini. Dia sangat senang sekali bermain-main
dengan bunga-bunga itu, sama sepertimu.”(Raja Eliot). “Benarkah,
ayah?”(Putri Alice). “Tentu saja.”(Raja Eliot). Putri Alice terdiam
sejenak. “Ayah, ibu itu...dia seperti apa?”(Putri Alice). Angin yang
berhembus membawa kenangan akan orang yang tersayang.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Manga Wrong Life Chapter 15 Before Everything and The Flower"
Posting Komentar