Di kelompok empat, terlihat Redolf sedang melindungi Putri Alice dari
Stevan. “Sebenarnya apa tujuanmu?”(Redolf). “Tidak ada...aku hanya
bosan karena selama setahun ini sama sekali tidak ada yang menarik, jadi
aku putuskan untuk mengikuti event ini saja.”(Stevan). “Dan membunuh
para peserta satu per satu secara diam-diam?”(Redolf). Putri Alice yang
mendengarnya sontak terkejut. “Membunuh? Apa maksud semua ini?”(Putri
Alice). Stevan terdiam sejenak, lalu tertawa keras. “Jadi...sudah
ketauan, ya? Padahal sebisa mungkin aku tidak ingin meninggalkan
petunjuk apapun. Yah, mau bagaimana lagi, toh cepat atau lambat akan
ketauan juga.”(Stevan). Redolf terlihat memperhatikan Stevan. “Ternyata
memang benar dia...”(Redolf:Dalam Hati). “Lantas...”(Stevan). Tiba-tiba,
seringai wajah Stevan berubah drastis. “Apa kau punya masalah dengan
hal itu?”(Stevan). Redolf dan Putri Alice terlihat merasakan tekanan
yang tak kasat mata seakan menusuk mereka. “Tekanan macam apa
ini?”(Redolf:Dalam Hati). “Perasaan ini...sepertinya aku pernah
merasakan ini sebelumnya...”(Putri Alice:Dalam Hati).
Stevan
terlihat mendekati Redolf dan Putri Alice yang seakan tidak bisa
bergerak. “Kalau kau ingin tau...maka hanya ada satu hal yang bisa aku
katakan padamu...”(Stevan). Raut wajah menyeramkan terpancar dari Stevan
yang semakin membuat Redolf dan Putri Alice tegang. “Di event
ini...tidak pernah ada aturan untuk tidak boleh membunuh sesama
peserta...kau tentu tau hal itu, kan?”(Stevan). Putri Alice seketika
teringat di saat Fiona membunuh salah satu peserta untuk menolongnya.
“Selama itu masih dalam babak, maka membunuh itu diperbolehkan...itulah
hak istimewa yang tidak pernah tertulis ataupun tersiar, dan hanya para
peserta yang berpengalaman di dunia hitam saja yang tau soal
ini.”(Stevan). Putri Alice seakan tidak mampu berkata apa-apa dengan apa
yang baru saja didengarnya. “Itu artinya...event ini...”(Putri
Alice:Dalam Hati). “Ini semua hanyalah rekayasa semata...”(Stevan).
Redolf terlihat emosi. “Apa itu artinya, kau juga yang telah melakukan
kejadian sewaktu di pelayaran itu?”(Redolf). Stevan terlihat berbalik
dan akan pergi. “Mmmmm...entahlah, siapa yang tau?”(Stevan).

Stevan
terlihat pergi meninggalkan Redolf dan Putri Alice. “Anda tidak
apa-apa?”(Redolf). “Ya...aku baik-baik saja...”(Putri Alice). Putri
Alice terlihat berusaha bangkit. “Kalau anda masih belum kuat, sebaiknya
anda istirahat saja dulu.”(Redolf). “Tapi, jika aku tidak segera
mendapatkan monster-monster itu, aku akan...”(Putri Alice). Tiba-tiba,
Putri Alice terjatuh, namun berhasil ditangkap oleh Redolf. “Lihat,
tubuh anda belum sepenuhnya pulih...”(Redolf). “Tapi...aku...”(Putri
Alice). Redolf terlihat memperhatikan Putri Alice yang berusaha keras
untuk bangkit. “Kalau begitu, saya akan menemani anda sampai anda
benar-benar pulih.”(Redolf). “Tidak perlu, itu hanya akan membuat anda
tidak bisa berburu...”(Putri Alice). “Tenang saja, kalau masalah itu,
bisa saya pikirkan nanti, lagipula saya juga tidak terlalu pandai dalam
hal berburu.”(Redolf). Putri Alice terlihat memperhatikan Redolf. “Yang
penting sekarang adalah bagaimana caranya anda untuk segera pulih, jadi
untuk sementara, anda tidak perlu memikirkan hal yang lainnya.”(Redolf).
Putri Alice terdiam sejenak. “Iya...terima kasih banyak...”(Putri
Alice). Matahari mulai terbenam, dan hari terlihat mulai gelap. Di
kelompok tiga, terlihat Sena sedang beristirahat di bawah pohon di
pinggir pantai sambil menyalakan api unggun. “Sepertinya, untuk hari ini
sudah cukup, selanjutnya beristirahat sambil memikirkan rencana untuk
besok.”(Sena). Senja di hari pertama. Perburuan selama tujuh hari di
tanah tak bertuan.
Di suatu tempat, terlihat Krozen sedang berjalan-jalan.
“Kelihatanya...ini akan jadi tantangan yang berat bagi mereka
berdua...tapi...”(Krozen:Dalam Hati). Krozen terlihat berhenti dan
mengamati sekelilingnya. “Tempat ini...benar-benar tidak pernah berubah,
bahkan sejak kejadian waktu itu...”(Krozen:Dalam Hati). Saat sedang
memperhatikan sekeliling, terlihat seseorang datang dari kejauhan.
“Siapa itu?”(Krozen:Dalam Hati). Orang itu terlihat mendekati Krozen.
“Orang itu...sepertinya aku kenal...”(Krozen:Dalam Hati). “Lama tidak
bertemu...Krozen...”(Unknow). Krozen yang mengatui orang itu langsung
terkejut. “Ka...kau...”(Krozen). Ternyata orang yang datang adalah
Melven. “Kau benar-benar tidak berubah sama sekali ternyata.”(Melven).
“Pa...Panglima Melven...”(Krozen). Melven terlihat berdiri di samping
Krozen. “Bukannya kau juga seorang panglima?”(Melven). “Meskipun begitu,
tetap saja kau jauh lebih senior dan berpengalaman daripada aku, jadi
rasanya tidak enak saja...”(Krozen). Melven terlihat tersenyum. “Kau
memang masih lugu seperti dulu...tapi, aku sekarang sudah tidak pantas
lagi menyandang gelar itu...”(Melven). Krozen terlihat menunduk. “Begitu
ya...aku juga...merasakan hal yang sama...”(Krozen).
Di
puncak kuil, terlihat Ketua Panitia sedang duduk sambil mengamati
pemandangan bulan purnama yang sangat terang. “Bulan malam ini memang
sangat indah...”(Ketua Panitia). Terlihat Ketua Panitia mengeluarkan
sesuatu. “Kelihatannya semua berjalan baik...”(Unknow). Terlihat
seseorang berdiri di belakang Ketua Panitia. “Ternyata anda datang ke
tempat ini.”(Ketua Panitia). Ternyata orang yang datang adalah Raja
Lucifer. “Dengan momen yang semakin dekat ini, tidak mungkin aku bisa
duduk santai di singgasanaku yang membosankan itu.”(Lucifer). “Tapi,
anda tidak perlu khawatir, akan kami pastikan semuanya tidak meleset
dari rencana awal.”(Ketua Panitia). Raja Lucifer terlihat tersenyum
kegirangan. “Aku benar-benar tidak sabar...semakin cepat, maka akan
semakin bagus.”(Lucifer). Lucifer terlihat memperhatikan benda yang
digenggam oleh Ketua Panitia. “Ternyata, kau masih membawa benda itu
rupanya?”(Lucifer). “Tentu saja, benda ini...satu-satu benda yang akan
membuat rencana kita berjalan tanpa halangan.”(Ketua Panitia). “Boleh
juga...ternyata memang tidak sia-sia aku telah merekrutmu selama ini.
Kau memanglah orang yang sangat tepat dalam hal ini.”(Lucifer).
“Ini...masih permulaan...Yang Mulia...”(Ketua Panitia).
Kembali
ke tempat Krozen. Terlihat Krozen dan Melven sedang duduk di sebuah
kursi taman. “Jadi...hal yang selama ini aku dengar memang
benar?”(Melven). “Ya, dia masih hidup...bahkan, sekarang dia telah
menjadi lebih kuat dari yang kita kira.”(Krozen). “Begitu
ya...syukurlah...”(Melven). “Lalu, tentang pemuda yang kau latih itu,
tidak kusangka kau mau terlibat dalam hal ini setelah kejadian waktu
itu?”(Krozen). “Pada awalnya, aku memang tidak mau melakukannya, namun
dia sangat keras kepala. Dan yang membuatku kagum dari anak itu...adalah
semangatnya yang tidak mengenal batas. Dia benar-benar...mengingatkanku
pada diriku yang dulu...”(Melven). Krozen sejenak teringat dengan Sena.
“Anak yang ku temui juga...dia mungkin sama seperti anak yang kau
latih.”(Krozen). Melven terlihat memperhatikan bulan purnama.
“Rasanya...seperti takdir saja. Siapa sangka mereka ada di dunia
ini.”(Melven). “Tapi...merekalah yang akan mengubah masa depan dunia
ini...aku percaya itu...”(Krozen). Sang Veteran yang perlahan
menghilang. Di balik sinar bulan, para petinggi telah bertindak.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Gloomy Aura and Full Moon"
Posting Komentar