Tujuh hari telah genap berlalu. Babak ketiga telah mencapai
titik akhir. Di kelompok satu, terlihat Reo sedang berdiri di atas salah
satu menara sambil memandangi pemandangan kota di sekelilingnya. “Hari
ke tujuh. Aku rasa penentuannya akan segera dimulai.”(Reo:Dalam Hati).
Terlihat beberapa peserta di kelompok satu keluar dari bangunan-bangunan
yang ada. “Para monster sudah jauh berkurang, bahkan menghilang sejak
tadi malam...jadi aku rasa memang sudah tidak ada lagi yang bisa
dilakukan di sini.”(Reo:Dalam Hati). Terlihat salah satu peserta
memanggil Reo dari kejauhan. “Hoi! Kita akan segera kembali, kau ikut
tidak?”(Peserta 1). “Ya! Aku akan segera ke sana.”(Reo). Reo pun turun
dan mendekati orang itu. “Kelihatannya dari kelompok ini, kaulah yang
akan menang...”(Peserta 1). “Kenapa begitu?”(Reo). “Hampir setengah dari
peserta yang ada di kelompok kita sudah tewas...dan kau telah berulang
kali menolong peserta lain yang tersisa...ya, pasti sudah jelas,
kan?”(Peserta 1). “Tidak juga...itu hanya kebetulan saja...”(Reo).
Reo
sejenak teringat dengan hari-hari sebelumnya saat dia menyelamatkan
para peserta yang tersisa. “Hei, kau tidak apa-apa?”(Peserta 1). “Eh,
ti...tidak, tidak ada apa-apa.”(Reo). Orang itu terlihat memperhatikan
Reo. “Tapi...jika benar kau yang menang dari kelompok ini...itu sudah
membuat kami sangat bersyukur...”(Peserta 1). “Apa maksudnya?”(Reo).
“Kau itu...memang orang yang kuat, kami semua tau itu. Kau telah
menyelamatkan kami dan selalu berbagi makanan dengan kami semua. Kau
juga telah membantu kami mendapatkan buruan. Itu bukanlah sesuatu yang
bisa dibalas dengan mudah...”(Peserta 1). “Begitu ya...”(Reo). Reo dan
orang itu sampai di tempat berkumpul. Terlihat para peserta yang lain di
kelompok satu juga sudah berkumpul. “Akhirnya kalian datang.”(Peserta
2). “Syukurlah...kami kira kau akan ketinggalan.”(Peserta 3). “Aku baru
saja melihat sekeliling, dan kelihatannya sudah tidak ada lagi monster
yang tersisa di sini.”(Reo). “Ya...itu semua karena kerja kerasmu,
Reo.”(Peserta 4). Reo terlihat bingung. “Aku?”(Reo). “Itu benar, kau
memang hebat.”(Peserta 2). “Kau luar biasa, kawan!”(Peserta 6). Reo
terlihat agak malu. “Ah, tidak juga...”(Reo). Orang tadi menepuk pundak
Reo. “Selanjutnya...kami semua percayakan padamu...”(Peserta 1). “Kami
berharap, semoga kau bisa memenangkan event ini.”(Peserta 3).
“Berjuanglah! Reo...”(Peserta 5). Reo pun akhirnya terlihat bersemangat.
“Ya...terima kasih banyak, aku akan berusaha sekuat mungkin.”(Reo).

Di
kelompok tiga, terlihat Sena baru saja bangun dan mencuci muka di
sungai. “Hati ke tujuh...”(Sena:Dalam Hati). Sena mengusap wajahnya dan
melihat ke langit. “Rasanya perjuangan ini sangat cepat
berlalu...”(Sena:Dalam Hati). Terlihat seseorang melemparkan buah ke
depan Sena. “Eh?”(Sena). Ternyata orang yang datang adalah Alex. “Mau
sampai kapan kau akan melamun?”(Alex). Sena mulai agak kesal. “Huh,
sejak kapan kau bersikap begitu?”(Sena). “Aku ini bisa membaca hati tau.
Jadi, aku tau apa yang kau pikirkan.”(Alex). Sena pun bangkit dan
memakan buah yang diberikan Alex. “Sebal juga rasanya...”(Alex).
“Kenapa?”(Sena). Alex terdiam sejenak. “Ya...karena aku kalah
darimu.”(Alex). Sena terlihat menanggapi Alex dengan santai. “Oh,
masalah itu ya...”(Sena). Alex pun menjadi kesal. “Woi! Jangan terlalu
bangga karena sudah mengalahkanku tau!”(Alex). “Ya...ya...”(Sena). Alex
terlihat memikirkan sesuatu. “Jangan kalah...”(Alex). “Apa?”(Sena).
“Pokoknya kau tidak boleh kalah! Kau sekarang ini juga membawa namaku,
tau! Jadi, kau tidak boleh kalah!”(Alex). Sena yang mendengarnya
terlihat tersenyum. “Tenang saja...serahkan padaku!”(Sena). Hari demi
hari telah berlalu. Melaju ke tantangan yang lebih besar di depan sana.
Di depan kuil. Terlihat Ketua Panitia sedang berdiri menunggu
sesuatu. “Baiklah...ini sudah waktunya...”(Ketua Panitia). Terlihat satu
per satu cahaya muncul di hadapan Ketua Panitia. Saat cahaya-cahaya
tersebut pudar, terlihat para peserta yang tersisa telah berdiri di
sana. “Selamat! Karena kalianlah para peserta yang telah hidup hingga
akhir babak ini.”(Ketua Panitia). Terlihat para peserta memperhatikan
satu sama lain. Sena terlihat mencari-cari Reo dan yang lainnya. “Apa
mereka berhasil, ya? Aku rasa tidak mungkin mereka akan mati semudah
itu.”(Sena:Dalam Hati). Terlihat seseorang menepuk bahu Sena dari
belakang. Sena yang terkejut seketika langsung berbalik.
“Haaahhhh...!”(Sena). Ternyata orang yang menepuk pundak Sena adalah
Putri Alice. “Kelihatannya kau sehat-sehat saja, Sena.”(Putri Alice).
Sena yang melihat Putri Alice langsung terlihat senang, dan spontan
memegang pundak Putri Alice. “Kau tidak apa-apa, kan? Tidak ada yang
luka, kan?”(Sena). Putri Alice pun menjadi malu karena ulah Sena. “Sudah
hentikan! Semuanya melihat kita tau.”(Putri Alice). Para peserta yang
mengetaui bahwa Putri Alice berhasil terlihat senang dan mendekati Putri
Alice. “Syukurlah...”(Peserta 1). “Selamat, Tuan Putri!”(Peserta 2).
“Anda benar-benar hebat!”(Peserta 3).
Putri Alice pun
menjadi semakin malu. “I...iya...terima kasih semuanya. Ini semua juga
karena dukungan kalian...”(Putri Alice). Terlihat ada orang yang
mendekati Sena dan Putri Alice. “Wah...wah...kami ketinggalan,
ya?”(Unknow). Sena pun melihat ke arah asal suara yang tak lain adalah
Reo yang datang bersama Naria. “Halo!”(Naria). Sena terlihat sangat
senang melihat Reo dan Naria. “Kalian tidak ketinggalan, kok. Kami baru
saja mulai.”(Sena). Putri Alice dan Naria yang bertatap muka, akhirnya
tidak bisa menahan rasa haru dan bahagia mereka melihat satu sama lain.
“Syukurlah kau selamat...aku sampai tidak habis pikir jika sesuatu
terjadi pada kalian...”(Putri Alice). “Ya...aku juga...senang rasanya
bisa berkumpul kembali...”(Naria). “Hei...hei...bisakah kalian ini agak
tenang sedikit?”(Reo). Sena terlihat mendekati Reo. “Selamat,
ya...”(Sena). Reo pun tersenyum. “Ya...kau juga...”(Reo). Sena dan Reo
pun beradu kepalan tangan lalu tersenyum bersama. Ketua Panitia terlihat
mendekati para peserta. “Dari peserta keseluruhan yang berjumlah enam
puluh empat orang, hanya kalianlah yang masih bertahan hidup...dan
sekarang jumlah peserta yang masih hidup adalah dua puluh lima
orang.”(Ketua Panitia). Terlihat salah satu peserta mengangkat
tangannya. “Lalu...bagaimana dengan peserta yang telah tewas?”(Peserta
5).
Ketua Panitia terlihat terdiam sejenak. “Dengan
menyesal...kami tidak bisa berbuat apa-apa. Ini sudah jadi aturan dari
babak ini, namun akan kami usahakan untuk memakamkan mereka dengan
layak.”(Ketua Panitia). Terlihat beberapa peserta menahan emosi kesal
yang bercampur sedih. “Dari awal, itulah resiko yang harus dihadapi oleh
setiap peserta. Ini bukanlah sebuah ajang yang main-main. Jika
melarikan diri, kau tidak lebih dari pecundang, namun jika terus
berjuang, kalian adalah pejuang. Jadi, kalian semua pasti tau apa yang
mereka rasakan...”(Ketua Panitia). Para peserta terlihat terpukul
mendengarnya. “Dan hanya akan ada empat orang yang akan lolos ke babak
akhir, seperti yang telah kami umumkan sebelumnya...”(Ketua Panitia).
Para peserta yang semula terlihat sedih, menjadi terlihat serius. “Akan
kami umumkan nama dari ke empat peserta yang akan maju ke babak
akhir...”(Ketua Panitia). Sena dan yang lainnya terlihat tegang.
“Kira-kira...siapa yang akan maju?”(Sena:Dalam Hati). “Yakin atau
tidak...inilah penentuannya.”(Reo:Dalam Hati). “Walaupun telah berjuang
keras...”(Naria:Dalam Hati). “Hanya akan ada empat nama yang akan
muncul...”(Putri Alice:Dalam Hati). Sebuah nyawa yang dikorbankan demi
harga diri. Dari sekian banyak nama, hanya akan ada empat yang akan
berdiri di puncak yang sebenarnya.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "The Seventh Day and For Pride"
Posting Komentar