Terlihat sesuatu melesat cepat di sebuah jalan yang agar besar.
“Hhhhaaaaa!!”(Sena). Sena berteriak cukup keras. Ternyata Sena, Reo, dan
Ruka sedang menaiki sebuah gerobak yang ditarik oleh sesosok hewan
aneh. Reo benar-benar terlihat kegirangan. “Hahaha! Ini baru nama
hidup!”(Reo). “Ini bukan lagi hidup tau! Ini namanya cari mati!”(Sena).
“Benarkah? Tapi ini adalah hal yang menyenangkan bagiku.”(Reo).
Kendaraan Ruka terus melesat jauh menyusuri jalan di depannya. “Dengan
naik ini, kita tidak akan mungkin memakan waktu banyak.”(Ruka). “Tapi,
ini terlalu cepat paman! Kalau di depan ada sesuatu bagaimana?”(Sena).
“Tenang saja...”(Reo). Reo terlihat santai. “Paman Ruka adalah
Pengendara Lenzra terbaik di desaku. Dia telah banyak mengalahkan
pengendara lain, lo.”(Reo). Sena semakin bertambah panik. “Karena
itulah, aku jadi tambah panik, tau!”(Sena). Ruka terlihat tertawa saat
mengetaui ekspresi Sena. “Kalian ini memang benar-benar menarik.”(Ruka).
Terlihat matahari mulai terbenam. “Baik, akan ku tambah kecepatannya.
Kalian berdua pegangan yang kuat!”(Ruka). “Oke!/Tung...”(Reo/Sena). Ruka
memacu kendaraannya lebih cepat. Reo terlihat berteriak kegirangan,
sedangkan Sena hanya bisa berteriak ketakutan.
Setelah
agak lama, Ruka, Sena, dan Reo akhirnya sampai di gerbang desa. “Oke!
Kita sudah sampai.”(Ruka). Reo terlihat turun dengan senang.
“Haaahhhh...senang rasanya bisa pulang...”(Reo). Sena yang masing shock,
terlihat turun dengan lemas dan agak terhuyung-huyung. “Syukurlah kita
selamat...”(Sena). Reo terlihat mendekati Ruka. “Terima kasih, paman.
Sekarang kami permisi pulang dulu.”(Reo). “Ya, tolong sampaikan salamku
pada adikmu juga, ya.”(Ruka). “Baik.”(Reo). Reo terlihat merangkul Sena.
“Bagaimana? Sudah baikkan?”(Reo). “Ya...lumayan...”(Sena). “Oke, ayo
kita pulang!”(Reo). “Ya...”(Sena). Sena dan Reo pun berjalan melewati
jalan setapak menuju rumah Reo. “Kangen juga rasanya. Sudah lebih dari
satu bulan aku tidak pulang. Kira-kira bagaimana kabar Azrea, ya?”(Reo).
“Dia itu anak yang kuat. Ya, kelihatannya dia akan baik-baik
saja.”(Sena). “Ya, aku juga berharap begitu.”(Reo). Sena dan Reo pun
akhirnya sampai di depan rumah Reo. Terlihat Reo mengetuk pintu. “Iya!
Tunggu sebentar.”(Azrea). “Kalau dari suaranya, kelihatannya dia
benar-benar sehat.”(Sena). Terlihat Azrea membuka pintu. “Yo, kakak
pulang.”(Reo). “Hei.”(Sena). Azrea yang melihat Reo dan Sena terlihat
terkejut. “Ka...kakak? Dan...Se...Sena?”(Azrea). “Iya, ini kami. Masa
kau sudah lu...”(Reo).

Dengan spontan, Azrea memeluk Reo
sambil menangis. “Syukurlah...syukurlah. Aku kira sesuatu yang buruk
telah terjadi pada kakak. Aku...aku...”(Azrea). Reo terlihat tersenyum.
“Maaf ya...kakak jadi membuatmu cemas.”(Reo). “Tidak...tidak
apa-apa...kakak kembali dengan selamat saja, itu sudah membuatku sangat
senang.”(Azrea). “Ano...”(Sena). “Oh ya, sebaiknya kita semua masuk
dulu. Tidak bagus kalau malam begini bicara di luar.”(Reo). Di dalam
rumah, terlihat Sena dan Reo sedang duduk santai di kursi ruang tamu.
“Benar-benar tidak berubah, ya?”(Sena). Azrea terlihat datang membawakan
makanan. “Ini makanlah, aku tau kakak dan Sena pasti sedang lapar,
kan?”(Azrea). “Wah...terima kasih banyak, ya.”(Sena). “Ayo kita makan.
Selagi masih hangat.”(Reo). “Ya.”(Azrea). Sena, Reo, dan Azrea terlihat
duduk bersama sambil memakan hidangan buatan Azrea dan saling
bercengkramah melepas rindu. Senyuman dan tangisan itulah penyemangatnya
selama ini. Sejenak melepas beban untuk kembali ke tempatnya berada.
Malam telah larut, terlihat Reo sedang berjalan ke bagian belakang
rumah. Reo terlihat naik ke atap gudang rumahnya. “Memang hanya tempat
ini yang bisa membuatku tenang.”(Reo). Tak lama berselang, terlihat
Azrea datang menghampiri Reo. “Ternyata benar, kakak pasti belum
tidur.”(Azrea). “Azrea...”(Reo). Azrea terlihat duduk di samping Reo.
“Kakak pasti sedang memikirkan apa yang akan terjadi di babak terakhir,
kan?”(Azrea). “Ya...seperti itulah. Aku juga sama sekali tidak menyangka
kalau aku bisa sampai babak ini. Itu...benar-benar sesuatu yang
mengejutkan bagiku.”(Reo). “Tapi, aku senang...”(Azrea). “Eh?”(Reo).
“Kakak sudah baikkan dengan Sena, dan bahkan sampai berjuang bersama
hingga saat ini. Akulah yang justru sangat bersyukur karena
itu.”(Azrea). Reo teringat kembali dengan perjuangannya bersama Sena
sewaktu di babak-babak sebelumnya. “Dari awal...aku memang sangat kagum
padanya. Dia itu orang yang hebat. Dia bahkan rela mempertaruhkan
nyawanya demi menolong orang lain. Dan itulah yang membuatku sangat
senang.”(Reo). Azrea sejenak teringat dengan pertengkaran antara Reo dan
Sena dulu. “Walaupun, Sena punya kegelapan itu? Apa kakak juga akan
tetap mempercayainya?”(Azrea). “Kalau itu...”(Reo).
Terlihat
Sena sedang berjalan-jalan, dan tidak sengaja lewat di samping gudang.
“Aku memang tau dia punya kegelapan itu...”(Reo). Sena yang mendengarnya
langsung berhenti. Sena terlihat memperhatikan asal suara Reo dan
Azrea, dan langsung terlihat murung. “Meskipun begitu...Sena tetaplah
Sena, bukan orang lain, dan dialah orang yang aku percaya, bukan
kegelapan itu...”(Reo). Sena terlihat terkejut mendengarnya. “Karena
itu...aku ingin terus dan terus berjuang bersamanya...selalu...”(Reo).
Sena akhirnya terlihat tersenyum lega. “Aku juga percaya...kakak dan
Sena pasti bisa, karena kalian itu kuat. Kalian pasti bisa memenangkan
event ini.”(Azrea). “Ya...aku juga berharap begitu...”(Reo). Azrea
terlihat akan beranjak pergi. “Sebaiknya aku pergi tidur. Besok pagi,
aku kan harus menyiapkan sarapan untuk semuanya. Kakak juga harus bangun
pagi, kan?”(Azrea). “Ya, nanti aku akan segera tidur.”(Reo). Malam yang
dingin perlahan mulai berganti dengan cahaya fajar dari ufuk timur.
Terlihat Azrea sedang menyiapkan sarapan di dapur. Azrea terlihat
menyicipi sup buatannya. “Bagus, rasanya semuanya sudah pas. Sekarang
tinggal...”(Azrea).
Saat Azrea hendak mengambil bumbu,
tiba-tiba Azrea seperti merasakan rasa sakit yang luar biasa di lengan
kirinya. Azrea pun jatuh terduduk sambil menahan rasa sakit itu. “Gawat!
Kenapa di saat begini...”(Azrea:Dalam Hati). Terlihat Sena yang baru
saja bangun sedang mampir ke dapur. “Azrea!”(Sena). Sena yang melihat
Azrea terjatuh langsung mendekat. “Kau kenapa?”(Sena).
“Ti...tidak...tidak apa-apa, hanya agak keseleo saja, bukan masalah
besar kok...”(Azrea). Reo yang mendengar teriakan Sena tadi juga datang
ke dapur. “Apa yang terjadi, Azrea?”(Reo). “Dia tadi bilang hanya
keseleo.”(Sena). “Ya...itu benar...karena mungkin kemarin pagi aku
terlalu banyak bekerja, akhirnya tanganku jadi begini.”(Azrea). Azrea
pun perlahan bangun. “Kelihatannya sudah tidak sakit lagi.”(Azrea). “Apa
kau yakin?”(Sena). “Kalau kau kelelahan, sebaiknya kau istirahat saja
dulu. Biar kakak dan Sena yang akan mengurus sisanya.”(Reo). “Tidak
apa-apa...aku masih kuat kok.”(Azrea). “Begitu ya...”(Sena). Reo yang
memperhatikan Azrea terlihat curiga dengan tingkah Azrea yang tidak
biasa. Azrea pun meneruskan masakannya. “Kalau begitu, aku akan ke
belakang dulu mencari air.”(Sena). “Ya, tolong ya...”(Reo). Sena pun
pergi meninggalkan Reo dan Azrea. “Nah, Azrea...”(Reo). Azrea terlihat
tegang. “Ada apa...kak?”(Azrea). Reo terlihat memperhatikan Azrea. “Apa
yang tadi itu...benar-benar hanya sakit biasa?”(Reo). Azrea yang
mendengarnya, langsung terdiam. Sesuatu yang tersembunyi. Sebuah rasa
sakit yang tak bisa dibohongi.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "The One I Believe"
Posting Komentar