Di kapal. Pelayaran balik terlihat cukup cerah. Para peserta terlihat
sedang bersantai. Terlihat Sena sedang berdiri di pinggir dek sambil
memandangi pemandangan. “Masih kepikiran, ya?”(Reo). Terlihat Reo datang
mendekati Sena. “Iya...sedikit...”(Sena). “Hhmmm...”(Reo). Reo terlihat
memperhatikan Sena sambil berdiri di sampingnya. “Kau tidak perlu
cemas. Kondisinya sudah jauh membaik. Kelihatannya dia sudah tidak
terlalu memikirkannya.”(Reo). “Meski begitu, bukan berarti dia akan
melupakannya, kan? Aku yang tidak mengalaminya saja sangat merasakannya,
apalagi dia.”(Sena). Reo terdiam sejenak. “Ya...sebal juga sih, kalau
harus bertemu dengan lawan seperti dia, tapi mau bagaimana
lagi...”(Reo). Sena teringat kembali, saat sebelumnya Putri Alice
menceritakan apa yang terjadi. “Apa?!”(Sena). “Itu tidak
mungkin.”(Naria). Putri Alice terdiam sejenak. “Dia benar-benar
mengerikan, dan memang sejak awal, dia sudah merencanakan ini semua. Dia
tidak membunuhku karena dia bilang bahwa aku sudah tidak berarti
lagi.”(Putri Alice). “Tapi, tetap saja ini keterlaluan! Membunuh semua
peserta dengan cara yang sadis. Itu sudah bukan lagi tindakan yang
kecil.”(Sena). “Lalu, kenapa Ketua Panitia sama sekali tidak
mempermasalahkan ini? Aku memang mengerti kalau kematian peserta dalam
babak ini bukan tanggung jawab panitia, karena memang itu sudah
resikonya, tapi jika mati karena dibunuh oleh peserta lain, apa tidak
ada peraturannya sama sekali?”(Reo).
Putri Alice teringat
saat Stevan membunuh satu per satu peserta di depan matanya, bahkan
Redolf. “Dia bilang...hal itu memang tidak pernah tertulis, namun itu
ada. Kita boleh membunuh sesama peserta sesuka hati, dan hal ini hanya
diketaui oleh mereka yang sudah berhubungan dengan dunia gelap.”(Putri
Alice). Sena, Reo, dan Naria terlihat seakaan tidak percaya. “Kenapa
bisa? Kenapa hal sekejam ini ada?”(Naria). “Kalau begitu, itu artinya
sejak awal event ini memang merupakan ajang saling membunuh?”(Reo).
“Fiona, saat aku bertemu dia di babak labirin, dia juga membunuh salah
satu peserta yang ingin membunuhku.”(Putri Alice). Sena sejenak teringat
sesuatu. “Kalau begitu...apa mungkin ini artinya...”(Sena:Dalam Hati).
Kembali ke waktu sekarang. Terlihat Sena yang sebelumnya menutup mata,
perlahan membuka matanya. “Apa pun itu...hanya ada satu hal yang bisa
dan harus aku lakukan saat ini...”(Sena:Dalam Hati). Reo terlihat sedang
memandangi langit. “Hei...Reo...”(Sena). “Kenapa?”(Reo). “Aku tidak
ingin kalah di babak ini, apapun yang terjadi, demi semuanya.”(Sena).
Reo yang memperhatikan Sena terlihat tersenyum. “Ya, aku juga tidak akan
kalah dari siapapun.”(Reo).

Sena terlihat mengulurkan
tangannya ke Reo. “Kalau pun nantinya kita harus berhadapan, aku ingin
kita bisa berjuang sekuat tenaga, sebagai sahabat sekaligus
rival.”(Sena). Reo terlihat menjabat tangan Sena. “Tentu saja. Akan ku
kerahkan semua yang ku punya, untuk melawanmu.”(Reo). Terlihat Ketua
Panitia sedang mengawasi para peserta dari monitor di kabin.
“Benar-benar nama-nama yang mengejutkan. Tak kusangka dia bisa berjuang
sampai tahap ini. Dia memang bocah yang menarik.”(Ketua Panitia).
Terlihat seseorang masuk ke tempat Ketua Panitia. “Setelah ini...akan
kuserahkan dia padamu. Lakukan semua yang telah Yang Mulia katakan
padamu.”(Ketua Panitia). Orang misterius itu terlihat tersenyum
mengerikan. “Akan kubuat babak terakhir ini sebagai babak penghabisan.
Akan kulihat, sejauh mana batas yang dia miliki...”(Ketua Panitia).
Kembali untuk puncak yang siap didaki. Penghabisan dari semua hal yang
telah mereka miliki.
Keesokkan harinya, terlihat kapal yang membawa para peserta telah
sampai di pelabuhan kerajaan. “Akhirnya sampai juga.”(Sena). Terlihat
satu per satu peserta mulai turun dari kapal. Ketua Panitia terlihat
telah berdiri di pintu keluar pelabuhan. “Untuk ke empat peserta yang
berhasil, tolong persiapkan diri kalian, karena besok akan jadi babak
penentu dalam event ini. Jadi kami harap, kalian bisa menunjukkan
kemampuan terbaik kalian.”(Ketua Panitia). Sena terlihat bersemangat.
“Tenang saja! Tak akan kubiarkan siapa pun kecewa. Akan ku kerahkan
semua yang ku bisa.”(Sena). Reo terlihat memperhatikan Baron dan Stevan.
“Aku tidak boleh lengah...ini akan jadi babak penentuan yang
sebenarnya.”(Reo:Dalam Hati). “Baiklah, berkumpulah di arena utama
kerajaan besok pagi. Mengenai aturan selajutnya, akan kami jelaskan saat
kalian semua sudah siap besok.”(Ketua Panitia).
“Ya!/Mengerti./Oke.../Siap.”(Sena/Reo/Stevan/Baron). Ketua Panitia
terlihat pergi meninggalkan pelabuhan. Sena dengan spontan menatap wajah
Reo. “Hoi, kau ini kenapa?”(Sena). Reo terlihat terkejut. “Eh, ku kira
ada apa...”(Reo). “Kenapa sekarang kau yang melamun? Bukankah kemarin
kau yang sudah menyemangatiku?”(Sena). “Maaf, hanya saja rasanya aku
jadi waspada.”(Reo). “Hmmmm...”(Sena).
Sena terlihat
memperhatikan apa yang dilihat Reo, yang tidak lain adalah Baron dan
Stevan. “Pasti mereka, ya?”(Sena). “Kalau bisa, aku ingin berhadapan
dulu dengan salah satu dari mereka, sebelum akhirnya denganmu. Karena
itu, aku jadi berpikir, kira-kira siapa yang akan aku hadapi
dulu?”(Reo). Sena terlihat menepuk pundak Reo sambil menghela nafas
panjang. “Ya...aku paham. Tapi kalau bisa, aku ingin kau yang menghadapi
Si Besar itu, karena kau tau sendiri, kan? Aku sangat ingin memukul
wajah Si Sombong itu...”(Sena). Sena terlihat memperhatikan Stevan yang
ternyata juga melihat ke arahnya. “Ya...semoga saja bisa...”(Reo).
Peserta yang lain, terlihat mulai pergi. Putri Alice dan Naria terlihat
mendekati Sena dan Reo. “Kalian berdua berjuanglah.”(Putri Alice).
“Walaupun pemenangnya hanya satu, tapi kalian berdua jangan sampai
kalah, ya.”(Naria). “Serahkah semuanya pada kami!”(Sena). “Kalau begitu,
sampai bertemu besok.”(Putri Alice). Putri Alice dan Naria terlihat
meninggalkan Sena dan Reo. “Mereka pasti berhasil, kan?”(Naria). “Tentu
saja...”(Putri Alice). Putri Alice terlihat melihat ke arah langit.
“Mereka itu kuat...”(Putri Alice).
Sena terlihat
memperhatikan Putri Alice dan Naria dari kejauhan. “Sekarang
bagaimana?”(Reo). “Entahlah...aku juga belum kepikiran...”(Sena). Reo
terlihat memikirkan sesuatu. “Bagaimana kalau ke rumahku?”(Reo). “Boleh
juga, tapi bukankah tempatnya jauh?”(Sena). “Tenang saja, aku tau cara
cepatnya kok...”(Reo). Reo dan Sena terlihat berjalan di keramaian
pasar. Reo terlihat menghampiri seseorang. “Paman...!”(Reo). Terlihat
orang itu melihat ke arah Reo dan Sena. “Oh...kau kan...”(Unknow). “Iya,
ini aku Reo.”(Reo). Orang itu terlihat sangat senang dan menepuk pundak
Reo. “Sudah lama sekali, ya? Bagaimana event nya?”(Unknow). “Semuanya
berjalan lancar kok. Oh ya, ini temanku Sena. Dia juga ikut event ini
bersamaku.”(Reo). “Salam kenal...”(Sena). “Senang bisa mengenalmu,
namaku Ruka Yatoi.”(Ruka). “Ngomong-ngomong, paman. Aku kan sudah lama
tidak pulang, jadi aku berencana untuk minta tumpangan pada paman, bisa
kan?”(Reo). “Tentu saja...kebetulan aku juga ingin pulang.”(Ruka).
“Baguslah.”(Reo). “Memangnya kita mau menumpang apa?”(Sena). Reo
terlihat tersenyum. “Sesuatu yang menarik...”(Reo). Pulang kembali.
Mempersiapkan diri untuk babak penentuan.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Give Everything What You Can and Preparing"
Posting Komentar