Tulang-belulang tersebut membentuk kerangka dan akhirnya
mengepung Sena dan Putri Alice. Putri Alice terlihat tegang.
“Sena...”(Putri Alice). Sena hanya menutup matanya sambil dalam posisi
siaga. “Iya, aku tau...”(Sena). Dalam sekejap, Sena berhasil menebas
semua kerangka tersebut. “Begitu aku beri tanda nanti, kita akan berlari
ke arah kegelapan itu, dan kau langsung serang apa pun yang kau rasakan
tanpa ragu.”(Sena). “Tunggu dulu! Kenapa harus aku?”(Putri Alice). “Itu
sederhana...”(Sena). Tiba-tiba, kerangka-kerangka yang telah ditebas
Sena tadi bangkit kembali. “Mereka tidak bisa dihancurkan.”(Putri
Alice). “Aku butuh waktu untuk melakukannya, jadi aku ingin kau mengulur
waktu sebisamu sampai aku siap.”(Sena). “Baiklah! Akan aku lakukan,
tapi jangan terlalu lama. Aku sendiri bahkan tidak yakin dengan apa yang
akan terjadi.”(Putri Alice). “Tenang saja, semuanya akan baik-baik
saja.”(Sena). Para kerangka yang mengepung Sena dan Putri Alice terlihat
berusaha menyerang mereka. “Baik...”(Sena). Sena kembali mengambil
ancang-ancang. Dengan cepat, Sena kembali menghancurkan semua
kerangka-kerangka tersebut. “Sekarang!”(Sena). Dengan satu aba-aba, Sena
dan Putri Alice berlari sekencang mungkin, namun di jalur mereka
terlihat kerangka-kerangka lain yang jauh lebih banyak berusaha
menghentikan mereka. “Ini gawat! Jalur kita telah ditutup!”(Putri
Alice). Sena kembali mengambil ancang-ancang sambil berlari. “Tolong kau
urus yang sebelah kanan! Aku akan urus yang sebelah kiri!”(Sena). “Aku
mengerti!”(Putri Alice).
Putri Alice terlihat mengeluarkan
senjatanya yang berupa dua buah tonfa yang terbuat dari logam. “Ayo
mulai!”(Putri Alice). Secara bersamaan, Sena dan Putri Alice menyerang
semua kerangka yang menutup jalur mereka. “Back Up!”(Sena). “Iya!”(Putri
Alice). Sena dan Putri Alice langsung berhenti dan berdiri saling
membelakangi. “Bertukar!”(Sena). Sena langsung membungkuk dan Putri
Alice berputar di atas punggung Sena hingga mereka terlihat bertukar
posisi. “Sena, lompat!”(Putri Alice). Putri Alice terlihat menancapkan
ujung kedua buah tonfanya ke tanah. Sena yang menyadari itu langsung
melompat setinggi mungkin. “Terima ini!”(Putri Alice). Dalam sekejap,
dari tonfa Putri Alice keluar aliran listrik yang sangat besar dan
menyebar mengenai semua kerangka hingga hancur. “Bagus!”(Sena). Di
udara, Sena terlihat menghunus pedangnya. “Akan ku akhiri!”(Sena). Sena
menebaskan pedangnya di udara hingga menciptakan sebuah cahaya yang
mengahncurkan kerangka-kerangka yang tersisa. Sena pun mendarat.
“Ayo!”(Sena). “Iya!”(Putri Alice). Sena dan Putri Alice kembali berlari
ke arah kegelapan itu. Sena tiba-tiba merasakan sesuatu. “Perasaan
ini...”(Sena:Dalam Hati). Tiba-tiba, sebuah tekanan yang kuat muncul dan
menghempaskan Sena dan Putri Alice.
Sena dan Putri Alice
terpental cukup jauh. “Kau tidak apa-apa?”(Sena). “Iya...aku baik-baik
saja.”(Putri Alice). Sena dan Putri Alice kembali berusaha bangkit,
namun tiba-tiba muncul kerangka bagian tangan yang sangat banyak dari
tanah dan mengunci mereka. “Gawat!”(Sena:Dalam Hati). “Sena!”(Putri
Alice). Perlahan-lahan, Putri Alice ditarik oleh tangan-tangan itu ke
dalam tanah. “Bertahanlah!”(Sena). Saat Sena berusaha menggunakan
pedangnya, ternyata pedangnya sudah ada di genggaman salah satu tangan
itu. “Sial! Kenapa di saat begini?!”(Sena:Dalam Hati). Sena juga
perlahan ditarik oleh kerangka-kerangka tangan itu. “Kalau
begini...”(Sena:Dalam Hati). Sena terlihat berkonsentrasi.
“Ini!”(Sena:Dalam Hati). Sena tiba-tiba menyadari sesuatu. “Bukan hanya
menarik tubuh. Ternyata mereka juga menarik kekuatanku. Kurang
ajar!”(Sena:Dalam Hati). Putri Alice sudah hampir lenyap ke dalam tanah.
“Kenapa begini?! Kenapa aku tidak bisa apa-apa?! Kenapa?!”(Sena:Dalam
Hati). Tangan-tangan dari neraka. Game kematian ini mulai berusaha
merenggut mereka.

Gelombang yang tadi menyerang Sena dan Putri Alice menyebar hingga
terasa oleh seluruh peserta yang tersisa termasuk Reo yang masih berada
di labirin. “Perasaan apa ini? Rasanya ada yang aneh...”(Reo:Dalam
Hati). Dengan penuh rasa ingin tau, Reo perlahan mempercepat langkahnya
menuju asal gelombang itu. “Kenapa aku merasakan ada hal yang buruk?
Tidak, semoga saja ini salah.”(Reo). Reo terus mempercepat larinya.
Sedangkan, di tempat Sena. Sena dan Putri Alice terlihat tidak berdaya
dan perlahan mulai lenyap ke dalam tanah. “Aku harus bisa melepaskan
diri!”(Sena:Dalam Hati). Sena terus berusaha, namun usahanya gagal.
“Sial!! Kenapa?!!”(Sena:Dalam Hati). Sena dan Putri Alice telah lenyap
dan hanya tersisa tangan yang hampir ikut menghilang. Tiba-tiba ada
seseorang yang meraih tangan Sena dan Putri Alice.
“Bertahanlah!”(Unknow). Ternyata orang yang datang adalah Naria. Dengan
sekuat tenaga, Naria berusaha menarik Sena dan Putri Alice. Perlahan,
Sena dan Putri Alice berhasil ditarik keluar. “Naria...”(Putri Alice).
“Kau...”(Sena). Naria terus berusaha, namun tarikan dari
kerangka-kerangka tangan itu justru semakin kuat. “Tak kan ku biarkan
kalian lenyap!”(Naria). Sena melihat ke arah kegelapan tadi yang semakin
mendekat. “Kalau begini...”(Sena:Dalam Hati). Sena terdiam sejenak.
“Hei, tolong lepaskan tanganku dan cobalah tarik Putri sekuat
tenaga.”(Sena). “Apa maksudmu, Sena?”(Putri Alice). “Dia tidak mungkin
sanggup menarik kita berdua bersamaan. Jika dipaksa, dia mungkin juga
akan ikut tertarik juga.”(Sena). “Tapi itu sama saja...”(Putri Alice).
“Tidak akan!”(Naria).
Dengan mengerahkan semua
kekuatannya, Naria tetap berusaha menarik Sena dan Putri Alice. “Aku
tidak akan mengorbankan salah satu dari kalian! Kalian berdua adalah
orang yang sangat berharga bagiku! Tak kan kubiarkan siapapun lenyap di
sini!”(Naria). Sena yang melihat Naria menjadi teringat pada Yuki. Sena
tersenyum, namun kegelapan itu semakin dekat. “Kau juga sangat mirip
dengannya...”(Sena). Dengan cepat, Sena melepaskan genggaman tangan
Naria. “Karenanya...aku tidak mau kalian berdua berakhir seperti
dia...”(Sena). Putri Alice yang melihatnya langsung tercengang.
“Sena!”(Putri Alice). Naria dengan cepat berusaha menarik kembali tangan
Sena, namun terlambat. Sena telah lenyap seutuhnya. Kegelapan itu telah
berada tepat di belakang Putri Alice. “Naria, awas!”(Putri Alice).
Dalam sekejap mata, semua telah tersapu oleh kegelapan. Sena terlihat
membuka matanya. “Ini...”(Sena:Dalam Hati). Ternyata Sena kembali berada
di dunia alam bawah sadarnya yang dulu. Sena perlahan mulai bangkit.
“Tempat ini...”(Sena). “Sudah lama juga, ya? Sobat...”(Sena 2). Terlihat
Sena yang lain berada dibelakang Sena. Sena pun berbalik ke arah
dirinya yang lain. “Ya...tidak kusangka bisa kembali lagi ke
sini.”(Sena). “Kan sudah pernah aku katakan, ini adalah alam bawah
sadarmu, jadi kau bisa ke sini kapan saja.”(Sena 2).
Sena
yang lain perlahan mendekati Sena. “Jadi ini artinya...aku belum
mati?”(Sena). Sena yang lain tertawa mendengar perkataan Sena. “Mati,
katamu?”(Sena 2). “Kenapa? Apa ada yang aneh dari itu?”(Sena). “Ternyata
kau sama sekali belum paham dengan kondisimu sekarang, ya? Jadi, biar
ku beritau kau sedikit...”(Sena 2). Sena yang lain berdiri tepat di
hadapan Sena. “Di sini...kau bebas melakukan apa pun. Tidak ada yang
hidup dan mati, karena ini adalh dimensi lain yang telah kau ciptakan
sendiri.”(Sena 2). Sena terlihat bingung. “Apa maksudmu?”(Sena). “Ini
bukanlah dunia yang selama ini kau lihat di luar sana...ini adalah
duniamu sendiri.”(Sena 2). “Lalu?”(Sena). “Aku tau kau butuh kekuatan,
jadi...”(Sena 2). “Jadi?”(Sena). Sena yang lain menepuk bahu Sena. “Aku
ingin kita mengadakan sebuah pertukaran. Bagaimana?”(Sena 2). Penawaran
yang mengejutkan. Sebuah langkah di dunianya yang bebas.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life : Try But Give Up and I Don’t Want It"
Posting Komentar