Dengan tawaran yang mengejutkan, Sena yang lain berusaha
melakukan sesuatu. “Pertukaran? Memang apa yang ingin kau
lakukan?”(Sena). “Ini semua bukan untukku, tapi untukmu. Jadi, terserah
kau mau atau tidak?”(Sena 2). Sena terlihat berpikir. “Apa ini hanya
taktikmu untuk mengambil tubuhku?”(Sena). “Sebenarnya bisa dibilang
begitu, tapi ini semua terserah padamu. Lagipula, jika dibiarkan kita
pasti akan mati.”(Sena 2). Sena terlihat terkejut dan melihat ke arah
dirinya yang lain. “Tunggu dulu! Kau bilang mati? Bukannya tadi kau
bilang bahwa di dunia ini tidak ada yang hidup dan mati?”(Sena). “Itu
memang benar, tapi hanya berlaku di dunia ini, bukan di dunia
nyata.”(Sena 2). “Maksudmu?”(Sena). “Ini adalah alam bawah sadarmu, tapi
bukan berarti kau lepas dari ikatanmu di dunia nyata. Singkatnya, jika
sesuatu terjadi pada tubuhmu di dunia nyata, maka kita berdua yang ada
di sini akan terpengaruh.”(Sena 2). Sena terlihat terdiam sejenak. “Kau
bisa lakukan pertukaran itu sebelum terlambat, karena aku sebenarnya
juga belum mau mati.”(Sena 2). “Tapi, kenapa pertukaran? Apa itu artinya
kau akan mengambil tubuhku agar tidak mati?”(Sena). “Singkatnya begitu,
karena dengan kondisimu yang sekarang, tidak mungkin kau bisa
melakukannya.”(Sena 2). “Kondisiku? Memang apa yang salah dengan
diriku?”(Sena).
Sena yang lain mendekati Sena dan menunjuk
Sena. “Kau itu masih lemah. Karenanya kau bisa mati kapan pun dan di
mana pun seperti saat ini. Kau tentu masih ingat saat aku mengambil alih
tubuhmu dan menyelamatkanmu berulang kali?”(Sena 2). Sena teringat saat
dia bersama Putri Alice berusaha melawati tantangan Krozen di Hutan
Pulau. Sena terlihat terpukul mengetaui hal itu. “Tenang saja, aku akan
mengembalikannya saat kau berhasil selamat. Jadi, kau tidak perlu
khawatir.”(Sena 2). Sena terdiam sejenak. “Kenapa? Bukannya kau dulu
bilang bahwa kau akan mengambil tubuhku, lalu kenapa sekarang kau bicara
seperti ini? Apa ini artinya kau sudah menyerah?”(Sena). Sena yang lain
langsung tertawa mendengar perkataan Sena. “Menyerah katamu? Kau pikir
aku ini bodoh menyerahkan hal seberharga itu?”(Sena 2). “Lalu, kenapa
kau berkata begitu?”(Sena). “Coba bayangkan bagaimana rasanya mengambil
permen dari bayi? Seperti itulah yang aku rasakan darimu sekarang.”(Sena
2). “Apa katamu?!”(Sena). “Kau itu masih terlalu lemah, jadi tidak akan
ada menariknya jika aku mengambil tubuhmu sekarang.”(Sena 2).
Sena
terlihat emosi dengan perkataan dirinya yang lain. “Kenapa? Kau marah?
Marah saja tidak akan membuatmu menang dariku.”(Sena 2). Sena terlihat
berusaha menenangkan dirinya. “Jadi bagaimana? Kalau kau memang masih
ingin selamat dan menjadi kuat, kau hanya perlu menurunkan sedikit harga
dirimu saat ini. Tapi, tenang saja, jika aku sudah merasakan kau
menjadi kuat, aku akan meladenimu kapan pun kau mau.”(Sena 2). Sena
terlihat terdiam sambil menahan emosinya. Sementara itu, Putri Alice
terlihat terbangun setelah pingsan akibat serangan kegelapan tersebut.
“Hei, kau baik-baik saja kan?”(Unknow). Terlihat seseorang berdiri di
samping Putri Alice. “Dia kan...”(Putri Alice:Dalam Hati). Putri Alice
menoleh ke sampingnya, dan di sana terbaring Naria yang masih tak
sadarkan diri. “Naria...”(Putri Alice:Dalam Hati). Putri Alice berusaha
bangkit. “Sebaiknya kau jangan bergerak. Ini bukan lagi hal yang bisa
kau tangani.”(Unknow). Ternyata orang yang datang menyelamatkan Putri
Alice dan Naria adalah Reo. “Reo!”(Putri Alice). “Sepertinya aku memang
tidak bisa jauh-jauh dari kalian rupanya.”(Reo). “Kenapa kau bisa ada di
sini?”(Putri Alice). “Hanya kebetulan lewat.”(Reo). Putri Alice
perlahan mulai bangkit. “Jadi...Sena...”(Reo). Putri Alice terlihat
diam. “Dia itu...memang tidak bisa diam rupanya...”(Reo). Reo terlihat
bersiaga. “Mau bagaimana lagi, aku yang akan mengambil perannya sampai
dia kembali.”(Reo). Petukaran, peran, dan bahaya. Dalam keadaan genting
mereka mulai mengambil keputusan.

Kegelapan tersebut kembali mendekat. Putri Alice terlihat memikirkan
sesuatu. “Tenang saja...”(Reo). Putri Alice melihat ke arah Reo. “Dia
tidak akan mungkin gagal, percayalah padanya.”(Reo). Putri Alice yang
mendengar perkataan Reo langsung tersenyum . “Sekarang aku
paham...kenapa kalian bisa seperti ini...”(Putri Alice:Dalam Hati).
Putri Alice terlihat bersiaga dengan kedua tonfa nya. “Iya, aku juga
tidak ingin menyerah di sini!”(Putri Alice). “Baguslah, tapi...”(Reo).
Reo menunjuk ke arah Naria yang masih belum sadar. “Masalahnya bagaimana
dengan temanmu itu? Kita tidak mungkin bertarung dan meninggalkannya,
kan?”(Reo). “Kalau soal itu...”(Putri Alice). Putri Alice terlihat
mengeluarkan sesuatu dari sakunya. “Ini pasti bisa
membangunkannya...”(Putri Alice). Ternyata yang dikeluarkan Putri Alice
adalah sebuah bulu dan Putri Alice menempelkan bulu itu ke hidung Naria.
“Haattcchuu!!”(Naria). Naria pun bersin dan akhirnya tersadar.
“Mmmmm...sudah pagi, ya?”(Naria). Reo yang melihatnya hanya bisa
tercengang. “Mudah sekali ya membangunkannya?”(Reo). “Ya begitulah, aku
juga melakukannya saat kami di kapal.”(Putri Alice). Kegelapan tersebut
terlihat kembali menyerang, namun berhasil ditahan oleh Reo. “Kalau
kalian sudah selesai, sebaiknya kalian juga bersiaga. Kita tidak tau apa
yang akan terjadi.”(Reo). “Iya!”(Putri Alice). “Dia kan...”(Naria).
Tiba-tiba
Reo merasakan sesuatu. “Gawat! Cepat kalian melompat!”(Reo).
“Apa?!”(Naria). Reo, Putri Alice, dan Naria langsung melompat menjauh,
lalu tiba-tiba muncul kerangka-kerangka tangan seperti sebelumnya dari
dalam tanah. “Lagi-lagi benda itu lagi.”(Putri Alice). “Maksudmu?”(Reo).
Putri Alice terlihat menggunakan tonfa nya. “Terima ini!”(Putri Alice).
Dalam sekejap, sebuah kilatan seperti petir muncul dari tonfa milik
Putri Alice dan menyerang ke arah kerangka-kerangka tangan tersebut
hingga menimbulkan asap. “Apa berhasil?”(Naria). “Aku rasa tidak.”(Reo).
Ternyata kerangka-kerangka tangan itu masih ada. “Kenapa tidak
mempan?”(Putri Alice). “Itu bukanlah kerangka biasa. Mereka bisa
menyerap kekuatan apapun, termasuk seranganmu tadi, jadi percuma
saja.”(Reo). Naria melihat ke arah kegelapan tersebut yang lagi-lagi
mendekat. “Kegelapannya...”(Naria). “Kalau begini...”(Reo). Reo terlihat
berkonsentrasi. Dengan kedua belati senjatanya, Reo perlahan-lahan
mengeluarkan aura yang cukup kuat. “Perasaan ini...apa mungkin kau juga
bisa melakukannya?”(Putri Alice). “Aku sudah berlatih sejauh ini...jadi
tentu saja aku bisa...”(Reo).
Tiba-tiba sebuah tekanan
yang besar muncul dari diri Reo. “Akan kulenyapkan kegelapan
itu...”(Reo). Reo langsung menuju ke arah kegelapan tersebut dengan
cepat dan langsung menyerangnya. Sebuah pancaran sinar yang sangat
terang langsung menyelimuti hampir seluruh tempat itu. Cahaya tersebut
perlahan mulai redup. “Jadi ini...wujud aslimu...”(Reo). Terlihat
sesosok monster telah menahan serangan belati dan Reo. Putri Alice dan
Naria yang melihatnya langsung terkejut. “Mo...monster...”(Naria).
“Kelihatannya kau yang telah mengendalikan semua kerangka yang ada di
tempat ini ya...”(Reo). Dengan cepat, monster tersebut melempar balik
Reo ke arah Putri Alice dan Naria. “Kau tidak apa-apa?”(Putri Alice).
“Iya...”(Reo). Monster tersebut terlihat marah dan semua kerangka yang
ada di tempat itu langsung bergerak, termasuk kerangka-kerangka tangan
yang ada di dalam tanah. “Bagaimana ini?”(Naria). “Aku punya rencana,
tapi aku ingin kalian jadi back up ku.”(Reo). Terlihat Reo, Putri Alice,
dan Naria sedang merencakan sesuatu. “Baiklah...ayo mulai!”(Reo).
Dengan cepat, Reo, Putri Alice dan Naria langsung berlari ke arah
monster itu, namun tiba-tiba muncul sebuah pancaran cahaya dari monster
itu. “Apa itu?”(Reo:Dalam Hati). Monster dan pancaran cahaya. Rencana
yang berakhir dengan hal yang tak terduga.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life : Exchange and I Can Do This"
Posting Komentar