Beranda · Menu · Menu 1 · Menu 2

Wrong Life - This Place and The Guardian

Dengan banyak pertanyaan yang memenuhi kepalanya, Sena tetap berusaha mencaritau rahasia keluarganya. “Sebaiknya, kita tidak membicarakan itu di sini.”(Kakek Hideki). “Kenapa?”(Sena). Kakek Hideki terdiam sejenak. “Kalau kau anggap benda itu hanya sebuah hiasan, maka kau salah besar...”(Kakek Hideki). Sena semakin bertambah bingung. “Sebenarnya apa yang kakek maksud? Aku sama sekali tidak paham?”(Sena). “Ikutlah denganku. Akan kubawa kau ke suatu tempat sambil menceritakan semuanya...”(Kakek Hideki). “Ba...baiklah...”(Sena). “Dan...”(Kakek Hideki). Kakek Hideki yang sebelumnya berada di hadapan Sena, tiba-tiba menghilang. Sena terlihat terkejut, begitu juga dengan Reo yang sedang bersembunyi. “Apa?”(Sena). “Ke mana kakek tadi?”(Reo:Dalam Hati). Tiba-tiba, Kakek Hideki sudah berada di belakang Reo. “Kalau kau memang ingin tau...kau juga bisa ikut dengan kami...”(Kakek Hideki). Sena yang menyadari Kakek Hideki akhirnya juga mengetaui keberadaan Reo. “Reo...”(Sena). Reo terlihat sangat terkejut. “Sejak kapan...kakek ini ada di sini...”(Reo:Dalam Hati). Sena pun mendekat ke arah Reo dan Kakek Hideki. “Bagaimana?”(Kakek Hideki). Reo terlihat terdiam sejenak. “Baiklah...aku akan ikut...”(Reo).



Di tempat lain, terlihat Putri Alice dan Naria sedang berjalan-jalan di sebuah jalan setapak. “Memangnya ke mana kita akan pergi?”(Putri Alice). Naria terlihat tersenyum senang. “Sebentar lagi kau pasti akan tau, kok.”(Naria). Putri Alice terlihat penasaran. “Kau ini...”(Putri Alice). Putri Alice memperhatikan sekelilingnya yang dipenuhi pepohonan besar. “Kalau diperhatikan...ternyata tempat ini bagus juga ya...rasanya jadi sangat tenang...”(Putri Alice). “Ya begitulah...aku tadi juga sempat mendengarnya dari beberapa peserta lain, tapi tidak ku sangka akan sebagus ini...”(Naria). Putri Alice terlihat bingung. “Mendengar? Jangan bilang kalau kau belum pernah lewat sini sebelumnya?”(Putri Alice). Naria mulai terlihat agak panik, namun akhirnya tertawa. “Hehehehehe...katauan ya...”(Naria). “Lalu, bagaimana kau bisa yakin kalau mereka itu benar?”(Putri Alice). “Ya...mau bagaimana lagi...habis akan jadi sangat membosankan kalau hanya diam saja di penginapan, kan?”(Naria). “Memang benar sih...tapi, kalau mereka hanya menipu bagaimana?”(Putri Alice). “Tenang saja...”(Naria). “Eh?”(Putri Alice). “Aku yakin kok...lagipula kau sendiri yang bilang kan, kalau kita harus bisa percaya pada mereka...”(Naria). Putri Alice sejenak teringat dengan kejadian waktu di puncak kuil. “Ya...itu benar juga...”(Putri Alice).

Kembali ke tempat Sena. Sena, Reo, dan Kakek Hideki terlihat sampai di sebuah tempat. Kakek Hideki terlihat berhenti. “Baiklah...ini tempatnya...”(Kakek Hideki). Sena, Reo, dan Kakek Hideki berhenti di depan sebuah kuil yang cukup besar. “Besar sekali...”(Reo). “Kakek, memang ini tempat apa?”(Sena). Kakek Hideki terlihat memperhatikan ke dalam kuil itu. “Sebentar lagi kau akan segera tau... ayo masuk...”(Kakek Hideki). Kakek Hideki terlihat berjalan memasuki kuil itu bersama Sena dan Reo di belakangnya. “Hei Sena...sedari tadi aku masih agak bingung...”(Reo). “Bingung kenapa?”(Sena). “Kakek ini...rasanya aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat...tapi, aku agak lupa tepatnya...”(Reo). “Kalau soal itu...”(Sena). Kakek Hideki, Sena, dan Reo terlihat sampai di suatu ruangan gelap yang terasa luas. “Gelap sekali...apa kita sudah sampai, kek?”(Sena). “Tentu saja. Sebentar, ya...”(Kakek Hideki). Tiba-tiba, semua obor yang ada di dalam ruangan itu menyala dan seisi ruangan pun terlihat jelas. “Wah...ternyata ruangannya luas juga, ya, Reo...”(Sena). Tiba-tiba, Reo terlihat sangat terkejut seakan tidak bisa berkata-kata. “Kau kenapa, Reo?”(Sena). “La...lambang itu...”(Reo). Ternyata seluruh dinding ruangan itu dipenuhi oleh ukiran lambang-lambang misterius. Tempat-tempat yang mengejutkan. Sebuah misteri baru akan segera terkuak.



Sena juga terlihat memperhatikan lambang-lambang di dinding ruangan itu. “Lambang itu...bukankah sama dengan yang ada di punggung kakek?”(Sena). “Benar sekali...”(Kakek Hideki). Reo perlahan mulai terlihat tenang. “Apa mungkin, kakek ini...”(Reo:Dalam Hati). “Kau tidak apa-apa, kan?”(Sena). “Ya...aku baik-baik saja.”(Reo). Kakek Hideki terlihat memperhatikan Reo. “Dari ekspresimu tadi, kelihatannya kau sangat mengenal lambang-lambang itu.”(Kakek Hideki). “Ya...bisa dibilang begitu...”(Reo). “Jadi, kau juga mengenal lambang-lambang itu?”(Sena). “Memang aku tidak pernah mengetauinya secara langsung, tapi di tempatku, lambang-lambang seperti itu merupakan hal yang hanya boleh diketaui oleh orang-orang tertentu...dan aku tidak menyangka bisa melihatnya secara langsung di sini.”(Reo). Perlahan Kakek Hideki mendekat ke salah satu lambang di dinding. “Coba kau perlihatkan benda itu sekali lagi, anak muda...”(Kakek Hideki). Sena terlihat agak bingung. “Sena. Kakek bisa memanggilku Sena.”(Sena). Sena terlihat mengeluarkan pecahan itu, sedangkan Kakek Hideki terdiam sejenak. “Sena, ya...kalau kau anak muda?”(Kakek Hideki). “Oh, namaku...Reo...”(Reo). “Reo...ternyata nama kalian cukup bagus...”(Kakek Hideki). Sena terlihat maju sambil menyerahkan pecahan itu pada Kakek Hideki. “Oh ya, kami juga belum mengetaui nama kakek. Nama kakek siapa?”(Sena). Kakek Hideki terlihat menerima pecahan itu. “Fujiyama Hideki...itu adalah namaku...”(Kakek Hideki).

Kakek Hideki terlihat memperhatikan pecahan itu. “Benda ini...adalah benda yang konon bisa membuat keinginanmu menjadi nyata, dan hal itu sudah dipercayai oleh orang-orang sejak dahulu...”(Kakek Hideki). “Maksud kakek, semua orang sudah tau soal benda itu?”(Sena). “Bisa dibilang begitu, namun sebenarnya mereka hanya tau mitosnya saja, dan tidak ada yang pernah bisa melihat secara langsung benda ini...”(Kakek Hideki). Sena terlihat semakin penasaran. “Lalu...bagaimana orang-orang bisa percaya? Bukankah seseorang tidak akan mudah percaya sesuatu sebelum mengetauinya secara langsung?”(Sena). Reo terlihat mendekati Sena. “Karena dulu...konon benda itu sudah menunjukkan kekuatannya berulang kali...walau tidak dalam skala yang besar...”(Reo). “Kau juga tau tentang benda itu?”(Sena). “Ya, hanya sedikit. Dulu sekali, orang-orang di dunia ini pernah mengalami masa sulit yang berkepanjangan, bahkan dunia ini mengalami krisis besar sampai hampir berada di ambang kehancuran...”(Reo). “Lalu, apa yang terjadi setelahnya?”(Sena). “Sejak orang itu datang...perlahan-lahan hal itu mulai teratasi dan akhirnya tercipta kemakmuran sampai sekarang...dan lambang-lambang itu adalah simbol yang melambangkan sosok dan keajaiban yang telah dibawa oleh orang itu dan akhirnya dianggap keramat hingga tak sembarangan orang boleh melihatnya...”(Reo). “Apa mungkin orang itu juga berasal dari dunia yang sama denganku?”(Sena). “Tidak ada yang tau pasti...tapi itulah sejarah yang diceritakan oleh orang-orang tua sejak dulu...”(Reo).

Kakek Hideki terlihat teringat sesuatu. “Orang itu...adalah orang yang telah menjaga benda ini secara utuh dan terus-menerus diturunkan pada penerusnya sampai sekarang...”(Kakek Hideki). Sena tiba-tiba teringat dengan perkataan Ryuto dulu, bahwa orangtuanya adalah Hyper yang telah menjaga pecahan itu. “Tunggu dulu...kalau memang dia yang membawa benda itu...itu artinya...”(Sena). “Benar sekali...ayah dan ibumu lah penerus terakhir yang telah menjaga benda itu dengan nyawa mereka...”(Kakek Hideki). Sena yang mendengarnya sontak terkejut. Sejarah yang membawa kenangan orangtuanya. Dunia ini menjadi saksi awal perjuangan Sang Penjaga.

Artikel keren lainnya:

Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life - This Place and The Guardian"

Posting Komentar