Beranda · Menu · Menu 1 · Menu 2

Wrong Life - The Clue and First Meet


Keesokkan harinya. Sena terlihat baru saja terbangun di pagi hari di sebuah kamar tidur. Dengan perlahan, Sena berjalan keluar kamar dan pergi menuju ruang depan. “Selamat pagi. Bagaimana tidurmu?”(Putri Alice). Terlihat Putri Alice sedang duduk di kursi ruang tamu. “Ya...setelah perjuangan seperti itu, rasanya enak juga bisa tidur nyenyak.”(Sena). Putri Alice terlihat tersenyum. “Kau memang selalu begitu ya...”(Putri Alice). Sena terlihat memperhatikan sekeliling. “Ngomong-ngomong, Reo dan Naria ke mana?”(Sena). “Reo tadi katanya ingin jalan-jalan mencari udara segar, kalau Naria, sepertinya sedang ada di belakang.”(Putri Alice). “Begitu ya...”(Sena). Putri Alice terlihat menawarkan teh pada Sena. “Ini teh mu, minumlah selagi masih hangat.”(Putri Alice). “Terima kasih...”(Sena). Sambil minum teh bersama, Sena terlihat berbincang-bincang dengan Putri Alice. “Tidak disangka juga ya, ternyata ada penginapan sebagus ini di pulau ini.”(Sena). “Aku juga baru tau, tapi mungkin ini memang sengaja dipersiapkan untuk para peserta.”(Putri Alice). “Bisa istirahat di tempat ini selama seminggu, kelihatannya memang tidak terlalu buruk juga...”(Sena). “Kau ini, setelah ini kita kan akan menghadapi babak ketiga. Belum lagi, kita juga belum tau seperti apa peraturannya, jadi kita belum bisa santai-santai.”(Putri Alice). “Iya aku tau...tapi istirahat sebentar kan juga perlu...”(Sena).

Putri Alice terlihat terdiam dan teringat dengan kejadian kemarin. “Ada apa?”(Sena). “Tidak...tidak ada apa-apa...”(Putri Alice). Sena terlihat memperhatikan Putri Alice. “Memang kau harus bisa selalu waspada. Belum lagi, sekarang kau sudah mendapatkan kepercayaan dari rakyatmu, jadi kau harus bisa bersikap lebih dewasa lagi.”(Sena). “Ya...itu benar. Aku harus bisa memimpin mereka dan mengembalikan dunia ini seperti dulu...jadi mulai sekarang aku harus bisa berubah.”(Putri Alice). Sena yang mendengar perkataan Putri Alice langsung tersenyum. “Selama kau punya hal itu...aku yakin kau pasti bisa.”(Sena). “Ya...”(Putri Alice). Sena terlihat berdiri dan hendak beranjak dari penginapan. “Aku ingin menyusul Reo dulu. Kau tidak apa-apa kan, di sini sendiri?”(Sena). “Tenang saja, Naria sebentar lagi pasti juga akan datang.”(Putri Alice). “Kalau begitu, aku pergi dulu.”(Sena). “Ya, hati-hati...”(Putri Alice). Sena pun berlari keluar dan terlihat mencai Reo. “Pergi ke mana dia?”(Sena). Sena pun perlahan berjalan menyusuri sebuah jalan setapak sambil memperhatikan sekelilingnya. “Tempat ini ternyata indah juga, ya...”(Sena:Dalam Hati). Sena kembali teringat saat dia baru datang di dunia ini sampai sekarang. “Banyak hal yang terjadi sejak aku datang ke sini...”(Sena:Dalam Hati). Sena terlihat mengeluarkan benda yang dulu diberikan oleh Ryuto. “Sampai sekarang...bahkan aku belum bisa menemukannya...petunjuk itu...”(Sena:Dalam Hati).

Tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing dari arah belakang Sena. “Baguslah kalau kau hanya sendiri...”(Unknow). Sena pun berbalik. “Siapa itu?”(Sena). Terlihat seseorang datang menghampiri Sena. “Kau kan...”(Sena). Dari arah lain, Reo juga melihat Sena dan orang itu dari kejauhan. “Itu kan Sena? Sedang apa dia?”(Reo:Dalam Hati). Reo mendekat dengan perlahan-lahan. “Bukankah orang itu...”(Reo:Dalam Hati). Ternyata orang yang datang mendekati Sena adalah Kakek Hideki. “Tidak ku sangka kau bisa lolos dari babak itu...selamat ya...anak muda...”(Kakek Hideki). Sena hanya terdiam dan terlihat memperhatikan Kakek Hideki. “Apa ada yang salah, anak muda? Kelihatannya kau agak serius?”(Kakek Hideki). Sena melihat ke arah benda yang di pegangnya. “Melanjutkan apa yang belum sempat ku tanyakan pada kakek waktu itu...”(Sena). Sena menunjukkan benda itu pada Kakek Hideki. “Apa kakek tau...tentang benda ini?”(Sena). Reo yang melihatnya dari kejauhan, terlihat terkejut, sedangkan Kakek Hideki terlihat menjadi serius. Benda yang ditinggalkan oleh orang tuanya. Mencari petunjuk demi petunjuk di tempat ini.


Dengan penuh rasa penasaran, Sena terlihat serius bertanya pada Kakek Hideki. Kakek Hideki perlahan mulai terlihat santai. “Sudah kuduga kau punya pecahan itu. Ya, memang tidak terlalu aneh juga.”(Kakek Hideki). “Jadi...itu artinya kakek tau tentang benda ini?”(Sena). Kakek Hideki terlihat terdiam sejenak. “Kalau begitu, aku ingin menanyakan satu hal padamu...”(Kakek Hideki). “Bertanya? Bukankah tadi aku yang bertanya ke kakek?”(Sena). “Apa hubungamu dengan orang yang menjaga benda itu?”(Kakek Hideki). Sena yang seakan tidak digubris, mulai terlihat kesal. “Tunggu, tunggu, tunggu! Kan aku yang bertanya? Kenapa kakek justru balik bertanya padaku?”(Sena). “Sudah, jawab saja.”(Kakek Hideki). Sena terlihat agak bingung. “Kalau itu...”(Sena). Sena teringat saat Ryuto berkata kalau benda itu adalah benda peninggalan orangtua Sena. “Mereka...orangtuaku...”(Sena). Kakek Hideki terlihat tersenyum, sedangkan Reo yang mendengarnya dari kejauhan terlihat bingung. “Orangtua...kalau tidak salah waktu itu...”(Reo:Dalam Hati). Reo teringat saat Sena dulu pernah menceritakan kedatangan Sena ke dunia ini. “Apa itu artinya...Sena...”(Reo:Dalam Hati).

Kakek Hideki terlihat mulai menjelaskan sesuatu. “Sebenarnya...aku tidak bisa bicara banyak hal soal benda itu...”(Kakek Hideki). “Sudah kuduga...”(Sena:Dalam Hati). “Tapi...karena kau adalah anak dari mereka berdua...jadi akan ku ceritakan sedikit tentang kedua orangtuamu...”(Kakek Hideki). “Baiklah...”(Sena). Di penginapan, terlihat Naria baru saja sampai. “Putri? Sena dan Reo mana?”(Naria). “Mereka berdua sedang pergi. Baru saja Sena pergi menyusul Reo.”(Putri Alice). “Begitu ya...padahal aku tadi dapat banyak roti enak...”(Naria). “Tenang saja, mereka pasti akan segera kembali. Sebaiknya kau taruh saja di meja.”(Putri Alice). “Ya...memang ada benarnya juga, sih...”(Naria). Putri Alice terlihat memandang keluar jendela. “Cuacanya sangat bagus...”(Putri Alice). “Iya...”(Naria). “Bagaimana kalau kita jalan-jalan? Sekalian mencari mereka?”(Putri Alice). “Boleh juga, aku tau tempat yang bagus kok.”(Naria). “Baiklah, ayo kita pergi.”(Putri Alice). “Iya.”(Naria). Kembali ke Sena. Kakek Hideki terlihat mulai menceritakan semuanya. “Ibumu...sebenarnya berasal dari dunia ini...mereka berdua tidak sengaja bertemu di dunia ini saat ayahmu dulu pernah tersesat seperti dirimu yang sekarang...”(Kakek Hideki).

Sena yang mendengarnya sontak terkejut, begitu pula Reo yang bersembunyi di kejauhan. “Ibu...berasal dari...dunia ini?”(Sena). “Iya...ayahmu dulu adalah seorang pengembara. Dia tidak sengaja menemukan jalan menuju ke dunia ini, namun tersesat. Di dunia ini...ibumulah yang telah merawat dan selalu bersama ayahmu hingga akhirnya mereka berdua menjadi seorang Hyper...”(Kakek Hideki). Sena perlahan teringat dengan Yuki. “Lalu kakak, berarti dia juga berasal dari sini?”(Sena). “Jika, yang kau maksud Yuki...dia memang adik dari ibumu. Dulu...ibumu hanya tinggal berdua bersama adiknya yang masih sangat kecil sejak kepergian kakek dan nenekmu...”(Kakek Hideki). Reo dari kejauhan terlihat semakin penasaran. “Jadi, itu artinya...ibu dan bibi Sena...adalah orang dari dunia ini?”(Reo:Dalam Hati). Sena bingung, seakan tidak percaya. “Tapi...kenapa kakak tidak pernah menceritakan hal ini padaku? Apa kakak memang menyembunyikannya?”(Sena). “Tidak.”(Kakek Hideki). “Eh?”(Sena). “Waktu ayahmu mengajak ibu dan kakakmu pergi ke dunianya, kakakmu masih terlalu kecil untuk mengingatnya...jadi aku rasa dia memang tidak tau apa-apa.”(Kakek Hideki). Sena kembali melihat ke arah benda yang digenggamnya. “Kalau begitu...ini benda apa? Saat seseorang memberikan ini padaku, dia hanya bilang jika ini adalah serpihan dari benda peninggalan yang dulu pernah dijaga oleh orangtuaku...”(Sena). Hal yang tidak dia ketaui. Sekarang, perlahan dia mulai membuka gerbang masa lalu keluarganya.

Artikel keren lainnya:

Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life - The Clue and First Meet"

Posting Komentar