Beranda · Menu · Menu 1 · Menu 2

Unbreakable Spirit and Light Breeze

Kakek Hideki terlihat mengembalikan pecahan itu pada Sena. “Jadi begitu...orangtuaku selama ini...”(Sena). Reo terlihat memperhatikan Sena. “Kalau memang benda ini hanya sebuah pecahan, apa itu artinya masih ada pecahan-pecahan lain di luar sana?”(Reo). “Aku memang tidak tau bagaimana, tapi orangtua Sena telah menjaga benda itu dengan baik. Namun, saat aku tau kabar jika mereka mendapat serangan misterius...aku sama sekali tidak tau keberadaan benda itu...hingga akhirnya bisa melihatnya kembali sekarang, walau hanya sebuah pecahan.”(Kakek Hideki). Sena perlahan teringat pada sesuatu. “Serangan mendadak...apa mungkin mereka...”(Sena:Dalam Hati). Kakek Hideki terdiam sejenak. “Mungkin saja...demi melindungi benda itu dari tangan-tangan orang yang berniat buruk, mereka memecah benda itu menjadi beberapa bagian dan memencarkannya ke seluruh tempat dengan mempertaruhkan nyawa mereka...”(Kakek Hideki). Sena terlihat sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan Kakek Hideki. “Itu artinya, ayah dan ibu Sena menukarkan nyawa mereka untuk memecah dan menyebarkan benda itu?”(Reo). “Bisa dibilang begitu...tapi bagiku, mereka berdua adalah pejuang yang kuat...karena sampai detik terakhir pun, mereka tetap melakukan apa yang telah menjadi tugas mereka, dan itu bukanlah hal yang bisa dilakukan oleh kebanyakan orang di dunia mana pun...”(Kakek Hideki).

Sena terlihat sangat terpukul. “Sena...”(Reo:Dalam Hati). “Namun, Sena...”(Kakek Hideki). Sena terlihat berusaha tegar. “Sekarang ...mereka telah mempercayakan semua itu padamu...”(Kakek Hideki). “Eh?”(Sena). “Apa maksud kakek?”(Reo). “Kembalinya pecahan itu padamu...telah menunjukkan, bahwa orangtuamu telah mempercayakan benda itu dan juga semangat mereka padamu, apa pun yang terjadi...”(Kakek Hideki). Sena terlihat berusaha mengingat kembali orangtuanya. “Aku...memang tidak terlalu mengenal siapa orangtuaku...”(Sena). Reo dan Kakek Hideki terlihat memperhatikan Sena yang terlihat mulai kembali bersemangat. “Namun, semangat mereka berdua...akan ku pastikan semuanya tidak akan hilang. Aku janji itu...”(Sena). Reo terlihat lega. “Huh, kau memang tidak pernah berubah...tapi jujur aku suka dengan semangatmu itu.”(Reo). Kakek Hideki terlihat tertawa mendengar perkataan Sena. “Kenapa kakek tertawa?”(Sena). “Mungkin kau tidak terlalu paham...tapi apa yang ku lihat sekarang ini seakan seperti Deja Vu...”(Kakek Hideki). “Deja Vu?”(Reo).

Kakek Hideki terlihat memegang pundak Sena. “Kalau memang begitu...aku rasa tidak akan ada masalah...ku rasa tidak ada yang perlu aku khawatirkan lagi darimu...”(Kakek Hideki). Sena, Reo, dan Kakek Hideki terlihat kembali ke mulut kuil. “Baiklah, Sena...akan ku percayakan semuanya padamu.”(Kakek Hideki). “Ya, serahkan padaku.”(Sena). Kakek Hideki terlihat pergi meninggalkan Sena dan Reo. “Sena...mungkin aku dulu tidak terlalu mengerti tentang dirimu, tapi aku sekarang telah menyadarinya...”(Reo). “Hhhmmm...”(Sena). “Bahwa kita ini sama...”(Reo). Sena yang mendengar perkataan Reo terlihat tersenyum. “Begitu ya...”(Sena). “Lalu...apa yang akan kau lakukan sekarang?”(Reo). Sena terlihat berpikir. “Kalau itu...”(Sena). Di tempat lain, Putri Alice dan Naria terlihat sampai di sebuah tempat. “Nah, ini dia tempatnya...”(Naria). Putri Alice terlihat sangat terkejut. “Bukankah tempat ini adalah...”(Putri Alice). Terlihat kelopak-kelopak bunga berterbangan di sekitar Putri Alice dan Naria. Sebuah benda berharga yang telah dipercayakan orangtuanya. Semangat yang tak pernah terputus dari waktu ke waktu.

Putri Alice bersimpuh di atas hamparan bunga seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Naria yang melihat Putri Alice terlihat bingung. “Kau tidak apa-apa, kan? Apa kau tidak suka dengan tempat ini?”(Naria). “Tidak...”(Putri Alice). Tenyata Putri Alice dan Naria sedang berada di hamparan padang bunga yang sangat luas dan indah. Putri Alice teringat kembali dengan tempat yang hampir sama saat dulu dia diajak oleh ayahnya dan perlahan Putri Alice meneteskan air mata. Naria terlihat panik. “Aduh! Bagaimana ini? Apa kau yakin tidak apa-apa? Kalau kau merasa tidak senang, sebaiknya kita kembali dan...”(Naria). Putri Alice terlihat menarik perlahan lengan baju Naria. “Terima kasih...”(Putri Alice). “Eh?”(Naria). “Ini jauh dari sekedar indah. Aku benar-benar berterima kasih, karena kau telah mengajakku kemari...Naria...”(Putri Alice). Naria perlahan mulai tenang, lalu tersenyum. “Ya...sama-sama...”(Naria). Putri Alice terlihat memperhatikan hamparan bunga yang sangat luas dan sejenak teringat dengan perkataan Sena. “Mungkin kau benar...Sena...inilah hal yang telah ayah dan semuanya percayakan padaku...”(Putri Alice:Dalam Hati). Angin berhembus perlahan. “Anginnya sejuk, ya?”(Naria). “Ya...kau benar...”(Putri Alice). Putri Alice terlihat tersenyum.

Di tempat lain, Sena dan Reo terlihat berjalan di suatu tempat. “Tapi, benar-benar tidak terduga, ya? Kau bisa berhubungan dengan orang sehebat kakek itu?”(Reo). “Benarkan? Aku saja, saat pertama kali bertemu dengannya tidak pernah menyangka kalau dia adalah kakek yang seperti itu...jujur aku juga sedikit kaget...”(Sena). “Tapi, kalau memang kakek itu yang telah mengirimmu ke dunia ini, maka bukankah itu artinya kakek itu juga bisa mengembalikanmu?”(Reo). “Ya, aku juga sempat berpikir begitu, tapi sekarang ini...masih ada banyak hal yang harus aku lakukan di dunia ini, karena itu...”(Sena). Sena terlihat berhenti dan menjadi bersemangat. “Aku pasti akan mengalahkan orang itu dan mengungkap siapa dia sebenarnya...pasti!”(Sena). Tiba-tiba, terlihat seseorang datang ke arah Sena dan Reo. “Kelihatannya kau sangat semangat sekali, ya...”(Unknow). “Kau lagi ternyata...”(Sena). Ternyata orang yang datang adalah Stevan. “Lama tidak bertemu...Sena...”(Stevan). Reo terlihat merasakan sesuatu dari Stevan. “Apa kau mengenalnya?”(Reo). “Sebenarnya dia adalah teman sekamarku saat di kapal, tapi entah kenapa aku tidak terlalu senang dengannya...”(Sena). “Begitu ya...ternyata kau juga menyadarinya...”(Reo). “Hei...hei...hei...bukankah itu kejam, membicarakan seseorang yang jelas-jelas ada di depanmu?”(Stevan). “Apa maumu? Apa kau masih ingin mempengaruhiku?”(Sena).

Stevan terlihat tertawa. “Kelihatannya kau sudah semakin pintar, ya, Sena?”(Stevan). Sena hanya terlihat terdiam. “Tapi, jangan kau kira bahwa apa yang ku katakan waktu itu adalah main-main. Walau bagaimana pun, kau tidak akan pernah bisa lolos darinya...”(Stevan). “Apa itu artinya, kau berada di pihaknya?”(Sena). Stevan terlihat berbalik membelakangi Sena dan Reo. “Entahlah...siapa yang tau...”(Stevan). Sambil tersenyum sinis, Stevan terlihat pergi meninggalakan Sena dan Reo. “Kelihatannya dia cukup berbahaya.”(Reo). “Bagitulah...dia memang orangnya cukup tertutup, tidak mudah untuk membaca apa yang ada dipikirannya.”(Sena). Reo terlihat terdiam sejenak. “Lalu, yang dia maksud tadi apa? Kelihatannya dia menyimpan sebuah rahasia besar?”(Reo). “Aku juga tidak tau...tapi...”(Sena). Sena terlihat teringat dengan apa yang dikatakan oleh Stevan dulu. “Apapun itu...salah satu dari kita pasti akan berhadapan dengannya...”(Sena). Angin yang berhembus menembus dedaunan. Awal dari babak yang baru akan segera dimulai.

Artikel keren lainnya:

Belum ada tanggapan untuk "Unbreakable Spirit and Light Breeze"

Posting Komentar