Naria yang sebelumnya jatuh ke sebuah jurang, perlahan mulai terbangun dari pingsannya. “A...aku...”(Naria). Sambil memegang kepalanya, Naria berusaha untuk berdiri. “Di mana ini?”(Naria). Saat Naria melihat sekelilingnya, dia langsung terkejut dengan apa yang dilihatnya. “Apa-apaan...ini...”(Naria). Kembali ke Sena. Sena terlihat bingung karena kepergian kakek tua tadi. “Bagaimana sekarang? Aku bahkan tidak tau cara keluar dari jebakan ini.”(Sena). Tak lama berselang, Sena mendengar suara jeritan yang sangat keras. “Apa itu tadi?!”(Sena:Dalam Hati). Sena mulai berdiri dan mencari asal suara itu. “Apa itu karena terkena jebakan? Tapi, dari jarak suaranya, kedengarannya tidak terlalu jauh dari sini.”(Sena:Dalam Hati). Sena menoleh ke arah jalur di mana kakek tua tadi muncul. “Satu-satunya jalan yang bisa aku lalui sekarang hanya jalur ini. Tapi, apa benar tidak apa-apa?”(Sena:Dalam Hati). Sena perlahan melangkahkan kakinya menuju jalur itu. “Baik jebakan atau bukan, aku tidak punya pilihan lain selain melalui jalur ini. Aku harus melaluinya!”(Sena:Dalam Hati). Di tempat Reo. Reo nampak kelelahan setelah berhasil menghindari tombak-tombak yang meluncur ke arahnya. “Kelihatannya sudah berhenti.”(Reo:Dalam Hati). Reo memperhatikan jalur di mana tombak-tombak itu muncul. “Jalur yang kulalui tadi sudah tertutup, apa ini artinya aku harus memilih salah satu dari kedua jalur ini?”(Reo:Dalam Hati).
Reo perlahan menutup matanya dan terlihat berkonsentrasi. “Baiklah...”(Reo:Dalam Hati). Reo lalu membuka matanya dan berbalik ke jalur di sebelah kirinya. “Aku akan memilih jalur yang ini.”(Reo). Reo pun perlahan melangkah menuju jalur itu. Di tempat lain, terlihat Ketua Panitia sedang memantau semua peserta dari sebuah layar yang cukup besar. “Mereka semua kelihatannya sangat waspada.”(Ketua Panitia). Ketua Panitia memerhatikan Sena. “Tapi, siapa sangka dia akan bertemu dengan orang itu...”(Ketua Panitia:Dalam Hati). Tiba-tiba, terdengar suara seseorang dari arah belakang Ketua Panitia. “Memangnya kenapa dengan hal itu?”(Unknow). “Kau akhirnya mulai bergerak juga rupanya...”(Ketua Panitia). Ketua Panitia pun menoleh ke arah orang tersebut yang tak lain adalah kakek tua yang tadi bersama Sena. “Kakek...Hideki Fujiyama...”(Ketua Panitia). Kakek tua itu terlihat tertawa kecil. “Mengesankan kau masih bisa mengenaliku, bahkan setelah beberapa tahun berlalu.”(Kakek Hideki). Ketua Panitia mulai tersenyum. “Bagaimana mungkin aku lupa dengan guruku sendiri? Lagipula aku hidup bersamamu bertahun-tahun lamanya, jadi itu wajar saja.”(Ketua Panitia). “Kau memang sama sekali tidak berubah, ya...”(Kakek Hideki).
Kembali
ke Sena. Sena yang terus berjalan akhirnya berhenti sejenak. “Jalur
ini...sedari tadi aku lewat, sama sekali tidak ada persimpangannya? Apa
ini masih bagian dari labirin?”(Sena). Sena pun melihat kartu miliknya.
“Di sini masih tergambar jelas bahwa ini masih bagian dari labirin, tapi
kenapa? Apa jangan-jangan ini juga jebakan?”(Sena). Sena pun kembali
menyusuri jalur tersebut, namun saat Sena melangkah, tiba-tiba sebuah
pintu jebakan yang berada tepat di bawahnya terbuka dan Sena pun
langsung terjun ke dalam jebakan. “Sena! Bangunlah! Ayo,
bangun!”(Unknow). “Suara ini...”(Sena:Dalam Hati). Sena perlahan
terbangun dari pingsannya dan terlihat Putri Alice sudah ada di
sampingnya. “Ka...kau...”(Sena). Sena berusaha untuk bangkit. “Kau tidak
apa-apa?”(Putri Alice). “Tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, kenapa kau ada
di sini?”(Sena). Aku tadi juga masuk dalam jebakan sepertimu, dan saat
aku bangun aku ada di tempat ini.”(Putri Alice). “Lalu...kita
sekarang...”(Sena). Sena langsung terkejut melihat pemandangan di
sekitarnya yang penuh dengan tulang-belulang manusia.
“Tempat...macam...apa ini?”(Sena). Jebakan yang mengantar mereka ke
tempat yang tidak terduga. Pemandangan yang mengerikan telah menyengat
mereka.Di antara timbunan tulang-belulang, Sena dan Putri Alice terlihat berusaha mencari tau apa yang terjadi. “Kenapa bisa ada tempat seperti ini di dalam labirin?”(Sena). “Kelihatannya tempat ini bukan tempat yang sembarangan.”(Putri Alice). “Sebaiknya kita cari tau apa yang terjadi. Bisa jadi ini jebakan atau malah petunjuk untuk mengungkap rahasia event ini.”(Sena). “Aku setuju, tapi ke mana kita harus mencari?”(Putri Alice). Sena terlihat berpikir. “Kalau memang ini petunjuk...”(Sena:Dalam Hati). Sena teringat dengan kata-kata Stevan sewaktu di labirin pertama. “Keanehan-keanehan ini...seharusnya mengarah pada satu hal...tapi apa?”(Sena:Dalam Hati). “Hei Sena, bagaimana?”(Putri Alice). “Kelihatannya berbahaya jika kita berpencar di tempat seperti ini, jadi sebaiknya kita tetap bersama.”(Sena). “Baiklah.”(Putri Alice). Sena dan Putri Alice pun mulai menyusuri tempat aneh tersebut. “Benar-benar mengerikan. Sebenarnya ini tempat apa?”(Putri Alice). “Jangan lengah, mungkin saja kita juga sedang diincar seperti mereka yang telah jadi tulang-belulang ini.”(Sena). Tiba-tiba terdengar suara dari arah jauh di depan Sena dan Putri Alice. “Jangan-jangan itu...”(Putri Alice). “Tetaplah siaga...”(Sena). Suara itu pun seakan mendekat ke arah Sena dan Putri Alice dan semakin keras.
Di tempat Ketua Panitia, Kakek Hideki terlihat masih berbincamg-bincang dengan Ketua Panitia. “Ku peringatkan padamu. Sebaiknya kau hentikan event ini segera. Kau pasti juga sudah tau resikonya?”(Kakek Hideki). “Sebuah alasan yang tak masuk akal. Apa kau hanya ingin menyelamatkan anak itu?”(Ketua Panitia). “Tidak juga, itu juga terserah padamu mau menghentikannya atau tidak, karena pada akhirnya kau sendirilah yang akan menanggung akibatnya.”(Kakek Hideki). Ketua Panitia terlihat tersenyum kecil. “Kau mencoba menakut-nakutiku, pak tua? Tapi maaf, itu sama sekali tidak berpengaruh padaku sekarang, karena orang itu pasti akan selalu melindungiku.”(Ketua Panitia). Kakek Hideki terdiam sejenak. “Percuma saja memperingatkanmu. Dari dulu kau memang selalu keras kepala...”(Kakek Hideki). Kakek Hideki pun terlihat meninggalkan Ketua Panitia. “Tapi jika kau berani macam-macam, kau akan rasakan kemarahan anak itu, ingat itu.”(Kakek Hideki). Ketua Panitia hanya terdiam dan Kakek Hideki pun menghilang. Kembali ke tempat Sena. Terlihat ada seseorang yang mengahampiri Sena dan Putri Alice. Sena dan Putri Alice terlihat waspada. “Pergi dari sini! Ini semua jebakan!”(Unknow). Sena dan Putri Alice langsung terkejut mendengarnya. “Apa maksudnya?”(Putri Alice). Ternyata orang yang datang adalah peserta yang sebelumnya mengancam Sena. “Dia kan...”(Sena:Dalam Hati). Saat orang itu berlari, tiba-tiba ada sesuatu di dalam kegelapan yang menariknya. “Tolong! Tolong selamatkan aku!!”(Unknow).
Orang tersebut langsung lenyap dari pandangan Sena dan Putri Alice. “Kita harus pergi, Sena!”(Putri Alice). Sena hanya terdiam dan terlihat memperhatikan kegelapan itu. “Hei Sena! Apa kau tidak dengar!”(Putri Alice). “Tolong menjauhlah sebentar...”(Sena). “Apa yang akan kau lakukan?”(Putri Alice). Sena terlihat menghunus pedangnya. “Akan kucari tau apa yang terjadi di sini.”(Sena). “Apa kau ingin melakukannya?”(Putri Alice). “Kalau tidak, terus aku mau apa lagi?”(Sena). Dari balik kegelapan, terlihat sesuatu sedang bergerak menuju ke arah Sena dan Putri Alice. “Haaahhh...apa boleh buat! Aku juga tidak punya pilihan lain!”(Putri Alice). Saat Sena dan Putri Alice tengah bersiaga, tiba-tiba tulang-belulang di sekeliling mereka mulai bergerak dan menjadi hidup. “Apa-apaan ini?!”(Putri Alice). Tulang-belulang tak bernyawa yang terasuki kegelapan. Pedang itu akhirnya akan mulai menari.
Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life : Somewhere, Bones and The Darkness"
Posting Komentar