Beranda · Menu · Menu 1 · Menu 2

Wrong Life : Old Man Again and Who You Are


Sesuatu itu terus mendekat ke arah Sena. Sena terlihat dalam posisi siaga. “Oh...ternyata anak muda, ya?”(Unknow). “Eh?”(Sena). Ternyata yang mendekat adalah seorang kakek tua. “Kelihatannya banyak sekali yang terjadi, ya?”(Kakek Tua). Sena terlihat memperhatikan kakek tua itu. “Kakek ini siapa? Seingatku tidak ada peserta yang seumuran kakek.”(Sena). “Bagaimana menjelaskannya, ya? Aku sendiri juga tidak tau.”(Kakek Tua). “Kenapa dengan kakek ini?”(Sena:Dalam Hati). Kakek tersebut terlihat memperhatikan Sena dengan seksama. “Wajahmu terlihat tidak asing anak muda...”(Kakek Tua). Sena terlihat bingung. “Benarkah? Apa itu artinya kita pernah bertemu?”(Sena). “Aku tidak yakin...tapi aku merasa pernah melihatmu di suatu termpat.”(Kakek Tua). “Begitu ya...tapi maaf, aku tidak terlalu ingat soal itu.”(Sena). Sena terlihat mulai berpikir. “Tapi...bagaimana bisa kakek ini datang dari tempat yang kemungkinan adalah jebakan. Apa ini perangkap? Atau memang ada sesuatu dari kakek ini?”(Sena:Dalam Hati). Kakek tua itu memperhatikan sekeliling. “Tempat ini sangat sempit, aku sampai tidak bisa melihat jalan keluarnya.”(Kakek Tua). “Tentu saja, ini adalah labirin dan kita sekarang sedang terkurung.”(Sena). “Labirin?”(Kakek Tua). “Iya, jadi...”(Sena). Kakek tua itu terlihat bingung. “Labirin itu apa, ya?”(Kakek Tua).

Sena yang mendengarnya langsung jungkir balik. “Jadi, kakek benar-benar tidak tau di mana kakek berada sekarang?”(Sena). “Iya begitu lah...hehehehehehe.”(Kakek Tua). “Kakek Tua yang aneh...”(Sena:Dalam Hati). Di sisi lain labirin, terlihat Naria sedang berjalan menyusuri sebuah jalur. “Kelihatannya lewat sini. Ya, semoga saja benar.”(Naria). Naria terus berjalan hingga sampai di sebuah persimpangan. “Setelah ini pilih jalur mana. ya?”(Naria). Tiba-tiba, Naria merasakan hembusan angin dari salah satu jalur. “Angin? Bukannya tempat ini di dalam ruangan?”(Naria). Naria pun menoleh ke arah jalur di mana angin itu berasal. “Apa mungkin...”(Naria). Kembali ke Sena. Sena masih terlihat bingung dengan kakek tua itu. “Lalu, bagaimana kakek bisa sampai di sini?”(Sena). “Entahlah, aku juga tidak tau?”(Kakek Tua). “Hah! Terus kenapa kakek di sini? Ini bukan tempat main-main, kek.”(Sena). Kakek tua itu terlihat berpikir. “Seingatku...aku melihat cahaya yang sangat terang, dan saat aku membuka mata, aku sudah ada di sini.”(Kakek Tua). “Cahaya?”(Sena). “Iya...semacam itulah.”(Kakek Tua). Sena justru semakin bingung dengan penjelasan kakek tua itu. “Sebenarnya apa yang terjadi? Apa kakek ini adalah jebakan yang dimaksud? Atau memang kakek ini tersesat dan sampai di labirin ini?”(Sena:Dalam Hati).

Sena terlihat terdiam sejenak. “Bagaimana pun juga, kita tetap harus keluar dari sini. Jika tidak, kita tidak akan bisa menyelesaikan tantangannya.”(Sena). “Hei, anak muda, coba kemari sebentar.”(Kakek Tua). “Ada apa, kek?”(Sena). Sena terlihat mendekati kakek tua itu. “Aku harus tetap waspada. Tidak menutup kemungkinan jika kakek ini adalah jebakan yang dimaksud.”(Sena:Dalam Hati). “Tolong...”(Kakek Tua). “Tolong apa, kek?”(Sena). “Tolong garuk punggungku.”(Kakek Tua). Sena jungkir balik tidak karuan mendengar permintaan kakek tua itu. “Jangan main-main, kek! Kita ini sedang terkurung! Masih bisa-bisanya kakek memintaku untuk menggaruk punggung kakek!”(Sena). “Tapi, punggungku benar-benar gatal...tanganku sulit menjangkaunya, jadi aku minta tolong padamu, anak muda.”(Kakek Tua). “Tapi, tolong lihat dulu situasinya. Kita ini sedang dalam keadaan terdesak, kek.”(Sena). “Iya...tapi...”(Kakek Tua). Sena yang mendengar kakek tua itu terus memohon akhirnya menyerah. “Haaahhh...apa boleh buat...”(Sena). “Jadi...”(Kakek Tua). “Iya, aku akan menggarukkan punggung kakek.”(Sena). Kakek tua itu terlihat senang. “Terima kasih! Terima kasih banyak, anak muda! Kalau begitu, aku akan melepas bajuku dulu.”(Kakek Tua). “Melepas baju?”(Sena). “Akan lebih enak, jika langsung menggaruk di kulitnya. Aduh! Rasanya makin gatal saja.”(Kakek Tua). Kakek tua itu perlahan melepas bajunya. “Baiklah, bagian mana yang...”(Sena). Sena tiba-tiba terkejut saat melihat sesuatu yang ada di punggung kakek tua itu. Kakek tua aneh dan labirin. Di balik tubuh renta nya, tersimpan sesuatu yang mengejutkan.


Dengan penuh rasa tidak percaya, Sena dihadapkan dengan hal yang mengejutkan. “Ada apa, anak muda?”(Kakek Tua). “Mu...mustahil! Bagaimana bisa...”(Sena:Dalam Hati). “Hei, apa sebegitunya kau harus terkejut dengan tubuhku, anak muda?”(Kakek Tua). Sena perlahan berusaha menenangkan dirinya. “Kakek...kau ini...sebenarnya siapa?”(Sena). Kakek tua itu terlihat bingung. “Apa maksudmu, anak muda?”(Kakek Tua). “Kalau kakek ini hanya orang biasa, maka tidak mungkin kakek punya lambang itu di punggung kakek.”(Sena). Ternyata di punggung kakek tua itu terdapat sebuah lambang aneh yang tidak asing bagi Sena. “Oh...lambang ini, ya?”(Kakek Tua). Kakek tua itu melihat raut wajah Sena yang terlihat penasaran. “Haaaahhh...mau bagaimana lagi? Ternyata kau sudah tau tentang lambang ini rupanya. Padahal aku pikir kau tidak tau apa-apa karena berasal dari dunia luar.”(Kakek Tua). “Kakek tau, jika aku bukan berasal dari dunia ini?”(Sena). “Ya...begitulah. Tapi, sebelum ku ceritakan, ada baiknya kau tepati janjimu dulu. Pungguku semakin gatal ini.”(Kakek Tua). “Ba...baiklah...”(Sena).

Di sudut lain labirin, terlihat Reo berjalan di salah satu jalur. “Apa?”(Reo). Ternyata jalur yang dilalui Reo buntu. “Buntu? Tapi, bukannya...”(Reo:Dalam Hati). Tiba-tiba, sebuah dinding bergerak dan menutup jalur kembali Reo. “Sial! Ternyata aku sudah kena jebakan!”(Reo:Dalam Hati). Dinding yang berada di kedua sisi Reo mulai terbuka. “Mau bagaimana lagi...”(Reo:Dalam Hati). Dalam sekejap, sebuah tombak cukup besar meluncur dari arah kiri Reo, namun Reo berhasil menghancurkannya. “Hadapi saja lah!”(Reo). Sedangkan di sudut lain, Putri Alice terlihat berhenti di sebuah persimpangan. “Persimpangan?”(Putri Alice). Putri Alice terlihat mengeluarkan kartunya. “Sebaiknya aku tentukan dulu jalur yang sekiranya aman.”(Putri Alice:Dalam Hati). Saat Putri Alice sedang memperhatikan denah di kartunya, tiba-tiba lantai labirin di bawah Putri Alice terbuka. “Eh?”(Putri Alice). Putri Alice langsung meluncur ke dalam lubang jebakan yang langsung tertutup. Di tempat Naria. Naria terlihat terus berjalan menyusuri jalur di mana angin itu berasal. “Anginnya semakin kencang saja?”(Naria). Setelah berjalan cukup lama, Naria pun sampai di ujung jalur. “Apa ini?”(Naria). Di ujung jalur itu hanya ada sebuah jurang kosong yang cukup dalam. “Apa maksudnya ini?”(Naria). Tiba-tiba, sebuah dinding melesat dari arah belakang dan mendorong Naria hingga jatuh ke jurang.

Kembali ke Sena. Sena terlihat sedang menggaruk punggu kakek tua itu. “Haaaahhh...enaknya...”(Kakek Tua). “Benar-benar kakek tua yang aneh...”(Sena:Dalam Hati). Kakek tua itu terlihat senang dengan garukkan Sena. “Baiklah, aku rasa itu sudah cukup, kan?”(Sena). “Ya...rasanya sudah jauh baik. Terima kasih sekali lagi, anak muda.”(Kakek Tua). “Bagaimana dengan janji kakek yang tadi?”(Sena). “Janji?”(Kakek Tua). “Iya.”(Sena). Kakek tua itu terlihat berpikir. “Itu...janji apa, ya? Aku lupa.”(Kakek Tua). Sena yang mendengarnya langsung jungkir balik. “Ternyata kakek ini sudah pikun!!”(Sena:Dalam Hati). Sena perlahan menarik nafas panjang sambil memegang kepalanya. “Kelihatannya ini akan jauh lebih sulit dari perkiraanku...”(Sena:Dalam Hati). Sena tiba-tiba teringat dengan sesuatu. “Tunggu dulu! Perasaan ini...rasanya ada yang tidak asing...”(Sena:Dalam Hati). “Kau sudah sadar, ya?”(Kakek Tua). Sena pun melihat ke arah kakek tua itu. “Apa mungkin...kakek ini...”(Sena). Kakek tua itu terlihat tertawa. “Kenapa?”(Sena). “Tidak ada apa-apa...hanya saja benar-benar mengejutkan, jika kau memang tidak ingat denganku.”(Kakek Tua). “Jadi...kakek ini yang...”(Sena). “Tepat sekali. Aku adalah kakek tua yang sudah mengirimu ke dunia ini.”(Kakek Tua). “Sudah kuduga...tapi kenapa?”(Sena). “Sudah kubilang ceritanya panjang, jadi tempat ini bukanlah tempat yang tepat untuk membicarakannya.”(Kakek Tua). “Lalu, kita harus bagaimana?”(Sena). “Akan ku tunggu kau di luar. Nanti jika kau berhasil keluar, aku akan menemuimu.”(Kakek Tua). “Tunggu dulu! Kakek sendiri, bagaimana cara kakek akan keluar dari sini?”(Sena). “Bukannya sudah ku bilang, aku yang mengirim mu ke sini, jadi...”(Kakek Tua). “Jadi...”(Sena). “Aku bisa ke mana pun aku mau, dah...”(Kakek Tua). “Tung...”(Sena). Tiba-tiba, kakek tua itu menghilang. “Kakek itu benar-benar menghilang...”(Sena:Dalam Hati). Bertemu kembali. Ke mana pun dan kapan pun, dia bisa lakukan apa saja.


Artikel keren lainnya:

Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life : Old Man Again and Who You Are"

Posting Komentar