Beranda · Menu · Menu 1 · Menu 2

Wrong Life : Try But Give Up and I Don’t Want It


Tulang-belulang tersebut membentuk kerangka dan akhirnya mengepung Sena dan Putri Alice. Putri Alice terlihat tegang. “Sena...”(Putri Alice). Sena hanya menutup matanya sambil dalam posisi siaga. “Iya, aku tau...”(Sena). Dalam sekejap, Sena berhasil menebas semua kerangka tersebut. “Begitu aku beri tanda nanti, kita akan berlari ke arah kegelapan itu, dan kau langsung serang apa pun yang kau rasakan tanpa ragu.”(Sena). “Tunggu dulu! Kenapa harus aku?”(Putri Alice). “Itu sederhana...”(Sena). Tiba-tiba, kerangka-kerangka yang telah ditebas Sena tadi bangkit kembali. “Mereka tidak bisa dihancurkan.”(Putri Alice). “Aku butuh waktu untuk melakukannya, jadi aku ingin kau mengulur waktu sebisamu sampai aku siap.”(Sena). “Baiklah! Akan aku lakukan, tapi jangan terlalu lama. Aku sendiri bahkan tidak yakin dengan apa yang akan terjadi.”(Putri Alice). “Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja.”(Sena). Para kerangka yang mengepung Sena dan Putri Alice terlihat berusaha menyerang mereka. “Baik...”(Sena). Sena kembali mengambil ancang-ancang. Dengan cepat, Sena kembali menghancurkan semua kerangka-kerangka tersebut. “Sekarang!”(Sena). Dengan satu aba-aba, Sena dan Putri Alice berlari sekencang mungkin, namun di jalur mereka terlihat kerangka-kerangka lain yang jauh lebih banyak berusaha menghentikan mereka. “Ini gawat! Jalur kita telah ditutup!”(Putri Alice). Sena kembali mengambil ancang-ancang sambil berlari. “Tolong kau urus yang sebelah kanan! Aku akan urus yang sebelah kiri!”(Sena). “Aku mengerti!”(Putri Alice).

Putri Alice terlihat mengeluarkan senjatanya yang berupa dua buah tonfa yang terbuat dari logam. “Ayo mulai!”(Putri Alice). Secara bersamaan, Sena dan Putri Alice menyerang semua kerangka yang menutup jalur mereka. “Back Up!”(Sena). “Iya!”(Putri Alice). Sena dan Putri Alice langsung berhenti dan berdiri saling membelakangi. “Bertukar!”(Sena). Sena langsung membungkuk dan Putri Alice berputar di atas punggung Sena hingga mereka terlihat bertukar posisi. “Sena, lompat!”(Putri Alice). Putri Alice terlihat menancapkan ujung kedua buah tonfanya ke tanah. Sena yang menyadari itu langsung melompat setinggi mungkin. “Terima ini!”(Putri Alice). Dalam sekejap, dari tonfa Putri Alice keluar aliran listrik yang sangat besar dan menyebar mengenai semua kerangka hingga hancur. “Bagus!”(Sena). Di udara, Sena terlihat menghunus pedangnya. “Akan ku akhiri!”(Sena). Sena menebaskan pedangnya di udara hingga menciptakan sebuah cahaya yang mengahncurkan kerangka-kerangka yang tersisa. Sena pun mendarat. “Ayo!”(Sena). “Iya!”(Putri Alice). Sena dan Putri Alice kembali berlari ke arah kegelapan itu. Sena tiba-tiba merasakan sesuatu. “Perasaan ini...”(Sena:Dalam Hati). Tiba-tiba, sebuah tekanan yang kuat muncul dan menghempaskan Sena dan Putri Alice.

Sena dan Putri Alice terpental cukup jauh. “Kau tidak apa-apa?”(Sena). “Iya...aku baik-baik saja.”(Putri Alice). Sena dan Putri Alice kembali berusaha bangkit, namun tiba-tiba muncul kerangka bagian tangan yang sangat banyak dari tanah dan mengunci mereka. “Gawat!”(Sena:Dalam Hati). “Sena!”(Putri Alice). Perlahan-lahan, Putri Alice ditarik oleh tangan-tangan itu ke dalam tanah. “Bertahanlah!”(Sena). Saat Sena berusaha menggunakan pedangnya, ternyata pedangnya sudah ada di genggaman salah satu tangan itu. “Sial! Kenapa di saat begini?!”(Sena:Dalam Hati). Sena juga perlahan ditarik oleh kerangka-kerangka tangan itu. “Kalau begini...”(Sena:Dalam Hati). Sena terlihat berkonsentrasi. “Ini!”(Sena:Dalam Hati). Sena tiba-tiba menyadari sesuatu. “Bukan hanya menarik tubuh. Ternyata mereka juga menarik kekuatanku. Kurang ajar!”(Sena:Dalam Hati). Putri Alice sudah hampir lenyap ke dalam tanah. “Kenapa begini?! Kenapa aku tidak bisa apa-apa?! Kenapa?!”(Sena:Dalam Hati). Tangan-tangan dari neraka. Game kematian ini mulai berusaha merenggut mereka.


Gelombang yang tadi menyerang Sena dan Putri Alice menyebar hingga terasa oleh seluruh peserta yang tersisa termasuk Reo yang masih berada di labirin. “Perasaan apa ini? Rasanya ada yang aneh...”(Reo:Dalam Hati). Dengan penuh rasa ingin tau, Reo perlahan mempercepat langkahnya menuju asal gelombang itu. “Kenapa aku merasakan ada hal yang buruk? Tidak, semoga saja ini salah.”(Reo). Reo terus mempercepat larinya. Sedangkan, di tempat Sena. Sena dan Putri Alice terlihat tidak berdaya dan perlahan mulai lenyap ke dalam tanah. “Aku harus bisa melepaskan diri!”(Sena:Dalam Hati). Sena terus berusaha, namun usahanya gagal. “Sial!! Kenapa?!!”(Sena:Dalam Hati). Sena dan Putri Alice telah lenyap dan hanya tersisa tangan yang hampir ikut menghilang. Tiba-tiba ada seseorang yang meraih tangan Sena dan Putri Alice. “Bertahanlah!”(Unknow). Ternyata orang yang datang adalah Naria. Dengan sekuat tenaga, Naria berusaha menarik Sena dan Putri Alice. Perlahan, Sena dan Putri Alice berhasil ditarik keluar. “Naria...”(Putri Alice). “Kau...”(Sena). Naria terus berusaha, namun tarikan dari kerangka-kerangka tangan itu justru semakin kuat. “Tak kan ku biarkan kalian lenyap!”(Naria). Sena melihat ke arah kegelapan tadi yang semakin mendekat. “Kalau begini...”(Sena:Dalam Hati). Sena terdiam sejenak. “Hei, tolong lepaskan tanganku dan cobalah tarik Putri sekuat tenaga.”(Sena). “Apa maksudmu, Sena?”(Putri Alice). “Dia tidak mungkin sanggup menarik kita berdua bersamaan. Jika dipaksa, dia mungkin juga akan ikut tertarik juga.”(Sena). “Tapi itu sama saja...”(Putri Alice). “Tidak akan!”(Naria).

Dengan mengerahkan semua kekuatannya, Naria tetap berusaha menarik Sena dan Putri Alice. “Aku tidak akan mengorbankan salah satu dari kalian! Kalian berdua adalah orang yang sangat berharga bagiku! Tak kan kubiarkan siapapun lenyap di sini!”(Naria). Sena yang melihat Naria menjadi teringat pada Yuki. Sena tersenyum, namun kegelapan itu semakin dekat. “Kau juga sangat mirip dengannya...”(Sena). Dengan cepat, Sena melepaskan genggaman tangan Naria. “Karenanya...aku tidak mau kalian berdua berakhir seperti dia...”(Sena). Putri Alice yang melihatnya langsung tercengang. “Sena!”(Putri Alice). Naria dengan cepat berusaha menarik kembali tangan Sena, namun terlambat. Sena telah lenyap seutuhnya. Kegelapan itu telah berada tepat di belakang Putri Alice. “Naria, awas!”(Putri Alice). Dalam sekejap mata, semua telah tersapu oleh kegelapan. Sena terlihat membuka matanya. “Ini...”(Sena:Dalam Hati). Ternyata Sena kembali berada di dunia alam bawah sadarnya yang dulu. Sena perlahan mulai bangkit. “Tempat ini...”(Sena). “Sudah lama juga, ya? Sobat...”(Sena 2). Terlihat Sena yang lain berada dibelakang Sena. Sena pun berbalik ke arah dirinya yang lain. “Ya...tidak kusangka bisa kembali lagi ke sini.”(Sena). “Kan sudah pernah aku katakan, ini adalah alam bawah sadarmu, jadi kau bisa ke sini kapan saja.”(Sena 2).

Sena yang lain perlahan mendekati Sena. “Jadi ini artinya...aku belum mati?”(Sena). Sena yang lain tertawa mendengar perkataan Sena. “Mati, katamu?”(Sena 2). “Kenapa? Apa ada yang aneh dari itu?”(Sena). “Ternyata kau sama sekali belum paham dengan kondisimu sekarang, ya? Jadi, biar ku beritau kau sedikit...”(Sena 2). Sena yang lain berdiri tepat di hadapan Sena. “Di sini...kau bebas melakukan apa pun. Tidak ada yang hidup dan mati, karena ini adalh dimensi lain yang telah kau ciptakan sendiri.”(Sena 2). Sena terlihat bingung. “Apa maksudmu?”(Sena). “Ini bukanlah dunia yang selama ini kau lihat di luar sana...ini adalah duniamu sendiri.”(Sena 2). “Lalu?”(Sena). “Aku tau kau butuh kekuatan, jadi...”(Sena 2). “Jadi?”(Sena). Sena yang lain menepuk bahu Sena. “Aku ingin kita mengadakan sebuah pertukaran. Bagaimana?”(Sena 2). Penawaran yang mengejutkan. Sebuah langkah di dunianya yang bebas.

Artikel keren lainnya:

Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life : Try But Give Up and I Don’t Want It"

Posting Komentar