Beranda · Menu · Menu 1 · Menu 2

Wrong Life - Save Their Life and For All

Sena dan yang lainnya tersapu pancaran cahaya yang sangat terang. “Apa mungkin ini jebakan juga?!”(Naria). Cahaya tersebut membuat Sena dan yang lainnya tidak bisa melihat apapun. “Ini...”(Sena:Dalam Hati). Setelah cukup lama, Sena terlihat membuka kedua matanya. Terlihat Reo, Putri Alice, dan Naria masih berada di samping Sena. “Kalian tidak apa-apa, kan?”(Sena). “Kami baik-baik saja...”(Reo). Putri Alice terlihat tertegun melihat sekeliling. “Hei...bukannya ini...”(Putri Alice). Ternyata Sena dan yang lainnya berada di puncak kuil di mana mereka pertama datang di pulau itu. Sena dan yang lainnya terlihat terkejut dan bingung. “Kenapa bisa?”(Naria). “Apa mungkin ini artinya...”(Reo). “Kita berhasil...”(Sena). Tak lama kemudian, terlihat seseorang menghampiri mereka. “Selamat! Kalian adalah peserta pertama yang sampai di sini.”(Unknow). Sena dan yang lainnya yang mendengar suara itu langsung menoleh, dan orang yang datang ternyata adalah Ketua Panitia. “Ke...Ketua Panitia?”(Sena). “Kalian memang hebat. Tidak ku sangka kalian yang akan datang terlebih dulu.”(Ketua Panitia). “Jadi...kami berempat...”(Naria). Ketua Panitia terlihat tersenyum. “Ya, kalian berhasil lolos ke babak selanjutnya.”(Ketua Panitia). Putri Alice dan Naria yang mendengarnya terlihat sangat senang, sedangkan Sena dan Reo terlihat tersenyum lega dengan raut wajah agak kelelahan. Sena terlihat langsung jatuh terduduk melepas lelah. “Haaaahhhh...syukurlah kita berhasil...”(Sena).

Reo terlihat mengulurkan tangannya ke Sena sambil tersenyum. “Kerja bagus...”(Reo). “Iya...kau juga...”(Sena). “Sepertinya para peserta yang lain juga sudah mulai datang.”(Ketua Panitia). Terlihat peserta yang tersisa mulai bermunculan. “Hebat juga mereka. Padahal kita sudah bersusah payah untuk mengalahkan monster itu dan memecahkan petunjuknya, tapi mereka bisa sampai di sini dengan selamat, kelihatannya?”(Putri Alice). “Itu semua memang berkat kalian.”(Ketua Panitia). Sena dan yang lainnya terlihat bingung. “Apa maksudnya?”(Naria). “Untuk labirin kedua, memang sedikit berbeda. Intinya siapa pun yang berhasil mengalahkan monster itu dan menyempurnakan patungnya, maka semua peserta yang tersisa akan langsung di anggap lolos.”(Ketua Panitia). Naria terlihat terkejut dan tidak percaya. “Apa? Jadi, semudah itu mereka lolos?”(Naria). “Begitulah...”(Ketua Panitia). Putri Alice terlihat agak murung. “Padahal kita sudah berusaha keras...”(Putri Alice). Sena terlihat menepuk pundak Putri Alice. “Tidak apa-apa, kan? Bukankah ini artinya kau telah menolong mereka? Kan, kau dulu pernah bilang, kalau kau ingin jadi putri yang hebat dan menyelamatkan semuanya, jadi apa salahnya?”(Sena). “Tapi, ini kan sama saja tidak adil bagi kita.”(Naria). “Adil tidak adil...kita tetap hanya seorang peserta. Lagipula mereka juga tidak curang, kan?”(Reo). “Itu memang benar...”(Naria).

Ketua Panitia terlihat mengumpulkan semua peserta yang tersisa. “Baiklah, aku ucapkan selamat atas keberhasilan kalian dalam menjalani babak kedua. Dan menurut data, peserta yang tersisa sekarang berjumlah enam puluh empat orang.”(Ketua Panitia). Semua peserta yang mendengarnya ada yang terlihat lega dan ada yang terlihat bingung. “Tapi, bagaimana bisa kami tadi lolos? Padahal kami tadi tidak merasa melakukan apa pun?”(Peserta 1). “Benar juga, ya...kami tadi bahkan ada yang hampir terkena jebakan, dan saat itu tiba-tiba ada cahaya yang terang, lalu kami tiba-tiba saja ada di sini.”(Peserta 2). Semua peserta semakin terlihat bingung. “Sebenarnya peraturan di labirin kedua memang sedikit berbeda...”(Ketua Panitia). Ketua Panitia lalu memanggil Sena dan yang lainnya. “Mereka berempat inilah...yang sudah membuat kalian semua lolos dari babak ini.”(Ketua Panitia). Semua peserta yang mengetauinya terlihat tercengang, seakan tidak percaya. Penyelamatan yang tidak terduga.


Dengan ekspresi yang seakan tidak percaya, para peserta terlihat mulai melancarkan protes pada Ketua Panitia. “Hoi! Tunggu dulu. Bagaimana bisa Putri Pembunuh ini yang menyelamatkan kami?”(Peserta 3). “Itu benar! Apa ini hanya sebuah sandiwara agar kami bisa percaya padanya?”(Peserta 1). “Aku sama sekali tidak terima dengan keputusan ini!”(Peserta 2). Di tengah luapan emosi para peserta, perlahan Putri Alice mulai maju. “Hei, putri...”(Naria). Putri Alice terlihat berdiri di hadapan para peserta, lalu membungkukkan badannya. “Aku minta maaf!”(Putri Alice). Semua peserta yang mendengarkan Putri Alice langsung terdiam. “Mungkin kalian masih belum percaya padaku, tapi aku akan terus berusaha dan melakukan semua yang kubisa untuk menolong kalian. Bukan sekedar sebagai sesama peserta, tapi sebagai seorang putri yang harus melindungi rakyatnya. Karena itu...aku mohon, beri aku kesempatan sekali lagi. Akan aku buktikan jika aku sama sekali tidak bersalah atas kejadian itu.”(Putri Alice). Semua peserta hanya bisa terdiam sambil terlihat masih agak kesal. “Haaaahhhh...mau bagaimana lagi...”(Sena). “Eh?”(Naria). Sena terlihat maju ke samping Putri Alice yang masih membungkuk. Sena dengan perlahan memegang kepala Putri Alice. “Dia ini mungkin masih muda...tapi aku tau perasaannya sebagai seorang putri...”(Sena).

Sena perlahan teringat kembali dengan saat-saat dia bersama Putri Alice. “Dia sangat menyayangi keluarga dan rakyat yang dicintai keluarganya...karena itu, aku sangat memahaminya...”(Sena). Putri Alice terlihat terkejut dengan perkataan Sena. “Dia akan melakukan apa pun untuk bisa membahagiakan rakyatnya dan membanggakan ayahnya...karena itu...”(Sena). Sena langsung ikut membungkukkan badannya di hadapan para peserta. “Akan ku pastikan dia tidak bersalah! Kalau kalian semua masih belum bisa mempercayainya atau diriku, kalian bisa mengambil nyawaku sebagai gantinya kapan saja!”(Sena). Semua peserta sontak terkejut. Tiba-tiba salah satu peserta terlihat maju mendekati Sena dan Putri Alice. “Dulu...Raja Eliot pernah menyelamatkanku dengan mempertaruhkan nyawanya...”(Peserta 5). Sena pun melihat ke arah orang itu. “Karenanya aku sangat berhutang budi padanya dan aku sangat paham, seperti apa keluarga Raja Eliot itu...”(Peserta 5). Orang itu menepuk pundak Putri Alice dan Sena dengan lembut. “Aku percaya pada kalian berdua. Kalian pasti bisa mengembalikan semuanya seperti dulu, aku percaya itu...”(Peserta 5). Putri Alice yang terharu, perlahan meneteskan air mata. Sena yang melihat Putri Alice hanya bisa tersenyum lega.

Orang itu terlihat ikut tersenyum. “Berdirilah...dan lihatlah semua orang yang ada di hadapan kalian...”(Peserta 5). Sena dan Putri Alice perlahan menegakkan kepala mereka. Putri Alice sangat terkejut melihat sebagian besar peserta yang sebelumnya membencinya terlihat membungkukkan badan mereka. “Kami semua minta maaf, jika kami mungkin sudah menuduh anda.”(Peserta 1). “Kami hanya tidak bisa menerima kematian sahabat kami, tapi kami juga pernah berulang kali diselamatkan oleh Raja Eliot...”(Peserta 6). “Jadi...kami juga merasa bahwa kami bisa berada di sini sekarang, karena kebaikkan beliau, dan juga...”(Peserta 2). “Kami akan berusaha untuk mengembalikan dunia ini seperti semula...seperti dulu.”(Peserta 4). “Karenanya kami semua...”(Peserta 1). “Mohon bimbingannya...Tuan Putri!”(Sebagian Peserta). Putri Alice semakin tidak kuasa menahan air matanya. “Kau lihat, kan...di dalam hati mereka, mereka tetaplah rakyat yang percaya pada raja mereka...”(Sena). Sena menepuk pundak Putri Alice. “Dan kepercayaan mereka akan terus mengalir padamu...karena aku tau, ayahmu juga percaya padamu...putri...”(Sena). Mahkota yang selama ini telah melindungi rakyatnya, perlahan telah diserahkan pada Sang Putri yang pantang menyerah dan percaya pada rakyatnya.

Artikel keren lainnya:

Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life - Save Their Life and For All"

Posting Komentar