Putri Alice dan Naria pun berhasil lewat sebelum dinding itu
tertutup, sedangkan Fiona tertahan diluar. “Selanjutnya...aku serahkan
pada kalian...”(Fiona:Dalam Hati). Di bagian dalam. “Hei, kalian
baik-baik saja?”(Sena). “Iya...”(Naria). “Syukurlah...kalian masih
sempat.”(Sena). “Tapi...dia berada di luar.”(Putri Alice). “Aku tau
itu...”(Sena). “Lalu, bagaimana sekarang?”(Naria). Terlihat sebuah jalur
di depan Sena. “Sebaiknya kita cari tau...”(Sena). Sena, Naria, dan
Putri Alice berjalan melalui jalur tersebut. “Sepertinya ada cahaya di
depan.”(Putri Alice). “Kau benar...”(Naria). Tak lama berselang mereka
akhirnya sampai di ujung jalur. Ternyata terdapat sebuah ruangan besar
dan sebagian peserta sudah ada di sana. “Labirinnya?”(Naria). “Apa yang
terjadi?”(Sena). Tiba-tiba terdengar suara yang tak lain adalah suara
Ketua Panitia. “Selamat, bagi para peserta yang telah berhasil melewati
labirin tingkat pertama! Total jumlah peserta yang sampai pada tahap ini
adalah delapan puluh enam orang, dan bagi peserta yang gagal, maka
sayang sekali kalian tidak bisa melanjutkan ke babak selanjutnya.”(Ketua
Panitia). Di luar dinding, Fiona yang mendengar hal itu hanya bisa
menghela nafas. “Sudah kuduga ini akan terjadi, tapi...setidaknya mereka
masih bisa melanjutkannya...”(Fiona). Fiona teringat kembali dengan
kata-kata Sena.“Kalau dia...mungkin aku tidak perlu khawatir...”(Fiona:Dalam Hati). Fiona terlihat mengangkat kepalanya. “Dia pasti bisa...”(Fiona:Dalam Hati). Kembali ke dalam ruangan, Putri Alice terlihat terkejut. “Itu artinya dia...”(Putri Alice). Ketua Panitia kembali melanjutkan pengumumannya. “Sekarang...peserta yang tersisa harus melalui labirin kedua dengan peraturan hampir sama, namun kali ini dinding labirin tidak lagi bergerak dan akan terdapat jebakan jebakan yang terpasang di setiap sudut labirin. Jalur masuk setiap peserta akan dipilih berdasarkan urutan kedatangan peserta, dan untuk sementara, para peserta bisa beristirahat sejenak sampai pengumuman berikutnya, jadi selamat berjuang!”(Ketua Panitia). Seluruh peserta terlihat duduk dan beristirahat. Sena terlihat duduk bersandar di dinding ruangan. “Sebaiknya kita manfaatkan waktu ini untuk beristirahat. Tantangan selanjutnya akan lebih sulit dari ini.”(Sena). “Benar juga...”(Naria). Putri Alice dan Naria pun duduk di samping Sena. “Lalu...bagaimana dengan Fiona, ya? Bukankah ini artinya dia gagal?”(Putri Alice). “Kau itu memang baik, ya? Padahal dia hanya berusaha memanfaatkan mu, tapi kau masih mengkhawatirkan dia?”(Naria). “Tapi...itu juga bukan kehendaknya, kan? Dia melakukan ini karena terpaksa.”(Putri Alice). “Tenang saja...dia itu orangnya kuat. Walau pun gagal, tapi bukan berarti dia mati. Kesempatan itu pasti ada, walau aku sedikit tidak suka dengan caranya...”(Sena).
Dari kejauhan, Sena melihat seseorang yang sedang memperhatikannya, yang tak lain adalah Stevan. “Dia lagi...”(Sena:Dalam Hati). Stevan hanya tersenyum melihat Sena. “Dia benar-benar aneh...tapi aku tidak boleh meremehkannya. Kelihatannya dia cukup berbahaya, terlebih lagi...”(Sena:Dalam Hati). Tak lama berselang, terlihat seseorang menghampiri Sena. “Tenyata kau juga lolos dari babak ini, ya...”(Unknow). Orang itu tiba-tiba langsung menarik Sena. “Kau kan...”(Sena). Ternyata orang itu adalah orang sebelumnya berusaha menyerang Sena saat di labirin. “Beruntung kau masih mengingatku, karena aku tidak akan melupakan apa yang terjadi tadi!”(Unknow). Putri Alice pun berdiri dan meraih tangan orang itu. “Lepaskan dia...”(Putri Alice). “Oh, jadi kau putri itu...Sang Tuan Putri Pembunuh?”(Unknow). “Apa katamu?!”(Putri Alice). Putri Alice terlihat kesal. “Dia tidak punya hubungan apa-apa denganmu.”(Sena). Itu benar, karena urusanku adalah denganmu.”(Unknow). “Jadi, apa maumu?”(Sena). “Hei...di dunia ini tidak ada yang gratis, bung. Jangan bilang kau sudah lupa?”(Unknow). “Itu ya...tapi sayang sekali...aku tidak punya uang untuk membayarnya.”(Sena). “Aku tidak bicara soal uang, aku bicara soal nyawa.”(Unknow). “Kenapa begitu?”(Sena). “Karena informasi itu terlalu berharga, bahkan untuk dibayar dengan harta pun tidak akan cukup.”(Unknow). Sena hanya menanggapinya dengan santai. “Sena! Dia berusaha membunuhmu!”(Putri Alice). “Boleh saja...itu pun kalau kau bisa mengambilnya...”(Sena). Sena menatap orang itu dengan tatapan tajam. Labirin kedua, dan semakin banyak kawan dan lawan yang berdatangan.
Dengan santai, Sena terlihat akan meladeni orang yang menyerangnya. “Kalian semua berhenti! Kalian bisa didiskualifikasi jika bertarung dalam keadaan begini!”(Naria). “Dia benar...”(Reo). Terlihat Reo menghampiri Sena dan yang lainnya. “Huh? Siapa kau?”(Unknow). “Reo?”(Sena:Dalam Hati). “Kalau kau masih ingin melanjutkannya...lakukanlah saat babak selanjutnya dimulai. Itu pun kalau kau masih ingin sampai ke final.”(Reo). “Memangnya kau ini siapa? Temannya? Aku tidak peduli walau kalian maju bersamaan.”(Unknow). “Terserah kau mau percaya atau tidak, tapi aku sama sekali tidak berminat untuk bertarung denganmu.”(Reo). “Jadi, kau meremehkanku?”(Unknow). “Tidak juga...aku hanya tidak ingin perjuanganku sia-sia karena harus melawan orang sepertimu, itu saja.”(Reo). Orang tersebut terlihat kesal. “Baiklah...aku akan melepaskannya...”(Unknow). Orang tersebut akhirnya melepaskan Sena. “Tapi...jangan harap kalian bisa lolos nanti, bocah!”(Unknow). Orang tersebut pergi meninggalkan Sena dan yang lainnya. “Sekali lagi kau menolongku, Reo.”(Sena). “Tidak masalah...aku hanya tidak ingin kau terdiskualifikasi karena orang seperti dia.”(Reo). “Iya...aku juga hampir terbawa suasana tadi.”(Sena). “Sebaiknya kau harus berhati-hati dalam melakukan setiap tindakanmu lain kali...”(Reo).
Tak lama berselang. Kembali terdengar suara Ketua Panitia. “Para peserta semua...labirin kedua akan segera dimulai. Seperti yang sudah kami beritaukan sebelumnya, peraturan tetap sama, namun kali ini dinding labirin tidak akan bergerak dan akan ada jebakan-jebakan yang terpasang di setiap sudut labirin. Setiap peserta maju ke lambang yang ada di tengah ruangan sesuai dengan urutan kedatangan, lalu labirin kedua bisa dimulai.”(Ketua Panitia). “Kelihatannya sudah saatnya...sebaiknya kau juga harus bersiap, Sena.”(Reo). “Tentu saja! Kita pasti akan bertemu di final, Reo.”(Sena). Reo terlihat tersenyum. “Baguslah...kalau begitu, aku pergi dulu.”(Reo). “Ya.”(Sena). Satu per satu peserta mulai maju ke lambang di tengah ruangan. “Kali ini...aku tidak boleh gegabah lagi...”(Sena:Dalam Hati). Terlihat Reo maju ke lambang tersebut. “Sena...”(Putri Alice). “Iya...kalian juga harus berjuang. Mungkin kali ini akan sulit, tapi aku percaya kalian bisa.”(Sena). “Kau juga...kau harus lolos dari babak ini.”(Putri Alice). “Tenang saja...aku pasti berhasil.”(Sena). Sampailah pada giliran Sena untuk maju. “Baiklah...sekarang giliranku untuk maju.”(Sena). Sena pun perlahan maju. “Labirin...Aku pasti bisa!”(Sena:Dalam Hati).
Sena pun pergi menuju ke labirin kedua. Sena perlahan membuka kedua matanya. “Ini dia...”(Sena). Sena terlihat memperhatikan sekelilingnya. “Tapi, jika diperhatikan lagi...labirin ini tidak jauh berbeda dari labirin sebelumnya.”(Sena:Dalam Hati). Sena mulai berjalan menyusuri jalur di hadapannya. “Tapi, aku tetap harus waspada...karena jika ada jebakan...”(Sena:Dalam Hati). Tiba-tiba, kaki Sena menginjak sesuatu. “Sial!”(Sena). Tak lama berselang, jalur di hadapan Sena tertutup, dan dinding di delakang Sena perlahan terbuka. Sementara itu, di sisi lain labirin, terlihat Putri Alice baru saja sampai. “Jadi, ini labirin kedua, ya?”(Putri Alice). Putri Alice melihat ke arah jalur di sebelah kanannya. “Semoga saja mereka juga berhasil...”(Putri Alice). Sementara itu, Reo terlihat sedang menyusuri jalur di hadapannya. “Sejauh ini masih belum ada jebakan...tapi aku tidak boleh lengah.”(Reo:Dalam Hati). Kembali ke Sena. Terlihat sesuatu muncul dari jalur di belakang Sena yang perlahan terbuka. “Apa lagi sekarang? Jangan bilang sesuatu yang aneh lagi...”(Sena). Sena terlihat bersiaga. “Kalau kali ini aku harus berhadapan dengan monster seperti di babak pertama, maka ini akan jadi lebih sulit.”(Sena:Dalam Hati). Jebakan dalam labirin yang semakin aneh. Sesuatu dari kegelapan mulai mendekat.
Belum ada tanggapan untuk "Wrong Life Chapter 31 Through The Wall and Labyrinth Second Stage"
Posting Komentar